Kamis, 20 Februari 2014

TENTANG JODOH



Katanya Jodoh itu rahasia Tuhan. Benar? Itu memang benar sekali, apalagi jika saat ini banyak sekali cerita mengenai pencarian dan pertemuan dengan jodoh. Kawan-kawanku bahkan aku sendiri merupakan saksi, dan yang merasakan bagaimana misteri itu terjadi padaku.

            Dulu saya menggalau tingkat tinggi mengenai jodoh. Apalagi saat selesai wisuda. Pertanyaan tentang calon suami seolah-olah jadi momok yang menakutkan. Namun, saya untungnya adalah tipe orang “cuek” di depan orang padahal aslinya nggak hehehe tukang nangis di kamar sendirian, alias menangis semalam.  
            Sautu hari guru sehatku berkata: “Jodoh itu bukan dipilih tapi diputuskan! Jadi putuskanlah segera!” mantaf plus nyelekit euy mendengar kata-kata itu. Bagaimana tidak, saat itu saya sedang menggalau tingkat tinggi plus bumbu-bumbunya. Bumbunya banyak, dari mulai sakit hati dengan makhluk yang namanya laki-laki, malas ditanyain terus tentang pasangan hidup, pekerjaan belum ada yang sesuai, dan lain sebagainya.
            Bukan mau jual mahal, beberapa pria melamarku tapi anehnya aku kok nggak ada rasa yang gimana atau sinyal, bahkan setelah istikhoroh pun rasanya mereka biasa-biasa saja. Aku pun mencoba memakai logikaku, mencoba berkenalan dan mengobrol lewat chatt, karena berkali-kali diajak bertemu aku pasti menolak. Aku memang pemilih. Aku akui itu.
            Mengapa aku pemilih, karena aku yakin bahwa untuk memilih pasangan hidup apalagi dia adalah orang yang akan jadi imam seumur hidup kita bukanlah hal yang main-main. Dari pada meladeni orang yang hanya ingin mengajak pacaran, yang hanya membuang-buang waktu dan dosa, mendingan dicap pemilih, toh yang menjalani hidup nanti kita bukan orang lain.
            Benar jika orang dahulu mengatakan bahwa kita harus menikah dengan orang yang jelas bibit, bebet dan bobotnya. Sekarang realities saja, bagaimana mungkin kita menikah hanya dengan orang itu saja, seyogianya kita bukan hanya menikah dengan orangnya saja (pria) tapi kita juga menikah dengan keluarganya. Apakah keluarganya baik? Apakah suami kita dan keluarganya mau menerima kita dan keluarga kita dengan apa adanya? Begitu juga sebaliknya, apakah orang tua kita setuju dan mau menerima keluarga calon suami kita apa adanya?
Ini hanya sekelumit hal yang membuat saya sangat pemilih dalam urusan “jodoh” hehehe…sok idealis. Banyak hal lain yang belum saya paparkan di sini. Hehehehe…
Di tengah-tengah kegalauan itu sahabat-sahabatku yang sama-sama galau pun akhirnya memiliki pasangan. Otomatis membuat hatiku makin galau. Karena merasa ditinggalkan sendiri menjadi orang galau. Oh galau mengapa begitu menggalau.
            Akhirnya pada satu titik kegalauan, guru sehatku memanggilku dan berkata, disaksikan oleh dua temanku yang galau, beliau berkata bahwa sebentar lagi jodohku akan datang. aku mendengarnya dengan senyum-senyum gimana gitu…gak percaya, tapi aku berusaha percaya karena ingat dengan semboyan hukum kepercayaan. Apa yang kau percayai maka itu yang terjadi.
            Hal itu terbukti, seminggu kemudian aku di sms sahabat galauku “dia saat itu masih single dan galau” ingin mengenalkan pada seseorang. Akhirnya aku pun mengizinkan no hp-ku diberikan pada yang ingin dikenalkannnya. Kami pun berkenalan, dan orang tersebut langsung mengatakan maksudnya. Dasar sudah jodoh, anehnya aku pun mengizinkannya.
Beberapa minggu kemudian, orang yang dikenalkan itu pun datang ke rumah dan melamarku.  Idiiih…inikah jodohku? Gak salah kan? Beneran? Kok bisa? Hahaha…itu pertanyaan-pertanyaan yang membuat say atersenyum-senyum jika ingat bagaimana kami bertemu. Nanti, disambung lagi ceritanya yaaaa….
ngomong-ngomong sahabatku yang galau dan mengenalkanku pada temannya kini telah memiliki putra, dan jodohnya pun adalah orang yang tak disangka-sangaka...hehehe

Cikini, meja kerja (lagi nyantai)
20 Februari 2014