Siapa yang tidak ingin mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Gaji
besar dan penuh gengsi. Tentunya semua orang menginginkannya? Lah
mengapa juga kita harus bekerja? Ya, kalau tidak bekerja kita gak punya
duit dooonk…kalau gak kerja kita gak bias ini, itu, bla bla…
Bekerja merupakan salah satu kebutuhan manusia, walaupun tujuannya
adalah memang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Jika kita
menengok teori hirarki kebutuhannya Maslow, bahwa kebutuhan manusia ada
lima tingkatan.
Kebutuhan pertama adalah
kebutuhan yang bersifat fisiologis. Ini adalah kebutuhan biologis.
Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh
relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang
tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam
pencarian seseorang untuk kepuasan. Puas makan, puas minum contohnya.
Kedua adalahkebutuhan akan rasa aman. Ketika semua kebutuhan fisiologis
puas dan tidakmengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan
keamanan dapat menjadi aktif. Aman dalam keuangan, aman dari bahaya
perang, hujan, panas dan lain sebagainya.
Ketiga,kebutuhan untuk dicintai dan disayangi. Alias di sini manusia
butuh yang namanya perhatian, mencintai dan dicintai oleh orang lain.
Pada tahap kebutuhan ini, banyak manusia yang galau, dan biasanya
menyerang semua usia. Dari anak-anak hingga orang tua. Cirinya, kalau
anak-anak pasti mencari perhatian dengan Berulah (dan biasanya disebut
nakal), kalau sudah remaja sampai dewasa mulailah termakan dengan virus
merah jambu, alaias jatuh cinta, memiliki pergaulan yang berkelompok,
hingga akhirnya memutuskan menikah dan membentuk keluarga baru.
Yang keempatadalah kebutuhan Harga diri, alias prestise atau gengsi.
Dulu kita ketika uangnya pas-pasan atau masih dalam level 1 (Kebutuhan
Fisiologis), mau beli sepatu atau baju yang harganya mahalan dikit saja
mikirnya beraus-ratus kali,mau makan saja lebih milih cari yang murah.
Tapi, kalau sudah terpenuhi alias sudah aman keuangannya maka yang
dipikiran yang ada hanyalah harga diri. Mau makan, cari tempat makan
khusus orang-orang yang harga dirinya tinggi, pakai baju, celana, jam
sepatu dan sebagainya haruslah yang menaikkan harga diri,bermerek dan
mahal.
Yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi
diri, konon Maslow mengatakan bahwa kebutuhan ini muncul apabila semua
kebutuhan dasar sampai peringkat ke empat sudah terpenuhi atau
terpuaskan, namun apakah manusia hidup hanya untuk mencari kepuasan
semata? Bukankah manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas?
Pernah salahsatu tokoh pengusaha di Indonesia, berkata bahwa ia
mencalonkan diri menjadi presiden merupakan dorongan ingin
mengaktualisasikan diri. Berarti kalau boleh saya cerna, ia berniat
nyapres karena ingin memenuhi kebtuhannya atau kepuasannya semata, kalau
tidak puas nanti bagaimana?
Ya, teori boleh ada karena itu semua
berasal dari pengalaman pribadi dan juga penelitiannya juga termasuk
teori Maslow ini. Hanya saja, jika kita lihat realitinya, adakah
sekarang orang yang sudah terpenuhi fisiologisnya, sandang pangan
papannya baru dia mau cari pacar atau pasangan? Atau sudah menikah baru
beli baju yang bermerek? Jam bermerek?
Kenyataannya
tidaklah demikian. Berapa banyak pengangguran yang ingin makan mewah,
punya pacar cantik/ganteng, supaya pas jalan banyakyang kagum. Berapa
banyak orang yang nyaleg berbekal ijazah palsu, berapa banyak orang
pura-pura kaya demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain.
Itu kebutuahn atau kepuasan? Hehehe…Semua kembali lagi ke diri
masing-masing. Wallahu’alam
*Catatan saat hujan di busway
Kamis, 12 Desember 2013
Kebutuhan atau Kepuasan?
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Senin, 16 September 2013
FENOMENA VICKY… AWALNYA GUNJINGAN JADI TREND?
Sumber gambar : http://www.youtube.com/watch?v=75pR9Rf3Vtg
Tak sengaja, membuka halaman FB ada sebuah status temanku
yang nge-share video wawancara konyol pada saat pertunangan artis
dangdut Zaskia Gotik dan juga calon suaminya yang membuat saya berhenti dan
meng-klik tagline tersebut. Berikut ini kata-kata yang membuat saya ingin
tertawa, apalagi dalam video diiringi dengan backsound yang sesuai dan menandakan kekonyolan sang actor.
"Di usiaku saat ini, ya twenty nine my age, tapi
aku masih merindukan apresiasi, karena basically aku seneng music walau kontroversi
hatiku lebih menunjukkan konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya.
Ya kita belajar pada harmonisisasi pada hal yang terkecil sampai yang terbesar. Aku pikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan mengkudeta apa yang menjadi keinginan.
Dengan hubungan ini bukannya untuk mempertakut bukan mempersuram statutisasi kemakmuran keluarga dia tapi menjadi confident. Kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita lebih baik dan aku sangat bangga."
Ya kita belajar pada harmonisisasi pada hal yang terkecil sampai yang terbesar. Aku pikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan mengkudeta apa yang menjadi keinginan.
Dengan hubungan ini bukannya untuk mempertakut bukan mempersuram statutisasi kemakmuran keluarga dia tapi menjadi confident. Kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita lebih baik dan aku sangat bangga."
Jujur, sebagai orang yang pernah bergabung
dalam komunitas kepenulisan ini adalah salah satu contoh orang yang
menghancurkan tatabahasa. Namun, anehnya di Negara kita tercinta ini di satu
sisi hal ini jadi gunjingan, apalagi sang tokoh adalah orang yang terlibat
banyak kasus. Tapi di sisi lain, hal ini malah diikuti “latah” dan dijadikan
trend.
Lihat saja, di FB atau pun media
sosial lainnya setiap status kebanyakan kini menggunakan gayanya Vicky. Mantap kali
orang ini, Cuma dua menit kemunculannya dalam wawancara, tapi sudah
menghipnotis manusia sebegitu banyaknya bahkan menjadi berita terus terutama di
infotaiment. Sms, status BB bahkan percakapan kita pun mulai menggunakan bahasa
“alay-nya Vicky”.
Fenomena ini adalah salah satu
rentetan dari latahnya manusia. Manusia adalah makhluk audio visual, artinya
apa yang ia dengar dan lihat dengan mudah menirunya bahkan tanpa filter untuk
membedakan apakah ini baik atau buruk jika dilakukan. Kuncinya, hanya pada
kesadaran masing-masing individu. Kesadaran itu dipelihara dan digunakan hanya
bagi orang-orang yang memiliki landasan idealisme dan keyakinan diri yang kuat,
sehingga ia tak mudah terpengaruh tapi terbuka dalam fikiran yang positif dan
bersabar dalam menjalankan proses kehidupannya.
Apa yang diucapkan Vicky mungkin itu adalah dampak dari kebiasaan ia sehari-hari. Sehingga, ia pun tanpa sadar melakukannya di ruang yang dia anggap sama seperti biasanya ia berkata-kata. Padahal itu membuat kontroversi hati...et dah mulai kebawa nih...hihihi. Ya, biarlah Vicky menjadi tren karena saat ini saatnya dia yang popular,
setelah masa habisnya kepopuleran Arya Wiguna melalui “GERBRAKAN MARAHNYA” dan
juga kepopuleran Syahrini dengan “Sesuatunya.” Bahasa, gaya adalah hal yang
mudah sekali menjadi model bagi orang lain. Alangkah bijaknya jika kita sebagai
manusia lebih hati-hati dalam berperilaku maupun berkata-kata. Karena apa yang
kita katakan dan lakukan adalah cerminan dari diri kita.Semoga kita menadi Model yang baik bagi orang lain, setidaknya jadilah model yang baik untuk keluarga kita.
GERAKAN INDONESIA SADAR
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Jumat, 13 September 2013
SAMPAH OH SAMPAH
Teringat
dahulu, rumahku adalah
langganan banjir. Pernah lagi nyenyak-nyenyaknya tidur terbangun, karena
kasur
sudah terapung di air dan aku Cuma bengong menyadari bahwa rumahku sudah
jadi
kolam yang berwarna coklat. Adikku sampai solat dengan kecepatan gigi 3
karena iar keburu masuk kamarnya. Hujan lebat, bau, dan lapar adalah hal
yang biasa kami rasakan ketika banjir datang. Semua orang marah-marah, marah sama
pemerintah karena tak becus mengatasi banjir. Mereka bahkan tak segan-segan
berteriak-teriak untuk segera mengganti Gubernur. Akhirnya kini Jokowi jadi
Gubernur, lalu apakah yang terjadi? Hujan beberapa lalu malah membuat rumahku
kembali tergenang banjir. Jadi, salah siapakah bencana ini? Gubernur? Atau
warganya?
Miris
memang rasanya, tiap kali aku keluar
rumah selalu saja melihat lingkungan yang dari segi kebersihan sangatlah jauh,
mengapa demikian? Ya, tentu saja karena rumahku berada di daerah padat penduduk
tak ayal menyebabkan amburadulnya susunan dan tata ruang di sana. Kali dekat
rumahku selain hitam tapi juga penuh dengan tumpukkan sampah.
Kadang, rasanya ingin ku marah
dengan perilaku warga yang seenaknya membuang sampah. Pernah suatu kali aku
menyaksikan sendiri bagaimana dengan santainya warga dari lantai dua rumahnya
melemparkan sekeresek sampah ke kali. Bayangkan jika semua warga melakukan hal
yang sama? Berapa banyak tumpukan dan penuhnya kali dengan sampah.
Perilaku yang lainnya yang kalau
dipikir-pikir kok nih orang “gak punya otak” adalah dengan enaknya membuang
sampah ke kali, padahal di sampingnya bahkan di depan matanya itu adalah TONG
SAMPAH. Sudah jelas-jelas di RW kami telah disediakan tong sampah di depan
rumah atau belakang rumah masing-masing rumah yang setiap paginya diangkut
sampahnya oleh petugas kebersihan.
Jika orang dewasa dan orang tuanya
saja sudah berperilaku demikian, lalu bagaimana dengan anak-anak mereka. Padahal
yang kita tahu, apa yang dilakuakn oleh orang tua adalah cermin yang akan
dilihat oleh anak-anaknya. Apakah tidak terjadi ‘galauisasi’( red Vickybollary)
di hati mereka, yang di sekolah harus menjaga kebversihan tapi di rumah ia
melihat perilaku keluarganya yang sebaliknya.
Beberapa kali ku lihat berita di media
bagaimana pak gubernur melalukan langkah-langkah yang luar biasa dalam
menanggulangi bencana banjir, mulai dari perbaikan waduk, mengeruk waduk,
merelokasi warga yang tinggal di daerah banjir atau resapan air ke tempat yang
lebih layak, sungguh aku acungkan jempol! Tapi, lagi-lagi aku selalu ironis
dengan perilaku warganya yang “ngeyel”, tak mau direlokasi, padahal sudah
diberikan tempat yang layak dan gratis, bahakan jika harus bayarpun dengan
cicilan yang sesuai.
Entahlah, yang jelas kita semua
harus sadari bahwasanya manusia adalah makhluk yang selalu tidak puas, selalu
mencari pembenaran dengan apa yang dilakukannya tanpa melihat dan dan
menganalisa dari berbagai sudut. Kadang terpikir juga olehku, mungkin mereka
tidak tahu, tidak mengerti dan lain-lain. Tapi batinku yang lain berkata, mana
mungkin tinggal di Ibu kota jika tidak tahu apa-apa. Ini hanya unek-unek saya
sebagai warga yang selalu melihat setiap harinya keanehan warga Jakarta
melakukan hal yang aneh-aneh, ini hanya satu potret saja, masih banyak potret
lain yang membuat saya berkata,” Lho…kok bisa?”
Kesadaran itu hanya bagi-bagi orang
yang bersyukur dan bersabar. Semoga kita adalah salah satu orang yang ada di
dalamnya. Ayo kita canangkan GERAKAN SADAR INDONESIA! SADAR SESADAR-SADARNYA!
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Jumat, 23 Agustus 2013
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Jumat, 26 April 2013
Tasrifin
Sumber Gambar : http://www.bayikuning.com/2013/04/siapa-tasripin-anak-banyumas-di-twitter.html
Sebuah media dalam program beritanya menayangkan sosok bocah 12 tahun yang patut diberikan apresiasi, namanya Tasrifin. Sejak ia muncul di media, bocah itu menjadi sosok yang diperbincangkan dan mengundang perhatian masyarakat terutama pemerintah tentunya. Mengapa tidak, bocah 12 tahun itu hidup dengan mengasuh tiga orang adiknya yang masih kecil-kecil. Ia tidak lanjut sekolah karena sudah menjadi tuilang punggung keluarganya. Yatim, karena ibunya meninggal karena tertimpa longsor yang terjadi di daerahnya saat bekerja, sedangkan sang ayah pergi mencari uang ke Kalimantan meninggalkan ia beserta tiga orang adiknya. Selama enam bulan sang ayah tak pernah pulang.
Tasrifin mengundang keprihatinan masyarakat, jurnalis yang menemukannya membuat ia menjadi terkenal sebagai ANAK TANGGUH. Di usianya yang masih bocah, atau menuju remaja tasrifin benar-benar kuat dan tangguh. Ia membanting tulang bekerja mencari uang untuk makan ketiga adiknya, ia juga mengerjakan semua pekerjaan rumah ari mulai bagun pagi memasak air, memandikan adik-adiknya, membuat makanan, mencuci dan lain sebagainya. Sungguh mental yang kuat diusia itu. Yang patut diacungi jempol adalah Tasrifin tak pernah mengeluh ataupun meminta-minta kepada orang lain.
Semenjak ia muncul di berbagai media dan terkenal, Pemerintah setempat, politikus, dermawan yang datang dan memberikan bantuan, dari mulai diperbaikinya rumah, uang, beras, kambing dan lain sebagainya. Bahkan Sang Presiden RI pun melalui ajudannya memberikan segepok uang. Aneh memang, entah mengapa disini ada sebuah ironis. Karena, kebanyakan bantuan dai mereka hanya bersifat jangka pendek, bukan jangka panjang.
Semenjak muncul di televisi dan menjadi tamu di beberapa program tv, Ayahnya pun pulang. Saya sempat melihat di sebuah program talk show saat itu ayahnya Tasrifin diwawancara. Dengan alasan untuk mencari uang ia pun terpaksa meninggalkan anak-anaknya. Otomatis semua tanggung jawab orang tuanya Tasrifinlah yang menanggung.
Jika dilihat secara mental, Tasrifin patut diacungi jempol. Karena dengan keadaannya sekali lagi ia tak pernah mengeluh atau pun meminta-minta seperti yang dilakukan kebanyakan orang yang banyak kita lihat di jalan-jalan. Namun, cara bantuan yang diberikan oleh beberapa pihak, mungkin harus segera diperbaiki. Karena mental baja yang tengah ada pada diri Tasrifin jangan sampai berubah menjadi mental manja karena banyaknya orang yang memberikan bantuan. Lebih baik bantuan itu yang bersifat jangka panjang dan mendidik. Tasrifin butuh pendidikannya dilanjutkan itu yang paling paling penting.
Kisah Tasrifin adalah salah satu fenomena yang menggambarkan bagaimana sengsaranya anak-anak Indonesia di luar sana harus bekerja keras demi hidup dan keluarganya. Mereka adalah anak-anak yang harus diselamatkaan jiwa dan mentalnya. Karena, merekalah penerus bangsa ini.uran Mental yang paling penting itu harus digaris bawahi, karena jika mentalnya bobrok maka akan jadi apa mereka di masa ddepan. Mental meinta-minta, ingin dikasihani, mental tawuran dan lain sebagainya.
Mereka harus diberikan pelayanan dan program-program yang berkesinambungan dalam hal mengarahkan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik lagi. Terutama dengan program-prorgam pendidikan, keagamaan, kemandirian, bukan hanya bantuan yang sifatnya sementara dan hanya diberikan ketika media mem-blow-up saja. Ini adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai bagi pemerintah dan kita semua sebagai manusia.
Semoga dengan adanya kisah Tasrifin ini, kita semua semakin sadar bahwa di luar sana banyak orang yang lebih sengsara dari pada kita, dan kita wajib bersyukur dengan apa yang kita dapatkan saat ini. Kita menjadi lebih peka dan lebih peduli. Bukankah sebaik-baiknya umat adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Sekecil apa pun bantuan ataupun usaha yang kita lakukan, Insyaallah akan menjadi manfaat bagi orang yang membutuhkannya, asalkan kita ikhlas dan sabar.
Kisah Tasrifin bukan hanya di desanya, tapi di mana-mana ada Tasrifin. Ayo buka mata dan hati kita. Kita jadikan hidup kita lebih sukses dan kaya, agar dapat membantu orang lain. Amin.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Kesempatan Hidup
Aku terbangun dengan tiba-tiba. Bingung dan tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi padaku. Aku berbaring di pinggir jalan dengan darah yang terus menetes dari hidungku. Seorang wanita dengan stetoskop di lehernya terdengar berucap" Alhamdulillah sudah sadar, mbak."
Lalu dia terus membersihkan darah yang keluar dari hidungku dengan catton bath, seraya bertanya, "Mbak namanya siapa?"
aku belum bisa menjawab, aku melihat di sekeliling. Terlihat ada dua laki-laki yang bedarah juga di bagian kepalanya. Beberapa orang mengerubuni kami. Suasana begitu gelap, entah jam berapa. Ramai terdengar suara orang berbincang dan juga lalu lalang kendaraan.
"Mbak namanya siapa?" tanya si wanita dan diikuti dengan suara laki-laki.
"Iya, mbak namanya siapa?"
Aku bingung, sekaligus berfikir. Aku pun mengingat-ingat lagi apa yang terjadi. Kepalaku terasa sakit dan pusing.
"Li...na" jawabku, teringat dengan siapa diriku.
"Oh, Lina. oke...mbak Lina ada keluarga yang bisa dihubungi?" tanya si wanita muda itu.
Aku terdiam sejenak, meraba kantong celana. Aku teringat dengan telpon selularku.
"Mbak sabar ya," seorang gadis belia memegangi tanganku yang terluka berdarah.
Aku menemukan ponsel di kantung celanaku, langsung kulihat nama-nama dan tertuju pada satu nama yang tiba-tiba muncul di otakku, "Bagus" ucapku. Aku ingat, dia calon suamiku. Aku segera menghubunginya.
"Hallo...."
"Salamu'alaikum", jawab di sebrang sana.
"sayang aku kecelakaan" kataku
"Apa? di mana?"tanyanya terdengar panik.
Aku terdiam, melihat sekeliling dengan terbatas. Aku pun bertanya pada gadis belia yang memegangi tanganku dan memandangku penuh kasih.
"Mbak aku dimana?"
"Di Jl. Mesjid Ar-Ridwan Jati padang" jawabnya.
"A...ku di jati padang" kataku.
Setelah itu hp pun mati. Entah pulsanya habis atau bagaimana.
"Mbak, ini hp saya. Atasan saya namanya bu Endang cari saja" kataku tak berdaya. Wanita yang bergaya dokter itu pun menelpon bu Endang.
Kepalaku sakit sekali, ingin rasanya aku tertidur. Rasanya sangat ngantuk sekali dan ingin kupejamkan mata saja. Terdengar bapak-bapak berkata bahwa yang menabrak kami lolos dan tidak dapat dikejar. Aku melihat pak Kislam, Office Boy yang mengantarku dengan motor terluka dan duduk seperti orang kebingungan. Ia terlihat sangat shock. Aku bertanya apa dia baik-baik saja. tapi mulutku tak mampu berkata-kata banyak. berat rasanya.
"Tahan ya mbak," kata wanita yang memakai stetoskop dilehernya sambil membersihkan luka ditanganku dengan alkohol.
"auuuuu..."aku meringis kesakitan. Perih memang dan sangat sakit.
setelah itu, dengan sigap ia membungkus lukaku dengan perban.
Kepalaku terasa sangat sakit dan pusing. Aku menengok ke arah gadis belia yang memegangi tanganku. Entah kenapa tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. Aku melihat ke langit, langit berwarna gelap tapi terang karena lampu jalan.
"Ya Allah, ternyata aku masih hidup. Kau masih memberikanku waktu tuk menjalani dan bertobat. Ya Allah, maafkan dan ampuni segala kesalahanku. Allah aku masih banyak hutang yang harus ku bayar, kesalahan yang harus ku tebus dan aku belum meminta maaf kepada semua orang yang telah aku dzalimi. Ampuni aku ya Allah...astagfirullah" doaku dlaam hati.
Terbayang semua wajah-wajah yang ku rindukan, Mamah, bapak, calon suamiku, adik-adikku, Om Bagus, Mbak wie, semua orang yang aku cintai. Terbayang semua dosa-dosa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku terus menangis dan bergumam menyebut nama-nama mereka. Ku pejamkaan mataku karena tak kuat dan terasa sangat ngantuk sekali.
"Mbak kuat ya, mbak jangan tidur" kata gadis belia itu
"Kenapa?" tanyaku"kenapa tak boleh tidur?"
"Nggak apa-apa mbak, supaya gak hilang lagi" jawab wanita bergaya dokter sambil membersihkan darah dihidungku lagi.
Aku memegang erat tangan gadis vbelia yang ku perkirakan masih SMA itu.
"Mbak tolong bacakan al-fatihah ya untuk saya." Pintaku padanya, ia hanya mengangguk.
Aku teringat dengan ajaran guru-guruku untuk selalu membacakan al-fatihah dalam setiap apa pun yang terjadi, agar hati kuat. Setelah beberapa lama kemudian, muncullah beberapa teman kantorku Bu Marry dan suaminya, Bu Endang dan Bu Endah. Aku tak ingat bagaimana, yang jelas aku dibawa ke RS. Entahlah antara sadar atau tidak aku dibawa ke RS terdekat.
Hal yang paling ku syukuri adalah bahwasannya hingga saat ini aku masih diberikan kesempatan hidup untuk dapat mengisi umurku dengan perbuatan terbaik dan ketakwaan. Aku tak dapat bayangkan jika aku terbangun bukan di pinggir jalan tapi di alam kubur, dan suara pertama yang bertanya bukan suara sang penolong yang menanyakan siapa namaku dan siapa keluargaku yang dapat dihubungi, tapi suara malaikat yang menanyakan siapa tuhanku dan bagaiamana imanku.
Astagfirullahal'adziiim ya Allah. Semoga ke depan aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi yang dapat mengisi kehidupan ini dengan baik, benar dan bagus. Terima kasih kepada keluargaku, Teman-teman di mana pun berada yang telah menolongt, menjenguk dan mendoakanku. Maafkan segala kesalahan saya selama ini. Semoga kita semua dapat mempergunakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Amiin.
"Orang yang paling beruntung adalah, orang yang lebih baik dari hari kemarin"
Lalu dia terus membersihkan darah yang keluar dari hidungku dengan catton bath, seraya bertanya, "Mbak namanya siapa?"
aku belum bisa menjawab, aku melihat di sekeliling. Terlihat ada dua laki-laki yang bedarah juga di bagian kepalanya. Beberapa orang mengerubuni kami. Suasana begitu gelap, entah jam berapa. Ramai terdengar suara orang berbincang dan juga lalu lalang kendaraan.
"Mbak namanya siapa?" tanya si wanita dan diikuti dengan suara laki-laki.
"Iya, mbak namanya siapa?"
Aku bingung, sekaligus berfikir. Aku pun mengingat-ingat lagi apa yang terjadi. Kepalaku terasa sakit dan pusing.
"Li...na" jawabku, teringat dengan siapa diriku.
"Oh, Lina. oke...mbak Lina ada keluarga yang bisa dihubungi?" tanya si wanita muda itu.
Aku terdiam sejenak, meraba kantong celana. Aku teringat dengan telpon selularku.
"Mbak sabar ya," seorang gadis belia memegangi tanganku yang terluka berdarah.
Aku menemukan ponsel di kantung celanaku, langsung kulihat nama-nama dan tertuju pada satu nama yang tiba-tiba muncul di otakku, "Bagus" ucapku. Aku ingat, dia calon suamiku. Aku segera menghubunginya.
"Hallo...."
"Salamu'alaikum", jawab di sebrang sana.
"sayang aku kecelakaan" kataku
"Apa? di mana?"tanyanya terdengar panik.
Aku terdiam, melihat sekeliling dengan terbatas. Aku pun bertanya pada gadis belia yang memegangi tanganku dan memandangku penuh kasih.
"Mbak aku dimana?"
"Di Jl. Mesjid Ar-Ridwan Jati padang" jawabnya.
"A...ku di jati padang" kataku.
Setelah itu hp pun mati. Entah pulsanya habis atau bagaimana.
"Mbak, ini hp saya. Atasan saya namanya bu Endang cari saja" kataku tak berdaya. Wanita yang bergaya dokter itu pun menelpon bu Endang.
Kepalaku sakit sekali, ingin rasanya aku tertidur. Rasanya sangat ngantuk sekali dan ingin kupejamkan mata saja. Terdengar bapak-bapak berkata bahwa yang menabrak kami lolos dan tidak dapat dikejar. Aku melihat pak Kislam, Office Boy yang mengantarku dengan motor terluka dan duduk seperti orang kebingungan. Ia terlihat sangat shock. Aku bertanya apa dia baik-baik saja. tapi mulutku tak mampu berkata-kata banyak. berat rasanya.
"Tahan ya mbak," kata wanita yang memakai stetoskop dilehernya sambil membersihkan luka ditanganku dengan alkohol.
"auuuuu..."aku meringis kesakitan. Perih memang dan sangat sakit.
setelah itu, dengan sigap ia membungkus lukaku dengan perban.
Kepalaku terasa sangat sakit dan pusing. Aku menengok ke arah gadis belia yang memegangi tanganku. Entah kenapa tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. Aku melihat ke langit, langit berwarna gelap tapi terang karena lampu jalan.
"Ya Allah, ternyata aku masih hidup. Kau masih memberikanku waktu tuk menjalani dan bertobat. Ya Allah, maafkan dan ampuni segala kesalahanku. Allah aku masih banyak hutang yang harus ku bayar, kesalahan yang harus ku tebus dan aku belum meminta maaf kepada semua orang yang telah aku dzalimi. Ampuni aku ya Allah...astagfirullah" doaku dlaam hati.
Terbayang semua wajah-wajah yang ku rindukan, Mamah, bapak, calon suamiku, adik-adikku, Om Bagus, Mbak wie, semua orang yang aku cintai. Terbayang semua dosa-dosa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku terus menangis dan bergumam menyebut nama-nama mereka. Ku pejamkaan mataku karena tak kuat dan terasa sangat ngantuk sekali.
"Mbak kuat ya, mbak jangan tidur" kata gadis belia itu
"Kenapa?" tanyaku"kenapa tak boleh tidur?"
"Nggak apa-apa mbak, supaya gak hilang lagi" jawab wanita bergaya dokter sambil membersihkan darah dihidungku lagi.
Aku memegang erat tangan gadis vbelia yang ku perkirakan masih SMA itu.
"Mbak tolong bacakan al-fatihah ya untuk saya." Pintaku padanya, ia hanya mengangguk.
Aku teringat dengan ajaran guru-guruku untuk selalu membacakan al-fatihah dalam setiap apa pun yang terjadi, agar hati kuat. Setelah beberapa lama kemudian, muncullah beberapa teman kantorku Bu Marry dan suaminya, Bu Endang dan Bu Endah. Aku tak ingat bagaimana, yang jelas aku dibawa ke RS. Entahlah antara sadar atau tidak aku dibawa ke RS terdekat.
Hal yang paling ku syukuri adalah bahwasannya hingga saat ini aku masih diberikan kesempatan hidup untuk dapat mengisi umurku dengan perbuatan terbaik dan ketakwaan. Aku tak dapat bayangkan jika aku terbangun bukan di pinggir jalan tapi di alam kubur, dan suara pertama yang bertanya bukan suara sang penolong yang menanyakan siapa namaku dan siapa keluargaku yang dapat dihubungi, tapi suara malaikat yang menanyakan siapa tuhanku dan bagaiamana imanku.
Astagfirullahal'adziiim ya Allah. Semoga ke depan aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi yang dapat mengisi kehidupan ini dengan baik, benar dan bagus. Terima kasih kepada keluargaku, Teman-teman di mana pun berada yang telah menolongt, menjenguk dan mendoakanku. Maafkan segala kesalahan saya selama ini. Semoga kita semua dapat mempergunakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Amiin.
"Orang yang paling beruntung adalah, orang yang lebih baik dari hari kemarin"
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Jumat, 12 April 2013
SANG GURU KEHIDUPAN
"Bagiku, keluarga bukanlah hanya karena mereka memiliki ikatan darah, namun keluarga adalah mereka yang sayang padamu dan kita menyayanginya di mana pun kapan pun walaupun tanpa ada ikatan atau pertalian darah"
Mengapa? karena semuanya adalah pengalaman yang aku rasakan selama hidup 27 tahun ini. Keluarga yang kumiki sangatlah banyak, salah satunya adalah keluarga besar kampus pencetak motivator pertama di Indonesia yakni KAHFI. Di sana aku berteme dengan orang-orang yang luar biasa, termasuk sang guru yang sangat aku sayangi dan telah ku anggap sebagai ayahku sendiri, Tubagus Wahyudi yang biasa kami panggil dengan sebutan "om bagus".
Om bagus selalu mengajarkan tentang arti kesadaran diri, optimis dan arti dari bagaimana kita memaknai dan menjalani kehidupan. Ajarannya selalu menyejukkan dan membuat hatiku bergejolak dalam meraih impian. Beliau selalu membuatku merindukan suaranya ketika memberikan pengarahan maupun ajarannya. di luar kampus, atau di rumah ataupun di tempat lain aku selalu merasa dia adalah orang tuaku. Dia memperlakukan kami murid-muridnya tanpa pandang bulu, dengan bijaksana dan adil sesuai porsi yang dibutuhkan. karena itulah yang kami butuhkan dalam proses menerapi diri.
Tak ayal, kami sering makan bersama di rumah atau di luar bersama-sama. Kadang om bagus sengaja memasak untuk kami. Tak ayal membuat kami merasa sangat istimewa. Sungguh beliau adalah tipe manusia langka yang ada dan harus dilestarikan dengan membentuk penerus beliau.
"Bagiku, keluarga bukanlah hanya karena mereka memiliki ikatan darah, namun keluarga adalah mereka yang sayang padamu dan kita menyayanginya di mana pun kapan pun walaupun tanpa ada ikatan atau pertalian darah"
Mengapa? karena semuanya adalah pengalaman yang aku rasakan selama hidup 27 tahun ini. Keluarga yang kumiki sangatlah banyak, salah satunya adalah keluarga besar kampus pencetak motivator pertama di Indonesia yakni KAHFI. Di sana aku berteme dengan orang-orang yang luar biasa, termasuk sang guru yang sangat aku sayangi dan telah ku anggap sebagai ayahku sendiri, Tubagus Wahyudi yang biasa kami panggil dengan sebutan "om bagus".
Om bagus selalu mengajarkan tentang arti kesadaran diri, optimis dan arti dari bagaimana kita memaknai dan menjalani kehidupan. Ajarannya selalu menyejukkan dan membuat hatiku bergejolak dalam meraih impian. Beliau selalu membuatku merindukan suaranya ketika memberikan pengarahan maupun ajarannya. di luar kampus, atau di rumah ataupun di tempat lain aku selalu merasa dia adalah orang tuaku. Dia memperlakukan kami murid-muridnya tanpa pandang bulu, dengan bijaksana dan adil sesuai porsi yang dibutuhkan. karena itulah yang kami butuhkan dalam proses menerapi diri.
Tak ayal, kami sering makan bersama di rumah atau di luar bersama-sama. Kadang om bagus sengaja memasak untuk kami. Tak ayal membuat kami merasa sangat istimewa. Sungguh beliau adalah tipe manusia langka yang ada dan harus dilestarikan dengan membentuk penerus beliau.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Kamis, 10 Januari 2013
Kirim Naskah Remajamu ke teen@noura
Kirim naskahmu ke teen@noura!
Kamu suka menulis dan ingin jadi penulis best-seller?
Ayo gabung bersama keluarga Noura Books, melalui lini remajanya: teen@noura
.
Kirimkan naskahmu ke redaksi@noura.mizan.com dengan subjek email: NASKAH REMAJA Apa aja yang bisa kamu kirim?
· Fiksi: Novel romantis yang inspiratif
· Nonfiksi: catatan personal remaja yang unik
Ketentuannya:
· Naskah diketik dengan jenis huruf Times New Roman, 12 pt, spasi ganda. Boleh gunakan huruf lainnya untuk judul bab dan subbab.
· Ketebalan naskah 200-300 halaman A4 margin 3-3-3-3.
· Sertakan sinopsis lengkap, kelebihan naskah kamu, dan biodata kamu (wajib)
Kirim sekarang dan impian menjadi penulis akan semakin tergapai!
sumber: http://noura.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=331
Kamu suka menulis dan ingin jadi penulis best-seller?
Ayo gabung bersama keluarga Noura Books, melalui lini remajanya: teen@noura
.
Kirimkan naskahmu ke redaksi@noura.mizan.com dengan subjek email: NASKAH REMAJA Apa aja yang bisa kamu kirim?
· Fiksi: Novel romantis yang inspiratif
· Nonfiksi: catatan personal remaja yang unik
Ketentuannya:
· Naskah diketik dengan jenis huruf Times New Roman, 12 pt, spasi ganda. Boleh gunakan huruf lainnya untuk judul bab dan subbab.
· Ketebalan naskah 200-300 halaman A4 margin 3-3-3-3.
· Sertakan sinopsis lengkap, kelebihan naskah kamu, dan biodata kamu (wajib)
Kirim sekarang dan impian menjadi penulis akan semakin tergapai!
sumber: http://noura.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=331
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Langganan:
Komentar (Atom)


