Jumat, 07 Januari 2011

Garut-Jakarta Bagian ke-2

Kita bersambung lagi... Aku duduk di kursi bis yang dekat kaca. Posisi favoroitku jika naik bis, karena di sanalah aku bisa berimajinasi dan dapat ide-ide baru. Dinginnya AC bis langsung menusuk tulang dan ototku. Segera kupakai sweeter kesayanganku. Sepertinya bis belum juga beranjak pergi, dari pada BT ku pakai headset untuk mendengarkan radio dari HP-ku. Selain itu kubuka buku untuk ku baca, maklum tuh buku sudah ditargetkan untuk habis pada hari itu. hehehe...sok rajin^^

Seorang wanita duduk di sampingku. Di bangku sebelahnya ada seorang laki-laki yang tadi datang bersamanya, mungkin itu kakak atau pacarnya yang mengantar. Terlihat laki-laki itu mengajak si wanita bicara, namun anehnya wanita itu tidak sedikitpun menoleh ke arah laki-laki itu, pandangannya terus ke depan. Sebenarnya ada rasa penasaran dalam hatiku, dan jiwa sok analisisku muncul, namun sema ku putuskan tuk tak ambil pusing toh itu bukan urusanku. Aku mebali menikmati musik di radio sambil membaca buku.

Suara pengumuman bahwa bis akan segera berangkat dikumandangkan...ups kayak adzan aja! Ku lihat laki-laki yang sedari tadi duduk dan mengajak bicara si wanita pun beranjak pergi dan sebentar sebelum pergi memegang bahu si wanita. Dia pergi dengan wajah yang menekuk, seperti ada kesedihan yang mendalam. Aku sendiri tidak berani menengok ke arah si wanita.

Aku berusaha konsentrasi dengan bacaanku. Namun, suara isak tangis di sampingku membuatku mau tak mau menengok ke arah asal suara. Aku melihat wanita itu menangis tersedu-sedu. Bahkan bukan hanya aku, beberapa penumpang yang tadi di luar dan baru kembali masuk pun terheran-heran melihatnya.

Ingin rasanya aku bertanya, namun kuurungkan. Aku tahu ini sangat sensitif. Pikiranku hanya menduga-duga; nih cewek pasti sedih karena harus meninggalkan ke kasihnya, atau nih cewek pergi karena cowoknya selingkuh makannya dia nggak mau ngedengerin dia, bla bla bla...

Bis terus beranjak meninggalkan Jakarta. Mataku mulai lelah dan menghentiukan bacaaanku, namun anehnya tidak bisa juga ku pejamkan. Semua pekerjaan yang ku tinggalkan di Jakarta membanjiri otakku. Selain itu, terbayang juga bagaimana esok aku akan bertemu dengan teman-teman satu pondok dan juga bertemu teman-teman SMP dan SMA-ku. Bahagianya namun terasa perih, karena 6 tahun bukan waktu yang sebentar bagiku, namun aku belum jadi apa pun.

Pikiranku terus melayang diiringi lagu Letto "Sebelum Cahaya"
Ingatkah engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkah engkau kepada
angin yang berhembus mesra
dan kan memanggilmu cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar