Jumat, 26 April 2013

Tasrifin


Sumber Gambar : http://www.bayikuning.com/2013/04/siapa-tasripin-anak-banyumas-di-twitter.html


                  Sebuah media dalam program beritanya menayangkan sosok bocah 12 tahun yang patut diberikan apresiasi, namanya Tasrifin. Sejak ia muncul di media, bocah itu menjadi sosok yang diperbincangkan dan mengundang perhatian masyarakat terutama pemerintah tentunya. Mengapa tidak, bocah 12 tahun itu hidup dengan mengasuh tiga orang adiknya yang masih kecil-kecil. Ia tidak lanjut sekolah karena sudah menjadi tuilang punggung keluarganya. Yatim, karena ibunya meninggal karena tertimpa longsor yang terjadi di daerahnya saat bekerja, sedangkan sang ayah pergi mencari uang ke Kalimantan meninggalkan ia beserta tiga orang adiknya. Selama enam bulan sang ayah tak pernah pulang.

                 Tasrifin mengundang keprihatinan masyarakat, jurnalis yang menemukannya membuat ia menjadi terkenal sebagai ANAK TANGGUH. Di usianya yang masih bocah, atau menuju remaja tasrifin benar-benar kuat dan tangguh. Ia membanting tulang bekerja mencari uang untuk makan ketiga adiknya, ia juga mengerjakan semua pekerjaan rumah ari mulai bagun pagi memasak air, memandikan adik-adiknya, membuat makanan, mencuci dan lain sebagainya. Sungguh mental yang kuat diusia itu. Yang patut diacungi jempol adalah Tasrifin tak pernah mengeluh ataupun meminta-minta kepada orang lain.
               Semenjak ia muncul di berbagai media dan terkenal, Pemerintah setempat, politikus, dermawan yang datang dan memberikan bantuan, dari mulai diperbaikinya rumah, uang, beras, kambing dan lain sebagainya. Bahkan Sang Presiden RI pun melalui ajudannya memberikan segepok uang. Aneh memang, entah mengapa disini ada sebuah ironis. Karena, kebanyakan bantuan dai mereka hanya bersifat jangka pendek, bukan jangka panjang.
             Semenjak muncul di televisi dan menjadi tamu di beberapa program tv, Ayahnya pun pulang. Saya sempat melihat di sebuah program talk show saat itu ayahnya Tasrifin diwawancara. Dengan alasan untuk mencari uang ia pun terpaksa meninggalkan anak-anaknya. Otomatis semua tanggung jawab orang tuanya Tasrifinlah yang menanggung.
             Jika dilihat secara mental, Tasrifin patut diacungi jempol. Karena dengan keadaannya sekali lagi ia tak pernah mengeluh atau pun meminta-minta seperti yang dilakukan kebanyakan orang yang banyak kita lihat di jalan-jalan. Namun, cara bantuan yang diberikan oleh beberapa pihak, mungkin harus segera diperbaiki. Karena mental baja yang tengah ada pada diri Tasrifin jangan sampai berubah menjadi mental manja karena banyaknya orang yang memberikan bantuan. Lebih baik bantuan itu yang bersifat jangka panjang dan mendidik. Tasrifin butuh pendidikannya dilanjutkan itu yang paling paling penting.
             Kisah Tasrifin adalah salah satu fenomena yang menggambarkan bagaimana sengsaranya anak-anak Indonesia di luar sana harus bekerja keras demi hidup dan keluarganya. Mereka adalah anak-anak yang harus diselamatkaan jiwa dan mentalnya. Karena, merekalah penerus bangsa ini.uran   Mental yang paling penting itu harus digaris bawahi, karena jika mentalnya bobrok maka akan jadi apa mereka di masa ddepan. Mental meinta-minta, ingin dikasihani, mental tawuran dan lain sebagainya.
           Mereka harus diberikan pelayanan dan program-program yang berkesinambungan dalam hal mengarahkan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik lagi.  Terutama dengan program-prorgam pendidikan, keagamaan, kemandirian, bukan hanya bantuan yang sifatnya sementara dan hanya diberikan ketika media mem-blow-up saja.  Ini adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai bagi pemerintah dan kita semua sebagai manusia.
          Semoga dengan adanya kisah Tasrifin ini, kita semua semakin sadar bahwa di luar sana banyak orang yang lebih sengsara dari pada kita, dan kita wajib bersyukur dengan apa yang kita dapatkan saat ini. Kita menjadi lebih peka dan lebih peduli. Bukankah sebaik-baiknya umat adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Sekecil apa pun bantuan ataupun usaha yang kita lakukan, Insyaallah akan menjadi manfaat bagi orang yang membutuhkannya, asalkan kita ikhlas dan sabar.
           Kisah Tasrifin bukan hanya di desanya, tapi di mana-mana ada Tasrifin. Ayo buka mata dan hati kita. Kita jadikan hidup kita lebih sukses dan kaya, agar dapat membantu orang lain. Amin.

           

Kesempatan Hidup

         Aku terbangun dengan tiba-tiba. Bingung dan tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi padaku. Aku berbaring di pinggir jalan dengan darah yang terus menetes dari hidungku. Seorang wanita dengan stetoskop di lehernya terdengar berucap" Alhamdulillah sudah sadar, mbak." 
Lalu dia terus membersihkan darah yang keluar dari hidungku dengan catton bath, seraya bertanya, "Mbak namanya siapa?" 
aku belum bisa menjawab, aku melihat di sekeliling. Terlihat ada dua laki-laki yang bedarah juga di bagian kepalanya. Beberapa orang mengerubuni kami. Suasana begitu gelap, entah jam berapa. Ramai terdengar suara orang berbincang dan juga lalu lalang kendaraan.
         "Mbak namanya siapa?" tanya si wanita dan diikuti dengan suara laki-laki. 
         "Iya, mbak namanya siapa?" 
Aku bingung, sekaligus berfikir. Aku pun mengingat-ingat lagi apa yang terjadi. Kepalaku terasa sakit dan pusing. 
         "Li...na" jawabku, teringat dengan siapa diriku. 
         "Oh, Lina. oke...mbak Lina ada keluarga  yang bisa dihubungi?" tanya si wanita muda itu. 
Aku terdiam sejenak, meraba kantong celana. Aku teringat dengan telpon selularku. 
         "Mbak sabar ya," seorang gadis belia memegangi tanganku yang terluka berdarah.
Aku menemukan ponsel di kantung celanaku, langsung kulihat nama-nama dan tertuju pada satu nama yang tiba-tiba muncul di otakku, "Bagus" ucapku. Aku ingat, dia calon suamiku. Aku segera menghubunginya. 
           "Hallo...."
           "Salamu'alaikum", jawab di sebrang sana. 
           "sayang aku kecelakaan" kataku 
           "Apa? di mana?"tanyanya terdengar panik. 
Aku terdiam, melihat sekeliling dengan terbatas. Aku pun bertanya pada gadis belia yang memegangi tanganku dan memandangku penuh kasih. 
           "Mbak aku dimana?" 
           "Di Jl. Mesjid Ar-Ridwan Jati padang" jawabnya.
           "A...ku di jati padang" kataku.
Setelah itu hp pun mati. Entah pulsanya habis atau bagaimana. 
           "Mbak, ini hp saya. Atasan saya namanya bu Endang cari saja" kataku tak berdaya.  Wanita yang bergaya dokter itu pun menelpon bu Endang. 
            Kepalaku sakit sekali, ingin rasanya aku tertidur. Rasanya sangat ngantuk sekali dan ingin kupejamkan mata saja. Terdengar bapak-bapak berkata bahwa yang menabrak kami lolos dan tidak dapat dikejar. Aku melihat pak Kislam, Office Boy yang mengantarku dengan motor terluka dan duduk seperti orang kebingungan. Ia terlihat sangat shock. Aku bertanya apa dia baik-baik saja. tapi mulutku tak mampu berkata-kata banyak. berat rasanya.
            "Tahan ya mbak," kata wanita yang memakai stetoskop dilehernya sambil membersihkan luka ditanganku dengan alkohol. 
           "auuuuu..."aku meringis kesakitan. Perih memang dan sangat sakit. 
setelah itu, dengan sigap ia membungkus lukaku dengan perban. 
Kepalaku terasa sangat sakit dan pusing. Aku menengok ke arah gadis belia yang memegangi tanganku. Entah kenapa tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. Aku melihat ke langit, langit berwarna gelap tapi terang karena lampu jalan. 
          "Ya Allah, ternyata aku masih hidup. Kau masih memberikanku waktu tuk menjalani dan bertobat. Ya Allah, maafkan dan ampuni segala kesalahanku. Allah aku masih banyak hutang yang harus ku bayar, kesalahan yang harus ku tebus dan aku belum meminta maaf kepada semua orang yang telah aku dzalimi. Ampuni aku ya Allah...astagfirullah" doaku dlaam hati. 
       Terbayang semua wajah-wajah yang ku rindukan, Mamah, bapak, calon suamiku, adik-adikku, Om Bagus, Mbak wie, semua orang yang aku cintai. Terbayang semua dosa-dosa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku terus menangis dan bergumam menyebut nama-nama mereka. Ku pejamkaan mataku karena tak kuat dan terasa sangat ngantuk sekali.
       "Mbak kuat ya, mbak jangan tidur" kata gadis belia itu
       "Kenapa?" tanyaku"kenapa tak boleh tidur?" 
       "Nggak apa-apa mbak, supaya gak hilang lagi" jawab wanita bergaya dokter sambil membersihkan darah  dihidungku lagi. 
       Aku memegang erat tangan gadis vbelia yang ku perkirakan masih SMA itu. 
       "Mbak tolong bacakan al-fatihah ya untuk saya." Pintaku padanya, ia hanya mengangguk. 
       Aku teringat dengan ajaran guru-guruku untuk selalu membacakan al-fatihah dalam setiap apa pun yang terjadi, agar hati kuat. Setelah beberapa lama kemudian, muncullah beberapa teman kantorku Bu Marry dan suaminya, Bu Endang dan Bu Endah. Aku tak ingat bagaimana, yang jelas aku dibawa ke RS. Entahlah antara sadar atau tidak aku dibawa ke RS terdekat. 
      Hal yang paling ku syukuri adalah bahwasannya hingga saat ini aku masih diberikan kesempatan hidup untuk dapat mengisi umurku dengan perbuatan terbaik dan ketakwaan. Aku tak dapat bayangkan jika aku terbangun bukan di pinggir jalan tapi di alam kubur, dan suara pertama yang bertanya bukan suara sang penolong yang menanyakan siapa namaku dan siapa keluargaku yang dapat dihubungi, tapi suara malaikat yang menanyakan siapa tuhanku dan bagaiamana imanku. 
     Astagfirullahal'adziiim ya Allah. Semoga ke depan aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi yang dapat mengisi kehidupan ini dengan baik, benar dan bagus. Terima kasih kepada keluargaku, Teman-teman di mana pun berada yang telah menolongt, menjenguk dan mendoakanku. Maafkan segala kesalahan saya selama ini. Semoga kita semua dapat mempergunakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Amiin. 

"Orang yang paling beruntung adalah, orang yang lebih baik dari hari kemarin"

Jumat, 12 April 2013

SANG GURU KEHIDUPAN

"Bagiku, keluarga bukanlah hanya karena mereka memiliki ikatan darah, namun keluarga adalah mereka yang sayang padamu dan kita menyayanginya di mana pun kapan pun walaupun tanpa ada ikatan atau pertalian darah"

Mengapa? karena semuanya adalah pengalaman yang aku rasakan selama hidup 27 tahun ini. Keluarga yang kumiki sangatlah banyak, salah satunya adalah keluarga besar kampus pencetak motivator pertama di Indonesia yakni KAHFI. Di sana aku berteme dengan orang-orang yang luar biasa, termasuk sang guru yang sangat aku sayangi dan telah ku anggap sebagai ayahku sendiri, Tubagus Wahyudi yang biasa kami panggil dengan sebutan "om bagus".

Om bagus selalu mengajarkan tentang arti kesadaran diri, optimis dan arti dari bagaimana kita memaknai dan menjalani kehidupan. Ajarannya selalu menyejukkan dan membuat hatiku bergejolak dalam meraih impian. Beliau selalu membuatku merindukan suaranya ketika memberikan pengarahan maupun ajarannya. di luar kampus, atau di rumah ataupun di tempat lain aku selalu merasa dia adalah orang tuaku. Dia memperlakukan kami murid-muridnya tanpa pandang bulu, dengan bijaksana dan adil sesuai porsi yang dibutuhkan. karena itulah yang kami butuhkan dalam proses menerapi diri.

Tak ayal, kami sering makan bersama di rumah atau di luar bersama-sama. Kadang om bagus sengaja memasak untuk kami. Tak ayal membuat kami merasa sangat istimewa. Sungguh beliau adalah tipe manusia langka yang ada dan harus dilestarikan dengan membentuk penerus beliau.