Tiga minggu yang lalu aku mendapatkan sebuah sms yang cukup mengejutkan seligus menggembirakan. Sahabatku menikah. Dia adalah anak dari pendiri, dan pengasuh Pondok Pesantrean tempatku menuntut ilmu. Langsung saja aku membuat rencana dan mencoba mencari celah agar ku bisa datang ke acara tersebut. Mulai dari mengatur skejulku dan juga izin orang tua.
Magrib tanggal 27, di kotsanku ada Kak Amin yang masih berkutat menerjemahkan jurnal-jurnal berbahasa Inggris.Dia orang baik yang mau membantuku dalam menyelesaikan skripsiku. Aku dan adikku Arief baru tiba dari Mall. Kami baru saja selesai membeli barang untuk dijadikan kado. Kami langsung mengemas kado. Setelah selesai adikku arief dan kak Amin pun hengkang dari kotsan. Mereka tahu aku akan berangkat setelah salat.
Dengan penuh semangat ku bereskan PR dahulu. Mulai dari mencuci baju, menyetrika, hingga mencuci piring dan bersih-bersih kamar. Lega rasanya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Dengan cepat kusabet tas ranselku... dan kupercepat langkah kakiku untuk sampai di depan jalan besar. Tepatnya di Depan Gerbang UIN Jakarta.
Menunggu bis 76 memang lama. Akhirnya ku putuskan untuk naik angkot ke pasar Jum'at. Dari sana aku naik bis Kopaja P20 ke arah senen. Selama perjalanan aku berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang tak kuinginkan. Pikiranku mulai melayang, mengingat masa silam. Di mana aku pernah ditodong oleh segerombolan laki-laki bertampang menyesakkan.
Bis berjalan cukup alot. Macet. itulaha Jakarta. Di tambah lagi ku lihat banyak pemuda-pemudi yang mengenakan baju koko mengadakan konvoi, entah dalam rangka apa, malam-malam pula. Aku celingukan, dan baru kusadari ternyata di bis itu, akulah perempuan sendirian. Hick...
Kekhawatiranku berkurang, tatkala beberapa wanita naik. Selama perjalanan ku perhatikan orang satu persatu. Mereka terlihat sangat lelah bahkan begitu nyenyak tertidur. Imaginasiku pun terbang pada mata kuliah kemarin malam tentang Hypnotheraphy. Aku tahu sekarang, mengapa orang yang naik bis gampang sekali terkena kejahatan. Karena mereka masuk ke dalam gelombang Theta. Gelombang di mana orang berada dalam kondisi tak sadar. Ya inilah buktinya, begitu mudahnya ketika kita dalam bis, taksi atau angkot, kita tertidur. Bahkan untuk menolaknya pun tak sanggup, walau bis dalam keadaan penuh sesak.
Sampailah aku di depan Pasar Festival Kuningan. Aku turun dan naik taksi menuju rumah, mengingat bis ke arah rumahku sudah tidak ada, karena mungkin sudah malam. Saat itu jam di HP-ku menunjukkan pukul 22.30 WIB. Di dalam taksi Ayahku menelpon, mungkin dia khawatir anaknya yang pemberani ini mengapa belum sampai juga ke rumah.
Keluar dari taksi aku berjalan menuju gang rumah. Ternyata Ayahku sudah menungguku di luar. Wajahnya terlihat cemas. "Kamu mau pergi ke Garut jam berapa? Jam segini baru sampai?!" Aku hanya diam. Di dalam rumah Mamah memberiku minum. Ternyata Bapak telah memesan ojek untuk mengantarkanku ke Cililitan, tempat bis Primajasa ngetem. Dengan sigapa aku pun segera pamit dan berangkat, mengingat seperempat jam lagi bis terakhir berangkat.
Langkahku terhalang ketika mamah membawakan sebuah kresek besar. Aku curiga, dan ternyata benar...Aku harus bawa itu semua untuk oleh-oleh kakak-kakakku di Garut. Rempong dah...
Dengan kekuatan ojeknya, Mang Ipul langganan keluargaku ngebut setengah malam. he he... Tepat pukul 22.50 WIB kami tiba. Dengan penuh semangat aku pun naik bis Jurusan Jakarta-Tasik. Akhirnya...
BERSAMBUNG DULU YACH...NGANTUK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar