Kamis, 20 Februari 2014

TENTANG JODOH



Katanya Jodoh itu rahasia Tuhan. Benar? Itu memang benar sekali, apalagi jika saat ini banyak sekali cerita mengenai pencarian dan pertemuan dengan jodoh. Kawan-kawanku bahkan aku sendiri merupakan saksi, dan yang merasakan bagaimana misteri itu terjadi padaku.

            Dulu saya menggalau tingkat tinggi mengenai jodoh. Apalagi saat selesai wisuda. Pertanyaan tentang calon suami seolah-olah jadi momok yang menakutkan. Namun, saya untungnya adalah tipe orang “cuek” di depan orang padahal aslinya nggak hehehe tukang nangis di kamar sendirian, alias menangis semalam.  
            Sautu hari guru sehatku berkata: “Jodoh itu bukan dipilih tapi diputuskan! Jadi putuskanlah segera!” mantaf plus nyelekit euy mendengar kata-kata itu. Bagaimana tidak, saat itu saya sedang menggalau tingkat tinggi plus bumbu-bumbunya. Bumbunya banyak, dari mulai sakit hati dengan makhluk yang namanya laki-laki, malas ditanyain terus tentang pasangan hidup, pekerjaan belum ada yang sesuai, dan lain sebagainya.
            Bukan mau jual mahal, beberapa pria melamarku tapi anehnya aku kok nggak ada rasa yang gimana atau sinyal, bahkan setelah istikhoroh pun rasanya mereka biasa-biasa saja. Aku pun mencoba memakai logikaku, mencoba berkenalan dan mengobrol lewat chatt, karena berkali-kali diajak bertemu aku pasti menolak. Aku memang pemilih. Aku akui itu.
            Mengapa aku pemilih, karena aku yakin bahwa untuk memilih pasangan hidup apalagi dia adalah orang yang akan jadi imam seumur hidup kita bukanlah hal yang main-main. Dari pada meladeni orang yang hanya ingin mengajak pacaran, yang hanya membuang-buang waktu dan dosa, mendingan dicap pemilih, toh yang menjalani hidup nanti kita bukan orang lain.
            Benar jika orang dahulu mengatakan bahwa kita harus menikah dengan orang yang jelas bibit, bebet dan bobotnya. Sekarang realities saja, bagaimana mungkin kita menikah hanya dengan orang itu saja, seyogianya kita bukan hanya menikah dengan orangnya saja (pria) tapi kita juga menikah dengan keluarganya. Apakah keluarganya baik? Apakah suami kita dan keluarganya mau menerima kita dan keluarga kita dengan apa adanya? Begitu juga sebaliknya, apakah orang tua kita setuju dan mau menerima keluarga calon suami kita apa adanya?
Ini hanya sekelumit hal yang membuat saya sangat pemilih dalam urusan “jodoh” hehehe…sok idealis. Banyak hal lain yang belum saya paparkan di sini. Hehehehe…
Di tengah-tengah kegalauan itu sahabat-sahabatku yang sama-sama galau pun akhirnya memiliki pasangan. Otomatis membuat hatiku makin galau. Karena merasa ditinggalkan sendiri menjadi orang galau. Oh galau mengapa begitu menggalau.
            Akhirnya pada satu titik kegalauan, guru sehatku memanggilku dan berkata, disaksikan oleh dua temanku yang galau, beliau berkata bahwa sebentar lagi jodohku akan datang. aku mendengarnya dengan senyum-senyum gimana gitu…gak percaya, tapi aku berusaha percaya karena ingat dengan semboyan hukum kepercayaan. Apa yang kau percayai maka itu yang terjadi.
            Hal itu terbukti, seminggu kemudian aku di sms sahabat galauku “dia saat itu masih single dan galau” ingin mengenalkan pada seseorang. Akhirnya aku pun mengizinkan no hp-ku diberikan pada yang ingin dikenalkannnya. Kami pun berkenalan, dan orang tersebut langsung mengatakan maksudnya. Dasar sudah jodoh, anehnya aku pun mengizinkannya.
Beberapa minggu kemudian, orang yang dikenalkan itu pun datang ke rumah dan melamarku.  Idiiih…inikah jodohku? Gak salah kan? Beneran? Kok bisa? Hahaha…itu pertanyaan-pertanyaan yang membuat say atersenyum-senyum jika ingat bagaimana kami bertemu. Nanti, disambung lagi ceritanya yaaaa….
ngomong-ngomong sahabatku yang galau dan mengenalkanku pada temannya kini telah memiliki putra, dan jodohnya pun adalah orang yang tak disangka-sangaka...hehehe

Cikini, meja kerja (lagi nyantai)
20 Februari 2014

Kamis, 12 Desember 2013

Kebutuhan atau Kepuasan?

   Siapa yang tidak ingin mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Gaji besar dan penuh gengsi. Tentunya semua orang menginginkannya? Lah mengapa juga kita harus bekerja? Ya, kalau tidak bekerja kita gak punya duit dooonk…kalau gak kerja kita gak bias ini, itu, bla bla…
                Bekerja merupakan salah satu kebutuhan manusia, walaupun tujuannya adalah memang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Jika kita menengok teori  hirarki kebutuhannya Maslow, bahwa kebutuhan manusia ada lima tingkatan.
               Kebutuhan pertama adalah kebutuhan yang bersifat fisiologis. Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan. Puas makan, puas minum contohnya. 
               Kedua adalahkebutuhan akan rasa aman. Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidakmengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Aman dalam keuangan, aman dari bahaya perang, hujan, panas dan lain sebagainya.
              Ketiga,kebutuhan untuk dicintai dan disayangi. Alias di sini manusia butuh yang namanya perhatian, mencintai dan dicintai oleh orang lain. Pada tahap kebutuhan ini, banyak manusia yang galau, dan biasanya menyerang semua usia. Dari anak-anak hingga orang tua. Cirinya, kalau anak-anak pasti mencari perhatian dengan Berulah (dan biasanya disebut nakal), kalau sudah remaja sampai dewasa mulailah termakan dengan virus merah jambu, alaias jatuh cinta, memiliki pergaulan yang berkelompok, hingga akhirnya memutuskan menikah dan membentuk keluarga baru.
             Yang keempatadalah kebutuhan Harga diri, alias prestise atau gengsi. Dulu kita ketika uangnya pas-pasan atau masih dalam level 1 (Kebutuhan Fisiologis), mau beli sepatu atau baju yang harganya mahalan dikit saja mikirnya beraus-ratus kali,mau makan saja lebih milih cari yang murah. Tapi, kalau sudah terpenuhi alias sudah aman keuangannya maka yang dipikiran yang ada hanyalah harga diri. Mau makan, cari tempat makan khusus orang-orang yang harga dirinya tinggi, pakai baju, celana, jam sepatu dan sebagainya haruslah yang menaikkan harga diri,bermerek dan mahal.
            Yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri, konon Maslow mengatakan bahwa kebutuhan ini muncul apabila semua kebutuhan dasar sampai peringkat ke empat sudah terpenuhi atau terpuaskan, namun apakah manusia hidup hanya untuk mencari kepuasan semata? Bukankah manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas?
           Pernah salahsatu tokoh pengusaha di Indonesia, berkata bahwa ia mencalonkan diri menjadi presiden merupakan dorongan ingin mengaktualisasikan diri. Berarti kalau boleh saya cerna, ia berniat nyapres karena ingin memenuhi kebtuhannya atau kepuasannya semata, kalau tidak puas nanti bagaimana?
Ya, teori boleh ada karena itu semua berasal dari pengalaman pribadi dan juga penelitiannya juga termasuk teori Maslow ini.  Hanya saja, jika kita lihat realitinya, adakah sekarang orang yang sudah terpenuhi fisiologisnya, sandang pangan papannya baru dia mau cari pacar atau pasangan? Atau sudah menikah baru beli baju yang bermerek? Jam bermerek?
             Kenyataannya tidaklah demikian. Berapa banyak pengangguran yang ingin makan mewah, punya pacar cantik/ganteng, supaya pas jalan banyakyang kagum. Berapa banyak orang yang nyaleg berbekal ijazah palsu, berapa banyak orang pura-pura kaya demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain. Itu kebutuahn atau kepuasan?  Hehehe…Semua kembali lagi ke diri masing-masing. Wallahu’alam

*Catatan saat hujan di busway

Senin, 16 September 2013

FENOMENA VICKY… AWALNYA GUNJINGAN JADI TREND?

Sumber gambar : http://www.youtube.com/watch?v=75pR9Rf3Vtg


Tak sengaja, membuka halaman FB ada sebuah status temanku yang nge-share video  wawancara konyol pada saat pertunangan artis dangdut Zaskia Gotik dan juga calon suaminya yang membuat saya berhenti dan meng-klik tagline tersebut. Berikut ini kata-kata yang membuat saya ingin tertawa, apalagi dalam video diiringi dengan backsound yang sesuai dan menandakan kekonyolan sang actor.

"Di usiaku saat ini, ya twenty nine my age, tapi aku masih merindukan apresiasi, karena basically aku seneng music walau kontroversi hatiku lebih menunjukkan konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya.

Ya kita belajar pada harmonisisasi pada hal yang terkecil sampai yang terbesar. Aku pikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan mengkudeta apa yang menjadi keinginan.

Dengan hubungan ini bukannya untuk mempertakut bukan mempersuram statutisasi kemakmuran keluarga dia tapi menjadi confident. Kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita lebih baik dan aku sangat bangga."

                Jujur, sebagai orang yang pernah bergabung dalam komunitas kepenulisan ini adalah salah satu contoh orang yang menghancurkan tatabahasa. Namun, anehnya di Negara kita tercinta ini di satu sisi hal ini jadi gunjingan, apalagi sang tokoh adalah orang yang terlibat banyak kasus. Tapi di sisi lain, hal ini malah diikuti “latah” dan dijadikan trend.
                Lihat saja, di FB atau pun media sosial lainnya setiap status kebanyakan kini menggunakan gayanya Vicky. Mantap kali orang ini, Cuma dua menit kemunculannya dalam wawancara, tapi sudah menghipnotis manusia sebegitu banyaknya bahkan menjadi berita terus terutama di infotaiment. Sms, status BB bahkan percakapan kita pun mulai menggunakan bahasa “alay-nya Vicky”.
                Fenomena ini adalah salah satu rentetan dari latahnya manusia. Manusia adalah makhluk audio visual, artinya apa yang ia dengar dan lihat dengan mudah menirunya bahkan tanpa filter untuk membedakan apakah ini baik atau buruk jika dilakukan. Kuncinya, hanya pada kesadaran masing-masing individu. Kesadaran itu dipelihara dan digunakan hanya bagi orang-orang yang memiliki landasan idealisme dan keyakinan diri yang kuat, sehingga ia tak mudah terpengaruh tapi terbuka dalam fikiran yang positif dan bersabar dalam menjalankan proses kehidupannya.
Apa yang diucapkan Vicky mungkin itu adalah dampak dari kebiasaan ia sehari-hari. Sehingga, ia pun tanpa sadar melakukannya di ruang yang dia anggap sama seperti biasanya ia berkata-kata. Padahal itu membuat kontroversi hati...et dah mulai kebawa nih...hihihi. Ya, biarlah Vicky menjadi tren karena saat ini saatnya dia yang popular, setelah masa habisnya kepopuleran Arya Wiguna melalui “GERBRAKAN MARAHNYA” dan juga kepopuleran Syahrini dengan “Sesuatunya.” Bahasa, gaya adalah hal yang mudah sekali menjadi model bagi orang lain. Alangkah bijaknya jika kita sebagai manusia lebih hati-hati dalam berperilaku maupun berkata-kata. Karena apa yang kita katakan dan lakukan adalah cerminan dari diri kita.Semoga kita menadi Model yang baik bagi orang lain, setidaknya jadilah model yang baik untuk keluarga kita.

GERAKAN INDONESIA SADAR

               

Jumat, 13 September 2013

SAMPAH OH SAMPAH

Teringat dahulu, rumahku adalah langganan banjir. Pernah lagi nyenyak-nyenyaknya tidur terbangun, karena kasur sudah terapung di air dan aku Cuma bengong menyadari bahwa rumahku sudah jadi kolam yang berwarna coklat. Adikku sampai solat dengan kecepatan gigi 3 karena iar keburu masuk kamarnya. Hujan lebat, bau, dan lapar adalah hal yang biasa kami rasakan ketika banjir datang.              Semua orang marah-marah, marah sama pemerintah karena tak becus mengatasi banjir. Mereka bahkan tak segan-segan berteriak-teriak untuk segera mengganti Gubernur. Akhirnya kini Jokowi jadi Gubernur, lalu apakah yang terjadi? Hujan beberapa lalu malah membuat rumahku kembali tergenang banjir. Jadi, salah siapakah bencana ini? Gubernur? Atau warganya?
Miris  memang rasanya, tiap kali aku keluar rumah selalu saja melihat lingkungan yang dari segi kebersihan sangatlah jauh, mengapa demikian? Ya, tentu saja karena rumahku berada di daerah padat penduduk tak ayal menyebabkan amburadulnya susunan dan tata ruang di sana. Kali dekat rumahku selain hitam tapi juga penuh dengan tumpukkan sampah.
            Kadang, rasanya ingin ku marah dengan perilaku warga yang seenaknya membuang sampah. Pernah suatu kali aku menyaksikan sendiri bagaimana dengan santainya warga dari lantai dua rumahnya melemparkan sekeresek sampah ke kali. Bayangkan jika semua warga melakukan hal yang sama? Berapa banyak tumpukan dan penuhnya kali dengan sampah.
            Perilaku yang lainnya yang kalau dipikir-pikir kok nih orang “gak punya otak” adalah dengan enaknya membuang sampah ke kali, padahal di sampingnya bahkan di depan matanya itu adalah TONG SAMPAH. Sudah jelas-jelas di RW kami telah disediakan tong sampah di depan rumah atau belakang rumah masing-masing rumah yang setiap paginya diangkut sampahnya oleh petugas kebersihan.
            Jika orang dewasa dan orang tuanya saja sudah berperilaku demikian, lalu bagaimana dengan anak-anak mereka. Padahal yang kita tahu, apa yang dilakuakn oleh orang tua adalah cermin yang akan dilihat oleh anak-anaknya. Apakah tidak terjadi ‘galauisasi’( red Vickybollary) di hati mereka, yang di sekolah harus menjaga kebversihan tapi di rumah ia melihat perilaku keluarganya yang sebaliknya.
             Beberapa kali ku lihat berita di media bagaimana pak gubernur melalukan langkah-langkah yang luar biasa dalam menanggulangi bencana banjir, mulai dari perbaikan waduk, mengeruk waduk, merelokasi warga yang tinggal di daerah banjir atau resapan air ke tempat yang lebih layak, sungguh aku acungkan jempol! Tapi, lagi-lagi aku selalu ironis dengan perilaku warganya yang “ngeyel”, tak mau direlokasi, padahal sudah diberikan tempat yang layak dan gratis, bahakan jika harus bayarpun dengan cicilan yang sesuai.
            Entahlah, yang jelas kita semua harus sadari bahwasanya manusia adalah makhluk yang selalu tidak puas, selalu mencari pembenaran dengan apa yang dilakukannya tanpa melihat dan dan menganalisa dari berbagai sudut. Kadang terpikir juga olehku, mungkin mereka tidak tahu, tidak mengerti dan lain-lain. Tapi batinku yang lain berkata, mana mungkin tinggal di Ibu kota jika tidak tahu apa-apa. Ini hanya unek-unek saya sebagai warga yang selalu melihat setiap harinya keanehan warga Jakarta melakukan hal yang aneh-aneh, ini hanya satu potret saja, masih banyak potret lain yang membuat saya berkata,” Lho…kok bisa?”
            Kesadaran itu hanya bagi-bagi orang yang bersyukur dan bersabar. Semoga kita adalah salah satu orang yang ada di dalamnya. Ayo kita canangkan GERAKAN SADAR INDONESIA! SADAR SESADAR-SADARNYA!


Jumat, 23 Agustus 2013

http://www.yess-online.com/lomba-cerpen-travel-romance

Jumat, 26 April 2013

Tasrifin


Sumber Gambar : http://www.bayikuning.com/2013/04/siapa-tasripin-anak-banyumas-di-twitter.html


                  Sebuah media dalam program beritanya menayangkan sosok bocah 12 tahun yang patut diberikan apresiasi, namanya Tasrifin. Sejak ia muncul di media, bocah itu menjadi sosok yang diperbincangkan dan mengundang perhatian masyarakat terutama pemerintah tentunya. Mengapa tidak, bocah 12 tahun itu hidup dengan mengasuh tiga orang adiknya yang masih kecil-kecil. Ia tidak lanjut sekolah karena sudah menjadi tuilang punggung keluarganya. Yatim, karena ibunya meninggal karena tertimpa longsor yang terjadi di daerahnya saat bekerja, sedangkan sang ayah pergi mencari uang ke Kalimantan meninggalkan ia beserta tiga orang adiknya. Selama enam bulan sang ayah tak pernah pulang.

                 Tasrifin mengundang keprihatinan masyarakat, jurnalis yang menemukannya membuat ia menjadi terkenal sebagai ANAK TANGGUH. Di usianya yang masih bocah, atau menuju remaja tasrifin benar-benar kuat dan tangguh. Ia membanting tulang bekerja mencari uang untuk makan ketiga adiknya, ia juga mengerjakan semua pekerjaan rumah ari mulai bagun pagi memasak air, memandikan adik-adiknya, membuat makanan, mencuci dan lain sebagainya. Sungguh mental yang kuat diusia itu. Yang patut diacungi jempol adalah Tasrifin tak pernah mengeluh ataupun meminta-minta kepada orang lain.
               Semenjak ia muncul di berbagai media dan terkenal, Pemerintah setempat, politikus, dermawan yang datang dan memberikan bantuan, dari mulai diperbaikinya rumah, uang, beras, kambing dan lain sebagainya. Bahkan Sang Presiden RI pun melalui ajudannya memberikan segepok uang. Aneh memang, entah mengapa disini ada sebuah ironis. Karena, kebanyakan bantuan dai mereka hanya bersifat jangka pendek, bukan jangka panjang.
             Semenjak muncul di televisi dan menjadi tamu di beberapa program tv, Ayahnya pun pulang. Saya sempat melihat di sebuah program talk show saat itu ayahnya Tasrifin diwawancara. Dengan alasan untuk mencari uang ia pun terpaksa meninggalkan anak-anaknya. Otomatis semua tanggung jawab orang tuanya Tasrifinlah yang menanggung.
             Jika dilihat secara mental, Tasrifin patut diacungi jempol. Karena dengan keadaannya sekali lagi ia tak pernah mengeluh atau pun meminta-minta seperti yang dilakukan kebanyakan orang yang banyak kita lihat di jalan-jalan. Namun, cara bantuan yang diberikan oleh beberapa pihak, mungkin harus segera diperbaiki. Karena mental baja yang tengah ada pada diri Tasrifin jangan sampai berubah menjadi mental manja karena banyaknya orang yang memberikan bantuan. Lebih baik bantuan itu yang bersifat jangka panjang dan mendidik. Tasrifin butuh pendidikannya dilanjutkan itu yang paling paling penting.
             Kisah Tasrifin adalah salah satu fenomena yang menggambarkan bagaimana sengsaranya anak-anak Indonesia di luar sana harus bekerja keras demi hidup dan keluarganya. Mereka adalah anak-anak yang harus diselamatkaan jiwa dan mentalnya. Karena, merekalah penerus bangsa ini.uran   Mental yang paling penting itu harus digaris bawahi, karena jika mentalnya bobrok maka akan jadi apa mereka di masa ddepan. Mental meinta-minta, ingin dikasihani, mental tawuran dan lain sebagainya.
           Mereka harus diberikan pelayanan dan program-program yang berkesinambungan dalam hal mengarahkan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik lagi.  Terutama dengan program-prorgam pendidikan, keagamaan, kemandirian, bukan hanya bantuan yang sifatnya sementara dan hanya diberikan ketika media mem-blow-up saja.  Ini adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai bagi pemerintah dan kita semua sebagai manusia.
          Semoga dengan adanya kisah Tasrifin ini, kita semua semakin sadar bahwa di luar sana banyak orang yang lebih sengsara dari pada kita, dan kita wajib bersyukur dengan apa yang kita dapatkan saat ini. Kita menjadi lebih peka dan lebih peduli. Bukankah sebaik-baiknya umat adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Sekecil apa pun bantuan ataupun usaha yang kita lakukan, Insyaallah akan menjadi manfaat bagi orang yang membutuhkannya, asalkan kita ikhlas dan sabar.
           Kisah Tasrifin bukan hanya di desanya, tapi di mana-mana ada Tasrifin. Ayo buka mata dan hati kita. Kita jadikan hidup kita lebih sukses dan kaya, agar dapat membantu orang lain. Amin.

           

Kesempatan Hidup

         Aku terbangun dengan tiba-tiba. Bingung dan tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi padaku. Aku berbaring di pinggir jalan dengan darah yang terus menetes dari hidungku. Seorang wanita dengan stetoskop di lehernya terdengar berucap" Alhamdulillah sudah sadar, mbak." 
Lalu dia terus membersihkan darah yang keluar dari hidungku dengan catton bath, seraya bertanya, "Mbak namanya siapa?" 
aku belum bisa menjawab, aku melihat di sekeliling. Terlihat ada dua laki-laki yang bedarah juga di bagian kepalanya. Beberapa orang mengerubuni kami. Suasana begitu gelap, entah jam berapa. Ramai terdengar suara orang berbincang dan juga lalu lalang kendaraan.
         "Mbak namanya siapa?" tanya si wanita dan diikuti dengan suara laki-laki. 
         "Iya, mbak namanya siapa?" 
Aku bingung, sekaligus berfikir. Aku pun mengingat-ingat lagi apa yang terjadi. Kepalaku terasa sakit dan pusing. 
         "Li...na" jawabku, teringat dengan siapa diriku. 
         "Oh, Lina. oke...mbak Lina ada keluarga  yang bisa dihubungi?" tanya si wanita muda itu. 
Aku terdiam sejenak, meraba kantong celana. Aku teringat dengan telpon selularku. 
         "Mbak sabar ya," seorang gadis belia memegangi tanganku yang terluka berdarah.
Aku menemukan ponsel di kantung celanaku, langsung kulihat nama-nama dan tertuju pada satu nama yang tiba-tiba muncul di otakku, "Bagus" ucapku. Aku ingat, dia calon suamiku. Aku segera menghubunginya. 
           "Hallo...."
           "Salamu'alaikum", jawab di sebrang sana. 
           "sayang aku kecelakaan" kataku 
           "Apa? di mana?"tanyanya terdengar panik. 
Aku terdiam, melihat sekeliling dengan terbatas. Aku pun bertanya pada gadis belia yang memegangi tanganku dan memandangku penuh kasih. 
           "Mbak aku dimana?" 
           "Di Jl. Mesjid Ar-Ridwan Jati padang" jawabnya.
           "A...ku di jati padang" kataku.
Setelah itu hp pun mati. Entah pulsanya habis atau bagaimana. 
           "Mbak, ini hp saya. Atasan saya namanya bu Endang cari saja" kataku tak berdaya.  Wanita yang bergaya dokter itu pun menelpon bu Endang. 
            Kepalaku sakit sekali, ingin rasanya aku tertidur. Rasanya sangat ngantuk sekali dan ingin kupejamkan mata saja. Terdengar bapak-bapak berkata bahwa yang menabrak kami lolos dan tidak dapat dikejar. Aku melihat pak Kislam, Office Boy yang mengantarku dengan motor terluka dan duduk seperti orang kebingungan. Ia terlihat sangat shock. Aku bertanya apa dia baik-baik saja. tapi mulutku tak mampu berkata-kata banyak. berat rasanya.
            "Tahan ya mbak," kata wanita yang memakai stetoskop dilehernya sambil membersihkan luka ditanganku dengan alkohol. 
           "auuuuu..."aku meringis kesakitan. Perih memang dan sangat sakit. 
setelah itu, dengan sigap ia membungkus lukaku dengan perban. 
Kepalaku terasa sangat sakit dan pusing. Aku menengok ke arah gadis belia yang memegangi tanganku. Entah kenapa tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. Aku melihat ke langit, langit berwarna gelap tapi terang karena lampu jalan. 
          "Ya Allah, ternyata aku masih hidup. Kau masih memberikanku waktu tuk menjalani dan bertobat. Ya Allah, maafkan dan ampuni segala kesalahanku. Allah aku masih banyak hutang yang harus ku bayar, kesalahan yang harus ku tebus dan aku belum meminta maaf kepada semua orang yang telah aku dzalimi. Ampuni aku ya Allah...astagfirullah" doaku dlaam hati. 
       Terbayang semua wajah-wajah yang ku rindukan, Mamah, bapak, calon suamiku, adik-adikku, Om Bagus, Mbak wie, semua orang yang aku cintai. Terbayang semua dosa-dosa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku terus menangis dan bergumam menyebut nama-nama mereka. Ku pejamkaan mataku karena tak kuat dan terasa sangat ngantuk sekali.
       "Mbak kuat ya, mbak jangan tidur" kata gadis belia itu
       "Kenapa?" tanyaku"kenapa tak boleh tidur?" 
       "Nggak apa-apa mbak, supaya gak hilang lagi" jawab wanita bergaya dokter sambil membersihkan darah  dihidungku lagi. 
       Aku memegang erat tangan gadis vbelia yang ku perkirakan masih SMA itu. 
       "Mbak tolong bacakan al-fatihah ya untuk saya." Pintaku padanya, ia hanya mengangguk. 
       Aku teringat dengan ajaran guru-guruku untuk selalu membacakan al-fatihah dalam setiap apa pun yang terjadi, agar hati kuat. Setelah beberapa lama kemudian, muncullah beberapa teman kantorku Bu Marry dan suaminya, Bu Endang dan Bu Endah. Aku tak ingat bagaimana, yang jelas aku dibawa ke RS. Entahlah antara sadar atau tidak aku dibawa ke RS terdekat. 
      Hal yang paling ku syukuri adalah bahwasannya hingga saat ini aku masih diberikan kesempatan hidup untuk dapat mengisi umurku dengan perbuatan terbaik dan ketakwaan. Aku tak dapat bayangkan jika aku terbangun bukan di pinggir jalan tapi di alam kubur, dan suara pertama yang bertanya bukan suara sang penolong yang menanyakan siapa namaku dan siapa keluargaku yang dapat dihubungi, tapi suara malaikat yang menanyakan siapa tuhanku dan bagaiamana imanku. 
     Astagfirullahal'adziiim ya Allah. Semoga ke depan aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi yang dapat mengisi kehidupan ini dengan baik, benar dan bagus. Terima kasih kepada keluargaku, Teman-teman di mana pun berada yang telah menolongt, menjenguk dan mendoakanku. Maafkan segala kesalahan saya selama ini. Semoga kita semua dapat mempergunakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Amiin. 

"Orang yang paling beruntung adalah, orang yang lebih baik dari hari kemarin"