Citra Diri Muslim
Oleh :
Lina M. Komaruddin
dalam sebuah ayat dikatakan "barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia telah mengenal-KU" (Allahu'alam) Jelas, bahwasannya manusia yang mengenal dirinya adalah yang mengenal Tuhannya. Namun, apa yang terjadi saat ini adalah justru sepertinya manusia seolah-olah mengenal dirinya tetapi semakin jauh dengan tuhannya. Apa yang terjadi sebenarnya?
Pada era ini manusia berlomba-lomba untuk mengembangkan citra dirinya. Yang konon dengan mengenal citra dirinya maka ia dapat meraih kesuksesan yang luar biasa. Kita pun mulai mengenali dan menggali diri sendiri, kita sibuk menggali potensi-potensi yang terkandung di dalam diri kita, kita sibuk tutupi dan minimalisir apa yang menjadi kekurangan yang ada pada diri kita bahkan kalau perlu jangan sampai orang lain tahu apa yang menjadi kekurangan atau kelemahan kita, dan kita pun terus bergerak maju untuk menaklukan segala rintangan dan tantangan apa pun yang menjadi penghalang dalam meraih kesuksesan yang kita impikan.
Tetapi, banyak sekali dari kita yang justru mengalami frustasi, sedih, bertindak agresif dan berakhir dengan kesengsaraan yang berkepanjangan karena banyaknya kegagalan dan juga ketidak puasan dengan apa yang diraih. Bahkan, tak urung kita menyalahkan nasib, dan Tuhan yang telah menciptakan diri kita. Kita mengeluh dan protes mengapa Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan. Kita merasa kerja keras kita, keinginan, dan harapan kita tidak ada artinya.
Sesungguhnya itu adalah akibat dari kurangnya kita bersabar dan bersyukur pada Allah Swt. Kita senantiasa dibutakan oleh kekecewaan kita sendiri sehingga citra diri dan potensi sabar yang melekat pada diri kita pun terhapus. Kita senantiasa terlalu sombong dengan apa yang menjadi kelebihan dan kesuksesan kita sehingga citra diri syukur yang sejak lahir telah ada dalam hati sanubari kita pun tertutupi oleh nafsu yang terus membakar hati nurani kita.
Oleh karena itu, sesungguhnya citra diri seorang muslim adalah citra diri yang sangat fitrah yang di dalamnya terdapat sifat-sifat keilahian seperti, sifat sabar, syukur, bijaksana, penyayang dan lain sebagainya. Karena, sesungguhnya orang yang mengenal dirinya adalah orang yang mampu menyadari dan mengaplikasikan nilai-nilai keilahian yang tertanam dalam jiwanya. Wallahu’alam bishowab.
Selasa, 10 Mei 2011
Citra Diri Muslim
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Selasa, 15 Maret 2011
Sepenggal Kisah Sahabatku, Wanita Hebat Berhati Murni.
Aku masih saja terdiam, bingung dan entah apa yang harus aku lakukan. Badanku gemetar, tak percaya dan kalut. Sebuah sms dari temanku itu sungguh nyata tertulis. Jelas.
"Innalillahi wainnailahi roji’un telah berpulang ke rahmatullah Murnisari… semoga amal ibadahnya diterima Allah."
Murni…duniaku rasanya runtuh, jantungku terasa berhenti berdetak. Aku keluar ruangan, dan menelpon balik Diki untuk menanyakan kebenaran kabar itu. Namun, itu memang benar. Aku sangat berharap bahwa itu salah kirim dan salah nama. Namun semuanya benar. Murniasari. Mahasiswa Akuntansi, Fak Ekonomi UIN Syahid Jakarta angkatan 2006 & Anggota FLP Cab. Ciputat 2006.
Setelah bertemu dengan Dodo dan kawan-kawan seperjuanganku di FLP, akhirnya kami pun berangkat menuju ke rumah almarhumah. Di perjalanan seluruh kenangan itu hadir kembali di kelopak mataku. Seperti layar bioskop yang sedang memutar film kehidupan. Ya, kisah kami, sahabatku Murniasari.
***
Aku duduk di pojokan ruangan. Bingung dan tak mengerti. Saat itu aku adalah anggota baru FLP cab. Ciputat. Di dalam kebingunganku, seorang wanita manis menyapaku.
“Hai, anak baru juga ya?” tanyanya dengan senyum yang sangat bersahabat.
“Iya…kamu?” jawabku balik bertanya.
“Sama, aku juga…suka nulis juga ya?”
“Iya…hehehe…oh iya kenalin aku Lina”
“Oh…iya. Aku Murni. Aku anak akuntasi”
“Aku anak Psikologi”
Sejak saat itu kami berteman. Setiap kali pelatihan kami selalu janjian untuk pergi dan datang bersama. Kami tak gentar untuk terus berkomitmen menulis dan bertahan di FLP walaupun saat itu anggotanya hanya tinggal kami berdua. Kami pun menjadi pengurus dadakan, karen atidak ada lagi orang. semuanya seperti ditelan bumi, lenyap. mengkin itulah yang disebut dengan seleksi alam. Tapi kami tetap bertahan, mau tidak mau saat itu aku menjadi sekretaris dan Murni menjadi bendahara.
Pengurusan pun terus berlanjut hingga tahun kedua. Pada saat itu, Anggota FLP Ciputat hanya tinggal lima orang. Ketua Andro Mediawan, Wakil ketua Rochmad Widodo, Sekretaris aku sendiri, Bendahara Murniasari dan Rahmat HM menjabat sebagai Divisi Pelatihan. Kami pun mengadakan rekrutmen Anggota baru angkatan ke-4. Walaupun hanya lima orang tapi semangat kami bagaikan seribu prajurit yang siap berperang menaklukan dunia.
Tekad kami untuk berjihad dengan pena bukanlah main-main. Mulai dengan menyusun konsep hingga menyebarkan pamphlet dan leaflet kami lakukan bersama-sama. Murni adalah sosok yang paling semangat saat itu, dengan ide-ide cemerlangnya untuk merekrut anggota baru agar berjalan dengan lancar.
Aku masih ingat bagaimana kami berlima menempelkan pamflet yang cuma difotocopy (maklum dananya tidak ada, itu juga patungan) harus kami tempel ke seluruh gedung fakultas di UIN serta jalan-jalan yang ada di sekitar Ciputat. Saat itu aku dan Murni bertugas untuk menempelkan di gedung-gedung fakultas, mulai dari fakultas syari’ah hingga fakultas ekonomi, sedangkan Andro, Dodo, dan Rahmat menempel di gedung fakultas Tarbiyah, SC, dan jalan-jalan sekitar pasca dan Fatullah. Aku dan Murni tidak jadi menempelkan di Fakultas ekonomi, karena saat itu sedang ramai sekali di sana. Mental kami cukup ciut melihat begitu banyak orang yang melihat seolah-olah kami maling yang tertangkap basah.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Saat itu kami pun berkumpul di depan pintu kecil UIN (Pesanggrahan). Ku lihat wajah-wajah lelah namun semangat tersenyum tersamar oleh jingga sore itu.
“Gimana? Beres?” tanyaku
“Belom nih, tinggal pesanggrahan.” Jawab Dodo.
“ya, sudah yuk kita tempelin….” Kata Murni sembari berjalan mulai menempel di dinding, tiang yang kira-kira bisa ditempelin oleh pamflet kami. tak ada kata lelah saat itu, yang ada hanyalah semangat.
Banyak pamflet-pamfelt acara yang sudah lama kami copot dan kami ganti dengan pamphlet kami. Hehehe… Akhirnya, acara temple-menempel pun selesai. Kami pun solat magrib di mesjid Fatullah.
Aku dan Murni tdak langsung pulang, kami pun kembali ke gedung Fakultas Ekonomi untuk menempelkan kembali pamflet yang belum tertempel di gedung lantai atas. Sebenarnya sengaja kami menempelkan pada malam hari di sana, agar tidak terlalu malu dan juga tentunya tidak banyak yang dirobek oleh tangan-tangan jahil.
Selama satu minggu kami mengadakan rekrutmen di lapangan SC UIN. Secara bergantian kami menjaga stand pendaftaran. Kami bahkan rela bolos kuliah untuk menjaga stand jika kebetulan semuanya bentrok jam kuliahnya. Sampai-sampai pada semester berikutnya kami harus banyak mengulang beberapa mata kuliah.
Murni adalah sosok wanita tangguh di sini. Dia acapkali menggotong meja sendiri, dan peralatan stand pendaftaran sendiri di pagi hari. bahkan saat beres-beres pun dia tak pernah minta bantuan pada siapa-pun. Baginya, jika ingin membantu tak harus diminta, jika dia mampu melakukan sendiri maka dia akan melakukannya walaupun harus sendiri. Sering aku mengejeknya dengan mengatakan "Mur kau ini cewek atau cowok?" murni pun tak kalah mencibirku..."Lha kau sendiri cewek atau cowok?" setelah itu kami hanya tertawa dan berkata bersama-sama "Kita kan sama hahahaha"
Perjuangan kami tak sia-sia. Untuk pertama kalinya di dunia FLP, FLP cabang Ciputat menerima pendaftaran dengan peserta terbanyak yaitu sebanyak 160 orang. Termasuk diantaranya adalah orang-orang yang kin telah menjadi penulis muda yang sangat luar biasa, seperti Ali Rif’an, Arief Mahmudi, Akhmad Syaikhu, Aji Payumi, M. Gufron Hidayat, Nurul Khasanah, Desy Arisandi, Anna Maria Faulina, Erick Purnama Siddiq,Anah El-Hisani dan lain sebagainya (tak bisa ditulis satu-satu—jangan marah yaaa^^)
Itulah jasa dari seorang Murniasari di FLP. Wanita luar biasa ini adalah wanita tangguh yang selalu ada di kala suka dan duka. Banyak kenangan indah yang terukir dengan namanya. Menangis, tertawa bukan hal yang asing bagi kami berdua. kadang jika salah satu dari kami bersedih, maka kami akan saling menghibur dengan saling menelpon dan saling kirim sms. Pernah suatu ketika ia pun menginap di kotsanku hanya iuntuk menghiburku yang saat itu sedang putus cinta hehehe...
Perjuangan bermandi keringat pernah kami lakukan juga ketika FLP Pusat mengadakan Silaturahim Nasional. Almarhumah bertugas mencari sponsor bersamaku ke dareah jalan pegangsaan Menteng dan jalan Panjang Jakarta Timur. Akhirnya aku pun janjian bertemu dengannya di Menteng. Saat itu aku masih pulang pergi (belum kots di ciputat), Murni telah mengungguku seorang diri di halte bis jalan Pegangsaan Menteng (Depan Gedung Proklamasi). Dengan sabarnya dan dengan niat mendapatkan dana, malu-malu tapi mau kami pun mempresentasikan proposal kami dis ebuah radio di kawasan itu.
Selesai dari menteng kami pun berankat ke jalan Panjang. Kami ke sebuah perusahaan TV Cabel yang cukup terkenal. Pulang dari sana kami kehujanan. Hujan angin membuat kami basah kuyup. Sambil menahan dingin kami mencari mobil yang kira-kira dapat membawa kami pulang ke rumah. Hujan terus mengguyur badan kami yang menggigil, mobil pun tak urung datang. Aku ingin sekali menangis, namun ketika ku lihat wajah Murni aku malu. Ia begitu bahagia, katanya ini sebuah petualangan yang hebat.
Jika ku kisahkan maka tak cukuplah waktu dan terlalu banyak yang ingin kuceritakan mengenai wanita hebat ini. Yang jelas, dia adalah sahabat terbaikku yang pernah ku miliki di dunia ini. Aku menyesal karena aku tak bisa menemani saat –saat dia membutuhkanku. Mungkin aku bukanlah teman yang baik baginya. Namun, yang jelas aku sangat mencintainya.
Mesjid Fatullah adalah saksi bisu di mana aku harus melihatnya untuk yang terakhir kali dia dalam keadaan bahagia dan penuh semangat, karena ia telah bertunangan dengan seseorang yang dirahasiakannya dari ku. Aku ingat kami berpelukan erat dan saling memberikan semangat agar skripsi kami selesai dan dapat wisuda bersama di tahun ini. namun, ternyata itulah saat terakhir ku melihatnya dan memeluknya.
Allah yang Maha penyayang, Aku Mohon tempatkanlah sahabatku di surga-Mu yang angung. Ampunilah segala dosa dan khilafnya. Amin.
Cerita ini aku tulis bukan sebagai ajang penyesalanku, tetapi semoga menjadi ibroh bagi kita semua, semoga kita tidak menyia-nyiakan waktu, kesempatan, persahabatan dan cinta. Karena, If tomorrow never day.
"Innalillahi wainnailahi roji’un telah berpulang ke rahmatullah Murnisari… semoga amal ibadahnya diterima Allah."
Murni…duniaku rasanya runtuh, jantungku terasa berhenti berdetak. Aku keluar ruangan, dan menelpon balik Diki untuk menanyakan kebenaran kabar itu. Namun, itu memang benar. Aku sangat berharap bahwa itu salah kirim dan salah nama. Namun semuanya benar. Murniasari. Mahasiswa Akuntansi, Fak Ekonomi UIN Syahid Jakarta angkatan 2006 & Anggota FLP Cab. Ciputat 2006.
Setelah bertemu dengan Dodo dan kawan-kawan seperjuanganku di FLP, akhirnya kami pun berangkat menuju ke rumah almarhumah. Di perjalanan seluruh kenangan itu hadir kembali di kelopak mataku. Seperti layar bioskop yang sedang memutar film kehidupan. Ya, kisah kami, sahabatku Murniasari.
***
Aku duduk di pojokan ruangan. Bingung dan tak mengerti. Saat itu aku adalah anggota baru FLP cab. Ciputat. Di dalam kebingunganku, seorang wanita manis menyapaku.
“Hai, anak baru juga ya?” tanyanya dengan senyum yang sangat bersahabat.
“Iya…kamu?” jawabku balik bertanya.
“Sama, aku juga…suka nulis juga ya?”
“Iya…hehehe…oh iya kenalin aku Lina”
“Oh…iya. Aku Murni. Aku anak akuntasi”
“Aku anak Psikologi”
Sejak saat itu kami berteman. Setiap kali pelatihan kami selalu janjian untuk pergi dan datang bersama. Kami tak gentar untuk terus berkomitmen menulis dan bertahan di FLP walaupun saat itu anggotanya hanya tinggal kami berdua. Kami pun menjadi pengurus dadakan, karen atidak ada lagi orang. semuanya seperti ditelan bumi, lenyap. mengkin itulah yang disebut dengan seleksi alam. Tapi kami tetap bertahan, mau tidak mau saat itu aku menjadi sekretaris dan Murni menjadi bendahara.
Pengurusan pun terus berlanjut hingga tahun kedua. Pada saat itu, Anggota FLP Ciputat hanya tinggal lima orang. Ketua Andro Mediawan, Wakil ketua Rochmad Widodo, Sekretaris aku sendiri, Bendahara Murniasari dan Rahmat HM menjabat sebagai Divisi Pelatihan. Kami pun mengadakan rekrutmen Anggota baru angkatan ke-4. Walaupun hanya lima orang tapi semangat kami bagaikan seribu prajurit yang siap berperang menaklukan dunia.
Tekad kami untuk berjihad dengan pena bukanlah main-main. Mulai dengan menyusun konsep hingga menyebarkan pamphlet dan leaflet kami lakukan bersama-sama. Murni adalah sosok yang paling semangat saat itu, dengan ide-ide cemerlangnya untuk merekrut anggota baru agar berjalan dengan lancar.
Aku masih ingat bagaimana kami berlima menempelkan pamflet yang cuma difotocopy (maklum dananya tidak ada, itu juga patungan) harus kami tempel ke seluruh gedung fakultas di UIN serta jalan-jalan yang ada di sekitar Ciputat. Saat itu aku dan Murni bertugas untuk menempelkan di gedung-gedung fakultas, mulai dari fakultas syari’ah hingga fakultas ekonomi, sedangkan Andro, Dodo, dan Rahmat menempel di gedung fakultas Tarbiyah, SC, dan jalan-jalan sekitar pasca dan Fatullah. Aku dan Murni tidak jadi menempelkan di Fakultas ekonomi, karena saat itu sedang ramai sekali di sana. Mental kami cukup ciut melihat begitu banyak orang yang melihat seolah-olah kami maling yang tertangkap basah.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Saat itu kami pun berkumpul di depan pintu kecil UIN (Pesanggrahan). Ku lihat wajah-wajah lelah namun semangat tersenyum tersamar oleh jingga sore itu.
“Gimana? Beres?” tanyaku
“Belom nih, tinggal pesanggrahan.” Jawab Dodo.
“ya, sudah yuk kita tempelin….” Kata Murni sembari berjalan mulai menempel di dinding, tiang yang kira-kira bisa ditempelin oleh pamflet kami. tak ada kata lelah saat itu, yang ada hanyalah semangat.
Banyak pamflet-pamfelt acara yang sudah lama kami copot dan kami ganti dengan pamphlet kami. Hehehe… Akhirnya, acara temple-menempel pun selesai. Kami pun solat magrib di mesjid Fatullah.
Aku dan Murni tdak langsung pulang, kami pun kembali ke gedung Fakultas Ekonomi untuk menempelkan kembali pamflet yang belum tertempel di gedung lantai atas. Sebenarnya sengaja kami menempelkan pada malam hari di sana, agar tidak terlalu malu dan juga tentunya tidak banyak yang dirobek oleh tangan-tangan jahil.
Selama satu minggu kami mengadakan rekrutmen di lapangan SC UIN. Secara bergantian kami menjaga stand pendaftaran. Kami bahkan rela bolos kuliah untuk menjaga stand jika kebetulan semuanya bentrok jam kuliahnya. Sampai-sampai pada semester berikutnya kami harus banyak mengulang beberapa mata kuliah.
Murni adalah sosok wanita tangguh di sini. Dia acapkali menggotong meja sendiri, dan peralatan stand pendaftaran sendiri di pagi hari. bahkan saat beres-beres pun dia tak pernah minta bantuan pada siapa-pun. Baginya, jika ingin membantu tak harus diminta, jika dia mampu melakukan sendiri maka dia akan melakukannya walaupun harus sendiri. Sering aku mengejeknya dengan mengatakan "Mur kau ini cewek atau cowok?" murni pun tak kalah mencibirku..."Lha kau sendiri cewek atau cowok?" setelah itu kami hanya tertawa dan berkata bersama-sama "Kita kan sama hahahaha"
Perjuangan kami tak sia-sia. Untuk pertama kalinya di dunia FLP, FLP cabang Ciputat menerima pendaftaran dengan peserta terbanyak yaitu sebanyak 160 orang. Termasuk diantaranya adalah orang-orang yang kin telah menjadi penulis muda yang sangat luar biasa, seperti Ali Rif’an, Arief Mahmudi, Akhmad Syaikhu, Aji Payumi, M. Gufron Hidayat, Nurul Khasanah, Desy Arisandi, Anna Maria Faulina, Erick Purnama Siddiq,Anah El-Hisani dan lain sebagainya (tak bisa ditulis satu-satu—jangan marah yaaa^^)
Itulah jasa dari seorang Murniasari di FLP. Wanita luar biasa ini adalah wanita tangguh yang selalu ada di kala suka dan duka. Banyak kenangan indah yang terukir dengan namanya. Menangis, tertawa bukan hal yang asing bagi kami berdua. kadang jika salah satu dari kami bersedih, maka kami akan saling menghibur dengan saling menelpon dan saling kirim sms. Pernah suatu ketika ia pun menginap di kotsanku hanya iuntuk menghiburku yang saat itu sedang putus cinta hehehe...
Perjuangan bermandi keringat pernah kami lakukan juga ketika FLP Pusat mengadakan Silaturahim Nasional. Almarhumah bertugas mencari sponsor bersamaku ke dareah jalan pegangsaan Menteng dan jalan Panjang Jakarta Timur. Akhirnya aku pun janjian bertemu dengannya di Menteng. Saat itu aku masih pulang pergi (belum kots di ciputat), Murni telah mengungguku seorang diri di halte bis jalan Pegangsaan Menteng (Depan Gedung Proklamasi). Dengan sabarnya dan dengan niat mendapatkan dana, malu-malu tapi mau kami pun mempresentasikan proposal kami dis ebuah radio di kawasan itu.
Selesai dari menteng kami pun berankat ke jalan Panjang. Kami ke sebuah perusahaan TV Cabel yang cukup terkenal. Pulang dari sana kami kehujanan. Hujan angin membuat kami basah kuyup. Sambil menahan dingin kami mencari mobil yang kira-kira dapat membawa kami pulang ke rumah. Hujan terus mengguyur badan kami yang menggigil, mobil pun tak urung datang. Aku ingin sekali menangis, namun ketika ku lihat wajah Murni aku malu. Ia begitu bahagia, katanya ini sebuah petualangan yang hebat.
Jika ku kisahkan maka tak cukuplah waktu dan terlalu banyak yang ingin kuceritakan mengenai wanita hebat ini. Yang jelas, dia adalah sahabat terbaikku yang pernah ku miliki di dunia ini. Aku menyesal karena aku tak bisa menemani saat –saat dia membutuhkanku. Mungkin aku bukanlah teman yang baik baginya. Namun, yang jelas aku sangat mencintainya.
Mesjid Fatullah adalah saksi bisu di mana aku harus melihatnya untuk yang terakhir kali dia dalam keadaan bahagia dan penuh semangat, karena ia telah bertunangan dengan seseorang yang dirahasiakannya dari ku. Aku ingat kami berpelukan erat dan saling memberikan semangat agar skripsi kami selesai dan dapat wisuda bersama di tahun ini. namun, ternyata itulah saat terakhir ku melihatnya dan memeluknya.
Allah yang Maha penyayang, Aku Mohon tempatkanlah sahabatku di surga-Mu yang angung. Ampunilah segala dosa dan khilafnya. Amin.
Cerita ini aku tulis bukan sebagai ajang penyesalanku, tetapi semoga menjadi ibroh bagi kita semua, semoga kita tidak menyia-nyiakan waktu, kesempatan, persahabatan dan cinta. Karena, If tomorrow never day.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Sabtu, 26 Februari 2011
PASIENNYA MANA? (Terusan Rujak Tiga Ronde)
Dengan gontai aku berjalan menuju rumah sakit. Ica berjalan di depanku, hujan rintik-rintik membuatku menggigil dan merapatkan tubuhku ke Ica. Aku memegang lengannya. Ku lihat Ama menunggu kami di depan UGD. Aku terus merapatkan tubuhku ke Ica, rasanya kepalaku sakit dan ada batu besar di ubun-ubun.
Ama tersenyum dan membukakan pintu UGD. Seketika semua dokter dan perawat matanya tertuju pada kami. Ama terlihat ingin mengucapkan sesuatu namun suaranya kalah oleh pertanyaan dokter dan perawat yang bertanya secara serempak membuatku diam tak berkutik.
"Maaf...pasiennya yang mana, ya????" tanya mereka
Aku dan Ica apalagi Ama terdiam sejenak. Tiba-tiba secara reflek aku menunjuk Ica dan Ica pun menunjuk ke arahku, kami tertawa bersama-sama tanpa mampu berkata-kata. seketika ruang UGD riuh oleh tawa.
"Kita salah gestur...hehehe...yang sakit malah menuntun yang sehat, muka lu sih kayak orang sakit" kataku sambil memegangi perutku yang sakit karena terus tertawa.
Ama tersenyum dan membukakan pintu UGD. Seketika semua dokter dan perawat matanya tertuju pada kami. Ama terlihat ingin mengucapkan sesuatu namun suaranya kalah oleh pertanyaan dokter dan perawat yang bertanya secara serempak membuatku diam tak berkutik.
"Maaf...pasiennya yang mana, ya????" tanya mereka
Aku dan Ica apalagi Ama terdiam sejenak. Tiba-tiba secara reflek aku menunjuk Ica dan Ica pun menunjuk ke arahku, kami tertawa bersama-sama tanpa mampu berkata-kata. seketika ruang UGD riuh oleh tawa.
"Kita salah gestur...hehehe...yang sakit malah menuntun yang sehat, muka lu sih kayak orang sakit" kataku sambil memegangi perutku yang sakit karena terus tertawa.
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Selasa, 25 Januari 2011
RUJAK TIGA RONDE DAN HAPE KAMERA
Sudah tiga hari aku tidak enak badan. Gejalanya panas tinggi, sakit kepala yang luar biasa, mual, dan nafsu makan berkurang. Namun, ada kalanya keluar keringat dingin dan tubuh terasa segar kembali, namun beberapa jam kemudian gejala kembali lagi. Akhirnya aku merengek pada kakak kelasku. Dia menganjurkan agar aku ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Namun, aku masih tetap bersikukuh bahwa aku akan kembali sehat sebentar lagi.
Hingga puncaknya adalah hari sabtu, 15 januari. Sejak pagi aku menggigil dan badanku panas tinggi. Kawan-kawanku banyak yang sms menanyakan keadaanku. Maklum jika mereka khawatir, aku kan ngekots sendirian..^^ Sebelum ku putusakan ke RS, ku telpon temanku yang berprofesi sebagai perawat di RS UIN (Rumah Sakit anak-anak UIN) hehe... Namanya Mas Agus (biasa aku panggil). Aku ceritakan semua keadaanku, dia menyarankan agar aku segera masuk UGD. Hal tersebut disinyalir kemungkinan aku terkena gejala typus atau DBD. Oh tidaaak....namun beliau juga menyarankan untuk melihat perkembanganku sampai magrib. Jika magrib masih panas, maka mau tidak mau aku harus benar-benar dibawa ke UGD.
Dzuhur Ama datang. Ia terlihat kelimis terkena hujan. Sepertinya ia membelikanku bubur karna tadi Kak Amel menelpon bahwa dia menyuruh adiknya itu membeli bubur untukku.
“Neng Ina…dedeng…saya bawa sesuatu” dengan gayanya yang khas.
“Apa? Bubur?” tanyaku datar.
“Bukan…”
“Lalu?”
“Aha! RUJAK!” dengan wajah bahagia dia mengeluarkan bungkusan rujak dari kresek hitam.
Aku melonjak kaget sekaligus senang. Walaupun hujan dan belum makan dari pagi, tapi ini makanan emang yang diinginkan dari kemarin.
“Oh..ya, senangnya.”
“Tentu…mari kita merujak ria”
“Baiklah…mari kita makan dengan riang gembira.” Jawabku senang.
Kami makan rujak dengan riang, rasa sakitku hilang tak terasa…keringat keluar. Tiba-tiba datang sahabatku Ica si penggila bola.
“Haha…Lintuuuung…lu sakit apa??? Ayo ke rumah sakit!” Cerocosnya ketika sampai di depan pintu kotsan. Sontak kami menengok.
“Iya, ntar…” jawabku.
“Lu sms aneh dah, masa ke rumah sakit nunggu perkembangan? Maksudnya apa?” katanya sambil duduk di antara kami.
Aku hanya tertawa, melihat wajahnya membuat saya senang dengan sahabat saya yang satu ini. Wajahnya yang innocen dan ceplas-ceplos bila berkata-kata membuat saya tertawa setiap kali melihatnya. Kami pun mengobrol ria, kami menceritakan pengalaman selama di pondok pesantren.
Sms terdengar masuk ke nomor esia Ica. Dia langsung berdiri.
“Kakak mau pergi ke mana sekarang?” tanyanya pada Ama.
“Tidak kemana-mana…” jawab Ama.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kakak mengantarkan saya ke halte depan UIN karena saya mau naik motor numpang temen, jadi motor saya kakak bawa kembali hehehe…” kata Ica semangat dan penuh harap.
“Baiklah dengan senang hati…” Jawab Ama dengan wajah polosnya.
Aku hanya diam, panas kembali naik diubun-ubun.
Mereka pergi. Aku kembali tiduran dengan selimut coklat di pojok kotsan. Beberapa menit kemudian Ama datang. Tanpa berkata-kata dia mengambil uang dari tasnya dan kembali pergi… aku kembali bengong, diam dipojokkan.
Tak lama kemudian, Ama kembali membawa bungkusan kantong kresek hitam.
“Neng Inaaaa…coba tebak! Saya bawa apa?”
“Nggak tahu…bubur?” Sub Conciusku menjawab rasa lapar. Mengharap nasi atau sejenisnya yang dibawa.
“Bukan…tapi….” Jawabnya tertahan sambil membuka bungkusan.
“Trendeeennnng…Rujak beubeuk!” Dengan ekspresi bahagia dan terpesona melihat rujk yang dibawanya.
$%^&^%&*(….
“Aha…lagi…rujak lagi….keren!” jawabku senang juga. Walau lapar tapi aku memang suka rujak. Hehehe…
“Mari kita makan!” Ajaknya.
“Ayo!” kataku sambil bangkit dari tidurku.
Aku tak bisa menghabiskan rujaknya. Tapi Ama mau menghabiskannya… waah dia banyak sekali makan rujak hari ini. Kami berbincang-bincang dengan bahasa sunda. Bahasa kebanggan kami sebagai orang sunda terutama orang Sumedang. Hehehe (rasis) ^^
Tak lama kemudian, sahabatku Ica datang dengan langkah yang tak asing di telingaku. Tergesa-gesa dan seperti sedang menggususr sesuatu di kakinya.
“Asslamau’alaikuuuummmm….hari ini seneng banget! Dream mapping terkabul” cerocosnya, belum sempat kami jawab salamnya karena lidah masih kepedesan.
“Wa’alaikum salam…oh ya, apa tuuuhhh” tanya Ama.
Ica memperlihatkan bawaannya. Sebuah Helm baru berwarna pink dan juga sebuah tas merk Toko HP.
“Gue akhirnya bisa beli hape kamera..hihihi”
“Wow senangnya…Selamat yaaa…” kata Ama.
“Lho…kok itu beli helm pink? Bukannya lu nggak suka warna pink?” tanyaku.
“Ini bukan punya gue, ini titipan Resty”
“Owh…” jawabku sambil minum air.
“Lihat nih, gue beli hape kamera hahahaha…” katanya pamer lagi.
“Liat doonk…” pintaku dan Ama barengan.
Ica membuka hape yang baru dibelinya. Merknya yang sekarang lagi gencar-gencarnya promosi dan harganya lumayan terjangkau.
“Tahu nggak kenapa gue beli hape kamera?” Tanya Ica.
“Nggak….kenapa ca?” tanyaku.
“ Dari bulan kemaren gue bilang dalam hatri gue, pokoknya nanti Januari 2011 gue bakal beli hape kamera buat nyimpen fotonya Davit Villa… bla-bla-bla..”
Aku dan Ama tertawa terbahak-bahak. Apalagi ketika mengetahui motif dia membeli hape kamera. Mendengarkan ceritanya membuat perutku sakit karena banyak tertawa. Ica bercerita bagaimana dia menanyakan pada si penjual hape mengenai hape yang ingin dibelinya.
“Bang…ada hape kamera nggak?” tanya Ica.
“Ada neng, mau yang berapa? “tanya tukang dagang sambil mengeluarkan semua hape kamera.
“Emang adanya yang berapa, Bang?”
“ Nih, dari mulai yang tiga ratus rebu, sampe yang jutaan ada neng…” jawab abang tukang Hape memamerkan dagangannya.
“ Yang lima ratus rebu dah bang?!” kata Ica.
“Nih…yang lima ratus banyak, neng.” Kata si abang sambil menunjukkan hape kamera dengan harga lima ratus rebuan.
“ Ooh…banyak juga ya, bang!” kata Ica polos sambil melihat satu persatu.
“Ya iya neg, sekarang mah tukang becak, tukang sampah juga hapenya kamera dan querty lho…”
“Apaan tuh querty?” tanya Ica lagi polos, maklum dia memang mengaku gaptek.
“Nih, yang lagi dipegang ma neng tuh, yang kayak BB, namanya querty”
“Sorry , bang. Saya emang gaptek kalau soal ginian…yang penting saya beli hape kamera buat nyimpen foto David Villa hehehe” kata Ica sambil melihat-lihat hape yang lainnya.
“Hehe..neng ini suka benget bola ya?”
“Ya, iya bang. Apalagi Barcelona…beuh…” Jawab Ica penuh ekspresi.
“ Ooh…”
“Bang, ayo bang bilang ke saya nih hape satu-satu apa kelebihan dan kekurangannya?!”
“Wah neng banyak banget kelebihannya neng.” Jawab Si Abang.
“Satu-satu bang hehe…:”
“Wah panjang nih urusannya. Saya harus nerangin satu-satu” Jawab si Abang dengan sabar.
“Iya, hehe…”
Akhirnya dengan sabar si abang menerangkan spesifikasi hape satu-satu, khusus hape kamera harga tiga ratus rebu sampai lima ratus rebu ke atas.
***
Kami masih terkekeh dengan cerita Ica. Kok ada ya makhluk innocent kayak dia, gumamku.
“Tung, sorry gue lupa mau beli makan buat lu. Lu mau apa sekarang gue beli” kata Ica menawarkan beli makan.
“Bubur depan kampus aja dah,” jawabku. Padahal tadi aku sudah sms agar beli bubur. Tapi ternyata sms-nya baru sampai ketika dia sampai di kotsanku.
“Ama mau makan juga?” tanyaku pada Ama yang tengah sibuk menyolokkan hape Ica untuk dicharger.
“Boleh” jawabnya.
“Baiklah…Ca, bubur dua ya…”
“Okey…tapi, kak jangan lupa ya...itu hape ica settingin Facebooknya biar bisa nyimpen foto Davit Villa” kata Ica sambil memakai sendalnya.
"Iya..." jawab Ama.
Ica pergi. Aku kembali terbaring, tubuhku yang tadinya segar karena tertawa dan lupa kalau sedang sakit kini kembali panas. Seperti janji Ama tadi malam, dia akan membacakan surah Yasin untukku. Akhirnya sesi itu diisi dengan pembacaan surah Yasin. Aku mendengarkan dengan penuh ketenangan dan berdoa dalam hati agar sakitku tidak lama.
Selesai membacakan surah Yasin, Ica datang dengan buburnya. Saya langsung makan bersama Ama. Dengan Riang gembira, Ica mengangkat satu kresek hitam lagi. Apa itu ca? tanyaku dalam hati.
“Surprise! Ica bawa apa cobaaa?” tanyanya bahagia.
“Apaaa?” tanya kami serempak.
“Rujak Halte*!”
"Sepertinya hari ini saya banyak makan buah-buahan..." kata Ama polos.
@#$%^&()O(* …..GUBRAK!
*Rujak Halte: Rukjak petis yang dijual di depan halte kampus UIN (terkenal dengan penjualnya yang tidak pernah senyum)
Hingga puncaknya adalah hari sabtu, 15 januari. Sejak pagi aku menggigil dan badanku panas tinggi. Kawan-kawanku banyak yang sms menanyakan keadaanku. Maklum jika mereka khawatir, aku kan ngekots sendirian..^^ Sebelum ku putusakan ke RS, ku telpon temanku yang berprofesi sebagai perawat di RS UIN (Rumah Sakit anak-anak UIN) hehe... Namanya Mas Agus (biasa aku panggil). Aku ceritakan semua keadaanku, dia menyarankan agar aku segera masuk UGD. Hal tersebut disinyalir kemungkinan aku terkena gejala typus atau DBD. Oh tidaaak....namun beliau juga menyarankan untuk melihat perkembanganku sampai magrib. Jika magrib masih panas, maka mau tidak mau aku harus benar-benar dibawa ke UGD.
Dzuhur Ama datang. Ia terlihat kelimis terkena hujan. Sepertinya ia membelikanku bubur karna tadi Kak Amel menelpon bahwa dia menyuruh adiknya itu membeli bubur untukku.
“Neng Ina…dedeng…saya bawa sesuatu” dengan gayanya yang khas.
“Apa? Bubur?” tanyaku datar.
“Bukan…”
“Lalu?”
“Aha! RUJAK!” dengan wajah bahagia dia mengeluarkan bungkusan rujak dari kresek hitam.
Aku melonjak kaget sekaligus senang. Walaupun hujan dan belum makan dari pagi, tapi ini makanan emang yang diinginkan dari kemarin.
“Oh..ya, senangnya.”
“Tentu…mari kita merujak ria”
“Baiklah…mari kita makan dengan riang gembira.” Jawabku senang.
Kami makan rujak dengan riang, rasa sakitku hilang tak terasa…keringat keluar. Tiba-tiba datang sahabatku Ica si penggila bola.
“Haha…Lintuuuung…lu sakit apa??? Ayo ke rumah sakit!” Cerocosnya ketika sampai di depan pintu kotsan. Sontak kami menengok.
“Iya, ntar…” jawabku.
“Lu sms aneh dah, masa ke rumah sakit nunggu perkembangan? Maksudnya apa?” katanya sambil duduk di antara kami.
Aku hanya tertawa, melihat wajahnya membuat saya senang dengan sahabat saya yang satu ini. Wajahnya yang innocen dan ceplas-ceplos bila berkata-kata membuat saya tertawa setiap kali melihatnya. Kami pun mengobrol ria, kami menceritakan pengalaman selama di pondok pesantren.
Sms terdengar masuk ke nomor esia Ica. Dia langsung berdiri.
“Kakak mau pergi ke mana sekarang?” tanyanya pada Ama.
“Tidak kemana-mana…” jawab Ama.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kakak mengantarkan saya ke halte depan UIN karena saya mau naik motor numpang temen, jadi motor saya kakak bawa kembali hehehe…” kata Ica semangat dan penuh harap.
“Baiklah dengan senang hati…” Jawab Ama dengan wajah polosnya.
Aku hanya diam, panas kembali naik diubun-ubun.
Mereka pergi. Aku kembali tiduran dengan selimut coklat di pojok kotsan. Beberapa menit kemudian Ama datang. Tanpa berkata-kata dia mengambil uang dari tasnya dan kembali pergi… aku kembali bengong, diam dipojokkan.
Tak lama kemudian, Ama kembali membawa bungkusan kantong kresek hitam.
“Neng Inaaaa…coba tebak! Saya bawa apa?”
“Nggak tahu…bubur?” Sub Conciusku menjawab rasa lapar. Mengharap nasi atau sejenisnya yang dibawa.
“Bukan…tapi….” Jawabnya tertahan sambil membuka bungkusan.
“Trendeeennnng…Rujak beubeuk!” Dengan ekspresi bahagia dan terpesona melihat rujk yang dibawanya.
$%^&^%&*(….
“Aha…lagi…rujak lagi….keren!” jawabku senang juga. Walau lapar tapi aku memang suka rujak. Hehehe…
“Mari kita makan!” Ajaknya.
“Ayo!” kataku sambil bangkit dari tidurku.
Aku tak bisa menghabiskan rujaknya. Tapi Ama mau menghabiskannya… waah dia banyak sekali makan rujak hari ini. Kami berbincang-bincang dengan bahasa sunda. Bahasa kebanggan kami sebagai orang sunda terutama orang Sumedang. Hehehe (rasis) ^^
Tak lama kemudian, sahabatku Ica datang dengan langkah yang tak asing di telingaku. Tergesa-gesa dan seperti sedang menggususr sesuatu di kakinya.
“Asslamau’alaikuuuummmm….hari ini seneng banget! Dream mapping terkabul” cerocosnya, belum sempat kami jawab salamnya karena lidah masih kepedesan.
“Wa’alaikum salam…oh ya, apa tuuuhhh” tanya Ama.
Ica memperlihatkan bawaannya. Sebuah Helm baru berwarna pink dan juga sebuah tas merk Toko HP.
“Gue akhirnya bisa beli hape kamera..hihihi”
“Wow senangnya…Selamat yaaa…” kata Ama.
“Lho…kok itu beli helm pink? Bukannya lu nggak suka warna pink?” tanyaku.
“Ini bukan punya gue, ini titipan Resty”
“Owh…” jawabku sambil minum air.
“Lihat nih, gue beli hape kamera hahahaha…” katanya pamer lagi.
“Liat doonk…” pintaku dan Ama barengan.
Ica membuka hape yang baru dibelinya. Merknya yang sekarang lagi gencar-gencarnya promosi dan harganya lumayan terjangkau.
“Tahu nggak kenapa gue beli hape kamera?” Tanya Ica.
“Nggak….kenapa ca?” tanyaku.
“ Dari bulan kemaren gue bilang dalam hatri gue, pokoknya nanti Januari 2011 gue bakal beli hape kamera buat nyimpen fotonya Davit Villa… bla-bla-bla..”
Aku dan Ama tertawa terbahak-bahak. Apalagi ketika mengetahui motif dia membeli hape kamera. Mendengarkan ceritanya membuat perutku sakit karena banyak tertawa. Ica bercerita bagaimana dia menanyakan pada si penjual hape mengenai hape yang ingin dibelinya.
“Bang…ada hape kamera nggak?” tanya Ica.
“Ada neng, mau yang berapa? “tanya tukang dagang sambil mengeluarkan semua hape kamera.
“Emang adanya yang berapa, Bang?”
“ Nih, dari mulai yang tiga ratus rebu, sampe yang jutaan ada neng…” jawab abang tukang Hape memamerkan dagangannya.
“ Yang lima ratus rebu dah bang?!” kata Ica.
“Nih…yang lima ratus banyak, neng.” Kata si abang sambil menunjukkan hape kamera dengan harga lima ratus rebuan.
“ Ooh…banyak juga ya, bang!” kata Ica polos sambil melihat satu persatu.
“Ya iya neg, sekarang mah tukang becak, tukang sampah juga hapenya kamera dan querty lho…”
“Apaan tuh querty?” tanya Ica lagi polos, maklum dia memang mengaku gaptek.
“Nih, yang lagi dipegang ma neng tuh, yang kayak BB, namanya querty”
“Sorry , bang. Saya emang gaptek kalau soal ginian…yang penting saya beli hape kamera buat nyimpen foto David Villa hehehe” kata Ica sambil melihat-lihat hape yang lainnya.
“Hehe..neng ini suka benget bola ya?”
“Ya, iya bang. Apalagi Barcelona…beuh…” Jawab Ica penuh ekspresi.
“ Ooh…”
“Bang, ayo bang bilang ke saya nih hape satu-satu apa kelebihan dan kekurangannya?!”
“Wah neng banyak banget kelebihannya neng.” Jawab Si Abang.
“Satu-satu bang hehe…:”
“Wah panjang nih urusannya. Saya harus nerangin satu-satu” Jawab si Abang dengan sabar.
“Iya, hehe…”
Akhirnya dengan sabar si abang menerangkan spesifikasi hape satu-satu, khusus hape kamera harga tiga ratus rebu sampai lima ratus rebu ke atas.
***
Kami masih terkekeh dengan cerita Ica. Kok ada ya makhluk innocent kayak dia, gumamku.
“Tung, sorry gue lupa mau beli makan buat lu. Lu mau apa sekarang gue beli” kata Ica menawarkan beli makan.
“Bubur depan kampus aja dah,” jawabku. Padahal tadi aku sudah sms agar beli bubur. Tapi ternyata sms-nya baru sampai ketika dia sampai di kotsanku.
“Ama mau makan juga?” tanyaku pada Ama yang tengah sibuk menyolokkan hape Ica untuk dicharger.
“Boleh” jawabnya.
“Baiklah…Ca, bubur dua ya…”
“Okey…tapi, kak jangan lupa ya...itu hape ica settingin Facebooknya biar bisa nyimpen foto Davit Villa” kata Ica sambil memakai sendalnya.
"Iya..." jawab Ama.
Ica pergi. Aku kembali terbaring, tubuhku yang tadinya segar karena tertawa dan lupa kalau sedang sakit kini kembali panas. Seperti janji Ama tadi malam, dia akan membacakan surah Yasin untukku. Akhirnya sesi itu diisi dengan pembacaan surah Yasin. Aku mendengarkan dengan penuh ketenangan dan berdoa dalam hati agar sakitku tidak lama.
Selesai membacakan surah Yasin, Ica datang dengan buburnya. Saya langsung makan bersama Ama. Dengan Riang gembira, Ica mengangkat satu kresek hitam lagi. Apa itu ca? tanyaku dalam hati.
“Surprise! Ica bawa apa cobaaa?” tanyanya bahagia.
“Apaaa?” tanya kami serempak.
“Rujak Halte*!”
"Sepertinya hari ini saya banyak makan buah-buahan..." kata Ama polos.
@#$%^&()O(* …..GUBRAK!
*Rujak Halte: Rukjak petis yang dijual di depan halte kampus UIN (terkenal dengan penjualnya yang tidak pernah senyum)
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
RUJAK TIGA RONDE DAN HAPE KAMERA
Sudah tiga hari aku tidak enak badan. Gejalanya panas tinggi, sakit kepala yang luar biasa, mual, dan nafsu makan berkurang. Namun, ada kalanya keluar keringat dingin dan tubuh terasa segar kembali, namun beberapa jam kemudian gejala kembali lagi. Akhirnya aku merengek pada kakak kelasku. Dia menganjurkan agar aku ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Namun, aku masih tetap bersikukuh bahwa aku akan kembali sehat sebentar lagi.
Hingga puncaknya adalah hari sabtu, 15 januari. Sejak pagi aku menggigil dan badanku panas tinggi. Kawan-kawanku banyak yang sms menanyakan keadaanku. Maklum jika mereka khawatir, aku kan ngekots sendirian..^^ Sebelum ku putusakan ke RS, ku telpon temanku yang berprofesi sebagai perawat di RS UIN (Rumah Sakit anak-anak UIN) hehe... Namanya Mas Agus (biasa aku panggil). Aku ceritakan semua keadaanku, dia menyarankan agar aku segera masuk UGD. Hal tersebut disinyalir kemungkinan aku terkena gejala typus atau DBD. Oh tidaaak....namun beliau juga menyarankan untuk melihat perkembanganku sampai magrib. Jika magrib masih panas, maka mau tidak mau aku harus benar-benar dibawa ke UGD.
Dzuhur Ama datang. Ia terlihat kelimis terkena hujan. Sepertinya ia membelikanku bubur karna tadi Kak Amel menelpon bahwa dia menyuruh adiknya itu membeli bubur untukku.
“Neng Ina…dedeng…saya bawa sesuatu” dengan gayanya yang khas.
“Apa? Bubur?” tanyaku datar.
“Bukan…”
“Lalu?”
“Aha! RUJAK!” dengan wajah bahagia dia mengeluarkan bungkusan rujak dari kresek hitam.
Aku melonjak kaget sekaligus senang. Walaupun hujan dan belum makan dari pagi, tapi ini makanan emang yang diinginkan dari kemarin.
“Oh..ya, senangnya.”
“Tentu…mari kita merujak ria”
“Baiklah…mari kita makan dengan riang gembira.” Jawabku senang.
Kami makan rujak dengan riang, rasa sakitku hilang tak terasa…keringat keluar. Tiba-tiba datang sahabatku Ica si penggila bola.
“Haha…Lintuuuung…lu sakit apa??? Ayo ke rumah sakit!” Cerocosnya ketika sampai di depan pintu kotsan. Sontak kami menengok.
“Iya, ntar…” jawabku.
“Lu sms aneh dah, masa ke rumah sakit nunggu perkembangan? Maksudnya apa?” katanya sambil duduk di antara kami.
Aku hanya tertawa, melihat wajahnya membuat saya senang dengan sahabat saya yang satu ini. Wajahnya yang innocen dan ceplas-ceplos bila berkata-kata membuat saya tertawa setiap kali melihatnya. Kami pun mengobrol ria, kami menceritakan pengalaman selama di pondok pesantren.
Sms terdengar masuk ke nomor esia Ica. Dia langsung berdiri.
“Kakak mau pergi ke mana sekarang?” tanyanya pada Ama.
“Tidak kemana-mana…” jawab Ama.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kakak mengantarkan saya ke halte depan UIN karena saya mau naik motor numpang temen, jadi motor saya kakak bawa kembali hehehe…” kata Ica semangat dan penuh harap.
“Baiklah dengan senang hati…” Jawab Ama dengan wajah polosnya.
Aku hanya diam, panas kembali naik diubun-ubun.
Mereka pergi. Aku kembali tiduran dengan selimut coklat di pojok kotsan. Beberapa menit kemudian Ama datang. Tanpa berkata-kata dia mengambil uang dari tasnya dan kembali pergi… aku kembali bengong.
Tak lama kemudian, Ama kembali membawa bungkusan kantong kresek hitam.
“Neng Inaaaa…coba tebak! Saya bawa apa?”
“Nggak tahu…bubur?” Sub Conciusku menjawab rasa lapar. Mengharap nasi atau sejenisnya yang dibawa.
“Bukan…tapi….” Jawabnya tertahan sambil membuka bungkusan.
“Trendeeennnng…Rujak beubeuk!” Dengan ekspresi bahagia dan terpesona melihat rujk yang dibawanya.
$%^&^%&*(….
“Aha…lagi…rujak lagi….keren!” jawabku senang juga. Walau lapar tapi aku memang suka rujak. Hehehe…
“Mari kita makan!” Ajaknya.
“Ayo!” kataku sambil bangkit dari tidurku.
Aku tak bisa menghabiskan rujaknya. Tapi Ama mau menghabiskannya… waah dia banyak sekali makan rujak hari ini. Kami berbincang-bincang dengan bahasa sunda. Bahasa kebanggan kami sebagai orang sunda terutama orang Sumedang. Hehehe (rasis) ^^
Tak lama kemudian, sahabatku Ica datang dengan langkah yang tak asing ditelingaku. Tergesa-gesa dan seperti sedang menggususr sesuatu di kakinya.
“Asslamau’alaikuuuummmm….hari ini seneng banget! Dream mapping terkabul” cerocosnya, belum sempat kami jawab salamnya karena lidah masih kepedesan.
“Wa’alaikum salam…oh ya, apa tuuuhhh” tanya Ama.
Ica memperlihatkan bawaannya. Sebuah Helm baru berwarna pink dan juga sebuah tas merk Toko HP.
“Gue akhirnya bisa beli hape kamera..hihihi”
“Wow senangnya…Selamat yaaa…” kata Ama.
“Lho…kok itu beli helm pink? Bukannya lu nggak suka warna pink?” tanyaku.
“Ini bukan punya gue, ini titipan Resty”
“Owh…” jawabku sambil minum air.
“Lihat nih, gue beli hape kamera hahahaha…” katanya pamer lagi.
“Liat doonk…” pintaku dan Ama barengan.
Ica membuka hape yang baru dibelinya. Merknya yang sekarang lagi gencar-gencarnya promosi dan harganya lumayan terjangkau.
“Tahu nggak kenapa gue beli hape kamera?” Tanya Ica.
“Nggak….kenapa ca?” tanyaku.
“ Dari bulan kemaren gue bilang dalam hatri gue, pokoknya nanti Januari 2011 gue bakal beli hape kamera buat nyimpen fotonya Davit Villa… bla-bla-bla..”
Aku dan Ama tertawa terbahak-bahak. Mendengarkan ceritanya membuat perutku sakit karena banyak tertawa. Ica bercerita bagaimana dia menanyakan pada si penjual hape mengenai hape yang ingin dibelinya.
“Bang…ada hape kamera nggak?” tanya Ica.
“Ada neng, mau yang berapa? “tanya tukang dagang sambil mengeluarkan semua hape kamera.
“Emang adanya yang berapa, Bang?”
“ Nih, dari mulai yang tiga ratus rebu, sampe yang jutaan ada neng…” jawab abang tukang Hape memamerkan dagangannya.
“ Yang lima ratus rebu dah bang?!” kata Ica.
“Nih…yang lima ratus banyak, neng.” Kata si abang sambil menunjukkan hape kamera dengan harga lima ratus rebuan.
“ Ooh…banyak juga ya, bang!” kata Ica polos sambil melihat satu persatu.
“Ya iya neg, sekarang mah tukang becak, tukang sampah juga hapenya kamera dan querty lho…”
“Apaan tuh querty?” tanya Ica lagi polos, maklum dia memang mengaku gaptek.
“Nih, yang lagi dipegang ma neng tuh, yang kayak BB, namanya querty”
“Sorry , bang. Saya emang gaptek kalau soal ginian…yang penting saya beli hape kamera buat nyimpen foto David Villa hehehe” kata Ica sambil melihat-lihat hape yang lainnya.
“Hehe..neng ini suka benget bola ya?”
“Ya, iya bang. Apalagi Barcelona…beuh…” Jawab Ica penuh ekspresi.
“ Ooh…”
“Bang, ayo bang bilang ke saya nih hape satu-satu apa kelebihan dan kekurangannya?!”
“Wah neng banyak banget kelebihannya neng.” Jawab Si Abang.
“Satu-satu bang hehe…:”
“Wah panjang nih urusannya. Saya harus nerangin satu-satu” Jawab si Abang dengan sabar.
“Iya, hehe…”
Akhirnya dengan sabar si abang menerangkan spesifikasi hape satu-satu, khusus hape kamera harga tiga ratus rebu sampai lima ratus rebu ke atas.
***
Kami masih terkekeh dengan cerita Ica. Kok ada ya makhluk innocent kayak dia, gumamku.
“Tung, sorry gue lupa mau beli makan buat lu. Lu mau apa sekarang gue beli” kata Ica menawarkan beli makan.
“Bubur depan kampus aja dah,” jawabku. Padahal tadi aku sudah sms agar beli bubur. Tapi ternyata sms-nya baru sampai ketika dia sampai di kotsanku.
“Ama mau makan juga?” tanyaku pada Ama yang tengah sibuk menyolokkan hape Ica untuk dicharger.
“Boleh” jawabnya.
“Baiklah…Ca, bubur dua ya…”
“Okey…tapi, kak jangan lupa ya...itu hape ica settingin Facebooknya biar bisa nyimpen foto Davit Villa” kata Ica sambil memakai sendalnya.
"Iya..." jawab Ama.
Ica pergi. Aku kembali terbaring, tubuhku yang tadinya segar karena tertawa dan lupa kalau sedang sakit kini kembali panas. Seperti janji Ama tadi malam, dia akan membacakan surah Yasin untukku. Akhirnya sesi itu diisi dengan pembacaan surah Yasin. Aku mendengarkan dengan penuh ketenangan dan berdoa dalam hati agar sakitku tidak lama.
Selesai membacaklan surah Yasin, Ica datang dengan buburnya. Saya langsung makan bersama Ama. Dengan Riang gembira, Ica mengangkat satu kresek hitam lagi. Apa itu ca? tanyaku dalam hati.
“Surprise! Ica bawa apa cobaaa?” tanyanya bahagia.
“Apaaa?” tanya kami serempak.
“Rujak Halte!”
"Sepertinya hari ini saya banyak makan buah-buahan..." kata Ama.
@#$%^&()O(* …..GUBRAK!
Hingga puncaknya adalah hari sabtu, 15 januari. Sejak pagi aku menggigil dan badanku panas tinggi. Kawan-kawanku banyak yang sms menanyakan keadaanku. Maklum jika mereka khawatir, aku kan ngekots sendirian..^^ Sebelum ku putusakan ke RS, ku telpon temanku yang berprofesi sebagai perawat di RS UIN (Rumah Sakit anak-anak UIN) hehe... Namanya Mas Agus (biasa aku panggil). Aku ceritakan semua keadaanku, dia menyarankan agar aku segera masuk UGD. Hal tersebut disinyalir kemungkinan aku terkena gejala typus atau DBD. Oh tidaaak....namun beliau juga menyarankan untuk melihat perkembanganku sampai magrib. Jika magrib masih panas, maka mau tidak mau aku harus benar-benar dibawa ke UGD.
Dzuhur Ama datang. Ia terlihat kelimis terkena hujan. Sepertinya ia membelikanku bubur karna tadi Kak Amel menelpon bahwa dia menyuruh adiknya itu membeli bubur untukku.
“Neng Ina…dedeng…saya bawa sesuatu” dengan gayanya yang khas.
“Apa? Bubur?” tanyaku datar.
“Bukan…”
“Lalu?”
“Aha! RUJAK!” dengan wajah bahagia dia mengeluarkan bungkusan rujak dari kresek hitam.
Aku melonjak kaget sekaligus senang. Walaupun hujan dan belum makan dari pagi, tapi ini makanan emang yang diinginkan dari kemarin.
“Oh..ya, senangnya.”
“Tentu…mari kita merujak ria”
“Baiklah…mari kita makan dengan riang gembira.” Jawabku senang.
Kami makan rujak dengan riang, rasa sakitku hilang tak terasa…keringat keluar. Tiba-tiba datang sahabatku Ica si penggila bola.
“Haha…Lintuuuung…lu sakit apa??? Ayo ke rumah sakit!” Cerocosnya ketika sampai di depan pintu kotsan. Sontak kami menengok.
“Iya, ntar…” jawabku.
“Lu sms aneh dah, masa ke rumah sakit nunggu perkembangan? Maksudnya apa?” katanya sambil duduk di antara kami.
Aku hanya tertawa, melihat wajahnya membuat saya senang dengan sahabat saya yang satu ini. Wajahnya yang innocen dan ceplas-ceplos bila berkata-kata membuat saya tertawa setiap kali melihatnya. Kami pun mengobrol ria, kami menceritakan pengalaman selama di pondok pesantren.
Sms terdengar masuk ke nomor esia Ica. Dia langsung berdiri.
“Kakak mau pergi ke mana sekarang?” tanyanya pada Ama.
“Tidak kemana-mana…” jawab Ama.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kakak mengantarkan saya ke halte depan UIN karena saya mau naik motor numpang temen, jadi motor saya kakak bawa kembali hehehe…” kata Ica semangat dan penuh harap.
“Baiklah dengan senang hati…” Jawab Ama dengan wajah polosnya.
Aku hanya diam, panas kembali naik diubun-ubun.
Mereka pergi. Aku kembali tiduran dengan selimut coklat di pojok kotsan. Beberapa menit kemudian Ama datang. Tanpa berkata-kata dia mengambil uang dari tasnya dan kembali pergi… aku kembali bengong.
Tak lama kemudian, Ama kembali membawa bungkusan kantong kresek hitam.
“Neng Inaaaa…coba tebak! Saya bawa apa?”
“Nggak tahu…bubur?” Sub Conciusku menjawab rasa lapar. Mengharap nasi atau sejenisnya yang dibawa.
“Bukan…tapi….” Jawabnya tertahan sambil membuka bungkusan.
“Trendeeennnng…Rujak beubeuk!” Dengan ekspresi bahagia dan terpesona melihat rujk yang dibawanya.
$%^&^%&*(….
“Aha…lagi…rujak lagi….keren!” jawabku senang juga. Walau lapar tapi aku memang suka rujak. Hehehe…
“Mari kita makan!” Ajaknya.
“Ayo!” kataku sambil bangkit dari tidurku.
Aku tak bisa menghabiskan rujaknya. Tapi Ama mau menghabiskannya… waah dia banyak sekali makan rujak hari ini. Kami berbincang-bincang dengan bahasa sunda. Bahasa kebanggan kami sebagai orang sunda terutama orang Sumedang. Hehehe (rasis) ^^
Tak lama kemudian, sahabatku Ica datang dengan langkah yang tak asing ditelingaku. Tergesa-gesa dan seperti sedang menggususr sesuatu di kakinya.
“Asslamau’alaikuuuummmm….hari ini seneng banget! Dream mapping terkabul” cerocosnya, belum sempat kami jawab salamnya karena lidah masih kepedesan.
“Wa’alaikum salam…oh ya, apa tuuuhhh” tanya Ama.
Ica memperlihatkan bawaannya. Sebuah Helm baru berwarna pink dan juga sebuah tas merk Toko HP.
“Gue akhirnya bisa beli hape kamera..hihihi”
“Wow senangnya…Selamat yaaa…” kata Ama.
“Lho…kok itu beli helm pink? Bukannya lu nggak suka warna pink?” tanyaku.
“Ini bukan punya gue, ini titipan Resty”
“Owh…” jawabku sambil minum air.
“Lihat nih, gue beli hape kamera hahahaha…” katanya pamer lagi.
“Liat doonk…” pintaku dan Ama barengan.
Ica membuka hape yang baru dibelinya. Merknya yang sekarang lagi gencar-gencarnya promosi dan harganya lumayan terjangkau.
“Tahu nggak kenapa gue beli hape kamera?” Tanya Ica.
“Nggak….kenapa ca?” tanyaku.
“ Dari bulan kemaren gue bilang dalam hatri gue, pokoknya nanti Januari 2011 gue bakal beli hape kamera buat nyimpen fotonya Davit Villa… bla-bla-bla..”
Aku dan Ama tertawa terbahak-bahak. Mendengarkan ceritanya membuat perutku sakit karena banyak tertawa. Ica bercerita bagaimana dia menanyakan pada si penjual hape mengenai hape yang ingin dibelinya.
“Bang…ada hape kamera nggak?” tanya Ica.
“Ada neng, mau yang berapa? “tanya tukang dagang sambil mengeluarkan semua hape kamera.
“Emang adanya yang berapa, Bang?”
“ Nih, dari mulai yang tiga ratus rebu, sampe yang jutaan ada neng…” jawab abang tukang Hape memamerkan dagangannya.
“ Yang lima ratus rebu dah bang?!” kata Ica.
“Nih…yang lima ratus banyak, neng.” Kata si abang sambil menunjukkan hape kamera dengan harga lima ratus rebuan.
“ Ooh…banyak juga ya, bang!” kata Ica polos sambil melihat satu persatu.
“Ya iya neg, sekarang mah tukang becak, tukang sampah juga hapenya kamera dan querty lho…”
“Apaan tuh querty?” tanya Ica lagi polos, maklum dia memang mengaku gaptek.
“Nih, yang lagi dipegang ma neng tuh, yang kayak BB, namanya querty”
“Sorry , bang. Saya emang gaptek kalau soal ginian…yang penting saya beli hape kamera buat nyimpen foto David Villa hehehe” kata Ica sambil melihat-lihat hape yang lainnya.
“Hehe..neng ini suka benget bola ya?”
“Ya, iya bang. Apalagi Barcelona…beuh…” Jawab Ica penuh ekspresi.
“ Ooh…”
“Bang, ayo bang bilang ke saya nih hape satu-satu apa kelebihan dan kekurangannya?!”
“Wah neng banyak banget kelebihannya neng.” Jawab Si Abang.
“Satu-satu bang hehe…:”
“Wah panjang nih urusannya. Saya harus nerangin satu-satu” Jawab si Abang dengan sabar.
“Iya, hehe…”
Akhirnya dengan sabar si abang menerangkan spesifikasi hape satu-satu, khusus hape kamera harga tiga ratus rebu sampai lima ratus rebu ke atas.
***
Kami masih terkekeh dengan cerita Ica. Kok ada ya makhluk innocent kayak dia, gumamku.
“Tung, sorry gue lupa mau beli makan buat lu. Lu mau apa sekarang gue beli” kata Ica menawarkan beli makan.
“Bubur depan kampus aja dah,” jawabku. Padahal tadi aku sudah sms agar beli bubur. Tapi ternyata sms-nya baru sampai ketika dia sampai di kotsanku.
“Ama mau makan juga?” tanyaku pada Ama yang tengah sibuk menyolokkan hape Ica untuk dicharger.
“Boleh” jawabnya.
“Baiklah…Ca, bubur dua ya…”
“Okey…tapi, kak jangan lupa ya...itu hape ica settingin Facebooknya biar bisa nyimpen foto Davit Villa” kata Ica sambil memakai sendalnya.
"Iya..." jawab Ama.
Ica pergi. Aku kembali terbaring, tubuhku yang tadinya segar karena tertawa dan lupa kalau sedang sakit kini kembali panas. Seperti janji Ama tadi malam, dia akan membacakan surah Yasin untukku. Akhirnya sesi itu diisi dengan pembacaan surah Yasin. Aku mendengarkan dengan penuh ketenangan dan berdoa dalam hati agar sakitku tidak lama.
Selesai membacaklan surah Yasin, Ica datang dengan buburnya. Saya langsung makan bersama Ama. Dengan Riang gembira, Ica mengangkat satu kresek hitam lagi. Apa itu ca? tanyaku dalam hati.
“Surprise! Ica bawa apa cobaaa?” tanyanya bahagia.
“Apaaa?” tanya kami serempak.
“Rujak Halte!”
"Sepertinya hari ini saya banyak makan buah-buahan..." kata Ama.
@#$%^&()O(* …..GUBRAK!
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Jumat, 07 Januari 2011
Garut-Jakarta Bagian ke-2
Kita bersambung lagi... Aku duduk di kursi bis yang dekat kaca. Posisi favoroitku jika naik bis, karena di sanalah aku bisa berimajinasi dan dapat ide-ide baru. Dinginnya AC bis langsung menusuk tulang dan ototku. Segera kupakai sweeter kesayanganku. Sepertinya bis belum juga beranjak pergi, dari pada BT ku pakai headset untuk mendengarkan radio dari HP-ku. Selain itu kubuka buku untuk ku baca, maklum tuh buku sudah ditargetkan untuk habis pada hari itu. hehehe...sok rajin^^
Seorang wanita duduk di sampingku. Di bangku sebelahnya ada seorang laki-laki yang tadi datang bersamanya, mungkin itu kakak atau pacarnya yang mengantar. Terlihat laki-laki itu mengajak si wanita bicara, namun anehnya wanita itu tidak sedikitpun menoleh ke arah laki-laki itu, pandangannya terus ke depan. Sebenarnya ada rasa penasaran dalam hatiku, dan jiwa sok analisisku muncul, namun sema ku putuskan tuk tak ambil pusing toh itu bukan urusanku. Aku mebali menikmati musik di radio sambil membaca buku.
Suara pengumuman bahwa bis akan segera berangkat dikumandangkan...ups kayak adzan aja! Ku lihat laki-laki yang sedari tadi duduk dan mengajak bicara si wanita pun beranjak pergi dan sebentar sebelum pergi memegang bahu si wanita. Dia pergi dengan wajah yang menekuk, seperti ada kesedihan yang mendalam. Aku sendiri tidak berani menengok ke arah si wanita.
Aku berusaha konsentrasi dengan bacaanku. Namun, suara isak tangis di sampingku membuatku mau tak mau menengok ke arah asal suara. Aku melihat wanita itu menangis tersedu-sedu. Bahkan bukan hanya aku, beberapa penumpang yang tadi di luar dan baru kembali masuk pun terheran-heran melihatnya.
Ingin rasanya aku bertanya, namun kuurungkan. Aku tahu ini sangat sensitif. Pikiranku hanya menduga-duga; nih cewek pasti sedih karena harus meninggalkan ke kasihnya, atau nih cewek pergi karena cowoknya selingkuh makannya dia nggak mau ngedengerin dia, bla bla bla...
Bis terus beranjak meninggalkan Jakarta. Mataku mulai lelah dan menghentiukan bacaaanku, namun anehnya tidak bisa juga ku pejamkan. Semua pekerjaan yang ku tinggalkan di Jakarta membanjiri otakku. Selain itu, terbayang juga bagaimana esok aku akan bertemu dengan teman-teman satu pondok dan juga bertemu teman-teman SMP dan SMA-ku. Bahagianya namun terasa perih, karena 6 tahun bukan waktu yang sebentar bagiku, namun aku belum jadi apa pun.
Pikiranku terus melayang diiringi lagu Letto "Sebelum Cahaya"
Ingatkah engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkah engkau kepada
angin yang berhembus mesra
dan kan memanggilmu cinta
Seorang wanita duduk di sampingku. Di bangku sebelahnya ada seorang laki-laki yang tadi datang bersamanya, mungkin itu kakak atau pacarnya yang mengantar. Terlihat laki-laki itu mengajak si wanita bicara, namun anehnya wanita itu tidak sedikitpun menoleh ke arah laki-laki itu, pandangannya terus ke depan. Sebenarnya ada rasa penasaran dalam hatiku, dan jiwa sok analisisku muncul, namun sema ku putuskan tuk tak ambil pusing toh itu bukan urusanku. Aku mebali menikmati musik di radio sambil membaca buku.
Suara pengumuman bahwa bis akan segera berangkat dikumandangkan...ups kayak adzan aja! Ku lihat laki-laki yang sedari tadi duduk dan mengajak bicara si wanita pun beranjak pergi dan sebentar sebelum pergi memegang bahu si wanita. Dia pergi dengan wajah yang menekuk, seperti ada kesedihan yang mendalam. Aku sendiri tidak berani menengok ke arah si wanita.
Aku berusaha konsentrasi dengan bacaanku. Namun, suara isak tangis di sampingku membuatku mau tak mau menengok ke arah asal suara. Aku melihat wanita itu menangis tersedu-sedu. Bahkan bukan hanya aku, beberapa penumpang yang tadi di luar dan baru kembali masuk pun terheran-heran melihatnya.
Ingin rasanya aku bertanya, namun kuurungkan. Aku tahu ini sangat sensitif. Pikiranku hanya menduga-duga; nih cewek pasti sedih karena harus meninggalkan ke kasihnya, atau nih cewek pergi karena cowoknya selingkuh makannya dia nggak mau ngedengerin dia, bla bla bla...
Bis terus beranjak meninggalkan Jakarta. Mataku mulai lelah dan menghentiukan bacaaanku, namun anehnya tidak bisa juga ku pejamkan. Semua pekerjaan yang ku tinggalkan di Jakarta membanjiri otakku. Selain itu, terbayang juga bagaimana esok aku akan bertemu dengan teman-teman satu pondok dan juga bertemu teman-teman SMP dan SMA-ku. Bahagianya namun terasa perih, karena 6 tahun bukan waktu yang sebentar bagiku, namun aku belum jadi apa pun.
Pikiranku terus melayang diiringi lagu Letto "Sebelum Cahaya"
Ingatkah engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkah engkau kepada
angin yang berhembus mesra
dan kan memanggilmu cinta
Lulusan S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswa Sekolah Ilmu Komunikasi Plus Kahfi Bintaro.member FLP Cab. Ciputat. Pernah aktif di kepengurusan FLP Wilayah Jakarta Raya. Penulis Freelance, Bisnis women
Langganan:
Komentar (Atom)