Merindu...
entah mengapa aku harus merindu
merindu padamu
satu di dalam hatiku
engkau tahu itu
bahkan tadi kita pun sama-sama berucap rindu
seribu kata rindu
bahkan selautan kata rindu
tak mampu menghapus
semua rindu
di dalam hatiku
karna tetap saja kutahu
kau jauh...
ku rindu
selalu ku rindu
kau satu
di dalam hatiku
Kamis, 30 Desember 2010
Merindu
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Garut-Jakarta Bagian ke-1
Tiga minggu yang lalu aku mendapatkan sebuah sms yang cukup mengejutkan seligus menggembirakan. Sahabatku menikah. Dia adalah anak dari pendiri, dan pengasuh Pondok Pesantrean tempatku menuntut ilmu. Langsung saja aku membuat rencana dan mencoba mencari celah agar ku bisa datang ke acara tersebut. Mulai dari mengatur skejulku dan juga izin orang tua.
Magrib tanggal 27, di kotsanku ada Kak Amin yang masih berkutat menerjemahkan jurnal-jurnal berbahasa Inggris.Dia orang baik yang mau membantuku dalam menyelesaikan skripsiku. Aku dan adikku Arief baru tiba dari Mall. Kami baru saja selesai membeli barang untuk dijadikan kado. Kami langsung mengemas kado. Setelah selesai adikku arief dan kak Amin pun hengkang dari kotsan. Mereka tahu aku akan berangkat setelah salat.
Dengan penuh semangat ku bereskan PR dahulu. Mulai dari mencuci baju, menyetrika, hingga mencuci piring dan bersih-bersih kamar. Lega rasanya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Dengan cepat kusabet tas ranselku... dan kupercepat langkah kakiku untuk sampai di depan jalan besar. Tepatnya di Depan Gerbang UIN Jakarta.
Menunggu bis 76 memang lama. Akhirnya ku putuskan untuk naik angkot ke pasar Jum'at. Dari sana aku naik bis Kopaja P20 ke arah senen. Selama perjalanan aku berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang tak kuinginkan. Pikiranku mulai melayang, mengingat masa silam. Di mana aku pernah ditodong oleh segerombolan laki-laki bertampang menyesakkan.
Bis berjalan cukup alot. Macet. itulaha Jakarta. Di tambah lagi ku lihat banyak pemuda-pemudi yang mengenakan baju koko mengadakan konvoi, entah dalam rangka apa, malam-malam pula. Aku celingukan, dan baru kusadari ternyata di bis itu, akulah perempuan sendirian. Hick...
Kekhawatiranku berkurang, tatkala beberapa wanita naik. Selama perjalanan ku perhatikan orang satu persatu. Mereka terlihat sangat lelah bahkan begitu nyenyak tertidur. Imaginasiku pun terbang pada mata kuliah kemarin malam tentang Hypnotheraphy. Aku tahu sekarang, mengapa orang yang naik bis gampang sekali terkena kejahatan. Karena mereka masuk ke dalam gelombang Theta. Gelombang di mana orang berada dalam kondisi tak sadar. Ya inilah buktinya, begitu mudahnya ketika kita dalam bis, taksi atau angkot, kita tertidur. Bahkan untuk menolaknya pun tak sanggup, walau bis dalam keadaan penuh sesak.
Sampailah aku di depan Pasar Festival Kuningan. Aku turun dan naik taksi menuju rumah, mengingat bis ke arah rumahku sudah tidak ada, karena mungkin sudah malam. Saat itu jam di HP-ku menunjukkan pukul 22.30 WIB. Di dalam taksi Ayahku menelpon, mungkin dia khawatir anaknya yang pemberani ini mengapa belum sampai juga ke rumah.
Keluar dari taksi aku berjalan menuju gang rumah. Ternyata Ayahku sudah menungguku di luar. Wajahnya terlihat cemas. "Kamu mau pergi ke Garut jam berapa? Jam segini baru sampai?!" Aku hanya diam. Di dalam rumah Mamah memberiku minum. Ternyata Bapak telah memesan ojek untuk mengantarkanku ke Cililitan, tempat bis Primajasa ngetem. Dengan sigapa aku pun segera pamit dan berangkat, mengingat seperempat jam lagi bis terakhir berangkat.
Langkahku terhalang ketika mamah membawakan sebuah kresek besar. Aku curiga, dan ternyata benar...Aku harus bawa itu semua untuk oleh-oleh kakak-kakakku di Garut. Rempong dah...
Dengan kekuatan ojeknya, Mang Ipul langganan keluargaku ngebut setengah malam. he he... Tepat pukul 22.50 WIB kami tiba. Dengan penuh semangat aku pun naik bis Jurusan Jakarta-Tasik. Akhirnya...
BERSAMBUNG DULU YACH...NGANTUK
Magrib tanggal 27, di kotsanku ada Kak Amin yang masih berkutat menerjemahkan jurnal-jurnal berbahasa Inggris.Dia orang baik yang mau membantuku dalam menyelesaikan skripsiku. Aku dan adikku Arief baru tiba dari Mall. Kami baru saja selesai membeli barang untuk dijadikan kado. Kami langsung mengemas kado. Setelah selesai adikku arief dan kak Amin pun hengkang dari kotsan. Mereka tahu aku akan berangkat setelah salat.
Dengan penuh semangat ku bereskan PR dahulu. Mulai dari mencuci baju, menyetrika, hingga mencuci piring dan bersih-bersih kamar. Lega rasanya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Dengan cepat kusabet tas ranselku... dan kupercepat langkah kakiku untuk sampai di depan jalan besar. Tepatnya di Depan Gerbang UIN Jakarta.
Menunggu bis 76 memang lama. Akhirnya ku putuskan untuk naik angkot ke pasar Jum'at. Dari sana aku naik bis Kopaja P20 ke arah senen. Selama perjalanan aku berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang tak kuinginkan. Pikiranku mulai melayang, mengingat masa silam. Di mana aku pernah ditodong oleh segerombolan laki-laki bertampang menyesakkan.
Bis berjalan cukup alot. Macet. itulaha Jakarta. Di tambah lagi ku lihat banyak pemuda-pemudi yang mengenakan baju koko mengadakan konvoi, entah dalam rangka apa, malam-malam pula. Aku celingukan, dan baru kusadari ternyata di bis itu, akulah perempuan sendirian. Hick...
Kekhawatiranku berkurang, tatkala beberapa wanita naik. Selama perjalanan ku perhatikan orang satu persatu. Mereka terlihat sangat lelah bahkan begitu nyenyak tertidur. Imaginasiku pun terbang pada mata kuliah kemarin malam tentang Hypnotheraphy. Aku tahu sekarang, mengapa orang yang naik bis gampang sekali terkena kejahatan. Karena mereka masuk ke dalam gelombang Theta. Gelombang di mana orang berada dalam kondisi tak sadar. Ya inilah buktinya, begitu mudahnya ketika kita dalam bis, taksi atau angkot, kita tertidur. Bahkan untuk menolaknya pun tak sanggup, walau bis dalam keadaan penuh sesak.
Sampailah aku di depan Pasar Festival Kuningan. Aku turun dan naik taksi menuju rumah, mengingat bis ke arah rumahku sudah tidak ada, karena mungkin sudah malam. Saat itu jam di HP-ku menunjukkan pukul 22.30 WIB. Di dalam taksi Ayahku menelpon, mungkin dia khawatir anaknya yang pemberani ini mengapa belum sampai juga ke rumah.
Keluar dari taksi aku berjalan menuju gang rumah. Ternyata Ayahku sudah menungguku di luar. Wajahnya terlihat cemas. "Kamu mau pergi ke Garut jam berapa? Jam segini baru sampai?!" Aku hanya diam. Di dalam rumah Mamah memberiku minum. Ternyata Bapak telah memesan ojek untuk mengantarkanku ke Cililitan, tempat bis Primajasa ngetem. Dengan sigapa aku pun segera pamit dan berangkat, mengingat seperempat jam lagi bis terakhir berangkat.
Langkahku terhalang ketika mamah membawakan sebuah kresek besar. Aku curiga, dan ternyata benar...Aku harus bawa itu semua untuk oleh-oleh kakak-kakakku di Garut. Rempong dah...
Dengan kekuatan ojeknya, Mang Ipul langganan keluargaku ngebut setengah malam. he he... Tepat pukul 22.50 WIB kami tiba. Dengan penuh semangat aku pun naik bis Jurusan Jakarta-Tasik. Akhirnya...
BERSAMBUNG DULU YACH...NGANTUK
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Minggu, 24 Oktober 2010
SYIRIK DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI
(Tugas Ini disusun untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Psikologi Islam)
A. Pengertian Syirik
Syirik berasal dari bahasa arab syaroka-yusyriku yang artinya bersekutu. Secara istilah syar’i adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya.
B. Dasar-Dasar Esensial Tentang Tauhid dan Syirik
Pokok utama setiap dakwah para Nabi dan Rasul sepanjang masa ialah menyeru manusia agar menunjukkan ibadah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, seraya menjauhkan diri dari menunjukkan kepada apa dan siapa pun selain-Nya.
Seperti yang dikutip oleh penulis dari Syaikh Ja’far Subhani (1987), tauhid dalam ibadah, serta pembebasan diri dari belenggu kemusyrikan dan keberhalaan (watsaniyah), merupakan yang paling terpenting di antara ajaran-ajaran agama-agama samawi, dan yang paling menonjo di antara risalah-risalah para Nabi. sedemikian pentingnya seolah-olah para Nabi dan Rasul tidaklah diutus kecuali demi satu sasaran saja, yaitu memperkukuh pondasi tiang-tiang pancang tauhid, serta pemberatasan kemusyrikan. Dengan jelas Al-Quran menyebutkan tentang hakikat ini.
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36)
Penyebab timbulnya kemusyrikan antara lain pertama, karena adanya kepercayaan akan adanya lebih dari satu pencipta. Kedua Anggapan tentang jauhnya al-Khaliq dari mkhluk-Nya, dalam hal ini mereka menganggap bahwa Allah tidak mendengar ucapan mereka, dan tidak sampai kepada-Nya segala doa dan permohonan mereka. Untuk itu mereka memilih berbagai wasilah (perantara) yang diperkirakan dapat mewakili dalam menyampaikan doa-doa mereka. Seolah-olah kedudukan manusia-manusia pemegang jabatan tinggi, tidak mungkin seseorang dapat menghadap mereka kecuali melalui perantara-perantara. Untuk itu mereka menyembah (beribadah) orang-orang yang dianggap suci, malaikat, jin, dan arwah, agar menyampaikan doa-doa mereka ke hadapan Allah.
Ketiga, pelimpahan wewenang pentadbiran kepada Tuhan-Tuhan kecil. Yakni, dalam hati kecil manusi amerasakan khundu (ketundukan tertentu) kepada sesuatu kekuatan tertinggi, seraya menganggap dirinya kecil sekali dihadapan kekuatan seperti itu. Perasaan fitri seperti ini, meskipun tidak terungkap dengan lisan dan anggota tubuh lainnya, selalu bersemayam jauh dalam hati sanubarinya dalam bentuk perasaan khundhu, dan kepasrahan. Di sisi lainnya, ia sudah terbiasa berhubungan dengan benda-benda inderawi, sehingga menjadikannya selalu ingin menuangkan segala sesuatu dalam acuan inderawi. Atas dasar inilah orang musyrik ingin menvisualkan kekuatan-kekuatan gaib dalam bentuk benda-benda yang dapat dilihat.
C. Syirik Merupakan Gangguan Kepribadian (Psikopatologi) dalam Psikologi Islam
Dalam bukunya, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Abdul Mujib (2005), bahwa syirik termasuk dalam gangguan kepribadian (psikopatologi) dalam Islam. Kepribadian menyekutukan Allah atau syirik merupakan sikap dan perilaku menduakan terhadap masalah-masalah yang berkaitan keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Syirik merupakan karakter orang-orang yang musyrik. Penyakit syirik yang menyerang orang mukmin tergolong psikopatologi, sebab pelakunya tidak mampu mengintegrasikan kepribadiannya dengan baik. Namun, syirik yang terjangkit pada orang kafir bukan hanya mengakibatkan psikopatologi, tetapi mengakibatkan kematian kalbunya. Seseorang yang menghambakan diri pada sesuatu selain Allah SWT, berarti ia menerima perbudakan, membelenggu diri, dan mengekang kebebasan, padahal ciri manusia adalah kebebasan.
Kalimah tauhid lâ ilâha illa Allâh yang artinya tiada tuhan selain Allah merupakan bentuk pembebasan diri manusia dari segala belenggu relativitas dunia dan segala isinya, kemudian menundukkan dan menyerahkan diri sepenuh hati kepada Allah Zat Yang Maha Mutlak. Perilaku syirik ada yang teraktual dalam bentuk ucapan, pikiran, perasan, ataupun perbuatan. Seseorang yang hidupnya terbelenggu oleh hawa nafsu, seperti orang yang berketagihan narkoba, minuman keras, wanita/pria (selain miliknya), kekuasaan, dan harta benda, merupakan salah satu bentuk kemusyrikan, sebab ia menuhankan sesuatu selain Allah SWT. Hal ini seperti terdapat pada Firman Allah SWT :
Artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 28:50)
Gangguan Kepribadian ini dapat diamati melalui perilaku-perilaku sebagai berikut:
1. Penderita telah meyakini bahwa Allah SWT, adalah Tuhannya, tetapi amal perbuatannya diorientasikan bukan untuk-Nya, melainkan untuk sesuatu yang sifatnya temporer dan nisbi, seperti kepada ruh halus, ruh leluhur dan setan yang dimanistesfasikan melalui berhala .Firman Allah SWT:
Artinya:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. 4:4)
Artinya:
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka:"ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sajian-sajian yang diperuntukan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. 6:136)
2. Penderita mengalami kezaliman yang besar, sehingga ia tidak memiliki penolong yang menyelesaikan sesuatu, dimurkai dan dikutuk oleh Tuhan, dan ikatannya putus dengan-Nya. Firman Allah SWT:
Artinya:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165)
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)
Artinya:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:"Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata:"Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. 5:72)
Artinya:
Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.Mereka akan mendapatkan giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam.Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali. (QS. 48:6)
Artinya:
(Inilah pernyataan) pemutusan penghubungan daripada Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kamu muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka). (QS. 9:1)
Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. (QS. 9:2)
Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin. Kemudian jika kamu (kaum musyirikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakan kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. (QS. 9:3)
3. Penderita merasa takut, karena syirik menjadi sumber dari segala kesesatan dan dosa yang tidak terampuni, padahal dosa merupakan sumber kinflik batin. Allah berfirman:
Artinya:
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim". (QS. 3:151)
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. 4:48)
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. 4:116)
4. Penderita meninggalkan kesenangan abadi untuk mengejar kesenangan sesaat, karena itu ia dinilai seburuk-buruk makhluk dan semua aktivitas baiknya yang pernah dilakuka tidak dianggap lagi. Allah SWT berfirman :
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. 98:6)
Artinya:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. 39:65)
D. Syirik dalam Perspektif Psikologi
Pada kepribadian psikologi Islam, jelaslah sudah bawa psikologi merupakan salah satu gangguan kepribadian dalam Islam. Selanjutnya penulis akan menganalisis dari segi psikologi.
a. Teori Psikoanalisis Freud
Freud menemukan persamaan antara perbuatab was-was (obsesions dan Compulsions) dan upacara-upacara agama. Maka orang yang musyrik maupun beragama pada umumnya merupakan orang yang mengalami gangguan kecemasan yang disebut Compulsive Behavior.
Misalnya, orang yang musyrik seperti membuat sesajen, mengorbankan sesuatu untuk hal-hal yang bersifat gaib, merupakan pebuatan yang selalu diulang-ulang dengan diiringi oleh mantra-mantra yang terus diucapkan, walaupun logika dan kesadarannya tidak menginginkan hal seperti itu. Namun, mereka merasa cemas jika tidak melakukan hal itu.
Dalam menafsirkan perilaku beragama, Freud mengambilnya dari analisa dari agama-agama orang primitif yang selalu melakuan ritual-ritual yang dianggap keluar dari logika pemikiran manusia. Ia melihat Totem dan taboo. Kemudian dia membuat perbandingan antra tingkah laku orang-orang primitif dengan orang-orang yang terganggu jiwanya, maka ditemukannya hubungan antara ”Oedipus Kompleks” dengan upacara-upacara kepercayaan mereka.
b. Gangguan Kepribadian
Manusia yang sehat adalah manusia yang terintegrasi struktur dan fungsi kepribadiannya. Ia memiliki persepsi diri positif dan kesadaran sosial yang wajar serta dapat mengaktualisasikan diri dengan optimal. Dalam kasus aliran sesat yang kini bermunculan, dapat dikatan syirik, karena terang-terangan menyekutukan Allah SWT.
Orang yang syirik merupakan orang yang mengalami gangguan kepribadian (psikopatologi), seperti halusinasi, delidrium atau waham. Halusinasi adalah persepsi yang salah dari salah satu panca indera yang keliru karena tanpa disertai rangsangan. Baik yang bersifat auditorik (suara) maupun visuatorik (penglihatan). Seperti mendengar suara gaib nenek moyang atau roh halus, dan lain sebagainya.
Delusi adalah suatu perasaan kepercayaan atau keyakinan yang keliru yang tidak dapat diubah dengan penalaranatau dengan jalan menyajian fakta. Berikut digambarkan oleh psikiater berkebangsaan Jerman Kurt Schneider (1959), dikutif dari Mellor (1970):
• Mereka yakin bahwa pikiran yang bukan berasal dari dirinya dimasukkan ke dalam pikirannya oleh sesuatu sumber eksternal.
• Mereka yakin bahwa pikiran mereka disiarkan dan ditransmisikan sehingga orang lain mengetahui apa yang mereka pikirkan. Misalnya, seorang yang percaya pada dukun. Kemudian ia menghadap sang dukun, namun tanpa berkata apa-apa si dukun mengatakan apa yang jadi tujuan si pasien. Sehingga pasien itu yakin, bahwa apa yang ada dipikirannya telah disirkan atau ditransmisikan, sehingga dukun itu mengetahui permasalahnnya.
• Mereka percaya bahwa pikiran mereka dicuri, secara tiba-tiba dan tanpa terduga oleh suatu kekuatan eksternal.
• Meraeka yakin bahwa perasaan atau perilaku mereka dikendalikan oleh sesuatu kekuatan eksternal.
c. Gangguan kecemasan
Orang yang syirik, ia mengalami gangguan kecemasan. Karena dirinya telah diperbudak atau telah tergantung pada sesuatu yang bersifat temporal. Misalnya, dia sangat takut jika tidak memberikan sesajen maka dewa atau roh halus nenek moyang akan marah, dan akan terjadinya bencana. Hal ini bisa dikatakan sebagai gangguab obsesif kompulsif, yaitu mencoba menaha diri dari melakukan ritual tertentu atau memikirkan pikiran persisten. Obsesisive-compulsive neurosis adalah satu psiko neurosa dengan ciri khas adanya ide yang tegar, tidak rasional, dan sering tidak dikehendaki. Hal itu dilakukan untuk mengurangi ataau menghilangkan ketakutan dan perasaan bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Ja’far, Subhani, Tauhid dan Syirik; Studi Kasus Faham Wahabi, Bandung: Mizan, 1987.
Darajat, Zakiah, Ilmu jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Davidson, C Gerald, dkk. Psikologi Abnormal; edisi ke-9, Jakarta: Rajawali Press 2006.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2005.
A. Pengertian Syirik
Syirik berasal dari bahasa arab syaroka-yusyriku yang artinya bersekutu. Secara istilah syar’i adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya.
B. Dasar-Dasar Esensial Tentang Tauhid dan Syirik
Pokok utama setiap dakwah para Nabi dan Rasul sepanjang masa ialah menyeru manusia agar menunjukkan ibadah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, seraya menjauhkan diri dari menunjukkan kepada apa dan siapa pun selain-Nya.
Seperti yang dikutip oleh penulis dari Syaikh Ja’far Subhani (1987), tauhid dalam ibadah, serta pembebasan diri dari belenggu kemusyrikan dan keberhalaan (watsaniyah), merupakan yang paling terpenting di antara ajaran-ajaran agama-agama samawi, dan yang paling menonjo di antara risalah-risalah para Nabi. sedemikian pentingnya seolah-olah para Nabi dan Rasul tidaklah diutus kecuali demi satu sasaran saja, yaitu memperkukuh pondasi tiang-tiang pancang tauhid, serta pemberatasan kemusyrikan. Dengan jelas Al-Quran menyebutkan tentang hakikat ini.
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36)
Penyebab timbulnya kemusyrikan antara lain pertama, karena adanya kepercayaan akan adanya lebih dari satu pencipta. Kedua Anggapan tentang jauhnya al-Khaliq dari mkhluk-Nya, dalam hal ini mereka menganggap bahwa Allah tidak mendengar ucapan mereka, dan tidak sampai kepada-Nya segala doa dan permohonan mereka. Untuk itu mereka memilih berbagai wasilah (perantara) yang diperkirakan dapat mewakili dalam menyampaikan doa-doa mereka. Seolah-olah kedudukan manusia-manusia pemegang jabatan tinggi, tidak mungkin seseorang dapat menghadap mereka kecuali melalui perantara-perantara. Untuk itu mereka menyembah (beribadah) orang-orang yang dianggap suci, malaikat, jin, dan arwah, agar menyampaikan doa-doa mereka ke hadapan Allah.
Ketiga, pelimpahan wewenang pentadbiran kepada Tuhan-Tuhan kecil. Yakni, dalam hati kecil manusi amerasakan khundu (ketundukan tertentu) kepada sesuatu kekuatan tertinggi, seraya menganggap dirinya kecil sekali dihadapan kekuatan seperti itu. Perasaan fitri seperti ini, meskipun tidak terungkap dengan lisan dan anggota tubuh lainnya, selalu bersemayam jauh dalam hati sanubarinya dalam bentuk perasaan khundhu, dan kepasrahan. Di sisi lainnya, ia sudah terbiasa berhubungan dengan benda-benda inderawi, sehingga menjadikannya selalu ingin menuangkan segala sesuatu dalam acuan inderawi. Atas dasar inilah orang musyrik ingin menvisualkan kekuatan-kekuatan gaib dalam bentuk benda-benda yang dapat dilihat.
C. Syirik Merupakan Gangguan Kepribadian (Psikopatologi) dalam Psikologi Islam
Dalam bukunya, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Abdul Mujib (2005), bahwa syirik termasuk dalam gangguan kepribadian (psikopatologi) dalam Islam. Kepribadian menyekutukan Allah atau syirik merupakan sikap dan perilaku menduakan terhadap masalah-masalah yang berkaitan keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Syirik merupakan karakter orang-orang yang musyrik. Penyakit syirik yang menyerang orang mukmin tergolong psikopatologi, sebab pelakunya tidak mampu mengintegrasikan kepribadiannya dengan baik. Namun, syirik yang terjangkit pada orang kafir bukan hanya mengakibatkan psikopatologi, tetapi mengakibatkan kematian kalbunya. Seseorang yang menghambakan diri pada sesuatu selain Allah SWT, berarti ia menerima perbudakan, membelenggu diri, dan mengekang kebebasan, padahal ciri manusia adalah kebebasan.
Kalimah tauhid lâ ilâha illa Allâh yang artinya tiada tuhan selain Allah merupakan bentuk pembebasan diri manusia dari segala belenggu relativitas dunia dan segala isinya, kemudian menundukkan dan menyerahkan diri sepenuh hati kepada Allah Zat Yang Maha Mutlak. Perilaku syirik ada yang teraktual dalam bentuk ucapan, pikiran, perasan, ataupun perbuatan. Seseorang yang hidupnya terbelenggu oleh hawa nafsu, seperti orang yang berketagihan narkoba, minuman keras, wanita/pria (selain miliknya), kekuasaan, dan harta benda, merupakan salah satu bentuk kemusyrikan, sebab ia menuhankan sesuatu selain Allah SWT. Hal ini seperti terdapat pada Firman Allah SWT :
Artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 28:50)
Gangguan Kepribadian ini dapat diamati melalui perilaku-perilaku sebagai berikut:
1. Penderita telah meyakini bahwa Allah SWT, adalah Tuhannya, tetapi amal perbuatannya diorientasikan bukan untuk-Nya, melainkan untuk sesuatu yang sifatnya temporer dan nisbi, seperti kepada ruh halus, ruh leluhur dan setan yang dimanistesfasikan melalui berhala .Firman Allah SWT:
Artinya:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. 4:4)
Artinya:
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka:"ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sajian-sajian yang diperuntukan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. 6:136)
2. Penderita mengalami kezaliman yang besar, sehingga ia tidak memiliki penolong yang menyelesaikan sesuatu, dimurkai dan dikutuk oleh Tuhan, dan ikatannya putus dengan-Nya. Firman Allah SWT:
Artinya:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165)
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)
Artinya:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:"Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata:"Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. 5:72)
Artinya:
Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.Mereka akan mendapatkan giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam.Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali. (QS. 48:6)
Artinya:
(Inilah pernyataan) pemutusan penghubungan daripada Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kamu muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka). (QS. 9:1)
Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. (QS. 9:2)
Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin. Kemudian jika kamu (kaum musyirikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakan kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. (QS. 9:3)
3. Penderita merasa takut, karena syirik menjadi sumber dari segala kesesatan dan dosa yang tidak terampuni, padahal dosa merupakan sumber kinflik batin. Allah berfirman:
Artinya:
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim". (QS. 3:151)
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. 4:48)
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. 4:116)
4. Penderita meninggalkan kesenangan abadi untuk mengejar kesenangan sesaat, karena itu ia dinilai seburuk-buruk makhluk dan semua aktivitas baiknya yang pernah dilakuka tidak dianggap lagi. Allah SWT berfirman :
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. 98:6)
Artinya:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. 39:65)
D. Syirik dalam Perspektif Psikologi
Pada kepribadian psikologi Islam, jelaslah sudah bawa psikologi merupakan salah satu gangguan kepribadian dalam Islam. Selanjutnya penulis akan menganalisis dari segi psikologi.
a. Teori Psikoanalisis Freud
Freud menemukan persamaan antara perbuatab was-was (obsesions dan Compulsions) dan upacara-upacara agama. Maka orang yang musyrik maupun beragama pada umumnya merupakan orang yang mengalami gangguan kecemasan yang disebut Compulsive Behavior.
Misalnya, orang yang musyrik seperti membuat sesajen, mengorbankan sesuatu untuk hal-hal yang bersifat gaib, merupakan pebuatan yang selalu diulang-ulang dengan diiringi oleh mantra-mantra yang terus diucapkan, walaupun logika dan kesadarannya tidak menginginkan hal seperti itu. Namun, mereka merasa cemas jika tidak melakukan hal itu.
Dalam menafsirkan perilaku beragama, Freud mengambilnya dari analisa dari agama-agama orang primitif yang selalu melakuan ritual-ritual yang dianggap keluar dari logika pemikiran manusia. Ia melihat Totem dan taboo. Kemudian dia membuat perbandingan antra tingkah laku orang-orang primitif dengan orang-orang yang terganggu jiwanya, maka ditemukannya hubungan antara ”Oedipus Kompleks” dengan upacara-upacara kepercayaan mereka.
b. Gangguan Kepribadian
Manusia yang sehat adalah manusia yang terintegrasi struktur dan fungsi kepribadiannya. Ia memiliki persepsi diri positif dan kesadaran sosial yang wajar serta dapat mengaktualisasikan diri dengan optimal. Dalam kasus aliran sesat yang kini bermunculan, dapat dikatan syirik, karena terang-terangan menyekutukan Allah SWT.
Orang yang syirik merupakan orang yang mengalami gangguan kepribadian (psikopatologi), seperti halusinasi, delidrium atau waham. Halusinasi adalah persepsi yang salah dari salah satu panca indera yang keliru karena tanpa disertai rangsangan. Baik yang bersifat auditorik (suara) maupun visuatorik (penglihatan). Seperti mendengar suara gaib nenek moyang atau roh halus, dan lain sebagainya.
Delusi adalah suatu perasaan kepercayaan atau keyakinan yang keliru yang tidak dapat diubah dengan penalaranatau dengan jalan menyajian fakta. Berikut digambarkan oleh psikiater berkebangsaan Jerman Kurt Schneider (1959), dikutif dari Mellor (1970):
• Mereka yakin bahwa pikiran yang bukan berasal dari dirinya dimasukkan ke dalam pikirannya oleh sesuatu sumber eksternal.
• Mereka yakin bahwa pikiran mereka disiarkan dan ditransmisikan sehingga orang lain mengetahui apa yang mereka pikirkan. Misalnya, seorang yang percaya pada dukun. Kemudian ia menghadap sang dukun, namun tanpa berkata apa-apa si dukun mengatakan apa yang jadi tujuan si pasien. Sehingga pasien itu yakin, bahwa apa yang ada dipikirannya telah disirkan atau ditransmisikan, sehingga dukun itu mengetahui permasalahnnya.
• Mereka percaya bahwa pikiran mereka dicuri, secara tiba-tiba dan tanpa terduga oleh suatu kekuatan eksternal.
• Meraeka yakin bahwa perasaan atau perilaku mereka dikendalikan oleh sesuatu kekuatan eksternal.
c. Gangguan kecemasan
Orang yang syirik, ia mengalami gangguan kecemasan. Karena dirinya telah diperbudak atau telah tergantung pada sesuatu yang bersifat temporal. Misalnya, dia sangat takut jika tidak memberikan sesajen maka dewa atau roh halus nenek moyang akan marah, dan akan terjadinya bencana. Hal ini bisa dikatakan sebagai gangguab obsesif kompulsif, yaitu mencoba menaha diri dari melakukan ritual tertentu atau memikirkan pikiran persisten. Obsesisive-compulsive neurosis adalah satu psiko neurosa dengan ciri khas adanya ide yang tegar, tidak rasional, dan sering tidak dikehendaki. Hal itu dilakukan untuk mengurangi ataau menghilangkan ketakutan dan perasaan bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Ja’far, Subhani, Tauhid dan Syirik; Studi Kasus Faham Wahabi, Bandung: Mizan, 1987.
Darajat, Zakiah, Ilmu jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Davidson, C Gerald, dkk. Psikologi Abnormal; edisi ke-9, Jakarta: Rajawali Press 2006.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2005.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Sabtu, 23 Oktober 2010
Menulis Part 2
Sering kali ketika saya mengisi sebuah acara, ada peserta yang bertanya, mengapa hingga saat ini masih bertahan menjadi seorang penulis dan masih mau berkomitmen di FLP (Forum Lingkar Pena). Dalam menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu bercerita bagaimana awal saya berminat menjadi seorang penulis hingga akhirnya bergabung dengan sebuah komunitas kepenulisan terbesar di Indonesia.
Saya terinspirasi oleh sebuah hadits yang kurang lebih berbunyi;"Ada tiga hal di dunia ini, yang selalu akan mengalir pahalanya walaupun kita telah mati, yakni Doa anak saleh, amal zariah, dan ilmu yang bermanfaat." Saya berfikir, dari ketiganya hal yang paling mudah dan pastinya sesuai dengan saya saat ini adalah ilmu yang bermanfaat. Bukankah sebaik-baiknya umat adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam mewujudkannya, saya mulai menulis secara otodidak. Namun,itu ternyata tidak cukup. Banyak hal yang belum saya ketahui dalam teknis kepenulisanan. Hingga akhirnya saya bergabung dengan FLP Cabang Ciputat.
Saya berpendapat, FLP adalah sebuah wadah yang sesuai dengan prinsip hidup saya, yakni beribadah. Karena missi FLP adalah menulis untuk mencerahkan umat. Dengan makna itulah, saya akhirnya mendapatkan kebermaknaan hidup serta bagaimana membangun kecerdasan diri. Baik itu secara inteletual, spiritual, dan emosional. Bahkan, dengan menulis saya pun insyaallah dapat mengamalkan ketiga hal yang ada dalam hadits tersebut.
Dengan kecerdasan yang penulis miliki, maka dapat ditularkannya kepada orang lain melalui tulisannya, di sinilah ilmu yang bermanfaat dapat direalisasikan. Dengan rizki dari hasil menulis, maka kita pun dapat hidup lebih mandiri dan tentunya dapat berbagi dengan orang lain, termasuk bershadaqoh. Dan yang terakhir bagi saya, jika seorang penulis itu cerdas, secara intelektual, emosional, dan spiritual maka insyaallah ia dapat mendidik anak-anaknya menjadi anak yang saleh. Wallahu'alam
Saya terinspirasi oleh sebuah hadits yang kurang lebih berbunyi;"Ada tiga hal di dunia ini, yang selalu akan mengalir pahalanya walaupun kita telah mati, yakni Doa anak saleh, amal zariah, dan ilmu yang bermanfaat." Saya berfikir, dari ketiganya hal yang paling mudah dan pastinya sesuai dengan saya saat ini adalah ilmu yang bermanfaat. Bukankah sebaik-baiknya umat adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam mewujudkannya, saya mulai menulis secara otodidak. Namun,itu ternyata tidak cukup. Banyak hal yang belum saya ketahui dalam teknis kepenulisanan. Hingga akhirnya saya bergabung dengan FLP Cabang Ciputat.
Saya berpendapat, FLP adalah sebuah wadah yang sesuai dengan prinsip hidup saya, yakni beribadah. Karena missi FLP adalah menulis untuk mencerahkan umat. Dengan makna itulah, saya akhirnya mendapatkan kebermaknaan hidup serta bagaimana membangun kecerdasan diri. Baik itu secara inteletual, spiritual, dan emosional. Bahkan, dengan menulis saya pun insyaallah dapat mengamalkan ketiga hal yang ada dalam hadits tersebut.
Dengan kecerdasan yang penulis miliki, maka dapat ditularkannya kepada orang lain melalui tulisannya, di sinilah ilmu yang bermanfaat dapat direalisasikan. Dengan rizki dari hasil menulis, maka kita pun dapat hidup lebih mandiri dan tentunya dapat berbagi dengan orang lain, termasuk bershadaqoh. Dan yang terakhir bagi saya, jika seorang penulis itu cerdas, secara intelektual, emosional, dan spiritual maka insyaallah ia dapat mendidik anak-anaknya menjadi anak yang saleh. Wallahu'alam
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Rabu, 20 Oktober 2010
PENAMPILAN SEKRETARIS
Image merupakan lukisan diri yang kita tampilkan kepada orang lain. Orang sering kali tidak menyadari pentingnya kesan atau image ini. Keahlian atau keterampilan yang baik dan kualitas kerja yang tingi memang sangat dibutuhkan, akan tetapi kesan yang buruk bisa menutupi keahlian anda yang paling sempurna sekalipun. Image yang buruk dapat juga mempengaruhi penerimaan rekan kerja akan ide-ide dan permintaan-permintaan kita bahkan akhirnya, karir kita.
Profesi sekretaris merupakan salah satu profesi yang mengutamakan penampilan. Memang kecantikan bukanlah syarat mutlak, akan tetapi sekretaris harus tahu bagaimana cara harus menampilkan diri. Bagaimana cara anda duduk, berbicara, berjalan, berdiri, berpakaian dan merias diri.
Respons Positif atau negative tergantung dari image yang disampaikan, misalanya melalui cara berpakaian , sikap dan perbuatan, sopan santun dan lain-lain. Relasi bisnis pimpinan anda bahkan mendapat kesan pertama akanperusahaan anda dari diri sekretarisnya. Sekretaris yang sukses sangat memperhatikan penampilan.
Berikut beberapa tips yang perlu diketahui:
1. Jagalah kesehatan anda dengan membiasakan hidup dan makan yang sehat.
Tidak ada perusahaan yang menginginkan karyawan yang sakit-sakitan. Kesehatan yang baik akan sangat menolong anda untuk tampil prima/fit dan merasa lebih baik. Sekretaris yang selalu mengantuk, sering batuk-batuk atau pileknya tidak sembuh-sembuh akan menurunkan image-nya sendiri.
Ketahuilah saat-saat kritis dimana tubuh anda memerlukan perhatian ekstra. Istirahat yang cukup, segera minum obat atau vitamin agar kondisi tubuh tidak terus menurun.
2. Tampillah dengan menarik
Kepribadian seseorang terpancar melalui penampilan (appearance), yaitu kadaan lahiriah yang dapat dilihat oleh orang lain. Untuk itu sekretaris mutlak harus memperhaikan agar selau berpenampilan menarik dan apik.
Berikut hal-hal yang harus diperhatikan:
Rambut
Rambut harus selalu dalam keadaan bersih dan tertata rapi denganmodel yang sederhana. Keramaslah denganselang waktu normal. Rambut yang panjang membutuhkan perawatan ekstra, tetapi bila anda cocok dengan rambut panjang, jangan terlalu ikut-ikutan mode pendek yang sedang In. Namun, janagn sampai rambut panjang anda yang panjang mengganggu pekerjaan anda. Sesuaikan model rambut dengan raut muka dan gunakan moel rambut yang bisa mencerminkan rasa percaya diri dan keprofesionalan anda.
Kulit
Kulit juga harus bersih dan bebas penyakit. Jika kulit wajah dantubuh sehat, penampialn akan terlihat segar dan sempurna walaupun tanpa make up yang berarti. Kulit yang bersih juga menghindari anda dari bau badan yang menyengat.
Make -Up
Make-Up bukan hanya rias wajah, melainkan mencankup perawatan kulit muka agar bersih dan berseri-seri. Penggunaan bahan make up yang ocok merupakan perawatan dasar wajah anda. Biasakan dengan satu jenis merk make-up sehingga wajah anda tidak rusak, karena kulit anda harus terus menerus menyesuaikan diri dengan produk make up yang baru. Merias wajah harus dilakukan sewajar mungkin (natural) sesuai dengan jabatan dan ciri pembwaan anda. Jangan berdandan terlalu menor, namun jangan juga melupakan riasan sehingga wajah terlihat sangat pucat. Sekretaris wajib mengetahui cara merawat dan menata rias wajah secara tepat dan benar.
Pakaian
Walaupun mode pakaian berubah-ubah, hendaklah pakaian yang anda gunakan cocok untuk kantor tempat anda bekerja dan pekerjan yang anda jalankan. Salah satu tuntutan profesi sekretaris untuk selalu bekerja cepat, lebih baik diantisipasi dengan pakaian yang praktis dan sedikit sportif. Pilihlah pakaian yang pantas dan membuat diri anda percaya diri, tentu saja menarik, yang cocok dengan bentuk dan tinggi tubuh, sera warna kulit.
Pakaian tidak harus selalu dari produk-produk yang ternama, akan tetapi hendaknya terlihat berkualitas. Yang penting, sekretaris perlu memperhatikan penagturan perpanduan warna, mempunyai cita rasa (taste) yang baik agar dengan pakaian tersebut anda dapat mengubah penampilan menjadi lebih baik.
Atur dan rencanakan lemari pakaian anda sedemikian rupa sehingga tidak membeli pakaian yang cepat lusuh, cepat out of fashion(ketinggalan zaman), membosankan, sulit dikombinasikan atau tidak kurang cocok dengan banyak situasi. Belilah pakaian yang mudah dikombinasikan, sehingga dengan jumlah terbatas anda akan memiliki variasi pakaian cukup banyak. Bahan baju kantor tidak banyak berubah dari waktu ke waktu (konservatif).
Untuk pakaian setiap harinya, buatlah perencanaan paling tidak malam hari, apa yang harus di pakai keesokan harinya. Hal ini jug mencegah keterburu-buruan, bila pagi hari terlambat bangun. Perencanaan yang baik mencankup pemilihan baju dan kombinasi yang sesuai dengan tugas besok, warna, asesori, pengcekan bagian-bagian baju (kancing, robek, jahitan lepas) dan yang lebih penting, apakah pakain tersebut sudah tersedia bersih dan disetrika. Hindari pakaian yang terlalu tipis atau bahan lainnya yang biasa dipergunakan untuk baju pesta, seperti beludru.
Tas
Sekretaris yang mengikuti mode akan memperhatikan apakah tas yang akan dipakai keesokan harinya sesuai dengan pakaian yang akan di pakai. Sebaiknya sekretaris memiliki lebih dari satu tas dalam aneka warna, besar dan kecil untuk aneka kesempatan, bila tidak, tas hitam merupakan pilihan tepat untuk seluruh koleksi pakaian anda. Seperti halnya model pakaian, ilihlah model tas yang konservatif, tidak terlalu banyak pernik sehingga cocok dikombinasikan dengan pakaian anda.
Sepatu
Lebih abik tidak memakai sepatu sandal atau sepatu yang tidak berhak. Sepatu yang bertumit tinggi lebih sedap di pandang dan membuat figur tubuh anda lebih tegap sewaktu berjalan. Perencanaan pemakaian sepatu juga perlu dilakukan. Apakah sepatu yang akan dipakai masih dalam keadaan baik, solnya, atau kulitnya. Apakah telah disemir dan telah sesuai warnanya dengan pakaian yang akan dipakai.
Perhiasan
Jangan memakai semua perhiasan yang anda miliki, secukupnya saja, yang wajar dan tidak perlu berharga mahal. Selain jam tangan, anting, atau giwang merupakan perhiasan yang sudah selayaknya anda miliki.
Parfum
Dalam kehidupan kantor, parfum memegang peranan yang lebih dominan dari pada asesori/perhiasan. Pilihlah parfum yang cocok dengan kepribadian anda dan tentu saja yang aromanya tidak terlalu menyengat. Demikian berkulirnya waktu, anda akan mampu membeli parfum dari merek-merek terkenal.
3. Beri perhatian pada sikap tubuh anda
Sikap tubuh juga bisa mencerminkan kepribadian. Perhatikan sikap tubuh anda dengan sungguh-sungguh sebab anda dinilai dari penampilan tersebut.
Sikap berjalan
Jangan berjalan dibuat-buat seolah-olah anda ingin meminta perhatian orang disekitar anda. Berjalan dengan tegap, tetapi dengan tetap menjaga agar dagu jangan terlalu terangkat sehingga tidak terkesan angkuh/congkak. Jaga kecepatan yang wajar, jangan terburu-buru, tetapi penuh percaya diri dan selalu siap di sapa atau menyapa orang dengan senyum.
Sikap Duduk
Kaki diatur serapi dan sesopan mungkin dengan telapak kaki diarahkan miring. Apabila anda duduk dikursi tamu jangan bersandar, sedangkan bila anda duduk dibelakang meja, biasakan merapatkan punggung dengan sandaran kursi atau paling tidak badan tetap tegak. Duduk lemas apalagi sampai merosot menimbulkan ksan negativ(malas).
Sikap Berdiri
Berdirilah dengan tegak. Untuk mendapatkan posisi ini, perut harus ditarik dan dada dibusungkan. Dalam situasi santai anda boleh saja meletakkan tangan didepan atau di belakang tubuh sambil berpegangan. Hindari berdiri dengan satu kaki, bersandar maupun bertolak pinggang di jalan.
Sikap Berbicara
Pandangan mat alawan bicara anda, jangan terlalu banyak menggoyang-goyangkan tangan atau bagian tubuh/wajah lainnya saat anda berbicara (mengernyitkan dahi, memonyongkan mulut, memutar-mutar mata) apalagi sambil menggaruk-garuk kepala, membunyikan jari-jari tangan, membersihkan gigi dengan jari/kuku, mengupil atau mengorek-ngorek telinga.
Berbicaralah dengan volume suara yang jelas, tidak terlalu keras dan jangan pula berbisik-bisik. Usahakan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh lawan bicara atau bila terdapat anggota kelompok yang tidak mengerti bahasa yang anda gunakan terjemahkan apa yang anda katakana agar ia tidak merasa tersisihkan.
Sikap Diam
Hindari kebiasaan menggigit kuku/pensil/bolpen, mengetuk-ketuk meja atau menggaruk-garuk rambut, bila anda sedang diam dan berpikir. Bila anda sedang berkonsentrasi memikirkan suatu hal, usahakan jangan sampai melupakan situasi sekeliling anda dan kemudian kaget, bila sesuatu terjadi.
4. Tumbuhkan rasa percaya diri dan kepribadian yang kuat
Sebenarnya tanpa memoles Make up, seseorang dapat tetap memperlihatkan kecantikannya, yaitu dengan menumbuhkan citra diri yang positif. Citra diri adalah persepsi/pradigma/konsep sendiri tentang dirinya, identitas,kemampuan, dan martabatnya. Kecantikan diri dari dalam bersinar lebih cemerlang dari pada kecantikan hasil polesan semata. Yang lebih penting adalah citra positif mampu membuat anda berpikir positif dan pada akhirnya menuntun anda mencapai sukses.
Sopan santun yang berhubungan dengan penampilan yang wajib diperhatikan dalam lingkungan kerja sekretaris, yaitu :
1. Jangan berpakaian terlalu terbuka atau menerawang. Jangan juga berseksi-seksi dengan rok yang terlalu pendek.
2. Jangan bermake-up atau membetulkan make up di meja, lakukanlah di toilet.
3. Jangan melepas sepatu ketiak bekerja, apalagi berjalan ke meja lain. Sangat tidak di anjurkan mengganti sepatu dengan sandal dan kemudian mempergunakannya sambil berjalan-jalan di sekitar kantor.
Kenyataan bahwa penampilan merupakan factor utama saat anda di pilih atau diterima untuk posisi sekretaris harus “distinctive” seperti halnya kemampuan kerja dan kepribadian anda. Dengan penampilan yang berbeda itu, orang dengan mudah menunjuk yang mana sekretaris dari antara sekelompok staf wanita di kantor anda.
KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI BAGI
SEKRETARIS
Kemampuan berkomunikasi
Tidak ada sekretaris yang dalam melaksanakan tugasnya terisolir. Ia akan selalu akan behubungan dengan orang lain, dari managemen tingkat atas sampai office boy. Sikap tenang, anggun, dan penuh percaya diri sangat di perlukan mengingat sekretaris bukan hanya berhubungan dengan orang-oarang penting yang sopan, tetapi juga mereka yang kurang puas dengan keadaannya yang sulit ditangani bahkan kadang-kadang seorang yang cerdas dan lihai berkata-kata.
Bila anda bagus dalam pekerjaan anda sebagai sekretaris dan ambisius untuk lebih mengembangkan diri, anda akan sampai pada saatnya dimana anda merasa tidak sanggup lagi menyeleseikan semua tugas yang semakin lama semakin luas dalam kurun waktu yang tersedia. Jangan mengeluh dan mengatakan hal-hal yang negative.
Ungkapan yang sekarang sering terdengar “WORK SMART NOT HARD” mungkin bisa dijadikan pedoman. Pikirkan bagaimana anda bisa bekerja lebih, tanpa harus mati-matian. Misalanya, dengan mengambil seorang asisten.
SEKRETARIS DALAM ERA INFORMASI GLOBAL
Era Globalisasi informasi dan kemajuan ilmu poengetahuan dan tekniligimenuntut orang-orang untuk menggeluti profesi sekretaris untuk selalu menyesuaikan diri dan memperlebar wawasan bila tidak ingin tenggelam dalam persaingan atau rutinitas pekerjaan. Walaupun demikian, era informasi ini hendaknya tidak dijadikan ancaman sebab era ini sbenarnya telah menciptakan kesempatan yang tidak terduga bagi para sekretaris untuk meningkatkan status pekerjaannya dan pada akhirnya gaji mereka.
Berikut merupakan perubahan-perubahan akibat dari kemajuan teknologi:
Banyak tugas, seperti pembukuan dan pengetikan, sekarang dikerjakan dengan computer.
Surat-surat dibanyak kantor tidak lagi dikirim dengan jasa pos, tetapi dengan alat kirim elektronik, seperti mesin fax atau e-mail.
Telepon semakin vital fungsinya.
Penelitian tidak lagi terbatas pada perpustakaan local, tetapi dari database yang bersifat nasional.
Mencari arsip di kantor-kantor yang modern, berarti memanggil data dari dokumen yang tersimpan di dalam disket.
Satu keharusan yang harus dimiliki sekretaris dalam Era Informasi Global adalah kemampuan untuk bekerja secepatnya teru tama dalam menangani informasi-informasi vital. Demikian juga bagi sekretaris yang tidak begitu tertarik dengan informasi.
Beberapa langkah yang harus diambil untuk meningkatkan karier anda adalah :
1. Pendidikan lanjutan dan pelatihan
Ambil setiap kesempatan yang diberikan oleh perusahaan anda untuk mempelajari teknologi atau system baru, misalnya menghadiri seminar, ikut serta dalam prigram pelatihan perusahaan. Kegiatan belajar juga tidak terbatas pada seminar atau pelatihan formal. Sekedar mengunjungi salah satu staf ahli dalam perusahaan anda akan semakin membuka wwasan anda.
2. Membaca
Bacalah surat kabar, majalah-majalah terutama mengenai dunia. Jadikan kebiasan membaca buku-buku tentang teknologi baru dan jurnal-jurnal perdagangan yang berhubungan langsung dengan bisnis perusahaan anda.
Banyak karier sekretaris mendek karena kemampuannya hanya terbatas pada tugas-tugas administrasi rutin, seperti pengetikan dan surat menyurat. Untuk dapat menyumbangkan pelayanan kesekretarisan yang bermutu, tidak cukup hanya bertumpu pada keterampilan dasar kesekretarisan yang bemutu., tidak cukup hanya bertumpu pada keterampilan dasar kesekretarisan, seperti mengetik dan filing, melainkan terus menerus memperkaya diridengan membaca ber agam pengetahuan, seperti managemen pemasaran keuangan, hubungan masyarakat, dan kepemimpinan.
3.Bergaul dengan kaum profesional
Masuk kedalam perkumpulan –perkumpulan yang menawarkan informasi, dukungan, dan kesempatan pengembangan karier sekretaris. Saat ini semakin banyak event yang memumingkinkan sekretaris bertemu dengan rekan-rekan seprofesi maupun kalangan bisnis dan professional muda. Gunakan kesempatn-kesempatan seperti itu untuk menambah wawasan anda.
4. Tingkatkan efektivitas dan efisiensi kerja
Bekerja keras serta giat saja tidaklah cukup. Work smart Not Hard, merupakan istilah yang semskin populer dikalangan eksekutif. Untuk berhasil, anda harus bisa bekerja lebih cepat dari orang lain dan menghasilkan lebih banyak dan lebih banyak lagi bagi kemajuan perusahaan.
5. Kemukakan ide anda dan bersikaplah proaktif
Dalam persaingan usaha yang cukup ketat, sekretaris menjadi anggota team managemen kelas atas yang sagat diperhitungkan karena ia biasa berada di antara perusahaan. Keadaan ini harus bisa anda manfaatkan dengan selalu berfikir lebih dari apa yang diminta dari anda. Bekerja dengan managemen penentu arah perusahaan memungkinkan suara dan ide anda lebih udah di dengar. Bersikaplah proaktif, jangan hanya menunggu intruksi saja.
J
Jarang ada sekretaris yang bekerja terisolir. Mereka harus belajar bagaimana bergaul dengan rekan kerjanya sehari-hari dan bagaimana mereka menangani aspek-aspek baik dan buruk yang ada dari hubungan di kantor.
Kualitas personal yang penting, antara lain:
Bekerja efektif sebagai anggota tim dengan tetap memelihara kemampuan untuk berinisiatif dan mengelola suatu proyek dengan mandiri.
Bisa bekerja sama, penuh pengertian, dan tegas dalam berhubungan dengan sesama.
Penuh perhatian terhadap hal-hal kecil dan terus mengembangkan sifat teliti dalam kerja dan terhadap sesama.
Menjunjung tinggi kerahasiaan dan tuntutan etika ditempat kerja.
Ciptakan kesan pribadi yang baik dan kesan perusahaan yang menyenangkan melalui penampilan bisnis dan sikap-sikap positif dan gembira.
Lakukan tugas dengan jujur dan professional.
Berusaha terus kreatif dan bersikap proaktif.
Dibawah ini beberapa tuntutan untuk berhasil dalam pekerjaan dan kehidupan anda :
1. Kenali diri anda sendiri.
Segera setelah anda memasuki dunia kerja, anda akan mulai menyadari bakat-bakat yang anda miliki, motivasi, dan nilai-nilai yang anda hargai.
2. Tetapkan sasaran anda.
Sasaran hendaknya yang realitis dan mungkin di capai.
3. kejar sasaran-sasaran anda itu dengan antusiasme.
Antusiasme merupakan suatu kebiasaan sehingga dapat dibina. Bekerja yang ternyata berbeda dengan harapan kita, memang terkadang membosankan dan penuh dengan masalah-masalah hubungan manusia., intrik-intrik dan politik kantor. Hal tersebut hendaknya tidak membuat kita bersikap apatis dan statis, atau membuat kita lua sasaran-sasaran itu.
4. Pertimabangkan masak-masak setiap langkah yang anda ambil.
Pilih satu langkah yang memberikan manfaat terbesar yang mengarahkan anda kesasaran akhir anda. Walaupun demikian, jangan takut mengambil resiko. Kesalahan yang akan banyak anda buat semakin diperkaya.
Akhir kata, selamat merajut hidup anda, Semoga Berhasil.
“Good gives every bird its food, but He does not throw it into the nest”.
-J.G. Holland.
Daftar Pustaka
Benfari,Robert (1995), Change your Management Style. How to Evaluate and Improve Your Own Performance. New York :Lexington Books.
Bolton Marry dan John Bolton, tt, The Complete Book of Etiquette. London: W. Foulsham & Co., Ltd.
Hendarto,M.G.Hartato dan Drs.F.X. Tulusharyono, M.M.(2002), Menjadi Sekretaris Profesional: Seri Pengembangan Diri dan Karier No.4. Jakarta. PPM.
Profesi sekretaris merupakan salah satu profesi yang mengutamakan penampilan. Memang kecantikan bukanlah syarat mutlak, akan tetapi sekretaris harus tahu bagaimana cara harus menampilkan diri. Bagaimana cara anda duduk, berbicara, berjalan, berdiri, berpakaian dan merias diri.
Respons Positif atau negative tergantung dari image yang disampaikan, misalanya melalui cara berpakaian , sikap dan perbuatan, sopan santun dan lain-lain. Relasi bisnis pimpinan anda bahkan mendapat kesan pertama akanperusahaan anda dari diri sekretarisnya. Sekretaris yang sukses sangat memperhatikan penampilan.
Berikut beberapa tips yang perlu diketahui:
1. Jagalah kesehatan anda dengan membiasakan hidup dan makan yang sehat.
Tidak ada perusahaan yang menginginkan karyawan yang sakit-sakitan. Kesehatan yang baik akan sangat menolong anda untuk tampil prima/fit dan merasa lebih baik. Sekretaris yang selalu mengantuk, sering batuk-batuk atau pileknya tidak sembuh-sembuh akan menurunkan image-nya sendiri.
Ketahuilah saat-saat kritis dimana tubuh anda memerlukan perhatian ekstra. Istirahat yang cukup, segera minum obat atau vitamin agar kondisi tubuh tidak terus menurun.
2. Tampillah dengan menarik
Kepribadian seseorang terpancar melalui penampilan (appearance), yaitu kadaan lahiriah yang dapat dilihat oleh orang lain. Untuk itu sekretaris mutlak harus memperhaikan agar selau berpenampilan menarik dan apik.
Berikut hal-hal yang harus diperhatikan:
Rambut
Rambut harus selalu dalam keadaan bersih dan tertata rapi denganmodel yang sederhana. Keramaslah denganselang waktu normal. Rambut yang panjang membutuhkan perawatan ekstra, tetapi bila anda cocok dengan rambut panjang, jangan terlalu ikut-ikutan mode pendek yang sedang In. Namun, janagn sampai rambut panjang anda yang panjang mengganggu pekerjaan anda. Sesuaikan model rambut dengan raut muka dan gunakan moel rambut yang bisa mencerminkan rasa percaya diri dan keprofesionalan anda.
Kulit
Kulit juga harus bersih dan bebas penyakit. Jika kulit wajah dantubuh sehat, penampialn akan terlihat segar dan sempurna walaupun tanpa make up yang berarti. Kulit yang bersih juga menghindari anda dari bau badan yang menyengat.
Make -Up
Make-Up bukan hanya rias wajah, melainkan mencankup perawatan kulit muka agar bersih dan berseri-seri. Penggunaan bahan make up yang ocok merupakan perawatan dasar wajah anda. Biasakan dengan satu jenis merk make-up sehingga wajah anda tidak rusak, karena kulit anda harus terus menerus menyesuaikan diri dengan produk make up yang baru. Merias wajah harus dilakukan sewajar mungkin (natural) sesuai dengan jabatan dan ciri pembwaan anda. Jangan berdandan terlalu menor, namun jangan juga melupakan riasan sehingga wajah terlihat sangat pucat. Sekretaris wajib mengetahui cara merawat dan menata rias wajah secara tepat dan benar.
Pakaian
Walaupun mode pakaian berubah-ubah, hendaklah pakaian yang anda gunakan cocok untuk kantor tempat anda bekerja dan pekerjan yang anda jalankan. Salah satu tuntutan profesi sekretaris untuk selalu bekerja cepat, lebih baik diantisipasi dengan pakaian yang praktis dan sedikit sportif. Pilihlah pakaian yang pantas dan membuat diri anda percaya diri, tentu saja menarik, yang cocok dengan bentuk dan tinggi tubuh, sera warna kulit.
Pakaian tidak harus selalu dari produk-produk yang ternama, akan tetapi hendaknya terlihat berkualitas. Yang penting, sekretaris perlu memperhatikan penagturan perpanduan warna, mempunyai cita rasa (taste) yang baik agar dengan pakaian tersebut anda dapat mengubah penampilan menjadi lebih baik.
Atur dan rencanakan lemari pakaian anda sedemikian rupa sehingga tidak membeli pakaian yang cepat lusuh, cepat out of fashion(ketinggalan zaman), membosankan, sulit dikombinasikan atau tidak kurang cocok dengan banyak situasi. Belilah pakaian yang mudah dikombinasikan, sehingga dengan jumlah terbatas anda akan memiliki variasi pakaian cukup banyak. Bahan baju kantor tidak banyak berubah dari waktu ke waktu (konservatif).
Untuk pakaian setiap harinya, buatlah perencanaan paling tidak malam hari, apa yang harus di pakai keesokan harinya. Hal ini jug mencegah keterburu-buruan, bila pagi hari terlambat bangun. Perencanaan yang baik mencankup pemilihan baju dan kombinasi yang sesuai dengan tugas besok, warna, asesori, pengcekan bagian-bagian baju (kancing, robek, jahitan lepas) dan yang lebih penting, apakah pakain tersebut sudah tersedia bersih dan disetrika. Hindari pakaian yang terlalu tipis atau bahan lainnya yang biasa dipergunakan untuk baju pesta, seperti beludru.
Tas
Sekretaris yang mengikuti mode akan memperhatikan apakah tas yang akan dipakai keesokan harinya sesuai dengan pakaian yang akan di pakai. Sebaiknya sekretaris memiliki lebih dari satu tas dalam aneka warna, besar dan kecil untuk aneka kesempatan, bila tidak, tas hitam merupakan pilihan tepat untuk seluruh koleksi pakaian anda. Seperti halnya model pakaian, ilihlah model tas yang konservatif, tidak terlalu banyak pernik sehingga cocok dikombinasikan dengan pakaian anda.
Sepatu
Lebih abik tidak memakai sepatu sandal atau sepatu yang tidak berhak. Sepatu yang bertumit tinggi lebih sedap di pandang dan membuat figur tubuh anda lebih tegap sewaktu berjalan. Perencanaan pemakaian sepatu juga perlu dilakukan. Apakah sepatu yang akan dipakai masih dalam keadaan baik, solnya, atau kulitnya. Apakah telah disemir dan telah sesuai warnanya dengan pakaian yang akan dipakai.
Perhiasan
Jangan memakai semua perhiasan yang anda miliki, secukupnya saja, yang wajar dan tidak perlu berharga mahal. Selain jam tangan, anting, atau giwang merupakan perhiasan yang sudah selayaknya anda miliki.
Parfum
Dalam kehidupan kantor, parfum memegang peranan yang lebih dominan dari pada asesori/perhiasan. Pilihlah parfum yang cocok dengan kepribadian anda dan tentu saja yang aromanya tidak terlalu menyengat. Demikian berkulirnya waktu, anda akan mampu membeli parfum dari merek-merek terkenal.
3. Beri perhatian pada sikap tubuh anda
Sikap tubuh juga bisa mencerminkan kepribadian. Perhatikan sikap tubuh anda dengan sungguh-sungguh sebab anda dinilai dari penampilan tersebut.
Sikap berjalan
Jangan berjalan dibuat-buat seolah-olah anda ingin meminta perhatian orang disekitar anda. Berjalan dengan tegap, tetapi dengan tetap menjaga agar dagu jangan terlalu terangkat sehingga tidak terkesan angkuh/congkak. Jaga kecepatan yang wajar, jangan terburu-buru, tetapi penuh percaya diri dan selalu siap di sapa atau menyapa orang dengan senyum.
Sikap Duduk
Kaki diatur serapi dan sesopan mungkin dengan telapak kaki diarahkan miring. Apabila anda duduk dikursi tamu jangan bersandar, sedangkan bila anda duduk dibelakang meja, biasakan merapatkan punggung dengan sandaran kursi atau paling tidak badan tetap tegak. Duduk lemas apalagi sampai merosot menimbulkan ksan negativ(malas).
Sikap Berdiri
Berdirilah dengan tegak. Untuk mendapatkan posisi ini, perut harus ditarik dan dada dibusungkan. Dalam situasi santai anda boleh saja meletakkan tangan didepan atau di belakang tubuh sambil berpegangan. Hindari berdiri dengan satu kaki, bersandar maupun bertolak pinggang di jalan.
Sikap Berbicara
Pandangan mat alawan bicara anda, jangan terlalu banyak menggoyang-goyangkan tangan atau bagian tubuh/wajah lainnya saat anda berbicara (mengernyitkan dahi, memonyongkan mulut, memutar-mutar mata) apalagi sambil menggaruk-garuk kepala, membunyikan jari-jari tangan, membersihkan gigi dengan jari/kuku, mengupil atau mengorek-ngorek telinga.
Berbicaralah dengan volume suara yang jelas, tidak terlalu keras dan jangan pula berbisik-bisik. Usahakan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh lawan bicara atau bila terdapat anggota kelompok yang tidak mengerti bahasa yang anda gunakan terjemahkan apa yang anda katakana agar ia tidak merasa tersisihkan.
Sikap Diam
Hindari kebiasaan menggigit kuku/pensil/bolpen, mengetuk-ketuk meja atau menggaruk-garuk rambut, bila anda sedang diam dan berpikir. Bila anda sedang berkonsentrasi memikirkan suatu hal, usahakan jangan sampai melupakan situasi sekeliling anda dan kemudian kaget, bila sesuatu terjadi.
4. Tumbuhkan rasa percaya diri dan kepribadian yang kuat
Sebenarnya tanpa memoles Make up, seseorang dapat tetap memperlihatkan kecantikannya, yaitu dengan menumbuhkan citra diri yang positif. Citra diri adalah persepsi/pradigma/konsep sendiri tentang dirinya, identitas,kemampuan, dan martabatnya. Kecantikan diri dari dalam bersinar lebih cemerlang dari pada kecantikan hasil polesan semata. Yang lebih penting adalah citra positif mampu membuat anda berpikir positif dan pada akhirnya menuntun anda mencapai sukses.
Sopan santun yang berhubungan dengan penampilan yang wajib diperhatikan dalam lingkungan kerja sekretaris, yaitu :
1. Jangan berpakaian terlalu terbuka atau menerawang. Jangan juga berseksi-seksi dengan rok yang terlalu pendek.
2. Jangan bermake-up atau membetulkan make up di meja, lakukanlah di toilet.
3. Jangan melepas sepatu ketiak bekerja, apalagi berjalan ke meja lain. Sangat tidak di anjurkan mengganti sepatu dengan sandal dan kemudian mempergunakannya sambil berjalan-jalan di sekitar kantor.
Kenyataan bahwa penampilan merupakan factor utama saat anda di pilih atau diterima untuk posisi sekretaris harus “distinctive” seperti halnya kemampuan kerja dan kepribadian anda. Dengan penampilan yang berbeda itu, orang dengan mudah menunjuk yang mana sekretaris dari antara sekelompok staf wanita di kantor anda.
KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI BAGI
SEKRETARIS
Kemampuan berkomunikasi
Tidak ada sekretaris yang dalam melaksanakan tugasnya terisolir. Ia akan selalu akan behubungan dengan orang lain, dari managemen tingkat atas sampai office boy. Sikap tenang, anggun, dan penuh percaya diri sangat di perlukan mengingat sekretaris bukan hanya berhubungan dengan orang-oarang penting yang sopan, tetapi juga mereka yang kurang puas dengan keadaannya yang sulit ditangani bahkan kadang-kadang seorang yang cerdas dan lihai berkata-kata.
Bila anda bagus dalam pekerjaan anda sebagai sekretaris dan ambisius untuk lebih mengembangkan diri, anda akan sampai pada saatnya dimana anda merasa tidak sanggup lagi menyeleseikan semua tugas yang semakin lama semakin luas dalam kurun waktu yang tersedia. Jangan mengeluh dan mengatakan hal-hal yang negative.
Ungkapan yang sekarang sering terdengar “WORK SMART NOT HARD” mungkin bisa dijadikan pedoman. Pikirkan bagaimana anda bisa bekerja lebih, tanpa harus mati-matian. Misalanya, dengan mengambil seorang asisten.
SEKRETARIS DALAM ERA INFORMASI GLOBAL
Era Globalisasi informasi dan kemajuan ilmu poengetahuan dan tekniligimenuntut orang-orang untuk menggeluti profesi sekretaris untuk selalu menyesuaikan diri dan memperlebar wawasan bila tidak ingin tenggelam dalam persaingan atau rutinitas pekerjaan. Walaupun demikian, era informasi ini hendaknya tidak dijadikan ancaman sebab era ini sbenarnya telah menciptakan kesempatan yang tidak terduga bagi para sekretaris untuk meningkatkan status pekerjaannya dan pada akhirnya gaji mereka.
Berikut merupakan perubahan-perubahan akibat dari kemajuan teknologi:
Banyak tugas, seperti pembukuan dan pengetikan, sekarang dikerjakan dengan computer.
Surat-surat dibanyak kantor tidak lagi dikirim dengan jasa pos, tetapi dengan alat kirim elektronik, seperti mesin fax atau e-mail.
Telepon semakin vital fungsinya.
Penelitian tidak lagi terbatas pada perpustakaan local, tetapi dari database yang bersifat nasional.
Mencari arsip di kantor-kantor yang modern, berarti memanggil data dari dokumen yang tersimpan di dalam disket.
Satu keharusan yang harus dimiliki sekretaris dalam Era Informasi Global adalah kemampuan untuk bekerja secepatnya teru tama dalam menangani informasi-informasi vital. Demikian juga bagi sekretaris yang tidak begitu tertarik dengan informasi.
Beberapa langkah yang harus diambil untuk meningkatkan karier anda adalah :
1. Pendidikan lanjutan dan pelatihan
Ambil setiap kesempatan yang diberikan oleh perusahaan anda untuk mempelajari teknologi atau system baru, misalnya menghadiri seminar, ikut serta dalam prigram pelatihan perusahaan. Kegiatan belajar juga tidak terbatas pada seminar atau pelatihan formal. Sekedar mengunjungi salah satu staf ahli dalam perusahaan anda akan semakin membuka wwasan anda.
2. Membaca
Bacalah surat kabar, majalah-majalah terutama mengenai dunia. Jadikan kebiasan membaca buku-buku tentang teknologi baru dan jurnal-jurnal perdagangan yang berhubungan langsung dengan bisnis perusahaan anda.
Banyak karier sekretaris mendek karena kemampuannya hanya terbatas pada tugas-tugas administrasi rutin, seperti pengetikan dan surat menyurat. Untuk dapat menyumbangkan pelayanan kesekretarisan yang bermutu, tidak cukup hanya bertumpu pada keterampilan dasar kesekretarisan yang bemutu., tidak cukup hanya bertumpu pada keterampilan dasar kesekretarisan, seperti mengetik dan filing, melainkan terus menerus memperkaya diridengan membaca ber agam pengetahuan, seperti managemen pemasaran keuangan, hubungan masyarakat, dan kepemimpinan.
3.Bergaul dengan kaum profesional
Masuk kedalam perkumpulan –perkumpulan yang menawarkan informasi, dukungan, dan kesempatan pengembangan karier sekretaris. Saat ini semakin banyak event yang memumingkinkan sekretaris bertemu dengan rekan-rekan seprofesi maupun kalangan bisnis dan professional muda. Gunakan kesempatn-kesempatan seperti itu untuk menambah wawasan anda.
4. Tingkatkan efektivitas dan efisiensi kerja
Bekerja keras serta giat saja tidaklah cukup. Work smart Not Hard, merupakan istilah yang semskin populer dikalangan eksekutif. Untuk berhasil, anda harus bisa bekerja lebih cepat dari orang lain dan menghasilkan lebih banyak dan lebih banyak lagi bagi kemajuan perusahaan.
5. Kemukakan ide anda dan bersikaplah proaktif
Dalam persaingan usaha yang cukup ketat, sekretaris menjadi anggota team managemen kelas atas yang sagat diperhitungkan karena ia biasa berada di antara perusahaan. Keadaan ini harus bisa anda manfaatkan dengan selalu berfikir lebih dari apa yang diminta dari anda. Bekerja dengan managemen penentu arah perusahaan memungkinkan suara dan ide anda lebih udah di dengar. Bersikaplah proaktif, jangan hanya menunggu intruksi saja.
J
Jarang ada sekretaris yang bekerja terisolir. Mereka harus belajar bagaimana bergaul dengan rekan kerjanya sehari-hari dan bagaimana mereka menangani aspek-aspek baik dan buruk yang ada dari hubungan di kantor.
Kualitas personal yang penting, antara lain:
Bekerja efektif sebagai anggota tim dengan tetap memelihara kemampuan untuk berinisiatif dan mengelola suatu proyek dengan mandiri.
Bisa bekerja sama, penuh pengertian, dan tegas dalam berhubungan dengan sesama.
Penuh perhatian terhadap hal-hal kecil dan terus mengembangkan sifat teliti dalam kerja dan terhadap sesama.
Menjunjung tinggi kerahasiaan dan tuntutan etika ditempat kerja.
Ciptakan kesan pribadi yang baik dan kesan perusahaan yang menyenangkan melalui penampilan bisnis dan sikap-sikap positif dan gembira.
Lakukan tugas dengan jujur dan professional.
Berusaha terus kreatif dan bersikap proaktif.
Dibawah ini beberapa tuntutan untuk berhasil dalam pekerjaan dan kehidupan anda :
1. Kenali diri anda sendiri.
Segera setelah anda memasuki dunia kerja, anda akan mulai menyadari bakat-bakat yang anda miliki, motivasi, dan nilai-nilai yang anda hargai.
2. Tetapkan sasaran anda.
Sasaran hendaknya yang realitis dan mungkin di capai.
3. kejar sasaran-sasaran anda itu dengan antusiasme.
Antusiasme merupakan suatu kebiasaan sehingga dapat dibina. Bekerja yang ternyata berbeda dengan harapan kita, memang terkadang membosankan dan penuh dengan masalah-masalah hubungan manusia., intrik-intrik dan politik kantor. Hal tersebut hendaknya tidak membuat kita bersikap apatis dan statis, atau membuat kita lua sasaran-sasaran itu.
4. Pertimabangkan masak-masak setiap langkah yang anda ambil.
Pilih satu langkah yang memberikan manfaat terbesar yang mengarahkan anda kesasaran akhir anda. Walaupun demikian, jangan takut mengambil resiko. Kesalahan yang akan banyak anda buat semakin diperkaya.
Akhir kata, selamat merajut hidup anda, Semoga Berhasil.
“Good gives every bird its food, but He does not throw it into the nest”.
-J.G. Holland.
Daftar Pustaka
Benfari,Robert (1995), Change your Management Style. How to Evaluate and Improve Your Own Performance. New York :Lexington Books.
Bolton Marry dan John Bolton, tt, The Complete Book of Etiquette. London: W. Foulsham & Co., Ltd.
Hendarto,M.G.Hartato dan Drs.F.X. Tulusharyono, M.M.(2002), Menjadi Sekretaris Profesional: Seri Pengembangan Diri dan Karier No.4. Jakarta. PPM.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Menulis Part 1
Saya jadi ingat, semenjak kecil saya sangat suka sekali membaca. Sering kali saya meminta Ayah, Kakak bahkan paman saya untuk menulis singkatan-singkatan di buku saya. Mulai dari huruf A-Z, agar dapat saya baca dan hafalkan. Entah mengapa ada kepuasan tersendiri jika saya mampu menghafal dan memahami apa yang saya baca. Seperti ada sebuah cahaya yang masuk ke dalam mata hati saya, dan badan saya terasa ringan. Dasyat!
Sering kali ketika SD, saya membaca semua buku-buku yang berserakan di kamar kakak sepupu saya, sampai-sampai karena buku-buku itu hanya sedikit, saya pun membacanya hingga berulang-ulang, walaupun saat itu buku yang saya baca buku-buku pelajaran SMP dan SMA. Jika masuk sekolah, maka tempat yang paling favorit adalah perpustakaan (Sok banget ya...)
Selanjutnya saya meneruskan sekolah di sebuah pondok pesantren, saya masih tetap dengan hobi saya, yaitu membaca. Jika sedang membereskan rumah pak Kyai, saya sering mendapatkan buku-buku putra Kyai yang berserakan di kamar dan di gudang, diam-diam saya sering meminjamnya.
Kebiasaan di pondok kami adalah mendengarkan sandiwara radio bersama-sama setiap malam jum'at, yaitu program cerita horor. Walaupun setiap kali mendfengarkan, kami menjerit sama-sama dan merinding sama-sama. Namun, di situlah inspirasi menulis saya berawal. Saya berpikir, alangkah bahagianya jika kita dapat berbagi cerita dengan orang lain. Saya pun menulis, walaupun itu ditulis dengan menggunakan pensil atau pulpen dibuku tulis. Setiap kali saya menulis, maka adik-adik kelas atau santri-santri selalu ingin membaca hasilnya. Tulisan saya saat itu masih sebatas cerita pendek, dan kadang saya sengaja membuat cerita yang bersambung, sehingga setiap hari adik-adik dan teman-teman saya menagih tulisan saya.
Sungguh saat itu saya merasa bahagia. Kesimpulan yang dapat saya petik saat itu adalah, menulis itu membuat saya bahagia karena dapat berbagi dengan orang lain. Apalagi rutinitas sebagai santri adalah kegiatan belajar-dan belajar, tanpa liburan. Ada pun liburan itu setiap malam Jum'at yakni mendengarkan radio. So, dengan tulisan itu mereka mengaku merasa terhibur. Mereka sepertis edang menonton televisi memlalui mata imajinasi mereka.
Sering kali ketika SD, saya membaca semua buku-buku yang berserakan di kamar kakak sepupu saya, sampai-sampai karena buku-buku itu hanya sedikit, saya pun membacanya hingga berulang-ulang, walaupun saat itu buku yang saya baca buku-buku pelajaran SMP dan SMA. Jika masuk sekolah, maka tempat yang paling favorit adalah perpustakaan (Sok banget ya...)
Selanjutnya saya meneruskan sekolah di sebuah pondok pesantren, saya masih tetap dengan hobi saya, yaitu membaca. Jika sedang membereskan rumah pak Kyai, saya sering mendapatkan buku-buku putra Kyai yang berserakan di kamar dan di gudang, diam-diam saya sering meminjamnya.
Kebiasaan di pondok kami adalah mendengarkan sandiwara radio bersama-sama setiap malam jum'at, yaitu program cerita horor. Walaupun setiap kali mendfengarkan, kami menjerit sama-sama dan merinding sama-sama. Namun, di situlah inspirasi menulis saya berawal. Saya berpikir, alangkah bahagianya jika kita dapat berbagi cerita dengan orang lain. Saya pun menulis, walaupun itu ditulis dengan menggunakan pensil atau pulpen dibuku tulis. Setiap kali saya menulis, maka adik-adik kelas atau santri-santri selalu ingin membaca hasilnya. Tulisan saya saat itu masih sebatas cerita pendek, dan kadang saya sengaja membuat cerita yang bersambung, sehingga setiap hari adik-adik dan teman-teman saya menagih tulisan saya.
Sungguh saat itu saya merasa bahagia. Kesimpulan yang dapat saya petik saat itu adalah, menulis itu membuat saya bahagia karena dapat berbagi dengan orang lain. Apalagi rutinitas sebagai santri adalah kegiatan belajar-dan belajar, tanpa liburan. Ada pun liburan itu setiap malam Jum'at yakni mendengarkan radio. So, dengan tulisan itu mereka mengaku merasa terhibur. Mereka sepertis edang menonton televisi memlalui mata imajinasi mereka.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Rabu, 11 Agustus 2010
Strees dan Fobia
BAB I
(PENDAHULUAN)
Dalam setiap detiknya dunia mengalami perubahan. Begitu juga dengan kita sebagai manusia. Dalam era yang sangat penuh persaingan ini manusia gberlomba-lomba untuk mengatasi apa yang menjadi tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Semua hal yang terjadi, menjadikan manusia melakukan apa saja, walaupun itu semua membuatnya mengalami gangguan pada fisik maupun psikologisnya. Tidak terkecuali pada ibu-ibu Rumah tangga yang sebagai fitrahnya adalah seorang wanita yang bertugas dan bertanggung jawab dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya. Namun, dilain pihak tuntutan hiduplah yang berbicara, banyak sekarang ini wanita/ibu-ibu yang selain bertanggung jawab sebagai pengatur rumah tangga tetapi juga sebagai karyawan/bekerja. Dan hal ini juga memicu adanya gangguan mental dalam hal ini sangat rentan terjadi pada ibu-ibu tersebut yang disebut dengan stress.
Banyak orang yang mengeluh kesakitan secara fisik, namun setelah diteliti penyebanya adalah pengauh psikologis. Hal ini yang membuat penulis mencoba meneiti apa hubungan antara psikologis dan fisik. Namun tidak jarang pula orang yang dapat melakukan coping terhadap stressnya, dan tentunya hal ini pula yang penulis coba teliti dengan cara mengobservasi dan mewawacara orang yang bersangkutan (Ibu Rumah Tangga dan bekerja)
Gangguan lainnya yang terjadi pada manusia pada umumnya adalah gangguan kecemasan, dalam hal ini kecemasan yang dimaksud adalah pobia. Banyak orang yang dengan alasan dan tanpa alasan mengalami hal tersebut. Tentunya hal ini adalah salah satu yang menyebabkan penulis mencoba meneliti dengan mewawancarai si penderita pobia tersebut.
BAB II
KERANGKA TEORI
B. 1. STRESS
a. Pengertian Stress
Dr. Hans Selye, seorang ahli fisiologi dan tokoh dibidang stress yang terkemuka dari Universitas Montreal, merumuskan stress sebagai berikut : Stress adalah tanggapan tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap tuntutan atasnya. Manakala tuntutan terhadap tubuh itu berleihan, maka hal ini dinamakan distress. Tubuh akan berusaha menyelaraskan ransangan atau stress itu dalam bentuk penyesuaian diri. Dalam banyak hal manusia akan cukup cepat untuk pulih kemabali dari pengaruh-pengaruh pengalaman stress. Manusia mempunyai suplai yang baik dari energi penyesuaian diri untuk dipakai dan diisi kembali bilamana perlu.
Setiap permasalahan kehidupan yang menimpa pada diri seseorang (disebut stressor psikososial) dapat mengakibatkan gagguan fungsi /faal organ tubuh. Reaksi tubuh/fisik yang dinamakan stress; dan manakala fungsi organ tubuh itu terganggu maka dinamakan distress.
Stress dewasa ini sudah semakin populer, tidak saja di kalangan umum, namun juga di kalangan medis istilah ini mulai dipakai. Bahkan ada gejala dari suatu penyakit, cenderung untuk memakai istilah stress sebagai bentuk diagnosa.
Stress adalah reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban yang bersifat non spesifik, namun disamping itu stress juga merupakan factor penyebab sekaligus, akibat dari suatu gangguan atau penyakit. Factor-faktor psikososial cukup mempunyai arti bagi terjadinya stress pada diri seseorang. Manakala tuntutan itu melampui kebutuhannya, maka keadaan demikian disebut distress.
Coping dan Stres
Beberapa orang meyakini bahwa tidak mungkin mendefenisikan secara objektif peristiwa atau situasi untuk dapat dikategorikan sebagai stresor psikologis mereka menemukan aspek kognitif stres yaitu mereka meyakini bahwa cara kita menerima atau menilai lingkungan menentukan apakah terdapat stresor. Jika seorang mberanggapan bahwa tuntutan dalam suatu situasi melebihi kemampuanny, orang tersebut mengalami stres.
Relevan dengan perbedaan individual dalam merespon situasi penuh stres merupakan konsep coping, yaitu bagaimana orang berupaya mengatasi masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif yang ditimbulkannya. Bahklan diantara mereka yang menilai suatu situasi yang penuh stress, effek stres dapat bervariasi tergantung padas bagaimana individu menghadapi situasi tersebut. Lazarus dan para koleganya mengidentifikasi dua dimensi coping (Lazarus dan Folkman, 1984)
· Coping yang terfokus pada masalah (problem-focused coping) mencakup bertindak secara langsung untuk mengatasi masalah ataumencari informasi yang relavan dengan solusi
· Coping yang terfokus pada emosi (emotion-focused coping) merajuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres.
Para peneliti coping juga mengajukan coping yang berupa penghindaran (avoidance coping) suatu tipe coping yang mencakup aspek-aspek coping yang berfokus pada masalah dan pada emosi.
Esensi coping berupa penghindaran adalah berusaha menghindar untuk mengakui bahwa memang ada masalah yang harus diatsi (mengnalihkan diri, mengingkari) atau menolak melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut (menyerah).
Peran emosi positif dalam coping menjadi ketertarikan dalam meneliti dewasa ini. Emosi positif dapat dan memang menyertai timbulnya emosi negatif dalam situasi penuh stres dan dapat memberikan menfaat. Coping yang efekti sering kali berfariasi sesuai dengan situasi. Selain tiu para peneliti terus berupaya menemukan solusi suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan menyebabkan peningkatan rasa frustasi dan tidak memberikan manfaat psikologis apa pun meskipun demikian, bukti-bukti menunjukkan, bahwa secara umum coping berupa pelarian atau penghindaran merupakan metode coping yang paling tidak efekktif untuk menghadapi banyak masalah kehidupan.
1. Pendekatan Holistik
Manusia sebagaimana ia ada pada sesuatu waktu, merupakan hasil suatu interaksi antara badan, jiwa dan lingkungannya. Ketiga unsure ini saling mempengaruhi mulai dari saat pembuahannya sampai manusia itu menghebuskan nafasnyaa yang akhir.
Dengan demikian, maka dalam segala masalah manusia, kita tidak boleh memisahkan unsure yang satu dengan yang lainnya, tetapi harus memperhatikan serta mempertimbangkan ketiganya dalam satu keseluruhan. Pendekatan ini disebut pendekatan holistik. .
Berikut adalah bagan yang menyatakan Bagan Hubungan bio-psiko-sosial atau Holistik
hubungan antar Para Individu
manusia Keluarga
Fungsi Mental Kelompok Kecil
Lebih tinggi Masyarakat
Text Box: Jiwa Badan Kebudayaan dulu/sekarang
hubungan antar Para Individu
manusia Keluarga
Fungsi Mental Kelompok Kecil
Lebih tinggi Masyarakat
Text Box: Lingkungan Fisik Kebudayaan dulu/sekarang
2. Stressor Psikososial
Stressor Psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seorang anak, remjaja atau dewasa sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau menanggulangi stressor yang timbul. Namun, tidak semua orang mampu mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbulah keluhan-keluhan kejiwaan, antara lain depresi.
Pada umumnya jenis stressor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Perkawinan
Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stress yang dialami seseorang; misalnya pertengkaran , perpisahan, perceraian, kematian salah satu pasangan, ketidakpastian, dan lain-lain.
2. Problem Orangtua
Permasalahan yang dihadapi orang tua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar, besan dan lain sebagainya.
3. Hubungan Interpersonal (Antar Pribadi)
Gangguan ini dapat berupa konflik dengan kawan, kekasih, antara atasan dan bawahan, dan lain sebagainya.
4. Pekerjaan
Masalah pekerjaan merupakan sumber stress kedua setelah perkawinan. Banyak orang menderita depresi dan kecemasan masalah pekerjaan ini. Misalnya, pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi jabatan, kenaikan pangkat, PHK, pensiun dan lain sebagainya.
5. Lingkungan Hidup
Kondisi lingkungan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang, misalnya perumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran, hidup d daerah yang rawa dengan kriminalitas dan lain sebagainya.
6. Keuangan
Masalah social-ekonomi yang tidak sehat, misalnya pendapatatn jauh dibawah dar pada pengeluaran , terlibat hutang, kebangkruta usaha, soal warisan dan lain sebagainya. Problem keuangan ini dapat membuat jiwa seseoreang dan seringakali membuat orang jatuh dalam depresi dan kecemasan.
7. Hukum
Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum dapat menjadi sumber stress. Misalnya tuntutan hukum , pengadilan, penjara, dan lain sebagainya.
8. Perkembangan
Perkembangan fisik ataupun mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa, monopouse, usia lanjut dan lain sebagainya.
9. Penyakit Fisik atau Cedera
Akibat dari kecelakaan, operasi/pembedahan, aborsi, penyakit-penyakit yang sangat suit unukdisembuhkan, dan lain sebagainya, merupakan salah sartu sumber stress yang paling utama pada manusia pada umumnya.
10. Faktor Keluarga
Yang dimaksudkan disini adalah factor stress yang dialami oleh anak dan remaja yang disebabkan karena kondisi keluarga yang tidak baik, misalnya:
v Hubungan kedua orang tua yang dingin, atau penuh ketegangan, acuh tak acuh
v Kedua orang tua jarang di rumah, dan tidak ada waktu untuk bersama anak-anak.
v Komunikasi antara oranag tua dan anak tidak baik
v Perceraian orang tua
v Salah satu orang tua menderita atau mengfalami gangguan kejiwaan
v Orang tua dalam mendidik anak-anak kurang sabar, pemarah, otoriter dan lain-lain
11. Dan lain-lain
Penyebab stress yang lainnya yaitu dapat berupa bencana alam, kebakaran, perkosaan, kehamilan diluar nikah dan lain-lain.
Kebanyakan pekerjaan dengan waktu yang sangat sempit ditambah lagi dengan tuntutan yang harus serba cepat dan tepat, membuat orang hidup dalam keadaan ketegangan (stress). Pengangguran membawa pengaruh bagi kesehatan jiwa. Sumber stress terpenting bukanlah hakikat kehilangan pekerjaan itu sendiri, tetapi lebih bersifat perubahan-perubahan domestic dan psikologis yang berjalan secara perlahan-lahan. Hal ini lambat laun dapat membahayaklan kesehatan individu itu sendiri.
3. Tahapan Stress
Gangguan stress biasanya timbul seara perlahan, tidak jelas kapan mulainya dan seringkali kita tidak menyadarinya. Namun meskipun begitu dari pengalaman psikiatri, para ahli mencoba membagi stress tersebut dalam enam tahapan. Petunjuk-petunjuk tahapan stress tersebut diemukakan oleh Dr. Robert J.Van Amberg, Psikiater sebagai berikut:
1. Stress tingkat I
Tahapan ini merupakan tingkat stress paling ringan dan disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:
a. Semangat besar
b. Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
c. Energi an gugup brle, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya.
2. Stress tingkat II
Pada tahapan ini dampak stress yang menyenangkan mu8lai menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan itu sebagai berikut:
a. Merasa letih sewaktu bangun pagi.
b. Merasa lelah setelah makan siang
c. Merasa lelah sepanjang sore hari
d. Terkaang gangguan dalam sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung), kadang-kadang jantung berdebar-debar.
e. Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher).
f. Perasaan tidak bisa santai
3. Stress tingkat III
Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin nampak disertai dengan gejala-gejala:
a. Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mulas, seing ingin buang air)
b. Otot-otot terasa lebih tegang
c. Perasaan tegang yang semakin meningkat
d. Gangguan tidur; insomia, sering terbagun malam, dan sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi.
e. Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pinsan tapi tidak sampai jatuh pingsan.
Pada tahapan ini penderita sudah harus berkonsultasi pada dokter, kecuali jika beban stressnya dikurangi dan tubuh dapat kesempatan untuk beristirahat atau relakasi.
4. Stress tingkat IV
Pada tahapan ini sudah menunjukkan gejala yang lebih buruk.
a. untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sangat sulit
b. kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit
c. kehilangan kemampuan untuk menanggapi suatu pergaulan social dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat.
d. Tidur semakin sukar, mimpi-mimpi menegangkan dan sering terbangun dini hari.
e. Perasaan negativisik
f. Kemampuan berkonsentrasi menurun tajam
g. Perasaan takut yang tidak bisa dijelaskan.
5. Stress tingkat V
a. Keadaan yang mendalam (physical and psychological exhaustion)
b. Untuk pekerjaan-pekerjaan sederhana saja tidak mampu
c. Gangguan sistem pencernaan
d. Perasaan takut yang semakin menjadi, mirip panic.
6. Stress tingkat VI
Tahapan ini meruapakan tahapan puncak yang merupakan keadaan gawat darurat. Tidak jarangpenderita dalam tahapan ini dibawa ke ICC.gejala-gejala pada tahapan ini cukup mengerikan:
a. Debaran jantung terasa amat keras, hal ini disebabkan zat adrenalin yang dikeluarkan, karena stress tersebut cukup tinggi dalam peredaran darah.
b. Nafas sesak
c. Badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran
d. Tenaga untuk hal-hal ringan sekali pun tidak kuasa lagi, pingsan atau collaps.
2. FOBIA
a. Pengertian Fobia
Para Psikolog mendefinisiikan fobia sebagai penolakan yang mengganggu yang diperantai oleh rasa takut yang tidak proposional dengan bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu dan diakui oleh sipenderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar. Beberapa contoh ketakutan ekstrem terhadap ketinggian, tempat tertutup, ular atau laba-laba- mengingat tidak ada bahaya objektif- disertai dengan penderitaan cukup besar untuk mengganggu kehidupan seseorang.
Kriteria DSM-IV-TR untuk Fobia
* Ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi.
* Katerpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
* Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis
* Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens.
Dalam tiap kasus, kata fobia diawali dengan kata dalam bahasa yunani yang menyebutkan objek atau situasi yang ditakuti. Kata fobia diambil dari nama dewa Yunani Phobos, yang takut pada musuh-musuhnya. Beberapa istilah yang paling dikenal adalah claustrophobia, ketakutan pada ruang tertutup; agoraphobia, ketakutan pada tempat umum; dan acrophobia, ketakutan pada ketinggian. Beberapa ketakutan yang lebih eksotik juga diberi nama yang diambil dari bahsa yunani, sebagai contoh ergasiophobia, ketakutan menulis; pnigophobia, ketakutan tersedak; taphephobia, ketakutan dikubur hidup-hidup; anglophobia, ketakutan pada inggris; musophobia, ketakutan pada tikus; dan hellenologophobia, ketakutan pada kondisi ilmiah semu (McNally, 1997).
b. Tipe-tipe Fobia
* Fobia Spesifik
Fobia spesifik adalah ketakutan yang beralasan yang disebabkan oleh kehadiran atau antisipasi suatu objek atau situasi spesifik. DSM-IV-TR membagi fobia berdasarkan sumber ketakutannya: darah, cedera dan penyuntikan, situasi(a.l., pasawat terbang, lift, ruang tertutup), binatang, dan lingkungan alami (a.l., ketinggian, air). Fobia tersebut biasanya saling menyertai (komorbid) (Kendler dkk., 2001). Angka prevalensi sepanjang hidup berkisar 7 persen pada laki-laki dan 16 persen pada perempuan (Kessler dkk., 1994).
Hal yang ditakuti pada fobia juga dapat bervariasi dalam berbagai budaya. Sebagai contoh, di Cina, Pa-leng adalah ketakutan pada dingin di mana seseorang mengalami kekhawatiran bahwa hilangnya panas tubuh dapat menyebabkan nyawa terancam. Ketakutan ini tampaknya berkaitan dengan filosofi Cina tentng yin dan yang , yin merujuk pada aspek-aspek kehidupan berupa pencairan energi yang dingin dan berangin.
Contoh lain adalah suatu sindrom yang dialami di Jepang yang disebut taijinkyofo-sho, ketakutan pada orang lain. Ini bukanlah fobia sosial, namun merupakan ketakutan ekstrem untuk mempermalukan orang lain, sebagai contoh, dengan mempermalukan kehadiran mereka, menatap daerah genital, atau menunjukkan wajah aneh. Diyakini behwa fobia ini timbu dari berbagai elemen budaya Jepang tradisional, yang mendorong kepedulian yang ekstrem terhadap perasaan orang lain, namun tidak mendorong komunikasi perasaan secara langsung (McNally, 1997). Dengan demikian, kepercayaan yang terdapat dalam suatu budaya tampaknya dapat menjadi sumberketakutan yang dialami oleh banyak orang.
* Fobia Sosial
Fobia Sosial adalah ketakutan menetap dan tidak rasiona yang umumnbya berkaitan dengan keberadaan orang lain. Fobia ini dapat sangat merusak, sedemikian parah sehingga angka bunuh diri pada orang-orang yang menderita fobia ini jauh lebih tinggi dibanding mereka yang menderita gangguan anxietis lain (Schnerier dkk., 1992). Memang, istilah ”gangguan anxietis sosial” baru-baru ini diajukan sebagai istilah yang lebih tepat karena beratnya masalah dan konsekuensi negatif bagi orang-orang yang mengalaminya jauh lebih besar dibanding fobia lain (Liebowitz dkk., 2000).
Individu yang menderita fobia sosial biasanya mencoba menghindari situasi dimana ia mungkin dinilai dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau berperilaku secara memalukan. Ketakutan yang ditunjukkan dengan keringat berlebihan atau memerahnya wajah merupakan hal jamak. Berbicara atau melakukan sesuatu di depan publik, makan di tempat umum, menggunakan toilet umum, atau hampir semua aktivitas lain yang dilakukan di tempat yang terdapat orang lain dapat menimbulkan kecemasan ekstrem, bahkan serangan panik besar-besaran. Orang-orang yang menderita fobia sosial sering kali bekerja dalam pekerjaan atau profesi yang jauh dibawah kemampuan atau kecerdsan mereka karena sensitivita sosial ekstrem yang alami- jauh melebihi apa yang kita pikirkan tentang rasa malu-sangat merugikan secara emosional. Lebih baik mengerjakan pekerjaan bergaji rendah daripada setiap hari berhadapan dengan orang lain dalam pekerjaan yang lebih berharga.
Fobia sosial dapat bersifat umum atau khusus, tergantung rentang situasi yang ditakuti dan dihindari. Orang-orang dengan tipe umum mengalami fobia ini pada usia yang lebih awal, lebih banyak komorbiditas dengan berbagai gangguan lai, seperti depresi dan kecanduan alkohol, dan hendaya yang lebih parah (Mannuza dkk., 1995; Wittchen, Stein, & Kessler, 1999). Gangguan axietas sosial cenderung menjadi kronis jika penangananya tidak berhasil.
Fobia sosial cukup jamak terjadi, dengan angka prevalensi sepanjang hidup 11 persen pada laki-laki dan 15 persen pada perempuan (Kessler dkk., 1994; Magee dkk., 1996). Fobia ini memiliki tingkat komorbiditas tinggi dengan berbagai gangguan mood, dan penyalahgunaan alkohol (Crum & Pratt, 2001; Jansen dkk., 1994; Kessler dkk., 1999; Lecrubier & Weiler, 1997). Seperti diharapkan, awal terjadinya biasanya pada masa remaja, saat kesadaran sosial dan interaksi dengan orang lain menjadi sangat penting dalam kehidupan seseorang, ketakutan seperti itu juga ditemukan pada anak-anak. Seperti contoh, setelah dicatat sebelumnya, di Jepang ketakutan menyakiti orang lain merupakan hal yang sangat penting, sedangkan di Amerika Serikat ketakutan dinilai negatif oleh orang lain lebih jamak.
c. Teori-teori Fobia
1. Teori Psikoanalisis
Orang pertama yang mencoba menjelaskan secara sistematis perkembangan prilaku biotic adalah Freud. Menurutnya, fobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya. Berbagai contoh situasi itu adalah lift dan tempat tertutup. Dengan menghindarinya seseorang dapat menghindar dari konflik-konflik yang ditekan.
Berdasarkan teori fobia lain dari psikoanalisis yang diajukan oleh Arieti (1979), sesuatu yang ditekan merupakan masalah interpersonal tertentu di masa kecil dan bukan suatu impuls id. Arieti berteori bahwa pada masa kanak-kanak, orang-orang yang menderita fobia pada awalnya menjalani priode tanpa dosa di mana mereka memercayai orang lain di sekitar mereka untuk melindungi mereka dari bahaya. Kemudian mereka menjadi takut bahwa orang dewasa tidak dapat diandalkan. Mereka tidak dapat hidup dengan ketiadaan rasa percaya tersebut. Untuk dapat kembali memercayai orang lain, secara tidak sadar mereka mengubah rasa takut pada orang lain tersebut menjadi rasa takut pada situasi yang tidak menyenangkan.
2. Teori Behavioral
Teori ini berfokus pada pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia.
1. Avoidance Conditioning
Penjelasan utama behavioral tentang fobia adalah reaksi semacam itu merupakan respons avoidance yang dipelajari. Formulasi Avoidance Conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang diajukan oleh Mowrer (1974) dan menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua rangkaian pembelajaran yang saling berkaitan: pertama, melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada stimulus netral jika stimulus tersebut dipasangkan pada suatu kondisi. Kedua, seseorang dapat mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari stimulus netral tersebut.
2. Modeling
Selain belajar untuk takut terhadap sesuatu sebagai akibat pengalaman yang tidak menyenangkan, ketakutan dapat dipelajari dengan meniru reaksi orang lain. Pembelajaran terhadap rasa takut dengan mengamati orang lain secara umum disebut sebagai vicarious learning.
3. Prepared learning (pembelajaran yang dipersiapkan)
Isu lain yang tidak dibahas dalam model pembelajaran avoidance adalah bahwa orang-orang cendrung hanya takut pada objek atau situasi tertentu, seperti laba-laba, ular, ketinggian, tapi tidak pada objek lain seperti domba (Marks, 1969). Prepared learning juga relevan dengan mempelajari ketakutan melalui modeling. Cook dan Mineka (1989) meneliti empat kelompok kera resus, yang masing-masing melihat rekaman video yang berbeda. Rekaman tersebut dibuat dengan penggabungan sehingga kera yang menunjukan ketakutan mendalam tampak seolah merespons stimulasi yang berbeda: seekor ular mainan, bunga, atau kelinci mainan. Hanya kera-kera yang melihat rekaman ular atau buaya mainan yang menunjukan ketakutan pada objek tersebut, sekali lagi menunjukan bahwa tidak setiap stimulus dapat menjadi sumber ketakutan.
4. Diperlukan Diathesis
Pertanyaan terakhir yang perlu dibahas adalah mengapa beberapa orang yang memiliki pengalaman traumatis tidak mengalami ketakutan yang menetap. Sebagai contoh, 50 % di antara orang-orang yang sangat ketakutan terhadap anjing menuturkan pengalaman traumatis yang pernah mereka alami dengan anjing, begitu juga dengan 50 % di antara orang-orang yang tidak takut anjing (Dinardo dkk, 1988). Perbedaan di antara kelompok tersebut adalah kelompok fobik berfokus pada dan menjadi cemas terhadap kemungkinan munculnya kejadian traumatis yang sama pada masa mendatang. Dengan demikian, suatu diathesis kognitif-meyakini bahwa kejadian traumatis yang sama akan terjadi pada masa mendatang-mungkin merupakan hal penting dalam terbentuknya fobia. Kemungkinan diathesis lain adalah adanya riwayat yang menunjukan ketidakmampuan mengendalikan lingkungan.
Secara ringkas, data yang telah dikaji menunjukan bahwa beberapa fobia mungkin dipelajari melalui avoidance conditioning. Namun, avoidance conditioning tidak dapat dianggap sebagai teori yang sepenuhnya dapat dibenarkan. Sebagai contoh, banyak orang fobia menuturkan bahwa mereka tidak pernah terpapar langsung dengan kejadian traumatis atau dengan model yang menakutkan (Merckelbach dkk, 1989).
5. Keterampilan Sosial yang Kurang dalam Fobia Sosial
Berbagai penemuan menunjukan bahwa orang yang memiliki kecemasan sosial memang memiliki skor rendah dalam keterampilan sosial (Twentyman & McFall, 1975) dan bahwa mereka tidak mampu memberikan respons pada waktu serta tempat yang tepat dalam interaksi sosial, misalnya mengatakan “terima kasih” pada waktu yang tepat. (Fischetti, Curran & Wessberg, 1977).
3. Teori Kognitif
Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berfikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk menanggapi stimulasi negatif, menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan memercayai bahwa kejadian negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang (Heinrichs & Hoffman, 2000; turk dkk, 2001). Isu utama dalam teori ini adalah apakah kognisi tersebut menyebabkan kecemasan atau apakah kecemasan menyebabkan kognisi tersebut. Walaupun beberapa bukti eksperimental mengindikasikan bahwa cara menginterpretasi stimuli dapat menyebabkan kecemasan di laboratorium (Matthews & McKintosh, 2000), namun tidak diketahui apakah bias kognitif menjadi penyebab gangguan anxietas.
Teori kognitif mengenai fobia juga relevan untuk berbagai fitur lain dalam gangguan ini-rasa takut yang menetap dan pakta bahwa ketakutan tersebut sesungguhnya tampak irasional bagi mereka yang mengalaminya. Fenomena ini dapat terjadi karena rasa takut terjadi melalui proses-proses otomatis yang terjadi pada awal kehidupan dan tidak disadari. Setelah proses awal tersebut, stimulasi dihindari sehingga tidak diproses cukup lengkap dan yang dapat menghilangkan rasa takut tersebut (Amir. Foa, & Coles, 1998).
d. Faktor-faktor Biologis yang Memengaruhi
Berbagai teori yang telah kita bahas terutama melihat pada lingkungan untuk menemukan penyebab dan yang membuat fobia menetap. Namun, mengapa beberapa orang memiliki ketakutan yang tidak realistik, sedangkan yang lain tidak, padahal mereka mendapat kesempatan pembelajaran yang sama? Mungkin mereka yang secara negatif sangat terpengaruh oleh stres memiliki malfungsi biologis (suatu diathesis) yang dengan cara satu atau lainnya memicu terjadinya fobia setelah kejadian yang penuh stres. Penelitian dalam dua area berikut tampaknya menjanjikan: sistem saraf otonom dan faktor genetik.
* Sistem Saraf Otonom
Seperti disebutkan sebelumnya, orang-orang yang mengalami fobia sosial sering kali merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah atau berkeringat secara berlebihan di depan umum. Karena berkeringat dan memerahnya wajah dikendalikan oleh sistem saraf otonom, aktivitas sistem saraf otonom yang berlebihan kemungkinan merupakan suatu diathesis.
* Faktor Genetik
Beberapa studi telah menguji apakah faktor genetik berperan dalam fobia. Fobia darah dan penyuntikan sangat familiar; 64 persen fobia darah dan penyuntikan memiliki sekurang-kurangnya satu kerabat tingkat pertama yang menderita gangguan yang sama, sedangkan prevalensi gangguan dalam umum hanya 3 sampai 4 persen (Ost, 1992). Sama dengan itu, baik untuk fobia sosial maupun fobia spesifik, prevalensinya lebih tinggi dibanding rata-rata pada keluarga tingkat pertama pasein, dan studi terhadap orang kembar menunjukan kesesuaian yang lebih tinggi pada kembar MZ (Hettema, M. Neale, & Kendler, 2001).
Terkait dengan penemuan ini adalah penelitian Jerome Kagan mengenai karakter terhambat atau pemalu (Kagan & Snidman, 1997). Beberapa bayi usia empat menjadi terganggu dan menangis ketika ditunjuki mainan atau stimulasi lain. Pola prilaku ini, yang mungkin diturunkan, dapat menjadi tahap awal bagi perkembangan fobia kelak. Dalam satu studi, sebagai contoh, anak-anak yang mengalami hambatan memiliki kemungkinan lima kali lebih besar dibanding anak-anak yang tidak terhambat untuk mengalami fobia kelak (Biedermen dkk, 1990).
e. Terapi Fobia
1. Pendekatan Psikoanalisis
Seperti halnya teori psikoanalisis yang memiliki banyak variasi, demikian juga terapi psikoanalisis. Walaupun demikian, secara umum, semua penanganan psikoanalisis terhadap fobia berupaya mengungkap konflik yang ditekan yang diasumsikan mendasari ketakutan ekstrem dan karakteristik penghindaran dalam gangguan ini. Karena fobia dianggap sebagai simtom dari komplik-komplik yang ada di baliknya, fobia biasanya tidak secara langsung ditangani. Memang upaya langsung untuk mengurangi penghindaran fobik dikontradiksikan karena fobia diasumsikan melindungi orang yang bersangkutan dari berbagai konflik yang ditekan yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi.
Dalam berbagai kombinasi analisis menggunakan berbagai tehnik yang dikembangkan dalam tradisi psikoanalisis untuk membantu mengangkat represi. Dalam asosiasi bebas anbalisis mendengarkan dengan penuh perhatian yang disebutkan pasein terkait dengan setiap rujukan mengenai fobia. Analisis juga berupaya menemukan berbagai petunjuk terhadap penyebab fobia yang ditekan dalam isi mimpi yang tampak jelas. Apa yang diyakini analisis mengenai penyebab yang ditekan tersebut tergantung pada teori psikoanalisis tertentu yang dianutnya.
Para ahli klinis yang berorientasi analitis mengakui pentingnya pemaparan dengan suatu yang ditakuti. Walaupun biasanya mereka cendrung menganggap perbaikan kondisi yang mengikutinya hanya bersifat simtomatik dan bukan sebagai penyeleseian atas konflik mendasar yang diasumsikan sebagai penyebab fobia (Wolitzky & Eagle, 1990).
2. Pendekatan Behavioral
Flooding adalah tehnik dimana klien dipaparkan sebagai sumber fobia dalam intensitas penuh. Rasa tidak nyaman ekstrem menjadi bagian tak terhindarkan dalam prosedur ini sehingga belum lama ini cendrung menahan trapis untuk menggunakan tehnik ini. Kecuali mungkin sebagai jalan terakhir bila pemaparan secara bertingkat tidak membuahkan hasil. Dalam pembahasan mengenai terapi untuk gangguan obsetif kompulsif dan ganguan stres pascatrauma. Kita akan melihat penggunaan tehnik flooding yang lebih luas.
3. Pendekatan Kognitif
Orang-orang yang menderita fobia sosial dapat memperoleh manfaat dari strategi penanganan yang mengacu pada back and ellist. Yaitu: mereka mungkin dipersuasi oleh trapis untuk menilai rekasi orang lain terhadap mereka secara lebih akurat dan untuk tidak terlalu bergantung pada persetujuan orang lain untuk mempertahankan perasaan bahwa diri kita bermakna. Dengan pengakuan dalam tahun-tahun terakhir bahwa banyak orang yang menderita fobia sosial. Pada dasarnya memiliki cukup keterampilan sosial namun terhambat oleh pikiran-pikiran yang menghancurkan diri sendiri. Pendekatan kognitif semakin dititikberatkan. Bila dikombinasikan dengan pemaparan dengan situasi yang ditakuti terutama dalam konteks terapi kelompok, pendekatan kognitif terbukti lebih efektif dibanding berbagai terapi lain.
4. Pendekatan Biologis
Obat-obatan yang mengurangi kecemasan disebut sebagai sedatif, tranquilizer, atau anxiolytic (akhiran lytic berasal dari bahasa Yunani yang berarti melonggarkan atau melelahkan). Barbiturate adalah kategori obat-obatan utama yang pertama kali digunakan untuk menangani gangguan anxietas, namun karena kategori obat-obatan tersebut menyebabkan ketergantung yang tinggi dan beresiko mematikan bila overdosis. Pada tahun 1950 obat-obatan tersebut diganti dengan dua kelompok obat-obat lainnya, propanediol dan benzodiazepine. Jenis yang kedua dewasa ini digunakan secara luas dan bermanfaat bagi beberapa anxietas. Namun demikian, jenis tersebut tidak banyak digunakan bagi fobia spesifik.
(PENDAHULUAN)
Dalam setiap detiknya dunia mengalami perubahan. Begitu juga dengan kita sebagai manusia. Dalam era yang sangat penuh persaingan ini manusia gberlomba-lomba untuk mengatasi apa yang menjadi tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Semua hal yang terjadi, menjadikan manusia melakukan apa saja, walaupun itu semua membuatnya mengalami gangguan pada fisik maupun psikologisnya. Tidak terkecuali pada ibu-ibu Rumah tangga yang sebagai fitrahnya adalah seorang wanita yang bertugas dan bertanggung jawab dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya. Namun, dilain pihak tuntutan hiduplah yang berbicara, banyak sekarang ini wanita/ibu-ibu yang selain bertanggung jawab sebagai pengatur rumah tangga tetapi juga sebagai karyawan/bekerja. Dan hal ini juga memicu adanya gangguan mental dalam hal ini sangat rentan terjadi pada ibu-ibu tersebut yang disebut dengan stress.
Banyak orang yang mengeluh kesakitan secara fisik, namun setelah diteliti penyebanya adalah pengauh psikologis. Hal ini yang membuat penulis mencoba meneiti apa hubungan antara psikologis dan fisik. Namun tidak jarang pula orang yang dapat melakukan coping terhadap stressnya, dan tentunya hal ini pula yang penulis coba teliti dengan cara mengobservasi dan mewawacara orang yang bersangkutan (Ibu Rumah Tangga dan bekerja)
Gangguan lainnya yang terjadi pada manusia pada umumnya adalah gangguan kecemasan, dalam hal ini kecemasan yang dimaksud adalah pobia. Banyak orang yang dengan alasan dan tanpa alasan mengalami hal tersebut. Tentunya hal ini adalah salah satu yang menyebabkan penulis mencoba meneliti dengan mewawancarai si penderita pobia tersebut.
BAB II
KERANGKA TEORI
B. 1. STRESS
a. Pengertian Stress
Dr. Hans Selye, seorang ahli fisiologi dan tokoh dibidang stress yang terkemuka dari Universitas Montreal, merumuskan stress sebagai berikut : Stress adalah tanggapan tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap tuntutan atasnya. Manakala tuntutan terhadap tubuh itu berleihan, maka hal ini dinamakan distress. Tubuh akan berusaha menyelaraskan ransangan atau stress itu dalam bentuk penyesuaian diri. Dalam banyak hal manusia akan cukup cepat untuk pulih kemabali dari pengaruh-pengaruh pengalaman stress. Manusia mempunyai suplai yang baik dari energi penyesuaian diri untuk dipakai dan diisi kembali bilamana perlu.
Setiap permasalahan kehidupan yang menimpa pada diri seseorang (disebut stressor psikososial) dapat mengakibatkan gagguan fungsi /faal organ tubuh. Reaksi tubuh/fisik yang dinamakan stress; dan manakala fungsi organ tubuh itu terganggu maka dinamakan distress.
Stress dewasa ini sudah semakin populer, tidak saja di kalangan umum, namun juga di kalangan medis istilah ini mulai dipakai. Bahkan ada gejala dari suatu penyakit, cenderung untuk memakai istilah stress sebagai bentuk diagnosa.
Stress adalah reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban yang bersifat non spesifik, namun disamping itu stress juga merupakan factor penyebab sekaligus, akibat dari suatu gangguan atau penyakit. Factor-faktor psikososial cukup mempunyai arti bagi terjadinya stress pada diri seseorang. Manakala tuntutan itu melampui kebutuhannya, maka keadaan demikian disebut distress.
Coping dan Stres
Beberapa orang meyakini bahwa tidak mungkin mendefenisikan secara objektif peristiwa atau situasi untuk dapat dikategorikan sebagai stresor psikologis mereka menemukan aspek kognitif stres yaitu mereka meyakini bahwa cara kita menerima atau menilai lingkungan menentukan apakah terdapat stresor. Jika seorang mberanggapan bahwa tuntutan dalam suatu situasi melebihi kemampuanny, orang tersebut mengalami stres.
Relevan dengan perbedaan individual dalam merespon situasi penuh stres merupakan konsep coping, yaitu bagaimana orang berupaya mengatasi masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif yang ditimbulkannya. Bahklan diantara mereka yang menilai suatu situasi yang penuh stress, effek stres dapat bervariasi tergantung padas bagaimana individu menghadapi situasi tersebut. Lazarus dan para koleganya mengidentifikasi dua dimensi coping (Lazarus dan Folkman, 1984)
· Coping yang terfokus pada masalah (problem-focused coping) mencakup bertindak secara langsung untuk mengatasi masalah ataumencari informasi yang relavan dengan solusi
· Coping yang terfokus pada emosi (emotion-focused coping) merajuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres.
Para peneliti coping juga mengajukan coping yang berupa penghindaran (avoidance coping) suatu tipe coping yang mencakup aspek-aspek coping yang berfokus pada masalah dan pada emosi.
Esensi coping berupa penghindaran adalah berusaha menghindar untuk mengakui bahwa memang ada masalah yang harus diatsi (mengnalihkan diri, mengingkari) atau menolak melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut (menyerah).
Peran emosi positif dalam coping menjadi ketertarikan dalam meneliti dewasa ini. Emosi positif dapat dan memang menyertai timbulnya emosi negatif dalam situasi penuh stres dan dapat memberikan menfaat. Coping yang efekti sering kali berfariasi sesuai dengan situasi. Selain tiu para peneliti terus berupaya menemukan solusi suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan menyebabkan peningkatan rasa frustasi dan tidak memberikan manfaat psikologis apa pun meskipun demikian, bukti-bukti menunjukkan, bahwa secara umum coping berupa pelarian atau penghindaran merupakan metode coping yang paling tidak efekktif untuk menghadapi banyak masalah kehidupan.
1. Pendekatan Holistik
Manusia sebagaimana ia ada pada sesuatu waktu, merupakan hasil suatu interaksi antara badan, jiwa dan lingkungannya. Ketiga unsure ini saling mempengaruhi mulai dari saat pembuahannya sampai manusia itu menghebuskan nafasnyaa yang akhir.
Dengan demikian, maka dalam segala masalah manusia, kita tidak boleh memisahkan unsure yang satu dengan yang lainnya, tetapi harus memperhatikan serta mempertimbangkan ketiganya dalam satu keseluruhan. Pendekatan ini disebut pendekatan holistik. .
Berikut adalah bagan yang menyatakan Bagan Hubungan bio-psiko-sosial atau Holistik
hubungan antar Para Individu
manusia Keluarga
Fungsi Mental Kelompok Kecil
Lebih tinggi Masyarakat
Text Box: Jiwa Badan Kebudayaan dulu/sekarang
hubungan antar Para Individu
manusia Keluarga
Fungsi Mental Kelompok Kecil
Lebih tinggi Masyarakat
Text Box: Lingkungan Fisik Kebudayaan dulu/sekarang
2. Stressor Psikososial
Stressor Psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seorang anak, remjaja atau dewasa sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau menanggulangi stressor yang timbul. Namun, tidak semua orang mampu mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbulah keluhan-keluhan kejiwaan, antara lain depresi.
Pada umumnya jenis stressor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Perkawinan
Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stress yang dialami seseorang; misalnya pertengkaran , perpisahan, perceraian, kematian salah satu pasangan, ketidakpastian, dan lain-lain.
2. Problem Orangtua
Permasalahan yang dihadapi orang tua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar, besan dan lain sebagainya.
3. Hubungan Interpersonal (Antar Pribadi)
Gangguan ini dapat berupa konflik dengan kawan, kekasih, antara atasan dan bawahan, dan lain sebagainya.
4. Pekerjaan
Masalah pekerjaan merupakan sumber stress kedua setelah perkawinan. Banyak orang menderita depresi dan kecemasan masalah pekerjaan ini. Misalnya, pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi jabatan, kenaikan pangkat, PHK, pensiun dan lain sebagainya.
5. Lingkungan Hidup
Kondisi lingkungan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang, misalnya perumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran, hidup d daerah yang rawa dengan kriminalitas dan lain sebagainya.
6. Keuangan
Masalah social-ekonomi yang tidak sehat, misalnya pendapatatn jauh dibawah dar pada pengeluaran , terlibat hutang, kebangkruta usaha, soal warisan dan lain sebagainya. Problem keuangan ini dapat membuat jiwa seseoreang dan seringakali membuat orang jatuh dalam depresi dan kecemasan.
7. Hukum
Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum dapat menjadi sumber stress. Misalnya tuntutan hukum , pengadilan, penjara, dan lain sebagainya.
8. Perkembangan
Perkembangan fisik ataupun mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa, monopouse, usia lanjut dan lain sebagainya.
9. Penyakit Fisik atau Cedera
Akibat dari kecelakaan, operasi/pembedahan, aborsi, penyakit-penyakit yang sangat suit unukdisembuhkan, dan lain sebagainya, merupakan salah sartu sumber stress yang paling utama pada manusia pada umumnya.
10. Faktor Keluarga
Yang dimaksudkan disini adalah factor stress yang dialami oleh anak dan remaja yang disebabkan karena kondisi keluarga yang tidak baik, misalnya:
v Hubungan kedua orang tua yang dingin, atau penuh ketegangan, acuh tak acuh
v Kedua orang tua jarang di rumah, dan tidak ada waktu untuk bersama anak-anak.
v Komunikasi antara oranag tua dan anak tidak baik
v Perceraian orang tua
v Salah satu orang tua menderita atau mengfalami gangguan kejiwaan
v Orang tua dalam mendidik anak-anak kurang sabar, pemarah, otoriter dan lain-lain
11. Dan lain-lain
Penyebab stress yang lainnya yaitu dapat berupa bencana alam, kebakaran, perkosaan, kehamilan diluar nikah dan lain-lain.
Kebanyakan pekerjaan dengan waktu yang sangat sempit ditambah lagi dengan tuntutan yang harus serba cepat dan tepat, membuat orang hidup dalam keadaan ketegangan (stress). Pengangguran membawa pengaruh bagi kesehatan jiwa. Sumber stress terpenting bukanlah hakikat kehilangan pekerjaan itu sendiri, tetapi lebih bersifat perubahan-perubahan domestic dan psikologis yang berjalan secara perlahan-lahan. Hal ini lambat laun dapat membahayaklan kesehatan individu itu sendiri.
3. Tahapan Stress
Gangguan stress biasanya timbul seara perlahan, tidak jelas kapan mulainya dan seringkali kita tidak menyadarinya. Namun meskipun begitu dari pengalaman psikiatri, para ahli mencoba membagi stress tersebut dalam enam tahapan. Petunjuk-petunjuk tahapan stress tersebut diemukakan oleh Dr. Robert J.Van Amberg, Psikiater sebagai berikut:
1. Stress tingkat I
Tahapan ini merupakan tingkat stress paling ringan dan disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:
a. Semangat besar
b. Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
c. Energi an gugup brle, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya.
2. Stress tingkat II
Pada tahapan ini dampak stress yang menyenangkan mu8lai menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan itu sebagai berikut:
a. Merasa letih sewaktu bangun pagi.
b. Merasa lelah setelah makan siang
c. Merasa lelah sepanjang sore hari
d. Terkaang gangguan dalam sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung), kadang-kadang jantung berdebar-debar.
e. Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher).
f. Perasaan tidak bisa santai
3. Stress tingkat III
Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin nampak disertai dengan gejala-gejala:
a. Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mulas, seing ingin buang air)
b. Otot-otot terasa lebih tegang
c. Perasaan tegang yang semakin meningkat
d. Gangguan tidur; insomia, sering terbagun malam, dan sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi.
e. Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pinsan tapi tidak sampai jatuh pingsan.
Pada tahapan ini penderita sudah harus berkonsultasi pada dokter, kecuali jika beban stressnya dikurangi dan tubuh dapat kesempatan untuk beristirahat atau relakasi.
4. Stress tingkat IV
Pada tahapan ini sudah menunjukkan gejala yang lebih buruk.
a. untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sangat sulit
b. kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit
c. kehilangan kemampuan untuk menanggapi suatu pergaulan social dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat.
d. Tidur semakin sukar, mimpi-mimpi menegangkan dan sering terbangun dini hari.
e. Perasaan negativisik
f. Kemampuan berkonsentrasi menurun tajam
g. Perasaan takut yang tidak bisa dijelaskan.
5. Stress tingkat V
a. Keadaan yang mendalam (physical and psychological exhaustion)
b. Untuk pekerjaan-pekerjaan sederhana saja tidak mampu
c. Gangguan sistem pencernaan
d. Perasaan takut yang semakin menjadi, mirip panic.
6. Stress tingkat VI
Tahapan ini meruapakan tahapan puncak yang merupakan keadaan gawat darurat. Tidak jarangpenderita dalam tahapan ini dibawa ke ICC.gejala-gejala pada tahapan ini cukup mengerikan:
a. Debaran jantung terasa amat keras, hal ini disebabkan zat adrenalin yang dikeluarkan, karena stress tersebut cukup tinggi dalam peredaran darah.
b. Nafas sesak
c. Badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran
d. Tenaga untuk hal-hal ringan sekali pun tidak kuasa lagi, pingsan atau collaps.
2. FOBIA
a. Pengertian Fobia
Para Psikolog mendefinisiikan fobia sebagai penolakan yang mengganggu yang diperantai oleh rasa takut yang tidak proposional dengan bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu dan diakui oleh sipenderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar. Beberapa contoh ketakutan ekstrem terhadap ketinggian, tempat tertutup, ular atau laba-laba- mengingat tidak ada bahaya objektif- disertai dengan penderitaan cukup besar untuk mengganggu kehidupan seseorang.
Kriteria DSM-IV-TR untuk Fobia
* Ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi.
* Katerpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
* Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis
* Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens.
Dalam tiap kasus, kata fobia diawali dengan kata dalam bahasa yunani yang menyebutkan objek atau situasi yang ditakuti. Kata fobia diambil dari nama dewa Yunani Phobos, yang takut pada musuh-musuhnya. Beberapa istilah yang paling dikenal adalah claustrophobia, ketakutan pada ruang tertutup; agoraphobia, ketakutan pada tempat umum; dan acrophobia, ketakutan pada ketinggian. Beberapa ketakutan yang lebih eksotik juga diberi nama yang diambil dari bahsa yunani, sebagai contoh ergasiophobia, ketakutan menulis; pnigophobia, ketakutan tersedak; taphephobia, ketakutan dikubur hidup-hidup; anglophobia, ketakutan pada inggris; musophobia, ketakutan pada tikus; dan hellenologophobia, ketakutan pada kondisi ilmiah semu (McNally, 1997).
b. Tipe-tipe Fobia
* Fobia Spesifik
Fobia spesifik adalah ketakutan yang beralasan yang disebabkan oleh kehadiran atau antisipasi suatu objek atau situasi spesifik. DSM-IV-TR membagi fobia berdasarkan sumber ketakutannya: darah, cedera dan penyuntikan, situasi(a.l., pasawat terbang, lift, ruang tertutup), binatang, dan lingkungan alami (a.l., ketinggian, air). Fobia tersebut biasanya saling menyertai (komorbid) (Kendler dkk., 2001). Angka prevalensi sepanjang hidup berkisar 7 persen pada laki-laki dan 16 persen pada perempuan (Kessler dkk., 1994).
Hal yang ditakuti pada fobia juga dapat bervariasi dalam berbagai budaya. Sebagai contoh, di Cina, Pa-leng adalah ketakutan pada dingin di mana seseorang mengalami kekhawatiran bahwa hilangnya panas tubuh dapat menyebabkan nyawa terancam. Ketakutan ini tampaknya berkaitan dengan filosofi Cina tentng yin dan yang , yin merujuk pada aspek-aspek kehidupan berupa pencairan energi yang dingin dan berangin.
Contoh lain adalah suatu sindrom yang dialami di Jepang yang disebut taijinkyofo-sho, ketakutan pada orang lain. Ini bukanlah fobia sosial, namun merupakan ketakutan ekstrem untuk mempermalukan orang lain, sebagai contoh, dengan mempermalukan kehadiran mereka, menatap daerah genital, atau menunjukkan wajah aneh. Diyakini behwa fobia ini timbu dari berbagai elemen budaya Jepang tradisional, yang mendorong kepedulian yang ekstrem terhadap perasaan orang lain, namun tidak mendorong komunikasi perasaan secara langsung (McNally, 1997). Dengan demikian, kepercayaan yang terdapat dalam suatu budaya tampaknya dapat menjadi sumberketakutan yang dialami oleh banyak orang.
* Fobia Sosial
Fobia Sosial adalah ketakutan menetap dan tidak rasiona yang umumnbya berkaitan dengan keberadaan orang lain. Fobia ini dapat sangat merusak, sedemikian parah sehingga angka bunuh diri pada orang-orang yang menderita fobia ini jauh lebih tinggi dibanding mereka yang menderita gangguan anxietis lain (Schnerier dkk., 1992). Memang, istilah ”gangguan anxietis sosial” baru-baru ini diajukan sebagai istilah yang lebih tepat karena beratnya masalah dan konsekuensi negatif bagi orang-orang yang mengalaminya jauh lebih besar dibanding fobia lain (Liebowitz dkk., 2000).
Individu yang menderita fobia sosial biasanya mencoba menghindari situasi dimana ia mungkin dinilai dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau berperilaku secara memalukan. Ketakutan yang ditunjukkan dengan keringat berlebihan atau memerahnya wajah merupakan hal jamak. Berbicara atau melakukan sesuatu di depan publik, makan di tempat umum, menggunakan toilet umum, atau hampir semua aktivitas lain yang dilakukan di tempat yang terdapat orang lain dapat menimbulkan kecemasan ekstrem, bahkan serangan panik besar-besaran. Orang-orang yang menderita fobia sosial sering kali bekerja dalam pekerjaan atau profesi yang jauh dibawah kemampuan atau kecerdsan mereka karena sensitivita sosial ekstrem yang alami- jauh melebihi apa yang kita pikirkan tentang rasa malu-sangat merugikan secara emosional. Lebih baik mengerjakan pekerjaan bergaji rendah daripada setiap hari berhadapan dengan orang lain dalam pekerjaan yang lebih berharga.
Fobia sosial dapat bersifat umum atau khusus, tergantung rentang situasi yang ditakuti dan dihindari. Orang-orang dengan tipe umum mengalami fobia ini pada usia yang lebih awal, lebih banyak komorbiditas dengan berbagai gangguan lai, seperti depresi dan kecanduan alkohol, dan hendaya yang lebih parah (Mannuza dkk., 1995; Wittchen, Stein, & Kessler, 1999). Gangguan axietas sosial cenderung menjadi kronis jika penangananya tidak berhasil.
Fobia sosial cukup jamak terjadi, dengan angka prevalensi sepanjang hidup 11 persen pada laki-laki dan 15 persen pada perempuan (Kessler dkk., 1994; Magee dkk., 1996). Fobia ini memiliki tingkat komorbiditas tinggi dengan berbagai gangguan mood, dan penyalahgunaan alkohol (Crum & Pratt, 2001; Jansen dkk., 1994; Kessler dkk., 1999; Lecrubier & Weiler, 1997). Seperti diharapkan, awal terjadinya biasanya pada masa remaja, saat kesadaran sosial dan interaksi dengan orang lain menjadi sangat penting dalam kehidupan seseorang, ketakutan seperti itu juga ditemukan pada anak-anak. Seperti contoh, setelah dicatat sebelumnya, di Jepang ketakutan menyakiti orang lain merupakan hal yang sangat penting, sedangkan di Amerika Serikat ketakutan dinilai negatif oleh orang lain lebih jamak.
c. Teori-teori Fobia
1. Teori Psikoanalisis
Orang pertama yang mencoba menjelaskan secara sistematis perkembangan prilaku biotic adalah Freud. Menurutnya, fobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya. Berbagai contoh situasi itu adalah lift dan tempat tertutup. Dengan menghindarinya seseorang dapat menghindar dari konflik-konflik yang ditekan.
Berdasarkan teori fobia lain dari psikoanalisis yang diajukan oleh Arieti (1979), sesuatu yang ditekan merupakan masalah interpersonal tertentu di masa kecil dan bukan suatu impuls id. Arieti berteori bahwa pada masa kanak-kanak, orang-orang yang menderita fobia pada awalnya menjalani priode tanpa dosa di mana mereka memercayai orang lain di sekitar mereka untuk melindungi mereka dari bahaya. Kemudian mereka menjadi takut bahwa orang dewasa tidak dapat diandalkan. Mereka tidak dapat hidup dengan ketiadaan rasa percaya tersebut. Untuk dapat kembali memercayai orang lain, secara tidak sadar mereka mengubah rasa takut pada orang lain tersebut menjadi rasa takut pada situasi yang tidak menyenangkan.
2. Teori Behavioral
Teori ini berfokus pada pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia.
1. Avoidance Conditioning
Penjelasan utama behavioral tentang fobia adalah reaksi semacam itu merupakan respons avoidance yang dipelajari. Formulasi Avoidance Conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang diajukan oleh Mowrer (1974) dan menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua rangkaian pembelajaran yang saling berkaitan: pertama, melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada stimulus netral jika stimulus tersebut dipasangkan pada suatu kondisi. Kedua, seseorang dapat mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari stimulus netral tersebut.
2. Modeling
Selain belajar untuk takut terhadap sesuatu sebagai akibat pengalaman yang tidak menyenangkan, ketakutan dapat dipelajari dengan meniru reaksi orang lain. Pembelajaran terhadap rasa takut dengan mengamati orang lain secara umum disebut sebagai vicarious learning.
3. Prepared learning (pembelajaran yang dipersiapkan)
Isu lain yang tidak dibahas dalam model pembelajaran avoidance adalah bahwa orang-orang cendrung hanya takut pada objek atau situasi tertentu, seperti laba-laba, ular, ketinggian, tapi tidak pada objek lain seperti domba (Marks, 1969). Prepared learning juga relevan dengan mempelajari ketakutan melalui modeling. Cook dan Mineka (1989) meneliti empat kelompok kera resus, yang masing-masing melihat rekaman video yang berbeda. Rekaman tersebut dibuat dengan penggabungan sehingga kera yang menunjukan ketakutan mendalam tampak seolah merespons stimulasi yang berbeda: seekor ular mainan, bunga, atau kelinci mainan. Hanya kera-kera yang melihat rekaman ular atau buaya mainan yang menunjukan ketakutan pada objek tersebut, sekali lagi menunjukan bahwa tidak setiap stimulus dapat menjadi sumber ketakutan.
4. Diperlukan Diathesis
Pertanyaan terakhir yang perlu dibahas adalah mengapa beberapa orang yang memiliki pengalaman traumatis tidak mengalami ketakutan yang menetap. Sebagai contoh, 50 % di antara orang-orang yang sangat ketakutan terhadap anjing menuturkan pengalaman traumatis yang pernah mereka alami dengan anjing, begitu juga dengan 50 % di antara orang-orang yang tidak takut anjing (Dinardo dkk, 1988). Perbedaan di antara kelompok tersebut adalah kelompok fobik berfokus pada dan menjadi cemas terhadap kemungkinan munculnya kejadian traumatis yang sama pada masa mendatang. Dengan demikian, suatu diathesis kognitif-meyakini bahwa kejadian traumatis yang sama akan terjadi pada masa mendatang-mungkin merupakan hal penting dalam terbentuknya fobia. Kemungkinan diathesis lain adalah adanya riwayat yang menunjukan ketidakmampuan mengendalikan lingkungan.
Secara ringkas, data yang telah dikaji menunjukan bahwa beberapa fobia mungkin dipelajari melalui avoidance conditioning. Namun, avoidance conditioning tidak dapat dianggap sebagai teori yang sepenuhnya dapat dibenarkan. Sebagai contoh, banyak orang fobia menuturkan bahwa mereka tidak pernah terpapar langsung dengan kejadian traumatis atau dengan model yang menakutkan (Merckelbach dkk, 1989).
5. Keterampilan Sosial yang Kurang dalam Fobia Sosial
Berbagai penemuan menunjukan bahwa orang yang memiliki kecemasan sosial memang memiliki skor rendah dalam keterampilan sosial (Twentyman & McFall, 1975) dan bahwa mereka tidak mampu memberikan respons pada waktu serta tempat yang tepat dalam interaksi sosial, misalnya mengatakan “terima kasih” pada waktu yang tepat. (Fischetti, Curran & Wessberg, 1977).
3. Teori Kognitif
Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berfikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk menanggapi stimulasi negatif, menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan memercayai bahwa kejadian negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang (Heinrichs & Hoffman, 2000; turk dkk, 2001). Isu utama dalam teori ini adalah apakah kognisi tersebut menyebabkan kecemasan atau apakah kecemasan menyebabkan kognisi tersebut. Walaupun beberapa bukti eksperimental mengindikasikan bahwa cara menginterpretasi stimuli dapat menyebabkan kecemasan di laboratorium (Matthews & McKintosh, 2000), namun tidak diketahui apakah bias kognitif menjadi penyebab gangguan anxietas.
Teori kognitif mengenai fobia juga relevan untuk berbagai fitur lain dalam gangguan ini-rasa takut yang menetap dan pakta bahwa ketakutan tersebut sesungguhnya tampak irasional bagi mereka yang mengalaminya. Fenomena ini dapat terjadi karena rasa takut terjadi melalui proses-proses otomatis yang terjadi pada awal kehidupan dan tidak disadari. Setelah proses awal tersebut, stimulasi dihindari sehingga tidak diproses cukup lengkap dan yang dapat menghilangkan rasa takut tersebut (Amir. Foa, & Coles, 1998).
d. Faktor-faktor Biologis yang Memengaruhi
Berbagai teori yang telah kita bahas terutama melihat pada lingkungan untuk menemukan penyebab dan yang membuat fobia menetap. Namun, mengapa beberapa orang memiliki ketakutan yang tidak realistik, sedangkan yang lain tidak, padahal mereka mendapat kesempatan pembelajaran yang sama? Mungkin mereka yang secara negatif sangat terpengaruh oleh stres memiliki malfungsi biologis (suatu diathesis) yang dengan cara satu atau lainnya memicu terjadinya fobia setelah kejadian yang penuh stres. Penelitian dalam dua area berikut tampaknya menjanjikan: sistem saraf otonom dan faktor genetik.
* Sistem Saraf Otonom
Seperti disebutkan sebelumnya, orang-orang yang mengalami fobia sosial sering kali merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah atau berkeringat secara berlebihan di depan umum. Karena berkeringat dan memerahnya wajah dikendalikan oleh sistem saraf otonom, aktivitas sistem saraf otonom yang berlebihan kemungkinan merupakan suatu diathesis.
* Faktor Genetik
Beberapa studi telah menguji apakah faktor genetik berperan dalam fobia. Fobia darah dan penyuntikan sangat familiar; 64 persen fobia darah dan penyuntikan memiliki sekurang-kurangnya satu kerabat tingkat pertama yang menderita gangguan yang sama, sedangkan prevalensi gangguan dalam umum hanya 3 sampai 4 persen (Ost, 1992). Sama dengan itu, baik untuk fobia sosial maupun fobia spesifik, prevalensinya lebih tinggi dibanding rata-rata pada keluarga tingkat pertama pasein, dan studi terhadap orang kembar menunjukan kesesuaian yang lebih tinggi pada kembar MZ (Hettema, M. Neale, & Kendler, 2001).
Terkait dengan penemuan ini adalah penelitian Jerome Kagan mengenai karakter terhambat atau pemalu (Kagan & Snidman, 1997). Beberapa bayi usia empat menjadi terganggu dan menangis ketika ditunjuki mainan atau stimulasi lain. Pola prilaku ini, yang mungkin diturunkan, dapat menjadi tahap awal bagi perkembangan fobia kelak. Dalam satu studi, sebagai contoh, anak-anak yang mengalami hambatan memiliki kemungkinan lima kali lebih besar dibanding anak-anak yang tidak terhambat untuk mengalami fobia kelak (Biedermen dkk, 1990).
e. Terapi Fobia
1. Pendekatan Psikoanalisis
Seperti halnya teori psikoanalisis yang memiliki banyak variasi, demikian juga terapi psikoanalisis. Walaupun demikian, secara umum, semua penanganan psikoanalisis terhadap fobia berupaya mengungkap konflik yang ditekan yang diasumsikan mendasari ketakutan ekstrem dan karakteristik penghindaran dalam gangguan ini. Karena fobia dianggap sebagai simtom dari komplik-komplik yang ada di baliknya, fobia biasanya tidak secara langsung ditangani. Memang upaya langsung untuk mengurangi penghindaran fobik dikontradiksikan karena fobia diasumsikan melindungi orang yang bersangkutan dari berbagai konflik yang ditekan yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi.
Dalam berbagai kombinasi analisis menggunakan berbagai tehnik yang dikembangkan dalam tradisi psikoanalisis untuk membantu mengangkat represi. Dalam asosiasi bebas anbalisis mendengarkan dengan penuh perhatian yang disebutkan pasein terkait dengan setiap rujukan mengenai fobia. Analisis juga berupaya menemukan berbagai petunjuk terhadap penyebab fobia yang ditekan dalam isi mimpi yang tampak jelas. Apa yang diyakini analisis mengenai penyebab yang ditekan tersebut tergantung pada teori psikoanalisis tertentu yang dianutnya.
Para ahli klinis yang berorientasi analitis mengakui pentingnya pemaparan dengan suatu yang ditakuti. Walaupun biasanya mereka cendrung menganggap perbaikan kondisi yang mengikutinya hanya bersifat simtomatik dan bukan sebagai penyeleseian atas konflik mendasar yang diasumsikan sebagai penyebab fobia (Wolitzky & Eagle, 1990).
2. Pendekatan Behavioral
Flooding adalah tehnik dimana klien dipaparkan sebagai sumber fobia dalam intensitas penuh. Rasa tidak nyaman ekstrem menjadi bagian tak terhindarkan dalam prosedur ini sehingga belum lama ini cendrung menahan trapis untuk menggunakan tehnik ini. Kecuali mungkin sebagai jalan terakhir bila pemaparan secara bertingkat tidak membuahkan hasil. Dalam pembahasan mengenai terapi untuk gangguan obsetif kompulsif dan ganguan stres pascatrauma. Kita akan melihat penggunaan tehnik flooding yang lebih luas.
3. Pendekatan Kognitif
Orang-orang yang menderita fobia sosial dapat memperoleh manfaat dari strategi penanganan yang mengacu pada back and ellist. Yaitu: mereka mungkin dipersuasi oleh trapis untuk menilai rekasi orang lain terhadap mereka secara lebih akurat dan untuk tidak terlalu bergantung pada persetujuan orang lain untuk mempertahankan perasaan bahwa diri kita bermakna. Dengan pengakuan dalam tahun-tahun terakhir bahwa banyak orang yang menderita fobia sosial. Pada dasarnya memiliki cukup keterampilan sosial namun terhambat oleh pikiran-pikiran yang menghancurkan diri sendiri. Pendekatan kognitif semakin dititikberatkan. Bila dikombinasikan dengan pemaparan dengan situasi yang ditakuti terutama dalam konteks terapi kelompok, pendekatan kognitif terbukti lebih efektif dibanding berbagai terapi lain.
4. Pendekatan Biologis
Obat-obatan yang mengurangi kecemasan disebut sebagai sedatif, tranquilizer, atau anxiolytic (akhiran lytic berasal dari bahasa Yunani yang berarti melonggarkan atau melelahkan). Barbiturate adalah kategori obat-obatan utama yang pertama kali digunakan untuk menangani gangguan anxietas, namun karena kategori obat-obatan tersebut menyebabkan ketergantung yang tinggi dan beresiko mematikan bila overdosis. Pada tahun 1950 obat-obatan tersebut diganti dengan dua kelompok obat-obat lainnya, propanediol dan benzodiazepine. Jenis yang kedua dewasa ini digunakan secara luas dan bermanfaat bagi beberapa anxietas. Namun demikian, jenis tersebut tidak banyak digunakan bagi fobia spesifik.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
CERPEN : AKU TIDAK GILA
Seila melempar senyuman paling khasnya. Senyuman yang membuat semua orang terpesona, termasuk laki-laki yang dihadapannya. Reno. Ya, laki-laki ini sungguh tergila-gila pada Seila. Sejak pertama masuk kuliah. Bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama, itu mungkin sebutan yang paling tepat.
Namun, senyuman itu terlihat hambar kini. Senyum itu bukanlah senyum yang membuat semua orang terpesona, bahkan senyum itu malah membuat semua orang miris, kasihan. Reno hanya menatapnya penuh sayang. Bagaimanapun ia sangat mencintai Seila, istrinya tercinta.
“Sayang, Kita masuk. Yuk!” Ajak Reno sambil mengusap bahu Seila yang diselimuti selimut bewarna coklat kotak-kotak.
Tak ada jawaban, Seila hanya mengangguk. Reno pun memapahnya masuk kembali ke kamar Seila. Ruang perawatan. Ya, sudah satu minggu Seila di rawat di Rumah Sakit Jiwa ini. Ia mengalami histeria apabila malam tiba. Dia selalu merasa bahwa ada yang mengikutinya dan membunuhnya.
***
Seorang laki-laki berjubah hitam terlihat di depan kaca jendela kamar Seila. Ia berdiri tegak, seperti sedang memandang tajam ke arah Seila. Dari balik jubahnya si lelaki berjubah itu mengeluarkan sebilah pisau belati yang terlihat sangat tajam. Ia terus mendekat ke arah jendela dengan gerakan yang sangat cepat, seperti kilat.
Seila terbangun, hatinya gundah. Dilihatnya Reno, sang suami masih tertidur dengan nyenyak di sampingnya. Seila mencoba bangun, berjalan menerobos kegelapan kamar, melihat-lihat ke arah jendela.
Tak ada orang. Gumamnya dalam hati. Ia terus berjalan menyurusi kamar. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk ke toilet. Namun bertapa kagetnya ia, di dalam toilet tersebut ada sesosok lelaki berjubah hitam dengan wajah bertopeng seram. Percis seperti topeng dalam film The Screem.
”Haaaaaaaaaaaaahhh” Seila menjerit
Si lelaki berjubah itu mendekat dan siap menghujamkan pisaunya ke arah dada Seila. Seila Roboh.
”Sayang...sayang...bangun”
Reno menepuk-nepuk pipi Seila. Tubuhnya terkapar di depan toilet kamar. Sedikit-sedikit mata Seila terbuka. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya yang langsing. Ia pun di pangku Reno dan dibaringkan di tempat tidur. Reno segera memberi air minum pada Seila yang terlihat pucat.
” Kamu kenapa, sayang?” tanya Reno
”Mas, tadi aku melihat ada lelaki berjubah hitam dan dia....” Seila terbata-bata, wajahnya terlihat sangat cemas.
“Laki-laki? Dirumah ini hanya ada kita berdua. Sayang” Reno bingung.
“Benar, Mas. Tadi ada orang yang mau membunuh aku” Jawab Seila.
“Mungkin kamu keseringan nonton Film Horor kali, jadi itu hanya halusinasi saja”. Reno mencoba menetralisir sang istri. Namun Seila tetap bersikukuh dengan apa yang ia lihat dan alami.
Seila sering sekali ketakutan, apalagi jika Reno Sedang tugas ke luar kota. Walaupun ia menginap di rumah orang tuanya, ia masih saja di teror oleh lelaki berjubah itu. Hingga akhirnya ia tidak mau pergi kemana pun, ia tidak berani berpergian. Jangankan sendirian, berdua pun bila ditemani oleh ibu atau temannya ia tetap saja merasa tidak aman.
”Seila, tuh ada Sinta datang” kata Ibu memberitahukan anaknya.
”Iya, Bu. Seila tahu” Jawab Seila dan segera keluar kamar menemuni sahabatnya itu. Seila dan Sinta adalah sahabat sejak SMP hingga kuliah.
”Haloo...Sin gimana kabarmu?” tanya Seila pada Sinta yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka pun berpelukan dan tidak lupa cuipa-cupiki.
”Wah, kamu masih cantik aja, Sel” puji Sinta
“Ya, iyalah...masa ya iya dong. Lagi libur kerja?” Tanya Seila
“Iya, aku lagi cuti. Kemarin baru dari luar kota.” Jelas Sinta
”Oh...Reno juga, sedang di luar kota. Dia pulang hari ini”
”Oh. Ya? Wah kangen-kangenan nih” goda Sinta.
”Ya, iyalah”
”Ngomong-ngomong kapan nih mau ngasih aku keponakan?” tanya Sinta.
Pertanyaan itu membuat wajah Seila menjadi berubah. Pandangannya kini kosong.
”Lho, kenapa? Kamu gak apa-apa kan?” tanya Sinta cemas dengan perubahan wajah sahabatnya itu.
”Gak apa-apa. Hanya saja aku malu untuk mengatakan ini semua”
”Kenapa harus malu, kita sudah bersahabat lama dan kita tidak pernah saling menyimpan rahasia’kan?”
”Kemarin, ketika aku dan Reno periksa ke dokter...”
Sinta memegang erat tangan Seila, ia yakin yang dibicarakan oleh sahabatnya itu bukanlah hal yang baik.
”Dokter bilang aku tidak bisa punya anak. Aku Mandul!” Seila menangis. Seila pun terus menceritakan apa yang sering ia alami selama ini, terutama tentang teror-teror pembunuhan itu.
Sinta hanya diam, entah apa yang ada di pikirannya.
***
Sinta memarkirkan mobil Avanzanya. Ia segera memasuki cafe. Rencananya ia sudah ada janji dengan kliennya dari Jepang. Yah, walaupun cuti tetap saja ia harus bekerja, kliennya itu memang tidak akan lama lagi pulang ke Jepang.
”Konniciwa, apakah anda Mr Takamura?”
“Haii, saya Takamura”
Sinta pun mulai berbicara dengan kliennya itu. Namun, dari sudut matanya ia menangkap sesosok yang tidak asing lagi bagi dirinya. Ia pun mencoba menengok ke arah sosok itu. Terlihat sepasang laki-laki dan perempuan sedang bercengkrama, memadu kasih. Seperti orang yang baru jatuh cinta.
Sinta mengusap air matanya yang ternyata mengalir tanpa dikomando. Ia segera memfokuskan lagi dengan kliennya.
Apa yang harus aku lakukan, Tuhan. Gumamnya dalam hati.
***
”Tenang saja, Mas. Aku kenal seorang Psikiater yang bisa membantumu”
”Siapa?” Reno bertanya
”Dia adalah pamanku. Nanti kamu bawa istrimu itu untuk diperiksa” Jawab si wanita di ujung telepon itu.
”Baiklah, mudah-mudahan Seila mau aku ajak...kalau tidak”
”Sudahlah...aku yakin rencana kita pasti berhasil. Aku akan bicarakan ini kepada pamanku”
Clik
Reno menutup telpon. Ia kembali mengerjakan arsip-arsip yang menumpuk di depan matanya. Mengerjakan kembali pekerjaannya.
***
”Maaf, Pak Reno. Istri anda mungkin harus di rawat di sini dahulu”
Jelas Dr. Herman.
”Ya. Sudah, lakukan yang terbaik. Dok.” Jawab Reno.
”Hmm...Lili sudah cerita semuanya, jadi semua bisa diatur”
”Terima kasih atas pengertian dan kerjasamanya. Dok”
”Sama-sama” Jawan Dr. Herman
Dari ruangan bercat putih kelambu, terdengar Seila berteriak-teriak.
”Reno...Aku Gak Gila. Percayalah padaku”
Reno hanya terdiam dan ia pun pergi meninggalkan Seila. Telpon genggamnya berdering tanda bahwa ia memang harus segera ke kantor.
***
Sinta menyelinap masuk ke kamar Seila. Seila terlihat kosong. Matanya sembab. Tak ada lagi gairah hidup dalam dirinya. Semua orang yang melihatnya pun iba. Orang tua Seila tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi pada anak semata wayangnya itu. Selain divonis mandul, kini Seila di vonis mengalami gangguan jiwa. Ia sering Histeris dan berhalusinasi tentang orang yang akan membunuhnya. Padahal Seila adalah harapan satu-satunya dari keturunan orang tuanya yang kaya raya.
Seila menoleh kearah Sinta. Sinta memakai baju Suster untuk bisa masuk ke kamar Seila.
”Sinta? Kamu”
”Huuus” Sinta menyuruh Seila diam, ia menempelkan jari telunjuknya di bibir.
”Ayo ikut aku. Kita pergi dari sini”
”Kamu percaya sama aku ’kan?”
”Iya. Aku Percaya. Makannya sekarang ayo kita pergi dari sini”
Tanpa ba bi bu Seila dan Sinta pergi dari kamar bercat putih kelabu itu.
***
Reno membuka dasinya dengan malas, sambil masuk ke rumah gedongnya. Entah kemana dia harus mencari Seila yang kabur dari RSJ. Namun matanya terbelalak, isi rumahnya seperti kapal pecah. Di sudut ruangan terlihat seorang wanita menangis.
”Seila? Kenapa kamu ada di sini?” Reno heran.
” Kenapa? Kamu tidak menyangka’kan?” lawan Seila.
”Apa maksudmu. Sayang?” Tanya Reno. Ia segera merogoh celananya mengambil handponnya.
”Kenapa? Kamu pasti mau menelpon psikiater itu? Atau wanita itu?”
Reno makin panik, hal yang paling ia takutkan kini terbuka sudah.
”Tenang dulu, sayang. Wanita mana maksud kamu?”
Seila bangkit dengan mata yang seperti ingin keluar saja. Emosinya kini membuncah, kuat.
”Mas, kalau memang sudah bosan sama aku bilang, kalau mau, kita cerai saja?” Seila naik pitam.
”Aku tahu semuanya, mas. Mas kenapa kau begitu tega? Kau tega melakukan hal ini padaku” Seila berdiri tegak. Matanya tidak lagi setajam tadi. Tiba-tiba dia jatuh ke lantai.
Dari arah belakangnya, seorang wanita merangkulnya.
”Sinta?”
”Aku tahu, pasti bakal begini. Makannya aku sudah memberi dia minuman tadi yang dicampur dengan obat penenang” Jawab Sinta.
”Kamu ...yang?”
”Iya. Aku yang membawa kabur Seila. Aku tahu semua rencana busukmu, Ren. Tak disangka, kamu begitu tamak dan picik”
Dari luar terdengar suara alarm polisi. Tak lama kemudian lelaki berseragam coklat-coklat masuk dan membawa Reno yang masih berdiri dengan lemahnya.
Namun, senyuman itu terlihat hambar kini. Senyum itu bukanlah senyum yang membuat semua orang terpesona, bahkan senyum itu malah membuat semua orang miris, kasihan. Reno hanya menatapnya penuh sayang. Bagaimanapun ia sangat mencintai Seila, istrinya tercinta.
“Sayang, Kita masuk. Yuk!” Ajak Reno sambil mengusap bahu Seila yang diselimuti selimut bewarna coklat kotak-kotak.
Tak ada jawaban, Seila hanya mengangguk. Reno pun memapahnya masuk kembali ke kamar Seila. Ruang perawatan. Ya, sudah satu minggu Seila di rawat di Rumah Sakit Jiwa ini. Ia mengalami histeria apabila malam tiba. Dia selalu merasa bahwa ada yang mengikutinya dan membunuhnya.
***
Seorang laki-laki berjubah hitam terlihat di depan kaca jendela kamar Seila. Ia berdiri tegak, seperti sedang memandang tajam ke arah Seila. Dari balik jubahnya si lelaki berjubah itu mengeluarkan sebilah pisau belati yang terlihat sangat tajam. Ia terus mendekat ke arah jendela dengan gerakan yang sangat cepat, seperti kilat.
Seila terbangun, hatinya gundah. Dilihatnya Reno, sang suami masih tertidur dengan nyenyak di sampingnya. Seila mencoba bangun, berjalan menerobos kegelapan kamar, melihat-lihat ke arah jendela.
Tak ada orang. Gumamnya dalam hati. Ia terus berjalan menyurusi kamar. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk ke toilet. Namun bertapa kagetnya ia, di dalam toilet tersebut ada sesosok lelaki berjubah hitam dengan wajah bertopeng seram. Percis seperti topeng dalam film The Screem.
”Haaaaaaaaaaaaahhh” Seila menjerit
Si lelaki berjubah itu mendekat dan siap menghujamkan pisaunya ke arah dada Seila. Seila Roboh.
”Sayang...sayang...bangun”
Reno menepuk-nepuk pipi Seila. Tubuhnya terkapar di depan toilet kamar. Sedikit-sedikit mata Seila terbuka. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya yang langsing. Ia pun di pangku Reno dan dibaringkan di tempat tidur. Reno segera memberi air minum pada Seila yang terlihat pucat.
” Kamu kenapa, sayang?” tanya Reno
”Mas, tadi aku melihat ada lelaki berjubah hitam dan dia....” Seila terbata-bata, wajahnya terlihat sangat cemas.
“Laki-laki? Dirumah ini hanya ada kita berdua. Sayang” Reno bingung.
“Benar, Mas. Tadi ada orang yang mau membunuh aku” Jawab Seila.
“Mungkin kamu keseringan nonton Film Horor kali, jadi itu hanya halusinasi saja”. Reno mencoba menetralisir sang istri. Namun Seila tetap bersikukuh dengan apa yang ia lihat dan alami.
Seila sering sekali ketakutan, apalagi jika Reno Sedang tugas ke luar kota. Walaupun ia menginap di rumah orang tuanya, ia masih saja di teror oleh lelaki berjubah itu. Hingga akhirnya ia tidak mau pergi kemana pun, ia tidak berani berpergian. Jangankan sendirian, berdua pun bila ditemani oleh ibu atau temannya ia tetap saja merasa tidak aman.
”Seila, tuh ada Sinta datang” kata Ibu memberitahukan anaknya.
”Iya, Bu. Seila tahu” Jawab Seila dan segera keluar kamar menemuni sahabatnya itu. Seila dan Sinta adalah sahabat sejak SMP hingga kuliah.
”Haloo...Sin gimana kabarmu?” tanya Seila pada Sinta yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka pun berpelukan dan tidak lupa cuipa-cupiki.
”Wah, kamu masih cantik aja, Sel” puji Sinta
“Ya, iyalah...masa ya iya dong. Lagi libur kerja?” Tanya Seila
“Iya, aku lagi cuti. Kemarin baru dari luar kota.” Jelas Sinta
”Oh...Reno juga, sedang di luar kota. Dia pulang hari ini”
”Oh. Ya? Wah kangen-kangenan nih” goda Sinta.
”Ya, iyalah”
”Ngomong-ngomong kapan nih mau ngasih aku keponakan?” tanya Sinta.
Pertanyaan itu membuat wajah Seila menjadi berubah. Pandangannya kini kosong.
”Lho, kenapa? Kamu gak apa-apa kan?” tanya Sinta cemas dengan perubahan wajah sahabatnya itu.
”Gak apa-apa. Hanya saja aku malu untuk mengatakan ini semua”
”Kenapa harus malu, kita sudah bersahabat lama dan kita tidak pernah saling menyimpan rahasia’kan?”
”Kemarin, ketika aku dan Reno periksa ke dokter...”
Sinta memegang erat tangan Seila, ia yakin yang dibicarakan oleh sahabatnya itu bukanlah hal yang baik.
”Dokter bilang aku tidak bisa punya anak. Aku Mandul!” Seila menangis. Seila pun terus menceritakan apa yang sering ia alami selama ini, terutama tentang teror-teror pembunuhan itu.
Sinta hanya diam, entah apa yang ada di pikirannya.
***
Sinta memarkirkan mobil Avanzanya. Ia segera memasuki cafe. Rencananya ia sudah ada janji dengan kliennya dari Jepang. Yah, walaupun cuti tetap saja ia harus bekerja, kliennya itu memang tidak akan lama lagi pulang ke Jepang.
”Konniciwa, apakah anda Mr Takamura?”
“Haii, saya Takamura”
Sinta pun mulai berbicara dengan kliennya itu. Namun, dari sudut matanya ia menangkap sesosok yang tidak asing lagi bagi dirinya. Ia pun mencoba menengok ke arah sosok itu. Terlihat sepasang laki-laki dan perempuan sedang bercengkrama, memadu kasih. Seperti orang yang baru jatuh cinta.
Sinta mengusap air matanya yang ternyata mengalir tanpa dikomando. Ia segera memfokuskan lagi dengan kliennya.
Apa yang harus aku lakukan, Tuhan. Gumamnya dalam hati.
***
”Tenang saja, Mas. Aku kenal seorang Psikiater yang bisa membantumu”
”Siapa?” Reno bertanya
”Dia adalah pamanku. Nanti kamu bawa istrimu itu untuk diperiksa” Jawab si wanita di ujung telepon itu.
”Baiklah, mudah-mudahan Seila mau aku ajak...kalau tidak”
”Sudahlah...aku yakin rencana kita pasti berhasil. Aku akan bicarakan ini kepada pamanku”
Clik
Reno menutup telpon. Ia kembali mengerjakan arsip-arsip yang menumpuk di depan matanya. Mengerjakan kembali pekerjaannya.
***
”Maaf, Pak Reno. Istri anda mungkin harus di rawat di sini dahulu”
Jelas Dr. Herman.
”Ya. Sudah, lakukan yang terbaik. Dok.” Jawab Reno.
”Hmm...Lili sudah cerita semuanya, jadi semua bisa diatur”
”Terima kasih atas pengertian dan kerjasamanya. Dok”
”Sama-sama” Jawan Dr. Herman
Dari ruangan bercat putih kelambu, terdengar Seila berteriak-teriak.
”Reno...Aku Gak Gila. Percayalah padaku”
Reno hanya terdiam dan ia pun pergi meninggalkan Seila. Telpon genggamnya berdering tanda bahwa ia memang harus segera ke kantor.
***
Sinta menyelinap masuk ke kamar Seila. Seila terlihat kosong. Matanya sembab. Tak ada lagi gairah hidup dalam dirinya. Semua orang yang melihatnya pun iba. Orang tua Seila tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi pada anak semata wayangnya itu. Selain divonis mandul, kini Seila di vonis mengalami gangguan jiwa. Ia sering Histeris dan berhalusinasi tentang orang yang akan membunuhnya. Padahal Seila adalah harapan satu-satunya dari keturunan orang tuanya yang kaya raya.
Seila menoleh kearah Sinta. Sinta memakai baju Suster untuk bisa masuk ke kamar Seila.
”Sinta? Kamu”
”Huuus” Sinta menyuruh Seila diam, ia menempelkan jari telunjuknya di bibir.
”Ayo ikut aku. Kita pergi dari sini”
”Kamu percaya sama aku ’kan?”
”Iya. Aku Percaya. Makannya sekarang ayo kita pergi dari sini”
Tanpa ba bi bu Seila dan Sinta pergi dari kamar bercat putih kelabu itu.
***
Reno membuka dasinya dengan malas, sambil masuk ke rumah gedongnya. Entah kemana dia harus mencari Seila yang kabur dari RSJ. Namun matanya terbelalak, isi rumahnya seperti kapal pecah. Di sudut ruangan terlihat seorang wanita menangis.
”Seila? Kenapa kamu ada di sini?” Reno heran.
” Kenapa? Kamu tidak menyangka’kan?” lawan Seila.
”Apa maksudmu. Sayang?” Tanya Reno. Ia segera merogoh celananya mengambil handponnya.
”Kenapa? Kamu pasti mau menelpon psikiater itu? Atau wanita itu?”
Reno makin panik, hal yang paling ia takutkan kini terbuka sudah.
”Tenang dulu, sayang. Wanita mana maksud kamu?”
Seila bangkit dengan mata yang seperti ingin keluar saja. Emosinya kini membuncah, kuat.
”Mas, kalau memang sudah bosan sama aku bilang, kalau mau, kita cerai saja?” Seila naik pitam.
”Aku tahu semuanya, mas. Mas kenapa kau begitu tega? Kau tega melakukan hal ini padaku” Seila berdiri tegak. Matanya tidak lagi setajam tadi. Tiba-tiba dia jatuh ke lantai.
Dari arah belakangnya, seorang wanita merangkulnya.
”Sinta?”
”Aku tahu, pasti bakal begini. Makannya aku sudah memberi dia minuman tadi yang dicampur dengan obat penenang” Jawab Sinta.
”Kamu ...yang?”
”Iya. Aku yang membawa kabur Seila. Aku tahu semua rencana busukmu, Ren. Tak disangka, kamu begitu tamak dan picik”
Dari luar terdengar suara alarm polisi. Tak lama kemudian lelaki berseragam coklat-coklat masuk dan membawa Reno yang masih berdiri dengan lemahnya.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Langganan:
Komentar (Atom)