Aku terbangun dengan tiba-tiba. Bingung dan tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi padaku. Aku berbaring di pinggir jalan dengan darah yang terus menetes dari hidungku. Seorang wanita dengan stetoskop di lehernya terdengar berucap" Alhamdulillah sudah sadar, mbak."
Lalu dia terus membersihkan darah yang keluar dari hidungku dengan catton bath, seraya bertanya, "Mbak namanya siapa?"
aku belum bisa menjawab, aku melihat di sekeliling. Terlihat ada dua laki-laki yang bedarah juga di bagian kepalanya. Beberapa orang mengerubuni kami. Suasana begitu gelap, entah jam berapa. Ramai terdengar suara orang berbincang dan juga lalu lalang kendaraan.
"Mbak namanya siapa?" tanya si wanita dan diikuti dengan suara laki-laki.
"Iya, mbak namanya siapa?"
Aku bingung, sekaligus berfikir. Aku pun mengingat-ingat lagi apa yang terjadi. Kepalaku terasa sakit dan pusing.
"Li...na" jawabku, teringat dengan siapa diriku.
"Oh, Lina. oke...mbak Lina ada keluarga yang bisa dihubungi?" tanya si wanita muda itu.
Aku terdiam sejenak, meraba kantong celana. Aku teringat dengan telpon selularku.
"Mbak sabar ya," seorang gadis belia memegangi tanganku yang terluka berdarah.
Aku menemukan ponsel di kantung celanaku, langsung kulihat nama-nama dan tertuju pada satu nama yang tiba-tiba muncul di otakku, "Bagus" ucapku. Aku ingat, dia calon suamiku. Aku segera menghubunginya.
"Hallo...."
"Salamu'alaikum", jawab di sebrang sana.
"sayang aku kecelakaan" kataku
"Apa? di mana?"tanyanya terdengar panik.
Aku terdiam, melihat sekeliling dengan terbatas. Aku pun bertanya pada gadis belia yang memegangi tanganku dan memandangku penuh kasih.
"Mbak aku dimana?"
"Di Jl. Mesjid Ar-Ridwan Jati padang" jawabnya.
"A...ku di jati padang" kataku.
Setelah itu hp pun mati. Entah pulsanya habis atau bagaimana.
"Mbak, ini hp saya. Atasan saya namanya bu Endang cari saja" kataku tak berdaya. Wanita yang bergaya dokter itu pun menelpon bu Endang.
Kepalaku sakit sekali, ingin rasanya aku tertidur. Rasanya sangat ngantuk sekali dan ingin kupejamkan mata saja. Terdengar bapak-bapak berkata bahwa yang menabrak kami lolos dan tidak dapat dikejar. Aku melihat pak Kislam, Office Boy yang mengantarku dengan motor terluka dan duduk seperti orang kebingungan. Ia terlihat sangat shock. Aku bertanya apa dia baik-baik saja. tapi mulutku tak mampu berkata-kata banyak. berat rasanya.
"Tahan ya mbak," kata wanita yang memakai stetoskop dilehernya sambil membersihkan luka ditanganku dengan alkohol.
"auuuuu..."aku meringis kesakitan. Perih memang dan sangat sakit.
setelah itu, dengan sigap ia membungkus lukaku dengan perban.
Kepalaku terasa sangat sakit dan pusing. Aku menengok ke arah gadis belia yang memegangi tanganku. Entah kenapa tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. Aku melihat ke langit, langit berwarna gelap tapi terang karena lampu jalan.
"Ya Allah, ternyata aku masih hidup. Kau masih memberikanku waktu tuk menjalani dan bertobat. Ya Allah, maafkan dan ampuni segala kesalahanku. Allah aku masih banyak hutang yang harus ku bayar, kesalahan yang harus ku tebus dan aku belum meminta maaf kepada semua orang yang telah aku dzalimi. Ampuni aku ya Allah...astagfirullah" doaku dlaam hati.
Terbayang semua wajah-wajah yang ku rindukan, Mamah, bapak, calon suamiku, adik-adikku, Om Bagus, Mbak wie, semua orang yang aku cintai. Terbayang semua dosa-dosa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku terus menangis dan bergumam menyebut nama-nama mereka. Ku pejamkaan mataku karena tak kuat dan terasa sangat ngantuk sekali.
"Mbak kuat ya, mbak jangan tidur" kata gadis belia itu
"Kenapa?" tanyaku"kenapa tak boleh tidur?"
"Nggak apa-apa mbak, supaya gak hilang lagi" jawab wanita bergaya dokter sambil membersihkan darah dihidungku lagi.
Aku memegang erat tangan gadis vbelia yang ku perkirakan masih SMA itu.
"Mbak tolong bacakan al-fatihah ya untuk saya." Pintaku padanya, ia hanya mengangguk.
Aku teringat dengan ajaran guru-guruku untuk selalu membacakan al-fatihah dalam setiap apa pun yang terjadi, agar hati kuat. Setelah beberapa lama kemudian, muncullah beberapa teman kantorku Bu Marry dan suaminya, Bu Endang dan Bu Endah. Aku tak ingat bagaimana, yang jelas aku dibawa ke RS. Entahlah antara sadar atau tidak aku dibawa ke RS terdekat.
Hal yang paling ku syukuri adalah bahwasannya hingga saat ini aku masih diberikan kesempatan hidup untuk dapat mengisi umurku dengan perbuatan terbaik dan ketakwaan. Aku tak dapat bayangkan jika aku terbangun bukan di pinggir jalan tapi di alam kubur, dan suara pertama yang bertanya bukan suara sang penolong yang menanyakan siapa namaku dan siapa keluargaku yang dapat dihubungi, tapi suara malaikat yang menanyakan siapa tuhanku dan bagaiamana imanku.
Astagfirullahal'adziiim ya Allah. Semoga ke depan aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi yang dapat mengisi kehidupan ini dengan baik, benar dan bagus. Terima kasih kepada keluargaku, Teman-teman di mana pun berada yang telah menolongt, menjenguk dan mendoakanku. Maafkan segala kesalahan saya selama ini. Semoga kita semua dapat mempergunakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Amiin.
"Orang yang paling beruntung adalah, orang yang lebih baik dari hari kemarin"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar