Rabu, 11 Agustus 2010

Strees dan Fobia

BAB I

(PENDAHULUAN)

Dalam setiap detiknya dunia mengalami perubahan. Begitu juga dengan kita sebagai manusia. Dalam era yang sangat penuh persaingan ini manusia gberlomba-lomba untuk mengatasi apa yang menjadi tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Semua hal yang terjadi, menjadikan manusia melakukan apa saja, walaupun itu semua membuatnya mengalami gangguan pada fisik maupun psikologisnya. Tidak terkecuali pada ibu-ibu Rumah tangga yang sebagai fitrahnya adalah seorang wanita yang bertugas dan bertanggung jawab dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya. Namun, dilain pihak tuntutan hiduplah yang berbicara, banyak sekarang ini wanita/ibu-ibu yang selain bertanggung jawab sebagai pengatur rumah tangga tetapi juga sebagai karyawan/bekerja. Dan hal ini juga memicu adanya gangguan mental dalam hal ini sangat rentan terjadi pada ibu-ibu tersebut yang disebut dengan stress.

Banyak orang yang mengeluh kesakitan secara fisik, namun setelah diteliti penyebanya adalah pengauh psikologis. Hal ini yang membuat penulis mencoba meneiti apa hubungan antara psikologis dan fisik. Namun tidak jarang pula orang yang dapat melakukan coping terhadap stressnya, dan tentunya hal ini pula yang penulis coba teliti dengan cara mengobservasi dan mewawacara orang yang bersangkutan (Ibu Rumah Tangga dan bekerja)

Gangguan lainnya yang terjadi pada manusia pada umumnya adalah gangguan kecemasan, dalam hal ini kecemasan yang dimaksud adalah pobia. Banyak orang yang dengan alasan dan tanpa alasan mengalami hal tersebut. Tentunya hal ini adalah salah satu yang menyebabkan penulis mencoba meneliti dengan mewawancarai si penderita pobia tersebut.



BAB II
KERANGKA TEORI
B. 1. STRESS

a. Pengertian Stress

Dr. Hans Selye, seorang ahli fisiologi dan tokoh dibidang stress yang terkemuka dari Universitas Montreal, merumuskan stress sebagai berikut : Stress adalah tanggapan tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap tuntutan atasnya. Manakala tuntutan terhadap tubuh itu berleihan, maka hal ini dinamakan distress. Tubuh akan berusaha menyelaraskan ransangan atau stress itu dalam bentuk penyesuaian diri. Dalam banyak hal manusia akan cukup cepat untuk pulih kemabali dari pengaruh-pengaruh pengalaman stress. Manusia mempunyai suplai yang baik dari energi penyesuaian diri untuk dipakai dan diisi kembali bilamana perlu.

Setiap permasalahan kehidupan yang menimpa pada diri seseorang (disebut stressor psikososial) dapat mengakibatkan gagguan fungsi /faal organ tubuh. Reaksi tubuh/fisik yang dinamakan stress; dan manakala fungsi organ tubuh itu terganggu maka dinamakan distress.

Stress dewasa ini sudah semakin populer, tidak saja di kalangan umum, namun juga di kalangan medis istilah ini mulai dipakai. Bahkan ada gejala dari suatu penyakit, cenderung untuk memakai istilah stress sebagai bentuk diagnosa.

Stress adalah reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban yang bersifat non spesifik, namun disamping itu stress juga merupakan factor penyebab sekaligus, akibat dari suatu gangguan atau penyakit. Factor-faktor psikososial cukup mempunyai arti bagi terjadinya stress pada diri seseorang. Manakala tuntutan itu melampui kebutuhannya, maka keadaan demikian disebut distress.

Coping dan Stres

Beberapa orang meyakini bahwa tidak mungkin mendefenisikan secara objektif peristiwa atau situasi untuk dapat dikategorikan sebagai stresor psikologis mereka menemukan aspek kognitif stres yaitu mereka meyakini bahwa cara kita menerima atau menilai lingkungan menentukan apakah terdapat stresor. Jika seorang mberanggapan bahwa tuntutan dalam suatu situasi melebihi kemampuanny, orang tersebut mengalami stres.

Relevan dengan perbedaan individual dalam merespon situasi penuh stres merupakan konsep coping, yaitu bagaimana orang berupaya mengatasi masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif yang ditimbulkannya. Bahklan diantara mereka yang menilai suatu situasi yang penuh stress, effek stres dapat bervariasi tergantung padas bagaimana individu menghadapi situasi tersebut. Lazarus dan para koleganya mengidentifikasi dua dimensi coping (Lazarus dan Folkman, 1984)

· Coping yang terfokus pada masalah (problem-focused coping) mencakup bertindak secara langsung untuk mengatasi masalah ataumencari informasi yang relavan dengan solusi

· Coping yang terfokus pada emosi (emotion-focused coping) merajuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres.

Para peneliti coping juga mengajukan coping yang berupa penghindaran (avoidance coping) suatu tipe coping yang mencakup aspek-aspek coping yang berfokus pada masalah dan pada emosi.

Esensi coping berupa penghindaran adalah berusaha menghindar untuk mengakui bahwa memang ada masalah yang harus diatsi (mengnalihkan diri, mengingkari) atau menolak melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut (menyerah).

Peran emosi positif dalam coping menjadi ketertarikan dalam meneliti dewasa ini. Emosi positif dapat dan memang menyertai timbulnya emosi negatif dalam situasi penuh stres dan dapat memberikan menfaat. Coping yang efekti sering kali berfariasi sesuai dengan situasi. Selain tiu para peneliti terus berupaya menemukan solusi suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan menyebabkan peningkatan rasa frustasi dan tidak memberikan manfaat psikologis apa pun meskipun demikian, bukti-bukti menunjukkan, bahwa secara umum coping berupa pelarian atau penghindaran merupakan metode coping yang paling tidak efekktif untuk menghadapi banyak masalah kehidupan.

1. Pendekatan Holistik
Manusia sebagaimana ia ada pada sesuatu waktu, merupakan hasil suatu interaksi antara badan, jiwa dan lingkungannya. Ketiga unsure ini saling mempengaruhi mulai dari saat pembuahannya sampai manusia itu menghebuskan nafasnyaa yang akhir.

Dengan demikian, maka dalam segala masalah manusia, kita tidak boleh memisahkan unsure yang satu dengan yang lainnya, tetapi harus memperhatikan serta mempertimbangkan ketiganya dalam satu keseluruhan. Pendekatan ini disebut pendekatan holistik. .







Berikut adalah bagan yang menyatakan Bagan Hubungan bio-psiko-sosial atau Holistik


hubungan antar Para Individu

manusia Keluarga

Fungsi Mental Kelompok Kecil

Lebih tinggi Masyarakat

Text Box: Jiwa Badan Kebudayaan dulu/sekarang

hubungan antar Para Individu

manusia Keluarga

Fungsi Mental Kelompok Kecil

Lebih tinggi Masyarakat

Text Box: Lingkungan Fisik Kebudayaan dulu/sekarang

2. Stressor Psikososial

Stressor Psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seorang anak, remjaja atau dewasa sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau menanggulangi stressor yang timbul. Namun, tidak semua orang mampu mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbulah keluhan-keluhan kejiwaan, antara lain depresi.

Pada umumnya jenis stressor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Perkawinan

Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stress yang dialami seseorang; misalnya pertengkaran , perpisahan, perceraian, kematian salah satu pasangan, ketidakpastian, dan lain-lain.

2. Problem Orangtua

Permasalahan yang dihadapi orang tua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar, besan dan lain sebagainya.

3. Hubungan Interpersonal (Antar Pribadi)

Gangguan ini dapat berupa konflik dengan kawan, kekasih, antara atasan dan bawahan, dan lain sebagainya.

4. Pekerjaan

Masalah pekerjaan merupakan sumber stress kedua setelah perkawinan. Banyak orang menderita depresi dan kecemasan masalah pekerjaan ini. Misalnya, pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi jabatan, kenaikan pangkat, PHK, pensiun dan lain sebagainya.

5. Lingkungan Hidup

Kondisi lingkungan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang, misalnya perumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran, hidup d daerah yang rawa dengan kriminalitas dan lain sebagainya.

6. Keuangan

Masalah social-ekonomi yang tidak sehat, misalnya pendapatatn jauh dibawah dar pada pengeluaran , terlibat hutang, kebangkruta usaha, soal warisan dan lain sebagainya. Problem keuangan ini dapat membuat jiwa seseoreang dan seringakali membuat orang jatuh dalam depresi dan kecemasan.

7. Hukum

Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum dapat menjadi sumber stress. Misalnya tuntutan hukum , pengadilan, penjara, dan lain sebagainya.

8. Perkembangan

Perkembangan fisik ataupun mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa, monopouse, usia lanjut dan lain sebagainya.

9. Penyakit Fisik atau Cedera

Akibat dari kecelakaan, operasi/pembedahan, aborsi, penyakit-penyakit yang sangat suit unukdisembuhkan, dan lain sebagainya, merupakan salah sartu sumber stress yang paling utama pada manusia pada umumnya.

10. Faktor Keluarga

Yang dimaksudkan disini adalah factor stress yang dialami oleh anak dan remaja yang disebabkan karena kondisi keluarga yang tidak baik, misalnya:

v Hubungan kedua orang tua yang dingin, atau penuh ketegangan, acuh tak acuh

v Kedua orang tua jarang di rumah, dan tidak ada waktu untuk bersama anak-anak.

v Komunikasi antara oranag tua dan anak tidak baik

v Perceraian orang tua

v Salah satu orang tua menderita atau mengfalami gangguan kejiwaan

v Orang tua dalam mendidik anak-anak kurang sabar, pemarah, otoriter dan lain-lain

11. Dan lain-lain

Penyebab stress yang lainnya yaitu dapat berupa bencana alam, kebakaran, perkosaan, kehamilan diluar nikah dan lain-lain.



Kebanyakan pekerjaan dengan waktu yang sangat sempit ditambah lagi dengan tuntutan yang harus serba cepat dan tepat, membuat orang hidup dalam keadaan ketegangan (stress). Pengangguran membawa pengaruh bagi kesehatan jiwa. Sumber stress terpenting bukanlah hakikat kehilangan pekerjaan itu sendiri, tetapi lebih bersifat perubahan-perubahan domestic dan psikologis yang berjalan secara perlahan-lahan. Hal ini lambat laun dapat membahayaklan kesehatan individu itu sendiri.



3. Tahapan Stress

Gangguan stress biasanya timbul seara perlahan, tidak jelas kapan mulainya dan seringkali kita tidak menyadarinya. Namun meskipun begitu dari pengalaman psikiatri, para ahli mencoba membagi stress tersebut dalam enam tahapan. Petunjuk-petunjuk tahapan stress tersebut diemukakan oleh Dr. Robert J.Van Amberg, Psikiater sebagai berikut:

1. Stress tingkat I

Tahapan ini merupakan tingkat stress paling ringan dan disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:

a. Semangat besar

b. Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.

c. Energi an gugup brle, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya.

2. Stress tingkat II

Pada tahapan ini dampak stress yang menyenangkan mu8lai menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan itu sebagai berikut:

a. Merasa letih sewaktu bangun pagi.

b. Merasa lelah setelah makan siang

c. Merasa lelah sepanjang sore hari

d. Terkaang gangguan dalam sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung), kadang-kadang jantung berdebar-debar.

e. Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher).

f. Perasaan tidak bisa santai

3. Stress tingkat III

Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin nampak disertai dengan gejala-gejala:

a. Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mulas, seing ingin buang air)

b. Otot-otot terasa lebih tegang

c. Perasaan tegang yang semakin meningkat

d. Gangguan tidur; insomia, sering terbagun malam, dan sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi.

e. Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pinsan tapi tidak sampai jatuh pingsan.

Pada tahapan ini penderita sudah harus berkonsultasi pada dokter, kecuali jika beban stressnya dikurangi dan tubuh dapat kesempatan untuk beristirahat atau relakasi.

4. Stress tingkat IV

Pada tahapan ini sudah menunjukkan gejala yang lebih buruk.

a. untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sangat sulit

b. kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit

c. kehilangan kemampuan untuk menanggapi suatu pergaulan social dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat.

d. Tidur semakin sukar, mimpi-mimpi menegangkan dan sering terbangun dini hari.

e. Perasaan negativisik

f. Kemampuan berkonsentrasi menurun tajam

g. Perasaan takut yang tidak bisa dijelaskan.



5. Stress tingkat V

a. Keadaan yang mendalam (physical and psychological exhaustion)

b. Untuk pekerjaan-pekerjaan sederhana saja tidak mampu

c. Gangguan sistem pencernaan

d. Perasaan takut yang semakin menjadi, mirip panic.

6. Stress tingkat VI

Tahapan ini meruapakan tahapan puncak yang merupakan keadaan gawat darurat. Tidak jarangpenderita dalam tahapan ini dibawa ke ICC.gejala-gejala pada tahapan ini cukup mengerikan:

a. Debaran jantung terasa amat keras, hal ini disebabkan zat adrenalin yang dikeluarkan, karena stress tersebut cukup tinggi dalam peredaran darah.

b. Nafas sesak

c. Badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran

d. Tenaga untuk hal-hal ringan sekali pun tidak kuasa lagi, pingsan atau collaps.





























2. FOBIA

a. Pengertian Fobia

Para Psikolog mendefinisiikan fobia sebagai penolakan yang mengganggu yang diperantai oleh rasa takut yang tidak proposional dengan bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu dan diakui oleh sipenderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar. Beberapa contoh ketakutan ekstrem terhadap ketinggian, tempat tertutup, ular atau laba-laba- mengingat tidak ada bahaya objektif- disertai dengan penderitaan cukup besar untuk mengganggu kehidupan seseorang.



Kriteria DSM-IV-TR untuk Fobia



* Ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi.
* Katerpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
* Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis
* Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens.



Dalam tiap kasus, kata fobia diawali dengan kata dalam bahasa yunani yang menyebutkan objek atau situasi yang ditakuti. Kata fobia diambil dari nama dewa Yunani Phobos, yang takut pada musuh-musuhnya. Beberapa istilah yang paling dikenal adalah claustrophobia, ketakutan pada ruang tertutup; agoraphobia, ketakutan pada tempat umum; dan acrophobia, ketakutan pada ketinggian. Beberapa ketakutan yang lebih eksotik juga diberi nama yang diambil dari bahsa yunani, sebagai contoh ergasiophobia, ketakutan menulis; pnigophobia, ketakutan tersedak; taphephobia, ketakutan dikubur hidup-hidup; anglophobia, ketakutan pada inggris; musophobia, ketakutan pada tikus; dan hellenologophobia, ketakutan pada kondisi ilmiah semu (McNally, 1997).



b. Tipe-tipe Fobia

* Fobia Spesifik

Fobia spesifik adalah ketakutan yang beralasan yang disebabkan oleh kehadiran atau antisipasi suatu objek atau situasi spesifik. DSM-IV-TR membagi fobia berdasarkan sumber ketakutannya: darah, cedera dan penyuntikan, situasi(a.l., pasawat terbang, lift, ruang tertutup), binatang, dan lingkungan alami (a.l., ketinggian, air). Fobia tersebut biasanya saling menyertai (komorbid) (Kendler dkk., 2001). Angka prevalensi sepanjang hidup berkisar 7 persen pada laki-laki dan 16 persen pada perempuan (Kessler dkk., 1994).

Hal yang ditakuti pada fobia juga dapat bervariasi dalam berbagai budaya. Sebagai contoh, di Cina, Pa-leng adalah ketakutan pada dingin di mana seseorang mengalami kekhawatiran bahwa hilangnya panas tubuh dapat menyebabkan nyawa terancam. Ketakutan ini tampaknya berkaitan dengan filosofi Cina tentng yin dan yang , yin merujuk pada aspek-aspek kehidupan berupa pencairan energi yang dingin dan berangin.

Contoh lain adalah suatu sindrom yang dialami di Jepang yang disebut taijinkyofo-sho, ketakutan pada orang lain. Ini bukanlah fobia sosial, namun merupakan ketakutan ekstrem untuk mempermalukan orang lain, sebagai contoh, dengan mempermalukan kehadiran mereka, menatap daerah genital, atau menunjukkan wajah aneh. Diyakini behwa fobia ini timbu dari berbagai elemen budaya Jepang tradisional, yang mendorong kepedulian yang ekstrem terhadap perasaan orang lain, namun tidak mendorong komunikasi perasaan secara langsung (McNally, 1997). Dengan demikian, kepercayaan yang terdapat dalam suatu budaya tampaknya dapat menjadi sumberketakutan yang dialami oleh banyak orang.



* Fobia Sosial

Fobia Sosial adalah ketakutan menetap dan tidak rasiona yang umumnbya berkaitan dengan keberadaan orang lain. Fobia ini dapat sangat merusak, sedemikian parah sehingga angka bunuh diri pada orang-orang yang menderita fobia ini jauh lebih tinggi dibanding mereka yang menderita gangguan anxietis lain (Schnerier dkk., 1992). Memang, istilah ”gangguan anxietis sosial” baru-baru ini diajukan sebagai istilah yang lebih tepat karena beratnya masalah dan konsekuensi negatif bagi orang-orang yang mengalaminya jauh lebih besar dibanding fobia lain (Liebowitz dkk., 2000).



Individu yang menderita fobia sosial biasanya mencoba menghindari situasi dimana ia mungkin dinilai dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau berperilaku secara memalukan. Ketakutan yang ditunjukkan dengan keringat berlebihan atau memerahnya wajah merupakan hal jamak. Berbicara atau melakukan sesuatu di depan publik, makan di tempat umum, menggunakan toilet umum, atau hampir semua aktivitas lain yang dilakukan di tempat yang terdapat orang lain dapat menimbulkan kecemasan ekstrem, bahkan serangan panik besar-besaran. Orang-orang yang menderita fobia sosial sering kali bekerja dalam pekerjaan atau profesi yang jauh dibawah kemampuan atau kecerdsan mereka karena sensitivita sosial ekstrem yang alami- jauh melebihi apa yang kita pikirkan tentang rasa malu-sangat merugikan secara emosional. Lebih baik mengerjakan pekerjaan bergaji rendah daripada setiap hari berhadapan dengan orang lain dalam pekerjaan yang lebih berharga.



Fobia sosial dapat bersifat umum atau khusus, tergantung rentang situasi yang ditakuti dan dihindari. Orang-orang dengan tipe umum mengalami fobia ini pada usia yang lebih awal, lebih banyak komorbiditas dengan berbagai gangguan lai, seperti depresi dan kecanduan alkohol, dan hendaya yang lebih parah (Mannuza dkk., 1995; Wittchen, Stein, & Kessler, 1999). Gangguan axietas sosial cenderung menjadi kronis jika penangananya tidak berhasil.



Fobia sosial cukup jamak terjadi, dengan angka prevalensi sepanjang hidup 11 persen pada laki-laki dan 15 persen pada perempuan (Kessler dkk., 1994; Magee dkk., 1996). Fobia ini memiliki tingkat komorbiditas tinggi dengan berbagai gangguan mood, dan penyalahgunaan alkohol (Crum & Pratt, 2001; Jansen dkk., 1994; Kessler dkk., 1999; Lecrubier & Weiler, 1997). Seperti diharapkan, awal terjadinya biasanya pada masa remaja, saat kesadaran sosial dan interaksi dengan orang lain menjadi sangat penting dalam kehidupan seseorang, ketakutan seperti itu juga ditemukan pada anak-anak. Seperti contoh, setelah dicatat sebelumnya, di Jepang ketakutan menyakiti orang lain merupakan hal yang sangat penting, sedangkan di Amerika Serikat ketakutan dinilai negatif oleh orang lain lebih jamak.



c. Teori-teori Fobia

1. Teori Psikoanalisis

Orang pertama yang mencoba menjelaskan secara sistematis perkembangan prilaku biotic adalah Freud. Menurutnya, fobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya. Berbagai contoh situasi itu adalah lift dan tempat tertutup. Dengan menghindarinya seseorang dapat menghindar dari konflik-konflik yang ditekan.

Berdasarkan teori fobia lain dari psikoanalisis yang diajukan oleh Arieti (1979), sesuatu yang ditekan merupakan masalah interpersonal tertentu di masa kecil dan bukan suatu impuls id. Arieti berteori bahwa pada masa kanak-kanak, orang-orang yang menderita fobia pada awalnya menjalani priode tanpa dosa di mana mereka memercayai orang lain di sekitar mereka untuk melindungi mereka dari bahaya. Kemudian mereka menjadi takut bahwa orang dewasa tidak dapat diandalkan. Mereka tidak dapat hidup dengan ketiadaan rasa percaya tersebut. Untuk dapat kembali memercayai orang lain, secara tidak sadar mereka mengubah rasa takut pada orang lain tersebut menjadi rasa takut pada situasi yang tidak menyenangkan.



2. Teori Behavioral

Teori ini berfokus pada pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia.

1. Avoidance Conditioning

Penjelasan utama behavioral tentang fobia adalah reaksi semacam itu merupakan respons avoidance yang dipelajari. Formulasi Avoidance Conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang diajukan oleh Mowrer (1974) dan menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua rangkaian pembelajaran yang saling berkaitan: pertama, melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada stimulus netral jika stimulus tersebut dipasangkan pada suatu kondisi. Kedua, seseorang dapat mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari stimulus netral tersebut.

2. Modeling

Selain belajar untuk takut terhadap sesuatu sebagai akibat pengalaman yang tidak menyenangkan, ketakutan dapat dipelajari dengan meniru reaksi orang lain. Pembelajaran terhadap rasa takut dengan mengamati orang lain secara umum disebut sebagai vicarious learning.

3. Prepared learning (pembelajaran yang dipersiapkan)

Isu lain yang tidak dibahas dalam model pembelajaran avoidance adalah bahwa orang-orang cendrung hanya takut pada objek atau situasi tertentu, seperti laba-laba, ular, ketinggian, tapi tidak pada objek lain seperti domba (Marks, 1969). Prepared learning juga relevan dengan mempelajari ketakutan melalui modeling. Cook dan Mineka (1989) meneliti empat kelompok kera resus, yang masing-masing melihat rekaman video yang berbeda. Rekaman tersebut dibuat dengan penggabungan sehingga kera yang menunjukan ketakutan mendalam tampak seolah merespons stimulasi yang berbeda: seekor ular mainan, bunga, atau kelinci mainan. Hanya kera-kera yang melihat rekaman ular atau buaya mainan yang menunjukan ketakutan pada objek tersebut, sekali lagi menunjukan bahwa tidak setiap stimulus dapat menjadi sumber ketakutan.



4. Diperlukan Diathesis

Pertanyaan terakhir yang perlu dibahas adalah mengapa beberapa orang yang memiliki pengalaman traumatis tidak mengalami ketakutan yang menetap. Sebagai contoh, 50 % di antara orang-orang yang sangat ketakutan terhadap anjing menuturkan pengalaman traumatis yang pernah mereka alami dengan anjing, begitu juga dengan 50 % di antara orang-orang yang tidak takut anjing (Dinardo dkk, 1988). Perbedaan di antara kelompok tersebut adalah kelompok fobik berfokus pada dan menjadi cemas terhadap kemungkinan munculnya kejadian traumatis yang sama pada masa mendatang. Dengan demikian, suatu diathesis kognitif-meyakini bahwa kejadian traumatis yang sama akan terjadi pada masa mendatang-mungkin merupakan hal penting dalam terbentuknya fobia. Kemungkinan diathesis lain adalah adanya riwayat yang menunjukan ketidakmampuan mengendalikan lingkungan.

Secara ringkas, data yang telah dikaji menunjukan bahwa beberapa fobia mungkin dipelajari melalui avoidance conditioning. Namun, avoidance conditioning tidak dapat dianggap sebagai teori yang sepenuhnya dapat dibenarkan. Sebagai contoh, banyak orang fobia menuturkan bahwa mereka tidak pernah terpapar langsung dengan kejadian traumatis atau dengan model yang menakutkan (Merckelbach dkk, 1989).



5. Keterampilan Sosial yang Kurang dalam Fobia Sosial

Berbagai penemuan menunjukan bahwa orang yang memiliki kecemasan sosial memang memiliki skor rendah dalam keterampilan sosial (Twentyman & McFall, 1975) dan bahwa mereka tidak mampu memberikan respons pada waktu serta tempat yang tepat dalam interaksi sosial, misalnya mengatakan “terima kasih” pada waktu yang tepat. (Fischetti, Curran & Wessberg, 1977).



3. Teori Kognitif

Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berfikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk menanggapi stimulasi negatif, menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan memercayai bahwa kejadian negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang (Heinrichs & Hoffman, 2000; turk dkk, 2001). Isu utama dalam teori ini adalah apakah kognisi tersebut menyebabkan kecemasan atau apakah kecemasan menyebabkan kognisi tersebut. Walaupun beberapa bukti eksperimental mengindikasikan bahwa cara menginterpretasi stimuli dapat menyebabkan kecemasan di laboratorium (Matthews & McKintosh, 2000), namun tidak diketahui apakah bias kognitif menjadi penyebab gangguan anxietas.

Teori kognitif mengenai fobia juga relevan untuk berbagai fitur lain dalam gangguan ini-rasa takut yang menetap dan pakta bahwa ketakutan tersebut sesungguhnya tampak irasional bagi mereka yang mengalaminya. Fenomena ini dapat terjadi karena rasa takut terjadi melalui proses-proses otomatis yang terjadi pada awal kehidupan dan tidak disadari. Setelah proses awal tersebut, stimulasi dihindari sehingga tidak diproses cukup lengkap dan yang dapat menghilangkan rasa takut tersebut (Amir. Foa, & Coles, 1998).



d. Faktor-faktor Biologis yang Memengaruhi

Berbagai teori yang telah kita bahas terutama melihat pada lingkungan untuk menemukan penyebab dan yang membuat fobia menetap. Namun, mengapa beberapa orang memiliki ketakutan yang tidak realistik, sedangkan yang lain tidak, padahal mereka mendapat kesempatan pembelajaran yang sama? Mungkin mereka yang secara negatif sangat terpengaruh oleh stres memiliki malfungsi biologis (suatu diathesis) yang dengan cara satu atau lainnya memicu terjadinya fobia setelah kejadian yang penuh stres. Penelitian dalam dua area berikut tampaknya menjanjikan: sistem saraf otonom dan faktor genetik.



* Sistem Saraf Otonom

Seperti disebutkan sebelumnya, orang-orang yang mengalami fobia sosial sering kali merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah atau berkeringat secara berlebihan di depan umum. Karena berkeringat dan memerahnya wajah dikendalikan oleh sistem saraf otonom, aktivitas sistem saraf otonom yang berlebihan kemungkinan merupakan suatu diathesis.



* Faktor Genetik

Beberapa studi telah menguji apakah faktor genetik berperan dalam fobia. Fobia darah dan penyuntikan sangat familiar; 64 persen fobia darah dan penyuntikan memiliki sekurang-kurangnya satu kerabat tingkat pertama yang menderita gangguan yang sama, sedangkan prevalensi gangguan dalam umum hanya 3 sampai 4 persen (Ost, 1992). Sama dengan itu, baik untuk fobia sosial maupun fobia spesifik, prevalensinya lebih tinggi dibanding rata-rata pada keluarga tingkat pertama pasein, dan studi terhadap orang kembar menunjukan kesesuaian yang lebih tinggi pada kembar MZ (Hettema, M. Neale, & Kendler, 2001).

Terkait dengan penemuan ini adalah penelitian Jerome Kagan mengenai karakter terhambat atau pemalu (Kagan & Snidman, 1997). Beberapa bayi usia empat menjadi terganggu dan menangis ketika ditunjuki mainan atau stimulasi lain. Pola prilaku ini, yang mungkin diturunkan, dapat menjadi tahap awal bagi perkembangan fobia kelak. Dalam satu studi, sebagai contoh, anak-anak yang mengalami hambatan memiliki kemungkinan lima kali lebih besar dibanding anak-anak yang tidak terhambat untuk mengalami fobia kelak (Biedermen dkk, 1990).



e. Terapi Fobia

1. Pendekatan Psikoanalisis

Seperti halnya teori psikoanalisis yang memiliki banyak variasi, demikian juga terapi psikoanalisis. Walaupun demikian, secara umum, semua penanganan psikoanalisis terhadap fobia berupaya mengungkap konflik yang ditekan yang diasumsikan mendasari ketakutan ekstrem dan karakteristik penghindaran dalam gangguan ini. Karena fobia dianggap sebagai simtom dari komplik-komplik yang ada di baliknya, fobia biasanya tidak secara langsung ditangani. Memang upaya langsung untuk mengurangi penghindaran fobik dikontradiksikan karena fobia diasumsikan melindungi orang yang bersangkutan dari berbagai konflik yang ditekan yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi.

Dalam berbagai kombinasi analisis menggunakan berbagai tehnik yang dikembangkan dalam tradisi psikoanalisis untuk membantu mengangkat represi. Dalam asosiasi bebas anbalisis mendengarkan dengan penuh perhatian yang disebutkan pasein terkait dengan setiap rujukan mengenai fobia. Analisis juga berupaya menemukan berbagai petunjuk terhadap penyebab fobia yang ditekan dalam isi mimpi yang tampak jelas. Apa yang diyakini analisis mengenai penyebab yang ditekan tersebut tergantung pada teori psikoanalisis tertentu yang dianutnya.

Para ahli klinis yang berorientasi analitis mengakui pentingnya pemaparan dengan suatu yang ditakuti. Walaupun biasanya mereka cendrung menganggap perbaikan kondisi yang mengikutinya hanya bersifat simtomatik dan bukan sebagai penyeleseian atas konflik mendasar yang diasumsikan sebagai penyebab fobia (Wolitzky & Eagle, 1990).



2. Pendekatan Behavioral

Flooding adalah tehnik dimana klien dipaparkan sebagai sumber fobia dalam intensitas penuh. Rasa tidak nyaman ekstrem menjadi bagian tak terhindarkan dalam prosedur ini sehingga belum lama ini cendrung menahan trapis untuk menggunakan tehnik ini. Kecuali mungkin sebagai jalan terakhir bila pemaparan secara bertingkat tidak membuahkan hasil. Dalam pembahasan mengenai terapi untuk gangguan obsetif kompulsif dan ganguan stres pascatrauma. Kita akan melihat penggunaan tehnik flooding yang lebih luas.

3. Pendekatan Kognitif

Orang-orang yang menderita fobia sosial dapat memperoleh manfaat dari strategi penanganan yang mengacu pada back and ellist. Yaitu: mereka mungkin dipersuasi oleh trapis untuk menilai rekasi orang lain terhadap mereka secara lebih akurat dan untuk tidak terlalu bergantung pada persetujuan orang lain untuk mempertahankan perasaan bahwa diri kita bermakna. Dengan pengakuan dalam tahun-tahun terakhir bahwa banyak orang yang menderita fobia sosial. Pada dasarnya memiliki cukup keterampilan sosial namun terhambat oleh pikiran-pikiran yang menghancurkan diri sendiri. Pendekatan kognitif semakin dititikberatkan. Bila dikombinasikan dengan pemaparan dengan situasi yang ditakuti terutama dalam konteks terapi kelompok, pendekatan kognitif terbukti lebih efektif dibanding berbagai terapi lain.



4. Pendekatan Biologis

Obat-obatan yang mengurangi kecemasan disebut sebagai sedatif, tranquilizer, atau anxiolytic (akhiran lytic berasal dari bahasa Yunani yang berarti melonggarkan atau melelahkan). Barbiturate adalah kategori obat-obatan utama yang pertama kali digunakan untuk menangani gangguan anxietas, namun karena kategori obat-obatan tersebut menyebabkan ketergantung yang tinggi dan beresiko mematikan bila overdosis. Pada tahun 1950 obat-obatan tersebut diganti dengan dua kelompok obat-obat lainnya, propanediol dan benzodiazepine. Jenis yang kedua dewasa ini digunakan secara luas dan bermanfaat bagi beberapa anxietas. Namun demikian, jenis tersebut tidak banyak digunakan bagi fobia spesifik.

CERPEN : AKU TIDAK GILA

Seila melempar senyuman paling khasnya. Senyuman yang membuat semua orang terpesona, termasuk laki-laki yang dihadapannya. Reno. Ya, laki-laki ini sungguh tergila-gila pada Seila. Sejak pertama masuk kuliah. Bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama, itu mungkin sebutan yang paling tepat.
Namun, senyuman itu terlihat hambar kini. Senyum itu bukanlah senyum yang membuat semua orang terpesona, bahkan senyum itu malah membuat semua orang miris, kasihan. Reno hanya menatapnya penuh sayang. Bagaimanapun ia sangat mencintai Seila, istrinya tercinta.
“Sayang, Kita masuk. Yuk!” Ajak Reno sambil mengusap bahu Seila yang diselimuti selimut bewarna coklat kotak-kotak.
Tak ada jawaban, Seila hanya mengangguk. Reno pun memapahnya masuk kembali ke kamar Seila. Ruang perawatan. Ya, sudah satu minggu Seila di rawat di Rumah Sakit Jiwa ini. Ia mengalami histeria apabila malam tiba. Dia selalu merasa bahwa ada yang mengikutinya dan membunuhnya.
***
Seorang laki-laki berjubah hitam terlihat di depan kaca jendela kamar Seila. Ia berdiri tegak, seperti sedang memandang tajam ke arah Seila. Dari balik jubahnya si lelaki berjubah itu mengeluarkan sebilah pisau belati yang terlihat sangat tajam. Ia terus mendekat ke arah jendela dengan gerakan yang sangat cepat, seperti kilat.
Seila terbangun, hatinya gundah. Dilihatnya Reno, sang suami masih tertidur dengan nyenyak di sampingnya. Seila mencoba bangun, berjalan menerobos kegelapan kamar, melihat-lihat ke arah jendela.
Tak ada orang. Gumamnya dalam hati. Ia terus berjalan menyurusi kamar. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk ke toilet. Namun bertapa kagetnya ia, di dalam toilet tersebut ada sesosok lelaki berjubah hitam dengan wajah bertopeng seram. Percis seperti topeng dalam film The Screem.
”Haaaaaaaaaaaaahhh” Seila menjerit
Si lelaki berjubah itu mendekat dan siap menghujamkan pisaunya ke arah dada Seila. Seila Roboh.
”Sayang...sayang...bangun”
Reno menepuk-nepuk pipi Seila. Tubuhnya terkapar di depan toilet kamar. Sedikit-sedikit mata Seila terbuka. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya yang langsing. Ia pun di pangku Reno dan dibaringkan di tempat tidur. Reno segera memberi air minum pada Seila yang terlihat pucat.
” Kamu kenapa, sayang?” tanya Reno
”Mas, tadi aku melihat ada lelaki berjubah hitam dan dia....” Seila terbata-bata, wajahnya terlihat sangat cemas.
“Laki-laki? Dirumah ini hanya ada kita berdua. Sayang” Reno bingung.
“Benar, Mas. Tadi ada orang yang mau membunuh aku” Jawab Seila.
“Mungkin kamu keseringan nonton Film Horor kali, jadi itu hanya halusinasi saja”. Reno mencoba menetralisir sang istri. Namun Seila tetap bersikukuh dengan apa yang ia lihat dan alami.

Seila sering sekali ketakutan, apalagi jika Reno Sedang tugas ke luar kota. Walaupun ia menginap di rumah orang tuanya, ia masih saja di teror oleh lelaki berjubah itu. Hingga akhirnya ia tidak mau pergi kemana pun, ia tidak berani berpergian. Jangankan sendirian, berdua pun bila ditemani oleh ibu atau temannya ia tetap saja merasa tidak aman.
”Seila, tuh ada Sinta datang” kata Ibu memberitahukan anaknya.
”Iya, Bu. Seila tahu” Jawab Seila dan segera keluar kamar menemuni sahabatnya itu. Seila dan Sinta adalah sahabat sejak SMP hingga kuliah.
”Haloo...Sin gimana kabarmu?” tanya Seila pada Sinta yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka pun berpelukan dan tidak lupa cuipa-cupiki.
”Wah, kamu masih cantik aja, Sel” puji Sinta
“Ya, iyalah...masa ya iya dong. Lagi libur kerja?” Tanya Seila
“Iya, aku lagi cuti. Kemarin baru dari luar kota.” Jelas Sinta
”Oh...Reno juga, sedang di luar kota. Dia pulang hari ini”
”Oh. Ya? Wah kangen-kangenan nih” goda Sinta.
”Ya, iyalah”
”Ngomong-ngomong kapan nih mau ngasih aku keponakan?” tanya Sinta.
Pertanyaan itu membuat wajah Seila menjadi berubah. Pandangannya kini kosong.
”Lho, kenapa? Kamu gak apa-apa kan?” tanya Sinta cemas dengan perubahan wajah sahabatnya itu.
”Gak apa-apa. Hanya saja aku malu untuk mengatakan ini semua”
”Kenapa harus malu, kita sudah bersahabat lama dan kita tidak pernah saling menyimpan rahasia’kan?”
”Kemarin, ketika aku dan Reno periksa ke dokter...”
Sinta memegang erat tangan Seila, ia yakin yang dibicarakan oleh sahabatnya itu bukanlah hal yang baik.
”Dokter bilang aku tidak bisa punya anak. Aku Mandul!” Seila menangis. Seila pun terus menceritakan apa yang sering ia alami selama ini, terutama tentang teror-teror pembunuhan itu.
Sinta hanya diam, entah apa yang ada di pikirannya.

***
Sinta memarkirkan mobil Avanzanya. Ia segera memasuki cafe. Rencananya ia sudah ada janji dengan kliennya dari Jepang. Yah, walaupun cuti tetap saja ia harus bekerja, kliennya itu memang tidak akan lama lagi pulang ke Jepang.
”Konniciwa, apakah anda Mr Takamura?”
“Haii, saya Takamura”
Sinta pun mulai berbicara dengan kliennya itu. Namun, dari sudut matanya ia menangkap sesosok yang tidak asing lagi bagi dirinya. Ia pun mencoba menengok ke arah sosok itu. Terlihat sepasang laki-laki dan perempuan sedang bercengkrama, memadu kasih. Seperti orang yang baru jatuh cinta.
Sinta mengusap air matanya yang ternyata mengalir tanpa dikomando. Ia segera memfokuskan lagi dengan kliennya.
Apa yang harus aku lakukan, Tuhan. Gumamnya dalam hati.
***

”Tenang saja, Mas. Aku kenal seorang Psikiater yang bisa membantumu”
”Siapa?” Reno bertanya
”Dia adalah pamanku. Nanti kamu bawa istrimu itu untuk diperiksa” Jawab si wanita di ujung telepon itu.
”Baiklah, mudah-mudahan Seila mau aku ajak...kalau tidak”
”Sudahlah...aku yakin rencana kita pasti berhasil. Aku akan bicarakan ini kepada pamanku”
Clik
Reno menutup telpon. Ia kembali mengerjakan arsip-arsip yang menumpuk di depan matanya. Mengerjakan kembali pekerjaannya.
***

”Maaf, Pak Reno. Istri anda mungkin harus di rawat di sini dahulu”
Jelas Dr. Herman.
”Ya. Sudah, lakukan yang terbaik. Dok.” Jawab Reno.
”Hmm...Lili sudah cerita semuanya, jadi semua bisa diatur”
”Terima kasih atas pengertian dan kerjasamanya. Dok”
”Sama-sama” Jawan Dr. Herman
Dari ruangan bercat putih kelambu, terdengar Seila berteriak-teriak.
”Reno...Aku Gak Gila. Percayalah padaku”
Reno hanya terdiam dan ia pun pergi meninggalkan Seila. Telpon genggamnya berdering tanda bahwa ia memang harus segera ke kantor.
***
Sinta menyelinap masuk ke kamar Seila. Seila terlihat kosong. Matanya sembab. Tak ada lagi gairah hidup dalam dirinya. Semua orang yang melihatnya pun iba. Orang tua Seila tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi pada anak semata wayangnya itu. Selain divonis mandul, kini Seila di vonis mengalami gangguan jiwa. Ia sering Histeris dan berhalusinasi tentang orang yang akan membunuhnya. Padahal Seila adalah harapan satu-satunya dari keturunan orang tuanya yang kaya raya.
Seila menoleh kearah Sinta. Sinta memakai baju Suster untuk bisa masuk ke kamar Seila.
”Sinta? Kamu”
”Huuus” Sinta menyuruh Seila diam, ia menempelkan jari telunjuknya di bibir.
”Ayo ikut aku. Kita pergi dari sini”
”Kamu percaya sama aku ’kan?”
”Iya. Aku Percaya. Makannya sekarang ayo kita pergi dari sini”
Tanpa ba bi bu Seila dan Sinta pergi dari kamar bercat putih kelabu itu.

***
Reno membuka dasinya dengan malas, sambil masuk ke rumah gedongnya. Entah kemana dia harus mencari Seila yang kabur dari RSJ. Namun matanya terbelalak, isi rumahnya seperti kapal pecah. Di sudut ruangan terlihat seorang wanita menangis.
”Seila? Kenapa kamu ada di sini?” Reno heran.
” Kenapa? Kamu tidak menyangka’kan?” lawan Seila.
”Apa maksudmu. Sayang?” Tanya Reno. Ia segera merogoh celananya mengambil handponnya.
”Kenapa? Kamu pasti mau menelpon psikiater itu? Atau wanita itu?”
Reno makin panik, hal yang paling ia takutkan kini terbuka sudah.
”Tenang dulu, sayang. Wanita mana maksud kamu?”
Seila bangkit dengan mata yang seperti ingin keluar saja. Emosinya kini membuncah, kuat.
”Mas, kalau memang sudah bosan sama aku bilang, kalau mau, kita cerai saja?” Seila naik pitam.
”Aku tahu semuanya, mas. Mas kenapa kau begitu tega? Kau tega melakukan hal ini padaku” Seila berdiri tegak. Matanya tidak lagi setajam tadi. Tiba-tiba dia jatuh ke lantai.
Dari arah belakangnya, seorang wanita merangkulnya.
”Sinta?”
”Aku tahu, pasti bakal begini. Makannya aku sudah memberi dia minuman tadi yang dicampur dengan obat penenang” Jawab Sinta.
”Kamu ...yang?”
”Iya. Aku yang membawa kabur Seila. Aku tahu semua rencana busukmu, Ren. Tak disangka, kamu begitu tamak dan picik”
Dari luar terdengar suara alarm polisi. Tak lama kemudian lelaki berseragam coklat-coklat masuk dan membawa Reno yang masih berdiri dengan lemahnya.