Katanya Jodoh itu rahasia Tuhan. Benar? Itu memang benar sekali, apalagi jika saat ini banyak sekali cerita mengenai pencarian dan pertemuan dengan jodoh. Kawan-kawanku bahkan aku sendiri merupakan saksi, dan yang merasakan bagaimana misteri itu terjadi padaku.
Dulu saya
menggalau tingkat tinggi mengenai jodoh. Apalagi saat selesai wisuda. Pertanyaan
tentang calon suami seolah-olah jadi momok yang menakutkan. Namun, saya untungnya
adalah tipe orang “cuek” di depan orang padahal aslinya nggak hehehe tukang
nangis di kamar sendirian, alias menangis semalam.
Sautu hari
guru sehatku berkata: “Jodoh itu bukan dipilih tapi diputuskan! Jadi
putuskanlah segera!” mantaf plus nyelekit euy mendengar kata-kata itu. Bagaimana
tidak, saat itu saya sedang menggalau tingkat tinggi plus bumbu-bumbunya. Bumbunya
banyak, dari mulai sakit hati dengan makhluk yang namanya laki-laki, malas
ditanyain terus tentang pasangan hidup, pekerjaan belum ada yang sesuai, dan
lain sebagainya.
Bukan mau
jual mahal, beberapa pria melamarku tapi anehnya aku kok nggak ada rasa yang
gimana atau sinyal, bahkan setelah istikhoroh pun rasanya mereka biasa-biasa
saja. Aku pun mencoba memakai logikaku, mencoba berkenalan dan mengobrol lewat
chatt, karena berkali-kali diajak bertemu aku pasti menolak. Aku memang
pemilih. Aku akui itu.
Mengapa
aku pemilih, karena aku yakin bahwa untuk memilih pasangan hidup apalagi dia
adalah orang yang akan jadi imam seumur hidup kita bukanlah hal yang main-main.
Dari pada meladeni orang yang hanya ingin mengajak pacaran, yang hanya
membuang-buang waktu dan dosa, mendingan dicap pemilih, toh yang menjalani
hidup nanti kita bukan orang lain.
Benar jika
orang dahulu mengatakan bahwa kita harus menikah dengan orang yang jelas bibit,
bebet dan bobotnya. Sekarang realities saja, bagaimana mungkin kita menikah
hanya dengan orang itu saja, seyogianya kita bukan hanya menikah dengan
orangnya saja (pria) tapi kita juga menikah dengan keluarganya. Apakah keluarganya
baik? Apakah suami kita dan keluarganya mau menerima kita dan keluarga kita
dengan apa adanya? Begitu juga sebaliknya, apakah orang tua kita setuju dan mau
menerima keluarga calon suami kita apa adanya?
Ini hanya sekelumit hal
yang membuat saya sangat pemilih dalam urusan “jodoh” hehehe…sok idealis. Banyak
hal lain yang belum saya paparkan di sini. Hehehehe…
Di tengah-tengah kegalauan
itu sahabat-sahabatku yang sama-sama galau pun akhirnya memiliki pasangan. Otomatis
membuat hatiku makin galau. Karena merasa ditinggalkan sendiri menjadi orang
galau. Oh galau mengapa begitu menggalau.
Akhirnya
pada satu titik kegalauan, guru sehatku memanggilku dan berkata, disaksikan
oleh dua temanku yang galau, beliau berkata bahwa sebentar lagi jodohku akan
datang. aku mendengarnya dengan senyum-senyum gimana gitu…gak percaya, tapi aku
berusaha percaya karena ingat dengan semboyan hukum kepercayaan. Apa yang kau
percayai maka itu yang terjadi.
Hal itu
terbukti, seminggu kemudian aku di sms sahabat galauku “dia saat itu masih
single dan galau” ingin mengenalkan pada seseorang. Akhirnya aku pun
mengizinkan no hp-ku diberikan pada yang ingin dikenalkannnya. Kami pun
berkenalan, dan orang tersebut langsung mengatakan maksudnya. Dasar sudah
jodoh, anehnya aku pun mengizinkannya.
Beberapa minggu kemudian,
orang yang dikenalkan itu pun datang ke rumah dan melamarku. Idiiih…inikah jodohku? Gak salah kan? Beneran?
Kok bisa? Hahaha…itu pertanyaan-pertanyaan yang membuat say atersenyum-senyum
jika ingat bagaimana kami bertemu. Nanti, disambung lagi ceritanya yaaaa….
ngomong-ngomong sahabatku yang galau dan mengenalkanku pada temannya kini telah memiliki putra, dan jodohnya pun adalah orang yang tak disangka-sangaka...hehehe
Cikini, meja kerja (lagi nyantai)
20 Februari 2014
