(Tugas Ini disusun untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Psikologi Islam)
A. Pengertian Syirik
Syirik berasal dari bahasa arab syaroka-yusyriku yang artinya bersekutu. Secara istilah syar’i adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya.
B. Dasar-Dasar Esensial Tentang Tauhid dan Syirik
Pokok utama setiap dakwah para Nabi dan Rasul sepanjang masa ialah menyeru manusia agar menunjukkan ibadah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, seraya menjauhkan diri dari menunjukkan kepada apa dan siapa pun selain-Nya.
Seperti yang dikutip oleh penulis dari Syaikh Ja’far Subhani (1987), tauhid dalam ibadah, serta pembebasan diri dari belenggu kemusyrikan dan keberhalaan (watsaniyah), merupakan yang paling terpenting di antara ajaran-ajaran agama-agama samawi, dan yang paling menonjo di antara risalah-risalah para Nabi. sedemikian pentingnya seolah-olah para Nabi dan Rasul tidaklah diutus kecuali demi satu sasaran saja, yaitu memperkukuh pondasi tiang-tiang pancang tauhid, serta pemberatasan kemusyrikan. Dengan jelas Al-Quran menyebutkan tentang hakikat ini.
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36)
Penyebab timbulnya kemusyrikan antara lain pertama, karena adanya kepercayaan akan adanya lebih dari satu pencipta. Kedua Anggapan tentang jauhnya al-Khaliq dari mkhluk-Nya, dalam hal ini mereka menganggap bahwa Allah tidak mendengar ucapan mereka, dan tidak sampai kepada-Nya segala doa dan permohonan mereka. Untuk itu mereka memilih berbagai wasilah (perantara) yang diperkirakan dapat mewakili dalam menyampaikan doa-doa mereka. Seolah-olah kedudukan manusia-manusia pemegang jabatan tinggi, tidak mungkin seseorang dapat menghadap mereka kecuali melalui perantara-perantara. Untuk itu mereka menyembah (beribadah) orang-orang yang dianggap suci, malaikat, jin, dan arwah, agar menyampaikan doa-doa mereka ke hadapan Allah.
Ketiga, pelimpahan wewenang pentadbiran kepada Tuhan-Tuhan kecil. Yakni, dalam hati kecil manusi amerasakan khundu (ketundukan tertentu) kepada sesuatu kekuatan tertinggi, seraya menganggap dirinya kecil sekali dihadapan kekuatan seperti itu. Perasaan fitri seperti ini, meskipun tidak terungkap dengan lisan dan anggota tubuh lainnya, selalu bersemayam jauh dalam hati sanubarinya dalam bentuk perasaan khundhu, dan kepasrahan. Di sisi lainnya, ia sudah terbiasa berhubungan dengan benda-benda inderawi, sehingga menjadikannya selalu ingin menuangkan segala sesuatu dalam acuan inderawi. Atas dasar inilah orang musyrik ingin menvisualkan kekuatan-kekuatan gaib dalam bentuk benda-benda yang dapat dilihat.
C. Syirik Merupakan Gangguan Kepribadian (Psikopatologi) dalam Psikologi Islam
Dalam bukunya, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Abdul Mujib (2005), bahwa syirik termasuk dalam gangguan kepribadian (psikopatologi) dalam Islam. Kepribadian menyekutukan Allah atau syirik merupakan sikap dan perilaku menduakan terhadap masalah-masalah yang berkaitan keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Syirik merupakan karakter orang-orang yang musyrik. Penyakit syirik yang menyerang orang mukmin tergolong psikopatologi, sebab pelakunya tidak mampu mengintegrasikan kepribadiannya dengan baik. Namun, syirik yang terjangkit pada orang kafir bukan hanya mengakibatkan psikopatologi, tetapi mengakibatkan kematian kalbunya. Seseorang yang menghambakan diri pada sesuatu selain Allah SWT, berarti ia menerima perbudakan, membelenggu diri, dan mengekang kebebasan, padahal ciri manusia adalah kebebasan.
Kalimah tauhid lâ ilâha illa Allâh yang artinya tiada tuhan selain Allah merupakan bentuk pembebasan diri manusia dari segala belenggu relativitas dunia dan segala isinya, kemudian menundukkan dan menyerahkan diri sepenuh hati kepada Allah Zat Yang Maha Mutlak. Perilaku syirik ada yang teraktual dalam bentuk ucapan, pikiran, perasan, ataupun perbuatan. Seseorang yang hidupnya terbelenggu oleh hawa nafsu, seperti orang yang berketagihan narkoba, minuman keras, wanita/pria (selain miliknya), kekuasaan, dan harta benda, merupakan salah satu bentuk kemusyrikan, sebab ia menuhankan sesuatu selain Allah SWT. Hal ini seperti terdapat pada Firman Allah SWT :
Artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 28:50)
Gangguan Kepribadian ini dapat diamati melalui perilaku-perilaku sebagai berikut:
1. Penderita telah meyakini bahwa Allah SWT, adalah Tuhannya, tetapi amal perbuatannya diorientasikan bukan untuk-Nya, melainkan untuk sesuatu yang sifatnya temporer dan nisbi, seperti kepada ruh halus, ruh leluhur dan setan yang dimanistesfasikan melalui berhala .Firman Allah SWT:
Artinya:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. 4:4)
Artinya:
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka:"ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sajian-sajian yang diperuntukan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. 6:136)
2. Penderita mengalami kezaliman yang besar, sehingga ia tidak memiliki penolong yang menyelesaikan sesuatu, dimurkai dan dikutuk oleh Tuhan, dan ikatannya putus dengan-Nya. Firman Allah SWT:
Artinya:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165)
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)
Artinya:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:"Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata:"Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. 5:72)
Artinya:
Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.Mereka akan mendapatkan giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam.Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali. (QS. 48:6)
Artinya:
(Inilah pernyataan) pemutusan penghubungan daripada Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kamu muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka). (QS. 9:1)
Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. (QS. 9:2)
Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin. Kemudian jika kamu (kaum musyirikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakan kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. (QS. 9:3)
3. Penderita merasa takut, karena syirik menjadi sumber dari segala kesesatan dan dosa yang tidak terampuni, padahal dosa merupakan sumber kinflik batin. Allah berfirman:
Artinya:
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim". (QS. 3:151)
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. 4:48)
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. 4:116)
4. Penderita meninggalkan kesenangan abadi untuk mengejar kesenangan sesaat, karena itu ia dinilai seburuk-buruk makhluk dan semua aktivitas baiknya yang pernah dilakuka tidak dianggap lagi. Allah SWT berfirman :
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. 98:6)
Artinya:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. 39:65)
D. Syirik dalam Perspektif Psikologi
Pada kepribadian psikologi Islam, jelaslah sudah bawa psikologi merupakan salah satu gangguan kepribadian dalam Islam. Selanjutnya penulis akan menganalisis dari segi psikologi.
a. Teori Psikoanalisis Freud
Freud menemukan persamaan antara perbuatab was-was (obsesions dan Compulsions) dan upacara-upacara agama. Maka orang yang musyrik maupun beragama pada umumnya merupakan orang yang mengalami gangguan kecemasan yang disebut Compulsive Behavior.
Misalnya, orang yang musyrik seperti membuat sesajen, mengorbankan sesuatu untuk hal-hal yang bersifat gaib, merupakan pebuatan yang selalu diulang-ulang dengan diiringi oleh mantra-mantra yang terus diucapkan, walaupun logika dan kesadarannya tidak menginginkan hal seperti itu. Namun, mereka merasa cemas jika tidak melakukan hal itu.
Dalam menafsirkan perilaku beragama, Freud mengambilnya dari analisa dari agama-agama orang primitif yang selalu melakuan ritual-ritual yang dianggap keluar dari logika pemikiran manusia. Ia melihat Totem dan taboo. Kemudian dia membuat perbandingan antra tingkah laku orang-orang primitif dengan orang-orang yang terganggu jiwanya, maka ditemukannya hubungan antara ”Oedipus Kompleks” dengan upacara-upacara kepercayaan mereka.
b. Gangguan Kepribadian
Manusia yang sehat adalah manusia yang terintegrasi struktur dan fungsi kepribadiannya. Ia memiliki persepsi diri positif dan kesadaran sosial yang wajar serta dapat mengaktualisasikan diri dengan optimal. Dalam kasus aliran sesat yang kini bermunculan, dapat dikatan syirik, karena terang-terangan menyekutukan Allah SWT.
Orang yang syirik merupakan orang yang mengalami gangguan kepribadian (psikopatologi), seperti halusinasi, delidrium atau waham. Halusinasi adalah persepsi yang salah dari salah satu panca indera yang keliru karena tanpa disertai rangsangan. Baik yang bersifat auditorik (suara) maupun visuatorik (penglihatan). Seperti mendengar suara gaib nenek moyang atau roh halus, dan lain sebagainya.
Delusi adalah suatu perasaan kepercayaan atau keyakinan yang keliru yang tidak dapat diubah dengan penalaranatau dengan jalan menyajian fakta. Berikut digambarkan oleh psikiater berkebangsaan Jerman Kurt Schneider (1959), dikutif dari Mellor (1970):
• Mereka yakin bahwa pikiran yang bukan berasal dari dirinya dimasukkan ke dalam pikirannya oleh sesuatu sumber eksternal.
• Mereka yakin bahwa pikiran mereka disiarkan dan ditransmisikan sehingga orang lain mengetahui apa yang mereka pikirkan. Misalnya, seorang yang percaya pada dukun. Kemudian ia menghadap sang dukun, namun tanpa berkata apa-apa si dukun mengatakan apa yang jadi tujuan si pasien. Sehingga pasien itu yakin, bahwa apa yang ada dipikirannya telah disirkan atau ditransmisikan, sehingga dukun itu mengetahui permasalahnnya.
• Mereka percaya bahwa pikiran mereka dicuri, secara tiba-tiba dan tanpa terduga oleh suatu kekuatan eksternal.
• Meraeka yakin bahwa perasaan atau perilaku mereka dikendalikan oleh sesuatu kekuatan eksternal.
c. Gangguan kecemasan
Orang yang syirik, ia mengalami gangguan kecemasan. Karena dirinya telah diperbudak atau telah tergantung pada sesuatu yang bersifat temporal. Misalnya, dia sangat takut jika tidak memberikan sesajen maka dewa atau roh halus nenek moyang akan marah, dan akan terjadinya bencana. Hal ini bisa dikatakan sebagai gangguab obsesif kompulsif, yaitu mencoba menaha diri dari melakukan ritual tertentu atau memikirkan pikiran persisten. Obsesisive-compulsive neurosis adalah satu psiko neurosa dengan ciri khas adanya ide yang tegar, tidak rasional, dan sering tidak dikehendaki. Hal itu dilakukan untuk mengurangi ataau menghilangkan ketakutan dan perasaan bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Ja’far, Subhani, Tauhid dan Syirik; Studi Kasus Faham Wahabi, Bandung: Mizan, 1987.
Darajat, Zakiah, Ilmu jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Davidson, C Gerald, dkk. Psikologi Abnormal; edisi ke-9, Jakarta: Rajawali Press 2006.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar