Rabu, 11 Agustus 2010

CERPEN : AKU TIDAK GILA

Seila melempar senyuman paling khasnya. Senyuman yang membuat semua orang terpesona, termasuk laki-laki yang dihadapannya. Reno. Ya, laki-laki ini sungguh tergila-gila pada Seila. Sejak pertama masuk kuliah. Bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama, itu mungkin sebutan yang paling tepat.
Namun, senyuman itu terlihat hambar kini. Senyum itu bukanlah senyum yang membuat semua orang terpesona, bahkan senyum itu malah membuat semua orang miris, kasihan. Reno hanya menatapnya penuh sayang. Bagaimanapun ia sangat mencintai Seila, istrinya tercinta.
“Sayang, Kita masuk. Yuk!” Ajak Reno sambil mengusap bahu Seila yang diselimuti selimut bewarna coklat kotak-kotak.
Tak ada jawaban, Seila hanya mengangguk. Reno pun memapahnya masuk kembali ke kamar Seila. Ruang perawatan. Ya, sudah satu minggu Seila di rawat di Rumah Sakit Jiwa ini. Ia mengalami histeria apabila malam tiba. Dia selalu merasa bahwa ada yang mengikutinya dan membunuhnya.
***
Seorang laki-laki berjubah hitam terlihat di depan kaca jendela kamar Seila. Ia berdiri tegak, seperti sedang memandang tajam ke arah Seila. Dari balik jubahnya si lelaki berjubah itu mengeluarkan sebilah pisau belati yang terlihat sangat tajam. Ia terus mendekat ke arah jendela dengan gerakan yang sangat cepat, seperti kilat.
Seila terbangun, hatinya gundah. Dilihatnya Reno, sang suami masih tertidur dengan nyenyak di sampingnya. Seila mencoba bangun, berjalan menerobos kegelapan kamar, melihat-lihat ke arah jendela.
Tak ada orang. Gumamnya dalam hati. Ia terus berjalan menyurusi kamar. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk ke toilet. Namun bertapa kagetnya ia, di dalam toilet tersebut ada sesosok lelaki berjubah hitam dengan wajah bertopeng seram. Percis seperti topeng dalam film The Screem.
”Haaaaaaaaaaaaahhh” Seila menjerit
Si lelaki berjubah itu mendekat dan siap menghujamkan pisaunya ke arah dada Seila. Seila Roboh.
”Sayang...sayang...bangun”
Reno menepuk-nepuk pipi Seila. Tubuhnya terkapar di depan toilet kamar. Sedikit-sedikit mata Seila terbuka. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya yang langsing. Ia pun di pangku Reno dan dibaringkan di tempat tidur. Reno segera memberi air minum pada Seila yang terlihat pucat.
” Kamu kenapa, sayang?” tanya Reno
”Mas, tadi aku melihat ada lelaki berjubah hitam dan dia....” Seila terbata-bata, wajahnya terlihat sangat cemas.
“Laki-laki? Dirumah ini hanya ada kita berdua. Sayang” Reno bingung.
“Benar, Mas. Tadi ada orang yang mau membunuh aku” Jawab Seila.
“Mungkin kamu keseringan nonton Film Horor kali, jadi itu hanya halusinasi saja”. Reno mencoba menetralisir sang istri. Namun Seila tetap bersikukuh dengan apa yang ia lihat dan alami.

Seila sering sekali ketakutan, apalagi jika Reno Sedang tugas ke luar kota. Walaupun ia menginap di rumah orang tuanya, ia masih saja di teror oleh lelaki berjubah itu. Hingga akhirnya ia tidak mau pergi kemana pun, ia tidak berani berpergian. Jangankan sendirian, berdua pun bila ditemani oleh ibu atau temannya ia tetap saja merasa tidak aman.
”Seila, tuh ada Sinta datang” kata Ibu memberitahukan anaknya.
”Iya, Bu. Seila tahu” Jawab Seila dan segera keluar kamar menemuni sahabatnya itu. Seila dan Sinta adalah sahabat sejak SMP hingga kuliah.
”Haloo...Sin gimana kabarmu?” tanya Seila pada Sinta yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka pun berpelukan dan tidak lupa cuipa-cupiki.
”Wah, kamu masih cantik aja, Sel” puji Sinta
“Ya, iyalah...masa ya iya dong. Lagi libur kerja?” Tanya Seila
“Iya, aku lagi cuti. Kemarin baru dari luar kota.” Jelas Sinta
”Oh...Reno juga, sedang di luar kota. Dia pulang hari ini”
”Oh. Ya? Wah kangen-kangenan nih” goda Sinta.
”Ya, iyalah”
”Ngomong-ngomong kapan nih mau ngasih aku keponakan?” tanya Sinta.
Pertanyaan itu membuat wajah Seila menjadi berubah. Pandangannya kini kosong.
”Lho, kenapa? Kamu gak apa-apa kan?” tanya Sinta cemas dengan perubahan wajah sahabatnya itu.
”Gak apa-apa. Hanya saja aku malu untuk mengatakan ini semua”
”Kenapa harus malu, kita sudah bersahabat lama dan kita tidak pernah saling menyimpan rahasia’kan?”
”Kemarin, ketika aku dan Reno periksa ke dokter...”
Sinta memegang erat tangan Seila, ia yakin yang dibicarakan oleh sahabatnya itu bukanlah hal yang baik.
”Dokter bilang aku tidak bisa punya anak. Aku Mandul!” Seila menangis. Seila pun terus menceritakan apa yang sering ia alami selama ini, terutama tentang teror-teror pembunuhan itu.
Sinta hanya diam, entah apa yang ada di pikirannya.

***
Sinta memarkirkan mobil Avanzanya. Ia segera memasuki cafe. Rencananya ia sudah ada janji dengan kliennya dari Jepang. Yah, walaupun cuti tetap saja ia harus bekerja, kliennya itu memang tidak akan lama lagi pulang ke Jepang.
”Konniciwa, apakah anda Mr Takamura?”
“Haii, saya Takamura”
Sinta pun mulai berbicara dengan kliennya itu. Namun, dari sudut matanya ia menangkap sesosok yang tidak asing lagi bagi dirinya. Ia pun mencoba menengok ke arah sosok itu. Terlihat sepasang laki-laki dan perempuan sedang bercengkrama, memadu kasih. Seperti orang yang baru jatuh cinta.
Sinta mengusap air matanya yang ternyata mengalir tanpa dikomando. Ia segera memfokuskan lagi dengan kliennya.
Apa yang harus aku lakukan, Tuhan. Gumamnya dalam hati.
***

”Tenang saja, Mas. Aku kenal seorang Psikiater yang bisa membantumu”
”Siapa?” Reno bertanya
”Dia adalah pamanku. Nanti kamu bawa istrimu itu untuk diperiksa” Jawab si wanita di ujung telepon itu.
”Baiklah, mudah-mudahan Seila mau aku ajak...kalau tidak”
”Sudahlah...aku yakin rencana kita pasti berhasil. Aku akan bicarakan ini kepada pamanku”
Clik
Reno menutup telpon. Ia kembali mengerjakan arsip-arsip yang menumpuk di depan matanya. Mengerjakan kembali pekerjaannya.
***

”Maaf, Pak Reno. Istri anda mungkin harus di rawat di sini dahulu”
Jelas Dr. Herman.
”Ya. Sudah, lakukan yang terbaik. Dok.” Jawab Reno.
”Hmm...Lili sudah cerita semuanya, jadi semua bisa diatur”
”Terima kasih atas pengertian dan kerjasamanya. Dok”
”Sama-sama” Jawan Dr. Herman
Dari ruangan bercat putih kelambu, terdengar Seila berteriak-teriak.
”Reno...Aku Gak Gila. Percayalah padaku”
Reno hanya terdiam dan ia pun pergi meninggalkan Seila. Telpon genggamnya berdering tanda bahwa ia memang harus segera ke kantor.
***
Sinta menyelinap masuk ke kamar Seila. Seila terlihat kosong. Matanya sembab. Tak ada lagi gairah hidup dalam dirinya. Semua orang yang melihatnya pun iba. Orang tua Seila tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi pada anak semata wayangnya itu. Selain divonis mandul, kini Seila di vonis mengalami gangguan jiwa. Ia sering Histeris dan berhalusinasi tentang orang yang akan membunuhnya. Padahal Seila adalah harapan satu-satunya dari keturunan orang tuanya yang kaya raya.
Seila menoleh kearah Sinta. Sinta memakai baju Suster untuk bisa masuk ke kamar Seila.
”Sinta? Kamu”
”Huuus” Sinta menyuruh Seila diam, ia menempelkan jari telunjuknya di bibir.
”Ayo ikut aku. Kita pergi dari sini”
”Kamu percaya sama aku ’kan?”
”Iya. Aku Percaya. Makannya sekarang ayo kita pergi dari sini”
Tanpa ba bi bu Seila dan Sinta pergi dari kamar bercat putih kelabu itu.

***
Reno membuka dasinya dengan malas, sambil masuk ke rumah gedongnya. Entah kemana dia harus mencari Seila yang kabur dari RSJ. Namun matanya terbelalak, isi rumahnya seperti kapal pecah. Di sudut ruangan terlihat seorang wanita menangis.
”Seila? Kenapa kamu ada di sini?” Reno heran.
” Kenapa? Kamu tidak menyangka’kan?” lawan Seila.
”Apa maksudmu. Sayang?” Tanya Reno. Ia segera merogoh celananya mengambil handponnya.
”Kenapa? Kamu pasti mau menelpon psikiater itu? Atau wanita itu?”
Reno makin panik, hal yang paling ia takutkan kini terbuka sudah.
”Tenang dulu, sayang. Wanita mana maksud kamu?”
Seila bangkit dengan mata yang seperti ingin keluar saja. Emosinya kini membuncah, kuat.
”Mas, kalau memang sudah bosan sama aku bilang, kalau mau, kita cerai saja?” Seila naik pitam.
”Aku tahu semuanya, mas. Mas kenapa kau begitu tega? Kau tega melakukan hal ini padaku” Seila berdiri tegak. Matanya tidak lagi setajam tadi. Tiba-tiba dia jatuh ke lantai.
Dari arah belakangnya, seorang wanita merangkulnya.
”Sinta?”
”Aku tahu, pasti bakal begini. Makannya aku sudah memberi dia minuman tadi yang dicampur dengan obat penenang” Jawab Sinta.
”Kamu ...yang?”
”Iya. Aku yang membawa kabur Seila. Aku tahu semua rencana busukmu, Ren. Tak disangka, kamu begitu tamak dan picik”
Dari luar terdengar suara alarm polisi. Tak lama kemudian lelaki berseragam coklat-coklat masuk dan membawa Reno yang masih berdiri dengan lemahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar