Miris
memang rasanya, tiap kali aku keluar
rumah selalu saja melihat lingkungan yang dari segi kebersihan sangatlah jauh,
mengapa demikian? Ya, tentu saja karena rumahku berada di daerah padat penduduk
tak ayal menyebabkan amburadulnya susunan dan tata ruang di sana. Kali dekat
rumahku selain hitam tapi juga penuh dengan tumpukkan sampah.
Kadang, rasanya ingin ku marah
dengan perilaku warga yang seenaknya membuang sampah. Pernah suatu kali aku
menyaksikan sendiri bagaimana dengan santainya warga dari lantai dua rumahnya
melemparkan sekeresek sampah ke kali. Bayangkan jika semua warga melakukan hal
yang sama? Berapa banyak tumpukan dan penuhnya kali dengan sampah.
Perilaku yang lainnya yang kalau
dipikir-pikir kok nih orang “gak punya otak” adalah dengan enaknya membuang
sampah ke kali, padahal di sampingnya bahkan di depan matanya itu adalah TONG
SAMPAH. Sudah jelas-jelas di RW kami telah disediakan tong sampah di depan
rumah atau belakang rumah masing-masing rumah yang setiap paginya diangkut
sampahnya oleh petugas kebersihan.
Jika orang dewasa dan orang tuanya
saja sudah berperilaku demikian, lalu bagaimana dengan anak-anak mereka. Padahal
yang kita tahu, apa yang dilakuakn oleh orang tua adalah cermin yang akan
dilihat oleh anak-anaknya. Apakah tidak terjadi ‘galauisasi’( red Vickybollary)
di hati mereka, yang di sekolah harus menjaga kebversihan tapi di rumah ia
melihat perilaku keluarganya yang sebaliknya.
Beberapa kali ku lihat berita di media
bagaimana pak gubernur melalukan langkah-langkah yang luar biasa dalam
menanggulangi bencana banjir, mulai dari perbaikan waduk, mengeruk waduk,
merelokasi warga yang tinggal di daerah banjir atau resapan air ke tempat yang
lebih layak, sungguh aku acungkan jempol! Tapi, lagi-lagi aku selalu ironis
dengan perilaku warganya yang “ngeyel”, tak mau direlokasi, padahal sudah
diberikan tempat yang layak dan gratis, bahakan jika harus bayarpun dengan
cicilan yang sesuai.
Entahlah, yang jelas kita semua
harus sadari bahwasanya manusia adalah makhluk yang selalu tidak puas, selalu
mencari pembenaran dengan apa yang dilakukannya tanpa melihat dan dan
menganalisa dari berbagai sudut. Kadang terpikir juga olehku, mungkin mereka
tidak tahu, tidak mengerti dan lain-lain. Tapi batinku yang lain berkata, mana
mungkin tinggal di Ibu kota jika tidak tahu apa-apa. Ini hanya unek-unek saya
sebagai warga yang selalu melihat setiap harinya keanehan warga Jakarta
melakukan hal yang aneh-aneh, ini hanya satu potret saja, masih banyak potret
lain yang membuat saya berkata,” Lho…kok bisa?”
Kesadaran itu hanya bagi-bagi orang
yang bersyukur dan bersabar. Semoga kita adalah salah satu orang yang ada di
dalamnya. Ayo kita canangkan GERAKAN SADAR INDONESIA! SADAR SESADAR-SADARNYA!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar