Rabu, 20 Oktober 2010

Menulis Part 1

Saya jadi ingat, semenjak kecil saya sangat suka sekali membaca. Sering kali saya meminta Ayah, Kakak bahkan paman saya untuk menulis singkatan-singkatan di buku saya. Mulai dari huruf A-Z, agar dapat saya baca dan hafalkan. Entah mengapa ada kepuasan tersendiri jika saya mampu menghafal dan memahami apa yang saya baca. Seperti ada sebuah cahaya yang masuk ke dalam mata hati saya, dan badan saya terasa ringan. Dasyat!
Sering kali ketika SD, saya membaca semua buku-buku yang berserakan di kamar kakak sepupu saya, sampai-sampai karena buku-buku itu hanya sedikit, saya pun membacanya hingga berulang-ulang, walaupun saat itu buku yang saya baca buku-buku pelajaran SMP dan SMA. Jika masuk sekolah, maka tempat yang paling favorit adalah perpustakaan (Sok banget ya...)
Selanjutnya saya meneruskan sekolah di sebuah pondok pesantren, saya masih tetap dengan hobi saya, yaitu membaca. Jika sedang membereskan rumah pak Kyai, saya sering mendapatkan buku-buku putra Kyai yang berserakan di kamar dan di gudang, diam-diam saya sering meminjamnya.
Kebiasaan di pondok kami adalah mendengarkan sandiwara radio bersama-sama setiap malam jum'at, yaitu program cerita horor. Walaupun setiap kali mendfengarkan, kami menjerit sama-sama dan merinding sama-sama. Namun, di situlah inspirasi menulis saya berawal. Saya berpikir, alangkah bahagianya jika kita dapat berbagi cerita dengan orang lain. Saya pun menulis, walaupun itu ditulis dengan menggunakan pensil atau pulpen dibuku tulis. Setiap kali saya menulis, maka adik-adik kelas atau santri-santri selalu ingin membaca hasilnya. Tulisan saya saat itu masih sebatas cerita pendek, dan kadang saya sengaja membuat cerita yang bersambung, sehingga setiap hari adik-adik dan teman-teman saya menagih tulisan saya.
Sungguh saat itu saya merasa bahagia. Kesimpulan yang dapat saya petik saat itu adalah, menulis itu membuat saya bahagia karena dapat berbagi dengan orang lain. Apalagi rutinitas sebagai santri adalah kegiatan belajar-dan belajar, tanpa liburan. Ada pun liburan itu setiap malam Jum'at yakni mendengarkan radio. So, dengan tulisan itu mereka mengaku merasa terhibur. Mereka sepertis edang menonton televisi memlalui mata imajinasi mereka.

2 komentar: