Selasa, 25 Januari 2011

RUJAK TIGA RONDE DAN HAPE KAMERA

Sudah tiga hari aku tidak enak badan. Gejalanya panas tinggi, sakit kepala yang luar biasa, mual, dan nafsu makan berkurang. Namun, ada kalanya keluar keringat dingin dan tubuh terasa segar kembali, namun beberapa jam kemudian gejala kembali lagi. Akhirnya aku merengek pada kakak kelasku. Dia menganjurkan agar aku ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Namun, aku masih tetap bersikukuh bahwa aku akan kembali sehat sebentar lagi.

Hingga puncaknya adalah hari sabtu, 15 januari. Sejak pagi aku menggigil dan badanku panas tinggi. Kawan-kawanku banyak yang sms menanyakan keadaanku. Maklum jika mereka khawatir, aku kan ngekots sendirian..^^ Sebelum ku putusakan ke RS, ku telpon temanku yang berprofesi sebagai perawat di RS UIN (Rumah Sakit anak-anak UIN) hehe... Namanya Mas Agus (biasa aku panggil). Aku ceritakan semua keadaanku, dia menyarankan agar aku segera masuk UGD. Hal tersebut disinyalir kemungkinan aku terkena gejala typus atau DBD. Oh tidaaak....namun beliau juga menyarankan untuk melihat perkembanganku sampai magrib. Jika magrib masih panas, maka mau tidak mau aku harus benar-benar dibawa ke UGD.
Dzuhur Ama datang. Ia terlihat kelimis terkena hujan. Sepertinya ia membelikanku bubur karna tadi Kak Amel menelpon bahwa dia menyuruh adiknya itu membeli bubur untukku.

“Neng Ina…dedeng…saya bawa sesuatu” dengan gayanya yang khas.
“Apa? Bubur?” tanyaku datar.
“Bukan…”
“Lalu?”
“Aha! RUJAK!” dengan wajah bahagia dia mengeluarkan bungkusan rujak dari kresek hitam.
Aku melonjak kaget sekaligus senang. Walaupun hujan dan belum makan dari pagi, tapi ini makanan emang yang diinginkan dari kemarin.
“Oh..ya, senangnya.”
“Tentu…mari kita merujak ria”
“Baiklah…mari kita makan dengan riang gembira.” Jawabku senang.
Kami makan rujak dengan riang, rasa sakitku hilang tak terasa…keringat keluar. Tiba-tiba datang sahabatku Ica si penggila bola.
“Haha…Lintuuuung…lu sakit apa??? Ayo ke rumah sakit!” Cerocosnya ketika sampai di depan pintu kotsan. Sontak kami menengok.
“Iya, ntar…” jawabku.
“Lu sms aneh dah, masa ke rumah sakit nunggu perkembangan? Maksudnya apa?” katanya sambil duduk di antara kami.

Aku hanya tertawa, melihat wajahnya membuat saya senang dengan sahabat saya yang satu ini. Wajahnya yang innocen dan ceplas-ceplos bila berkata-kata membuat saya tertawa setiap kali melihatnya. Kami pun mengobrol ria, kami menceritakan pengalaman selama di pondok pesantren.
Sms terdengar masuk ke nomor esia Ica. Dia langsung berdiri.

“Kakak mau pergi ke mana sekarang?” tanyanya pada Ama.
“Tidak kemana-mana…” jawab Ama.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kakak mengantarkan saya ke halte depan UIN karena saya mau naik motor numpang temen, jadi motor saya kakak bawa kembali hehehe…” kata Ica semangat dan penuh harap.
“Baiklah dengan senang hati…” Jawab Ama dengan wajah polosnya.

Aku hanya diam, panas kembali naik diubun-ubun.
Mereka pergi. Aku kembali tiduran dengan selimut coklat di pojok kotsan. Beberapa menit kemudian Ama datang. Tanpa berkata-kata dia mengambil uang dari tasnya dan kembali pergi… aku kembali bengong, diam dipojokkan.

Tak lama kemudian, Ama kembali membawa bungkusan kantong kresek hitam.
“Neng Inaaaa…coba tebak! Saya bawa apa?”
“Nggak tahu…bubur?” Sub Conciusku menjawab rasa lapar. Mengharap nasi atau sejenisnya yang dibawa.
“Bukan…tapi….” Jawabnya tertahan sambil membuka bungkusan.
“Trendeeennnng…Rujak beubeuk!” Dengan ekspresi bahagia dan terpesona melihat rujk yang dibawanya.
$%^&^%&*(….
“Aha…lagi…rujak lagi….keren!” jawabku senang juga. Walau lapar tapi aku memang suka rujak. Hehehe…
“Mari kita makan!” Ajaknya.
“Ayo!” kataku sambil bangkit dari tidurku.

Aku tak bisa menghabiskan rujaknya. Tapi Ama mau menghabiskannya… waah dia banyak sekali makan rujak hari ini. Kami berbincang-bincang dengan bahasa sunda. Bahasa kebanggan kami sebagai orang sunda terutama orang Sumedang. Hehehe (rasis) ^^
Tak lama kemudian, sahabatku Ica datang dengan langkah yang tak asing di telingaku. Tergesa-gesa dan seperti sedang menggususr sesuatu di kakinya.

“Asslamau’alaikuuuummmm….hari ini seneng banget! Dream mapping terkabul” cerocosnya, belum sempat kami jawab salamnya karena lidah masih kepedesan.
“Wa’alaikum salam…oh ya, apa tuuuhhh” tanya Ama.
Ica memperlihatkan bawaannya. Sebuah Helm baru berwarna pink dan juga sebuah tas merk Toko HP.
“Gue akhirnya bisa beli hape kamera..hihihi”
“Wow senangnya…Selamat yaaa…” kata Ama.
“Lho…kok itu beli helm pink? Bukannya lu nggak suka warna pink?” tanyaku.
“Ini bukan punya gue, ini titipan Resty”
“Owh…” jawabku sambil minum air.
“Lihat nih, gue beli hape kamera hahahaha…” katanya pamer lagi.
“Liat doonk…” pintaku dan Ama barengan.
Ica membuka hape yang baru dibelinya. Merknya yang sekarang lagi gencar-gencarnya promosi dan harganya lumayan terjangkau.
“Tahu nggak kenapa gue beli hape kamera?” Tanya Ica.
“Nggak….kenapa ca?” tanyaku.
“ Dari bulan kemaren gue bilang dalam hatri gue, pokoknya nanti Januari 2011 gue bakal beli hape kamera buat nyimpen fotonya Davit Villa… bla-bla-bla..”
Aku dan Ama tertawa terbahak-bahak. Apalagi ketika mengetahui motif dia membeli hape kamera. Mendengarkan ceritanya membuat perutku sakit karena banyak tertawa. Ica bercerita bagaimana dia menanyakan pada si penjual hape mengenai hape yang ingin dibelinya.

“Bang…ada hape kamera nggak?” tanya Ica.
“Ada neng, mau yang berapa? “tanya tukang dagang sambil mengeluarkan semua hape kamera.
“Emang adanya yang berapa, Bang?”
“ Nih, dari mulai yang tiga ratus rebu, sampe yang jutaan ada neng…” jawab abang tukang Hape memamerkan dagangannya.
“ Yang lima ratus rebu dah bang?!” kata Ica.
“Nih…yang lima ratus banyak, neng.” Kata si abang sambil menunjukkan hape kamera dengan harga lima ratus rebuan.
“ Ooh…banyak juga ya, bang!” kata Ica polos sambil melihat satu persatu.
“Ya iya neg, sekarang mah tukang becak, tukang sampah juga hapenya kamera dan querty lho…”
“Apaan tuh querty?” tanya Ica lagi polos, maklum dia memang mengaku gaptek.
“Nih, yang lagi dipegang ma neng tuh, yang kayak BB, namanya querty”
“Sorry , bang. Saya emang gaptek kalau soal ginian…yang penting saya beli hape kamera buat nyimpen foto David Villa hehehe” kata Ica sambil melihat-lihat hape yang lainnya.
“Hehe..neng ini suka benget bola ya?”
“Ya, iya bang. Apalagi Barcelona…beuh…” Jawab Ica penuh ekspresi.
“ Ooh…”
“Bang, ayo bang bilang ke saya nih hape satu-satu apa kelebihan dan kekurangannya?!”
“Wah neng banyak banget kelebihannya neng.” Jawab Si Abang.
“Satu-satu bang hehe…:”
“Wah panjang nih urusannya. Saya harus nerangin satu-satu” Jawab si Abang dengan sabar.
“Iya, hehe…”
Akhirnya dengan sabar si abang menerangkan spesifikasi hape satu-satu, khusus hape kamera harga tiga ratus rebu sampai lima ratus rebu ke atas.
***
Kami masih terkekeh dengan cerita Ica. Kok ada ya makhluk innocent kayak dia, gumamku.
“Tung, sorry gue lupa mau beli makan buat lu. Lu mau apa sekarang gue beli” kata Ica menawarkan beli makan.
“Bubur depan kampus aja dah,” jawabku. Padahal tadi aku sudah sms agar beli bubur. Tapi ternyata sms-nya baru sampai ketika dia sampai di kotsanku.
“Ama mau makan juga?” tanyaku pada Ama yang tengah sibuk menyolokkan hape Ica untuk dicharger.
“Boleh” jawabnya.
“Baiklah…Ca, bubur dua ya…”
“Okey…tapi, kak jangan lupa ya...itu hape ica settingin Facebooknya biar bisa nyimpen foto Davit Villa” kata Ica sambil memakai sendalnya.
"Iya..." jawab Ama.
Ica pergi. Aku kembali terbaring, tubuhku yang tadinya segar karena tertawa dan lupa kalau sedang sakit kini kembali panas. Seperti janji Ama tadi malam, dia akan membacakan surah Yasin untukku. Akhirnya sesi itu diisi dengan pembacaan surah Yasin. Aku mendengarkan dengan penuh ketenangan dan berdoa dalam hati agar sakitku tidak lama.

Selesai membacakan surah Yasin, Ica datang dengan buburnya. Saya langsung makan bersama Ama. Dengan Riang gembira, Ica mengangkat satu kresek hitam lagi. Apa itu ca? tanyaku dalam hati.
“Surprise! Ica bawa apa cobaaa?” tanyanya bahagia.
“Apaaa?” tanya kami serempak.
“Rujak Halte*!”
"Sepertinya hari ini saya banyak makan buah-buahan..." kata Ama polos.
@#$%^&()O(* …..GUBRAK!

*Rujak Halte: Rukjak petis yang dijual di depan halte kampus UIN (terkenal dengan penjualnya yang tidak pernah senyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar