Jumat, 13 September 2013

SAMPAH OH SAMPAH

Teringat dahulu, rumahku adalah langganan banjir. Pernah lagi nyenyak-nyenyaknya tidur terbangun, karena kasur sudah terapung di air dan aku Cuma bengong menyadari bahwa rumahku sudah jadi kolam yang berwarna coklat. Adikku sampai solat dengan kecepatan gigi 3 karena iar keburu masuk kamarnya. Hujan lebat, bau, dan lapar adalah hal yang biasa kami rasakan ketika banjir datang.              Semua orang marah-marah, marah sama pemerintah karena tak becus mengatasi banjir. Mereka bahkan tak segan-segan berteriak-teriak untuk segera mengganti Gubernur. Akhirnya kini Jokowi jadi Gubernur, lalu apakah yang terjadi? Hujan beberapa lalu malah membuat rumahku kembali tergenang banjir. Jadi, salah siapakah bencana ini? Gubernur? Atau warganya?
Miris  memang rasanya, tiap kali aku keluar rumah selalu saja melihat lingkungan yang dari segi kebersihan sangatlah jauh, mengapa demikian? Ya, tentu saja karena rumahku berada di daerah padat penduduk tak ayal menyebabkan amburadulnya susunan dan tata ruang di sana. Kali dekat rumahku selain hitam tapi juga penuh dengan tumpukkan sampah.
            Kadang, rasanya ingin ku marah dengan perilaku warga yang seenaknya membuang sampah. Pernah suatu kali aku menyaksikan sendiri bagaimana dengan santainya warga dari lantai dua rumahnya melemparkan sekeresek sampah ke kali. Bayangkan jika semua warga melakukan hal yang sama? Berapa banyak tumpukan dan penuhnya kali dengan sampah.
            Perilaku yang lainnya yang kalau dipikir-pikir kok nih orang “gak punya otak” adalah dengan enaknya membuang sampah ke kali, padahal di sampingnya bahkan di depan matanya itu adalah TONG SAMPAH. Sudah jelas-jelas di RW kami telah disediakan tong sampah di depan rumah atau belakang rumah masing-masing rumah yang setiap paginya diangkut sampahnya oleh petugas kebersihan.
            Jika orang dewasa dan orang tuanya saja sudah berperilaku demikian, lalu bagaimana dengan anak-anak mereka. Padahal yang kita tahu, apa yang dilakuakn oleh orang tua adalah cermin yang akan dilihat oleh anak-anaknya. Apakah tidak terjadi ‘galauisasi’( red Vickybollary) di hati mereka, yang di sekolah harus menjaga kebversihan tapi di rumah ia melihat perilaku keluarganya yang sebaliknya.
             Beberapa kali ku lihat berita di media bagaimana pak gubernur melalukan langkah-langkah yang luar biasa dalam menanggulangi bencana banjir, mulai dari perbaikan waduk, mengeruk waduk, merelokasi warga yang tinggal di daerah banjir atau resapan air ke tempat yang lebih layak, sungguh aku acungkan jempol! Tapi, lagi-lagi aku selalu ironis dengan perilaku warganya yang “ngeyel”, tak mau direlokasi, padahal sudah diberikan tempat yang layak dan gratis, bahakan jika harus bayarpun dengan cicilan yang sesuai.
            Entahlah, yang jelas kita semua harus sadari bahwasanya manusia adalah makhluk yang selalu tidak puas, selalu mencari pembenaran dengan apa yang dilakukannya tanpa melihat dan dan menganalisa dari berbagai sudut. Kadang terpikir juga olehku, mungkin mereka tidak tahu, tidak mengerti dan lain-lain. Tapi batinku yang lain berkata, mana mungkin tinggal di Ibu kota jika tidak tahu apa-apa. Ini hanya unek-unek saya sebagai warga yang selalu melihat setiap harinya keanehan warga Jakarta melakukan hal yang aneh-aneh, ini hanya satu potret saja, masih banyak potret lain yang membuat saya berkata,” Lho…kok bisa?”
            Kesadaran itu hanya bagi-bagi orang yang bersyukur dan bersabar. Semoga kita adalah salah satu orang yang ada di dalamnya. Ayo kita canangkan GERAKAN SADAR INDONESIA! SADAR SESADAR-SADARNYA!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar