Aku masih saja terdiam, bingung dan entah apa yang harus aku lakukan. Badanku gemetar, tak percaya dan kalut. Sebuah sms dari temanku itu sungguh nyata tertulis. Jelas.
"Innalillahi wainnailahi roji’un telah berpulang ke rahmatullah Murnisari… semoga amal ibadahnya diterima Allah."
Murni…duniaku rasanya runtuh, jantungku terasa berhenti berdetak. Aku keluar ruangan, dan menelpon balik Diki untuk menanyakan kebenaran kabar itu. Namun, itu memang benar. Aku sangat berharap bahwa itu salah kirim dan salah nama. Namun semuanya benar. Murniasari. Mahasiswa Akuntansi, Fak Ekonomi UIN Syahid Jakarta angkatan 2006 & Anggota FLP Cab. Ciputat 2006.
Setelah bertemu dengan Dodo dan kawan-kawan seperjuanganku di FLP, akhirnya kami pun berangkat menuju ke rumah almarhumah. Di perjalanan seluruh kenangan itu hadir kembali di kelopak mataku. Seperti layar bioskop yang sedang memutar film kehidupan. Ya, kisah kami, sahabatku Murniasari.
***
Aku duduk di pojokan ruangan. Bingung dan tak mengerti. Saat itu aku adalah anggota baru FLP cab. Ciputat. Di dalam kebingunganku, seorang wanita manis menyapaku.
“Hai, anak baru juga ya?” tanyanya dengan senyum yang sangat bersahabat.
“Iya…kamu?” jawabku balik bertanya.
“Sama, aku juga…suka nulis juga ya?”
“Iya…hehehe…oh iya kenalin aku Lina”
“Oh…iya. Aku Murni. Aku anak akuntasi”
“Aku anak Psikologi”
Sejak saat itu kami berteman. Setiap kali pelatihan kami selalu janjian untuk pergi dan datang bersama. Kami tak gentar untuk terus berkomitmen menulis dan bertahan di FLP walaupun saat itu anggotanya hanya tinggal kami berdua. Kami pun menjadi pengurus dadakan, karen atidak ada lagi orang. semuanya seperti ditelan bumi, lenyap. mengkin itulah yang disebut dengan seleksi alam. Tapi kami tetap bertahan, mau tidak mau saat itu aku menjadi sekretaris dan Murni menjadi bendahara.
Pengurusan pun terus berlanjut hingga tahun kedua. Pada saat itu, Anggota FLP Ciputat hanya tinggal lima orang. Ketua Andro Mediawan, Wakil ketua Rochmad Widodo, Sekretaris aku sendiri, Bendahara Murniasari dan Rahmat HM menjabat sebagai Divisi Pelatihan. Kami pun mengadakan rekrutmen Anggota baru angkatan ke-4. Walaupun hanya lima orang tapi semangat kami bagaikan seribu prajurit yang siap berperang menaklukan dunia.
Tekad kami untuk berjihad dengan pena bukanlah main-main. Mulai dengan menyusun konsep hingga menyebarkan pamphlet dan leaflet kami lakukan bersama-sama. Murni adalah sosok yang paling semangat saat itu, dengan ide-ide cemerlangnya untuk merekrut anggota baru agar berjalan dengan lancar.
Aku masih ingat bagaimana kami berlima menempelkan pamflet yang cuma difotocopy (maklum dananya tidak ada, itu juga patungan) harus kami tempel ke seluruh gedung fakultas di UIN serta jalan-jalan yang ada di sekitar Ciputat. Saat itu aku dan Murni bertugas untuk menempelkan di gedung-gedung fakultas, mulai dari fakultas syari’ah hingga fakultas ekonomi, sedangkan Andro, Dodo, dan Rahmat menempel di gedung fakultas Tarbiyah, SC, dan jalan-jalan sekitar pasca dan Fatullah. Aku dan Murni tidak jadi menempelkan di Fakultas ekonomi, karena saat itu sedang ramai sekali di sana. Mental kami cukup ciut melihat begitu banyak orang yang melihat seolah-olah kami maling yang tertangkap basah.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Saat itu kami pun berkumpul di depan pintu kecil UIN (Pesanggrahan). Ku lihat wajah-wajah lelah namun semangat tersenyum tersamar oleh jingga sore itu.
“Gimana? Beres?” tanyaku
“Belom nih, tinggal pesanggrahan.” Jawab Dodo.
“ya, sudah yuk kita tempelin….” Kata Murni sembari berjalan mulai menempel di dinding, tiang yang kira-kira bisa ditempelin oleh pamflet kami. tak ada kata lelah saat itu, yang ada hanyalah semangat.
Banyak pamflet-pamfelt acara yang sudah lama kami copot dan kami ganti dengan pamphlet kami. Hehehe… Akhirnya, acara temple-menempel pun selesai. Kami pun solat magrib di mesjid Fatullah.
Aku dan Murni tdak langsung pulang, kami pun kembali ke gedung Fakultas Ekonomi untuk menempelkan kembali pamflet yang belum tertempel di gedung lantai atas. Sebenarnya sengaja kami menempelkan pada malam hari di sana, agar tidak terlalu malu dan juga tentunya tidak banyak yang dirobek oleh tangan-tangan jahil.
Selama satu minggu kami mengadakan rekrutmen di lapangan SC UIN. Secara bergantian kami menjaga stand pendaftaran. Kami bahkan rela bolos kuliah untuk menjaga stand jika kebetulan semuanya bentrok jam kuliahnya. Sampai-sampai pada semester berikutnya kami harus banyak mengulang beberapa mata kuliah.
Murni adalah sosok wanita tangguh di sini. Dia acapkali menggotong meja sendiri, dan peralatan stand pendaftaran sendiri di pagi hari. bahkan saat beres-beres pun dia tak pernah minta bantuan pada siapa-pun. Baginya, jika ingin membantu tak harus diminta, jika dia mampu melakukan sendiri maka dia akan melakukannya walaupun harus sendiri. Sering aku mengejeknya dengan mengatakan "Mur kau ini cewek atau cowok?" murni pun tak kalah mencibirku..."Lha kau sendiri cewek atau cowok?" setelah itu kami hanya tertawa dan berkata bersama-sama "Kita kan sama hahahaha"
Perjuangan kami tak sia-sia. Untuk pertama kalinya di dunia FLP, FLP cabang Ciputat menerima pendaftaran dengan peserta terbanyak yaitu sebanyak 160 orang. Termasuk diantaranya adalah orang-orang yang kin telah menjadi penulis muda yang sangat luar biasa, seperti Ali Rif’an, Arief Mahmudi, Akhmad Syaikhu, Aji Payumi, M. Gufron Hidayat, Nurul Khasanah, Desy Arisandi, Anna Maria Faulina, Erick Purnama Siddiq,Anah El-Hisani dan lain sebagainya (tak bisa ditulis satu-satu—jangan marah yaaa^^)
Itulah jasa dari seorang Murniasari di FLP. Wanita luar biasa ini adalah wanita tangguh yang selalu ada di kala suka dan duka. Banyak kenangan indah yang terukir dengan namanya. Menangis, tertawa bukan hal yang asing bagi kami berdua. kadang jika salah satu dari kami bersedih, maka kami akan saling menghibur dengan saling menelpon dan saling kirim sms. Pernah suatu ketika ia pun menginap di kotsanku hanya iuntuk menghiburku yang saat itu sedang putus cinta hehehe...
Perjuangan bermandi keringat pernah kami lakukan juga ketika FLP Pusat mengadakan Silaturahim Nasional. Almarhumah bertugas mencari sponsor bersamaku ke dareah jalan pegangsaan Menteng dan jalan Panjang Jakarta Timur. Akhirnya aku pun janjian bertemu dengannya di Menteng. Saat itu aku masih pulang pergi (belum kots di ciputat), Murni telah mengungguku seorang diri di halte bis jalan Pegangsaan Menteng (Depan Gedung Proklamasi). Dengan sabarnya dan dengan niat mendapatkan dana, malu-malu tapi mau kami pun mempresentasikan proposal kami dis ebuah radio di kawasan itu.
Selesai dari menteng kami pun berankat ke jalan Panjang. Kami ke sebuah perusahaan TV Cabel yang cukup terkenal. Pulang dari sana kami kehujanan. Hujan angin membuat kami basah kuyup. Sambil menahan dingin kami mencari mobil yang kira-kira dapat membawa kami pulang ke rumah. Hujan terus mengguyur badan kami yang menggigil, mobil pun tak urung datang. Aku ingin sekali menangis, namun ketika ku lihat wajah Murni aku malu. Ia begitu bahagia, katanya ini sebuah petualangan yang hebat.
Jika ku kisahkan maka tak cukuplah waktu dan terlalu banyak yang ingin kuceritakan mengenai wanita hebat ini. Yang jelas, dia adalah sahabat terbaikku yang pernah ku miliki di dunia ini. Aku menyesal karena aku tak bisa menemani saat –saat dia membutuhkanku. Mungkin aku bukanlah teman yang baik baginya. Namun, yang jelas aku sangat mencintainya.
Mesjid Fatullah adalah saksi bisu di mana aku harus melihatnya untuk yang terakhir kali dia dalam keadaan bahagia dan penuh semangat, karena ia telah bertunangan dengan seseorang yang dirahasiakannya dari ku. Aku ingat kami berpelukan erat dan saling memberikan semangat agar skripsi kami selesai dan dapat wisuda bersama di tahun ini. namun, ternyata itulah saat terakhir ku melihatnya dan memeluknya.
Allah yang Maha penyayang, Aku Mohon tempatkanlah sahabatku di surga-Mu yang angung. Ampunilah segala dosa dan khilafnya. Amin.
Cerita ini aku tulis bukan sebagai ajang penyesalanku, tetapi semoga menjadi ibroh bagi kita semua, semoga kita tidak menyia-nyiakan waktu, kesempatan, persahabatan dan cinta. Karena, If tomorrow never day.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar